SIERA

SIERA
7.



Elin dan Rani memutuskan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Anjeli dan Kak Rama yang sedang asik mengobrol dan tak menghiraukan mereka lagi.


"Aku tak menyangka jika Kak Anjeli adalah istri seorang pengusaha ternama."


Elin dan Rani memang sama sekali tak menyangka jika Anjeli adalah seorang istri dari Bagas Wirawan pengusaha terkenal, terlebih lagi jika kak Rama ternyata mengenal Anjeli bahkan suka dengan Anjeli dari dulu.


"Dunia memang sempit ya, ngomong-ngomong kamu kenal dimana dengan kak Anjeli?,"


tanya Rani yang penasaran dengan pertemuan Elin dengan kak Anjeli.


"Kamu pasti tak percaya, jika aku bertemu kak Anjeli di warung tempat kita sering nongkrong dulu, dan dia sudah duduk lama di depan warung tersebut hingga menjelang tengah malam, dan aku menyapanya dan bertanya jika dia mau kemana, namun kak Anjeli menjawab jika ia tak punya arah tujuan, dan aku mengajaknya pulang ke rumah."


"Ah...yang benar?."


Rani yang sulit percaya dengan cerita Elin, menatap Elin dengan serius setelah mendengar kisah pertemuan mereka.


"Serius, malah yang aku lihat kak Anjeli tampak kelelahan dan pucat,"


lanjut Elin semakin membuat Rani tak habis pikir jika nasib kak Anjeli ternyata sangat menyedihkan.


"Tapi bukannya yang aku dengar mereka sudah punya anak, tapi kenapa kak Anjeli malah pergi dari rumah." Rani semakin bingung dengan masalah orang kaya yang tak ada habisnya.


"Aku juga sempat baca artikel jika suaminya hampir pailit" ucap Risa melanjutkan gosip mereka.


"Ya, aku juga sempat baca artikel yang itu, tapi kata kak Rama suaminya sekarang sudah berhasil memulihkan ekonomi perusahaan miliknya."


"Jadi orang kaya banyak masalahnya ya Ran, untung aku orang miskin."


"Hahaha....., miskin juga masalah kali."


"Ya, kamu benar Ran, mau beli baju aja kita harus nabung dulu."


Mereka pun sampai pada pembahasan yang menjadikan diri mereka sendiri sebagai lelucon hidup.


"Ya, sudah jangan bahas orang kaya lagi jiwa aku meronta mendengar kata orang kaya," lanjut Elin yang mulai mengalihkan pembahasan mereka.


"Ya, meronta minta disumbangin," sahut Rani.


'tul...tul...tul," jawab Elin mengikuti gaya bicara Upin Ipin.


"hahaha...."


Mereka pun menertawakan diri mereka sendiri yang mencoba membandingkan hidup mereka yang pas-pasan dengan nasib orang kaya.


"Ehm...sekarang gimana keadaanmu dan Anjas?. Jangan bilang kamu masih jadi simpanan teman kak Rama?, awas entar kak Rama tau kalian bisa digiling abis abisan."


"Susah lepas dari dia Ran, mungkin aku jatuh hati dengan playboy cap kangkung seperti dia, kalau aku minta udahan entar dia pecat aku lagi di kafe miliknya, kehidupan aku sekarang jauh lebih mending sejak aku dijual oleh mami tiri aku di klub malam, dan ternyata dialah yang membeli aku, katanya tergiur ketika mami mengatakan aku masih perawan."


"Kamu tega Elin, kenapa kamu baru cerita sekarang, aku kira kamu yang kesana sendiri ternyata kamu dijual oleh nenek sihir itu."


Rani semakin merasa bersalah karena sempat menjauh dari Elin sebelumnya karena salah paham.


Mendengar kisah Elin, Rani semakin merasa bersalah karena ia tak berada disisi sahabatnya itu ketika sedang dalam masalah berat.


"maafkan aku Lin, aku salah paham padamu".


"Gak apa-apa, Ran."


