SIERA

SIERA
66



Diman kini terdiam mendengar penjelasan adiknya, ia khawatir jika iman adiknya akan runtuh dengan perhatian tersembunyi dari Sean padanya, ia selalu berhasil mengambil kesempatan dalam setiap celah.


Bukan karena Sean merebut Alma darinya, itu semua murni karena Diman berpikir positif akan konsekuensi dari kisah Anjeli dan Sean jika sampai menjadi kenyataan.


Anjeli menarik napas lebih dalam dengan diamnya pria yang ia paham betul wataknya, "Kak, percaya dengan kami. Sean adalah pria logis tak seperti kalian, jika ia munafik dari dulu ia merebutku sebelum Siera lahir, ia bahkan diam ketika Rama bersama ku, meski ia tau seperti apa pria bernama Rama, tapi ia malah menjaga diri ku dari kejauhan, tak ingin sama sekali mengambil kesempatan itu.


Pria seperti Sean sangatlah langka, jika aku dekat dengannya itu karena rasa kagumku padanya, tapi tentu itu berbeda dengan perasaan cinta."


Diman mendekati Anjeli dan membelai rambut gadis yang selalu mengekori langkahnya sejak kecil, bermanja, dan merengek padanya, namun kini betapa dewasanya dirinya sekarang.


Bagas masuk dalam ruangan, melangkah mendekat dan langsung menghentikan Diman, sesaat ia langsung mendapat ancaman dari kedua bersaudara itu.


Anjeli bahkan melemparkan pelukan pada Diman dan sama sekali tak peduli pada pria yang terus melototi dirinya.


Anjeli bahkan menjulurkan lidah mengolok suaminya yang biasanya arogan dan langsung mencaci semaunya, malah tak berkutik pada Diman.


"Hahahaha ...... Kak, lihat wajahnya...!, duplicat Amar jika sedang ngambek." Anjeli dan Diman mengarahkan pandangan dan beradu tatap dengan Bagas yang semakin kesal pada tingkah mereka.


"Eh....jika kau disini, maka siapa yang jaga Amar dan Siera?" tanya Diman yang langsung panik terlihat menyesal menitipkan keponakannya pada ayah tak becus sepertinya.


Anjeli masih menatap tajam Bagas, "mereka bermain bersama paman perawat dan suster yang berjaga di ruangan ini."


"Kau....!" amuk Anjeli semakin kesal dengan suaminya yang sembrono menitipkan anaknya pada orang lain.


"Sudahlah, Sean juga ada di luar. Ia terlihat cemberut jadi aku pikir terjadi sesuatu di dalam."


"Oooooo......" balas Anjeli.


"Apa?" tanya Bagas semakin penasaran.


"Bodoh, temannya mencuri perhatian dari ku, ia bahkan tak curiga sama sekali, malah bertingkah konyol marah pada Diman yang sangat mustahil aku punya hubungan lain selain persaudaraan padanya," guman Anjeli melihat sikap naif suaminya.


Bagas bukannya tak curiga, ia malah sering memergoki Sean curi pandang terhadap dirinya, namun Bagas masih diam saja bukan karena ia memberikan kesempatan pada Sean, namun ia ingin melihat sejauh mana kesetiaan istrinya pada dirinya. Dan hingga kini Anjeli masih setia padanya, sama sekali tak memberi balasan apapun pada Sean.


"Apa perlu aku memberi pelajaran padanya, membuatnya sadar sepenuhnya jika ia akan menjadi pria brengsek dan kehilangan segalanya jika terus bertingkah padamu?"


"Aku tau segalanya Anjeli. Jika bukan karena menghargai perasaan Alma sebagai sahabatmu sejak kecil, maka aku sudah lama menghajarnya," lanjut Bagas kembali.


"Mas, aku minta maaf....!" ucap Anjeli sangat merasa bersalah pada Bagas, ia akui jika ia membiarkan Sean mengambil celah diantara mereka.


"Apa kau tau betapa sulitnya mempertahankan sebuah hubungan, jadi aku pinta pengertian dari mu, jangan memberi kesempatan pria lain mendekatimu, jika itu Diman aku sangat toleran padanya, ia saudara mu tempat mu bersandar kelak jika aku tak ada, tapi pria lain mungkin akan memanfaatkan keadaan," jelas Bagas pada istrinya.


