SIERA

SIERA
14.



Anjeli tak memperdulikan lagi rasa sakit luar dalam yang ia alami malam ini, ia bangkit dari kasur dan dan berjalan dengan tertatih menuju kamar mandi.


Setelah membersihkan dirinya, terlihat ada beberapa bagian tubuh Anjeli yang lebam kerana kelakuan Bagas yang sudah melewati batas pada Anjeli.


Setelah membersihkan diri Anjeli keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk, dan ketika ia hendak mengambil dan memakai pakaiannya, namun pakaian tersebut tak ada lagi tergeletak di lantai yang sempat ia lihat sebelumnya.


"Mas mana gaun ku?" tanya Anjeli pada Bagas yang sedang terlihat sibuk dengan laptopnya


"Gaun itu terlalu murahan jadi aku membuangnya ke tong sampah"


"Apa...!"


Anjeli semakin emosi di buatnya.


"Buka lemari disitu ada pakaian yang layak untuk mu."


"Mas ini hanya ada baju kamu semua, apa aku harus keluar dengan pakaian seperti itu"


ucap Anjeli yang terlihat pasrah.


"Masih ada piyama ku di situ, apa kamu tak lihat"


"ini kebesaran mas, aku tenggelam memakainya"


"cih ..... badan kamu yang terlalu kurus bukan baju itu yang kebesaran, apa Rama tak memberi mu makan?"


"Apa-apa Rama, tampaknya kalian itu sangat cocok satu sama lain. kenapa bukan kalian saja yang menikah?"


Bagas melemparkan tatapan tajam pada Anjeli. "Jaga ucapan mu aku masih normal.


cih...tak puas dengannya jadi sekarang malah memberikan suami pada pria lain"


Bagas masih terlihat sibuk dengan laptopnya, meski ia masih sempat meladeni ocehan istrinya.


"Sebaiknya hubungan ini kita akhiri mas, aku sudah tak bisa menjalaninya lagi. Besok aku akan menjemput Siera dan dia akan hidup bersamaku, uang satu milyar yang kamu janjikan itu sudah cukup untuk modal hidup kami dan lanjutkan hidupmu dengan menikahi menantu pilihan ibu." ucap Anjeli dengan hati-hati dan menyodorkan surat gugatan cerai yang harus Bagas tanda tangani.


"Anjeli....Apa yang kau lakukan ini salah. Jangan harap hal itu bisa terjadi, dalam mimpimu saja aku takkan akan pernah menceraikan mu." Bagas bangkit dari tempat duduk dan mengambil surat itu dan


merobek surat gugatan itu, di hadapan anjeli dan menghempaskan ke udara hingga robekan kertas tersebut berserakan di lantai kamar.


"Kita berpisah sudah setahun mas, dan itu sudah jatuh talak karena tak ada nafkah dari mu, bukankah kau tau itu" jelas Anjeli.


"Hubungan kita tak pernah berakhir jika kata itu tak pernah terucap dari ku kecam kan itu, silahkan urus perceraian sah lewat negara, namun secara agama hubungan kita tak akan pernah berakhir."


"Mas...tak ada yang bisa kita pertahankan lagi, aku mohon"


"Apa dia yang memaksamu, apa kamu pikir dia lebih baik dariku?, aku juga melihat orang suruhan Rama Putra Hardian berada di kantor agama, aku pikir ia akan menikah tapi ternyata ini yang ia lakukan, menghancurkan rumah tangga orang lain."


"Kamu salah paham, akulah yang memintanya, dan cukup Mas, jangan menghinanya lagi, yang terlintas dipikiran busuk kamu itu tak pernah terjadi"


"Siapa yang akan percaya dengan kata-kata mu"


"Kamu sendiri yang lebih tau luar dalam tubuh ku, dan kamu sendiri yang bisa merasakan jika aku tak suci lagi, tiga tahun bersama mu, dan melahirkan anak untuk mu, seharusnya kamu sudah bisa tau perubahan sedikit saja pada tubuh ini"


"Mana aku tahu jika kamu tak pernah seperti itu padanya"


"Cukup mas, aku mohon cukup, jangan sampai aku menutup pintu hati ini rapat-rapat untuk mu bahkan dengan bersujud sekali pun aku takkan memberimu kesempatan lagi"


"Munafik" ucap Bagas dengan tatapan tajam.