****


Bagas yang tiap hari semakin sibuk mengurus perusahaannya yang semakin menanjak naik, banyak kolega bisnis yang sebelumnya beralih dengan pengusaha lain sekarang malah berbalik mengemis belas kasih pada Bagas. Namun bukan Bagas Wirawan namanya, jika ia dengan murah hati menerima mereka kembali, jika pun Bagas bersedia menerima mereka tetapi dengan persyaratan yang tak mudah bagi mereka, menurut Bagas itulah balasan yang tepat bagi kolega bisnis yang tak setia padanya.


Bagas Wirawan memang terkenal sebagai pebisnis yang tegas dan tak pandang bulu jika ia dikecewakan.


Setiap deretan pengusaha yang mengenal Bagas pasti berusaha untuk tidak terlibat masalah dengan Bagas sekarang, apalagi dengan sisi temperamennya yang semakin parah sejak ditinggal oleh Anjeli sang istri, sebenarnya kabar ini sudah berhembus kencang, namun tak ada satupun media yang berani mengangkat berita ini, Karena mereka tau pasti dengan siapa mereka akan berurusan dan masalah besar yang mereka akan hadapi tak sebanding dengan nilai materi yang mereka dapatkan.


Semenjak Bagas Wirawan ditinggal oleh istrinya, hanya ada satu perempuan yang ia pekerjaan di kantor pusat perusahaan miliknya, yaitu manajer pemasaran yang sangat cerdas dengan strategi pemasaran yang ia miliki, dialah satu-satunya perempuan yang Bagas pertahankan dalam kantor pusat perusahaan miliknya, dan semua pegawai wanita telah ia pecat dengan alasan perusahaan diambang kebangkrutan, namun itu bukanlah penyebab utama ia melakukan hal tersebut, melainkan dampak negatif akibat ditinggal sang istri membuat Bagas Wirawan merasa alergi berdekatan dengan perempuan manapun.


(miris dengan Bagas yang patah hati berujung alergi pada semua perempuan).


Karena alergi dengan perempuan, asisten Bagas sampai kewalahan mengurus pertemuan dengan kolega bisnis seorang wanita, dengan berbagai alasan kadang asisten bagas harus mengeluarkan jurus jitu menangani hal tersebut.


"Ah....kenapa Tuan Bagas bisa terkena penyakit seperti ini, benci terhadap sang istri tapi tak seharusnya semua perempuan ia hindari termasuk putri dan ibunya sendiri," guman asistennya yang sudah kewalahan dengan penyakit baru Tuannya.


"Alang, tolong siapkan berkas kerja sama kita dengan pak Rama, aku ingin mengadakan rapat sesegera mungkin dengannya tentang kerja sama yang pak Rama ajukan kemarin, aku sepertinya tertarik dengan kerja sama ini."


Perintah Bagas yang jika ia mengatakan sekarang maka hal itu harus kerjakan dengan secepat kilat, jika terlambat sedetik saja sisi buasnya akan menerkam semua yang ada dihadapannya.


Mendengar perintah itu Alang langsung bergegas menyampaikan perintah Tuan Bagas kepada sang menejer, berkat jam terbang yang sudah malang melintang di dunia bisnis sang menejer dengan cekatan bersama dengan bawahannya langsung menyiapkan berkas yang tuan Bagas inginkan, dan langsung menyerahkan berkas tersebut kepada Tuan Bagas agar terhindar dari masalah yang mengerikan.


"Tuan ini berkas yang anda inginkan" ucap ibu Mia bersama asisten Alang menyerahkan berkas tersebut"


"Letakkan dimeja dan kalian silahkan keluar". ucap Bagas dengan wajah datarnya.


"Huft .... Aku sangat merindukan sisi lembut tuan Bagas ketika bersama nyonya Anjeli, sayang nyonya tak mampu bertahan di samping tuan selamanya," ucap asisten Alang pada ibu menejer.


"Sudah jangan dipikirkan, kita doakan saja semoga nyonya bisa kembali kepada tuan Bagas secepatnya, supaya tuan kembali seperti dulu."


"Ah....yang benar saja Bu Mia, memang ada wanita yang mampu bertahan dengan Harimau buas seperti itu, bikin jantungan tiap hari."


"Hust....nanti tuan dengar, kita bisa di kubur hidup-hidup".


"Ehm...siapa yang kalian bicarakan dengan berbisik seperti itu?."


deg....


"Tuan....maaf"


......Kena deh, makanya jangan suka gosip...!


😙🥶