"Mas_"


"Sudah jangan berpikir berlebihan, kau sedang hamil sekarang, jaga dirimu dan bayi kita, aku tak ingin kehilangan kalian," ucapnya dan mengecup kening Anjeli. " Tidurlah....kak Diman menyuruhku terus berada didekatmu, dia bahkan memesan tiket untuk Sean menyuruhnya kembali menjaga Alma, dan meminta dirinya menjauh untuk sesaat dari kita semua hingga keadaan membaik."


"Aku merasa kak Diman lebih baik darimu, aku lebih tenang bersamanya, kenapa bukan kau saja yang menjaga Amar dan Siera dan biarkan aku bersama kakak."


"Baru saja lembut, sekarang sudah membentak kembali," protes Anjeli padanya.


Bagas terpaksa memejamkan mata dan berusaha menenangkan dirinya, ia kini serba salah dengan sikap Anjeli yang tak menentu.


"Cik...menyuruh ku tidur kini, malah dirinya yang tertidur."


Bagas kembali membuka mata mendengar protes dari istrinya. "Dokter, apa kalian bisa memindahkan istriku keruang perawatan sekarang....?" tanya Bagas dengan posisi masih bersandar di kursi dengan mata terpejam.


"Baik tunggu sebentar, kami akan segera menyiapkannya," jawab salah seorang dokter pada Bagas.


Tak perlu menunggu lama, Anjeli segera mereka antarkan keruang perawatan VVIP.


Bagas, Diman, Siera dan Amar, turut ikut dari belakang Rostur. Hingga mereka tiba di sebuah ruangan paling elite dirumah sakit tersebut.


Anjeli langsung naik di tempat tidur dengan bantuan Bagas yang langsung mengangkat dirinya dan membaringkannya dengan perlahan diatas tempat tidur.


"Aku pamit sebentar, tolong jaga anak-anak...!" ucap Diman dan meninggalkan mereka sebentar. Tak lama, Diman kembali menenteng beberapa makanan ringan dan bubur untuk Anjeli.


"Dek, bangunlah. Aku bawakan bubur kesukaan kamu," ucap Diman pada adiknya.


Anjeli sangat kegirangan ia memang sangat lapar sekarang, hingga langsung melahap bubur itu hingga tandas tak bersisa.


Bagas yang menyaksikan kedekatan mereka kini terlihat cemburu, akhirnya ia menyadari jika dirinya hanyalah pria kedua dalam hidup Anjeli, dengan keberadaan Diman disisinya posisi dirinya perlahan tergantikan olehnya, begitupun dengan kedua buah hatinya.


Bagas mulai diam tak protes sedikitpun, ia hanya asyik bermain bersama kedua buah hatinya hingga mereka diserang kantuk setelah lelah bermain dan menghabiskan sebagian besar cimilan yang dibelikan oleh paman mereka.


Bagas mengurus mereka dan membaringkan kedua buah hatinya diatas ranjang yang terletak tak jauh dari tempat tidur Anjeli. Bagas terlihat lihai mengurus ke dua anaknya, hingga ia tak menyadari keberadaan dua pasang mata yang terus memperhatikan dirinya mengurus Amar dan Siera.


Anjeli dan Diman langsung bertatapan, dan tersenyum saling membalas. "Apa masih mau mencari pria lain dalam hidup mu?" tanya Bagas membuat senyum mereka seketika menjadi tanda tanya.


"Tidak, kehadiran pria - pria yang mengelilingi ku sekarang sudah cukup membuat ku pusing, apa lagi jika aku menambahkan list pria penggemar baru dari Paris itu."


"Cik...."decak Bagas pada Anjeli dan Diman yang langsung tertawa setelah ucap Anjeli pada Bagas.


Diman menggelengkan kepala kearah pria yang kini hampir memiliki buah hati ke tiga.


Melihat tingkah mereka yang selalu di Selangi perdebatan, membuat Diman tak habis pikir kisah cinta seperti apa yang sedang mereka pupuk sekarang. Tiap hari harus menyaksikan perdebatan, bahkan tak pernah sama sekali melihat mereka romantis.


"Apa kalian pernah melakukan hal yang romantis selama pernikahan kalian?" ucap Diman membuat keduanya kini berpikir berat dengan kisah romantis mereka selama menikah.


"Apa pertanyaan saya begitu sulit?, atau kalian memang tak ada kisah romantis satupun selama pernikahan?" lanjut Diman dan kembali menggelengkan kepala kepada pasangan suami istri yang hampir membuat pecah kepalanya sekarang.


...----------------...