"cukup mas! Jika suatu hari nanti kamu tau kebenaran ku, jangan pernah datang dan memohon, ingat itu dengan baik"


Anjeli memungut robekan kertas yang di hamburkan oleh Bagas dan membuangnya ke tempat sampah, dan berjalan mengambil tas dan mengeluarkan berkas yang sama dan meletakkan di atas meja dan mengambil cek satu milyar yang telah Bagas siapkan sesuai kesepakatan dan berjalan kearah pintu, dan meninggalkan Bagas seorang diri.


Bagas masih penasaran dengan hubungan Rama dan Anjeli.


Awalnya ia ingin mengurung Anjeli akan tetapi masih ada informasi yang ingin ia ketahui dari dirinya yang sudah ia curigai tentang kebenaran diagnosa dokter tentang penyakit Anjeli, Bagas sengaja memancing istrinya dengan tawaran satu milyar, namun karena kenyataan mengetahui jika Anjeli tinggal bersama Rama membuat Bagas terbakar cemburu dan ingin mengorek informasi tentang kebenaran perselingkuhan sang istri.


Dengan tertatih Anjeli keluar dari hotel dengan piyama suaminya yang terlihat kebesaran.


Rama yang sudah menunggu Anjeli langsung tak kuasa menahan emosinya.


"Sungguh pria brengsek, baru kali ini aku bertemu dengan manusia buas seperti dia" ucap Rama dengan menggenggam kuat seakan ingin berlari dan menghantam wajah brengsek Bagas sekarang juga.


Anjeli yang mendengar Rama, menggelengkan kepala.


"Mas tolong antarkan saya ke rumah sakit sekarang, aku tak kuat lagi"


Mereka langsung bergegas ke rumah sakit. Sementara Anjeli langsung tak sadarkan diri ketika ia masuk ke dalam mobil milik Rama.


"Cepat sedikit"


Setelah sampai di rumah sakit Anjeli langsung di gendong oleh Rama, dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat ada tetesan darah yang mengucur dari hidung Anjeli.


Rama langsung berteriak memanggil dokter untuk segera memeriksa Anjeli.


"Diakan nyonya Anjeli" ucap suster yang selalu setia menemani Anjeli ketika ia melakukan pemeriksaan rutin dulu.


Suster tersebut langsung menghubungi dokter Farah yang menangani kasus Anjeli.


Dokter Farah, agak terkejut mendengar laporan dari suster jaga karena selami ini ia sudah hilang kontak dengan Anjeli.


"Baik aku segera kesana"


Tak lama menunggu dokter Farah sampai di rumah sakit.


"Ia terkejut melihat kondisi pasien, ada apa dengannya kenapa banyak lebam seperti ini?, dan darah segar ini?"


"Suster jam berapa pasien masuk, jam 02.50 dini hari dokter."


"Bagaimana kondisi pasien pertama kali masuk ?" tanya dokter Farah kembali.


"Pasien banyak mengucurkan darah lewat hidung dokter, makanya di piyama pasien ada bekas darah"


"Panggil keluarga yang mengantar, sekarang keruangan ku"


"Baik dokter" Ia langsung keluar dan memanggil pak Rama.


"Pak Rama, dokter Farah ingin bertemu tatap muka dengan anda"


Mereka langsung Keruangan dokter Farah, karena pembahasan bersifat pribadi dokter menginstruksikan agar suster meninggalkan mereka berdua.


"Boleh saya tau apa yang sebenarnya terjadi pada nyonya Anjeli sebelum anda mengantarkan ke rumah sakit?" ucap dokter Farah penuh selidik karena kecurigaannya jika Anjeli sedang mengalami kekerasan yang mengakibatkan benturan keras dan beban pikiran berat baginya sehingga kondisinya menjadi sangat lemah.


"Dia diperk*sa oleh suaminya sendiri"


"Hah....apa yang anda maksud, jangan bercanda, aku ini sedang serius" ucap dokter Farah yang tak habis pikir akan jawaban yang terlontar dari Rama.


"Aku ini tidak bercanda, sekarang segera hubungi dokter Sean katakan padanya jika Rama Putra Hardian menunggunya di rumah sakit miliknya sekarang juga, jika tidak maka rumah sakit ini akan aku buat bangkrut."


"cih ... kau ini tak pernah berubah, sikap tempramen kamu sebelas duabelas dengan Bagas, pantas Anjeli mengidap tumor otak, beban pikiran dia terlalu berat karena berada disisi kalian" ucap dokter Farah yang memang mengenal Rama.


"Ada apa dengan mereka, tiga sahabat memperebutkan satu wanita, aku sendiri seorang wanita merasa tak berarti di mata para pria ini" Guman dokter Farah.