
Mengetahui jika suaminya telah menangani Mira dan membuatnya pensiun sebagai pelakor, Anjeli cukup lega mendengarnya, namun ia harus memastikan sendiri dengan menghubungi asisten suaminya, namun tidak sekarang karena perhatian Anjeli masih terfokuskan dengan ajakan sang suami menghadiri jamuan salah satu calon investor untuk usaha butiknya bersama Alma.
Selain itu, Anjeli juga tengah fokus pada dua buah hatinya. Anjeli sungguh tak sabar mengabari Alma jika mereka mendapatkan investor dan kesempatan kali ini akan memberikan peluang untuk mengembangkan bisnis mereka meraup keuntungan yang nominalnya juga tak sedikit.
Menghadiri perjamuan yang menghadirkan perancang busana manca negara merupakan kesempatan terbesar untuk bertemu dengan beberapa designer ternama.
Anjeli jelas tak mau menyiakan kesempatan ini hingga ia tak mengindahkan peringatan suaminya untuk tidak berdandan memperlihatkan pesona aura keindahannya malam ini. Anjeli yang sangat semangat ketika menjelang sore, iya menemui Kakak sepupunya, meminta bantuan untuk menjaga anak-anaknya malam ini.
Diman sepupu Angeli tak langsung menyanggupi permintaan adiknya itu, setelah Angeli menjelaskan alasannya, Diman pun sangat mendukung jadi dengan senang hati dia bersedia menjaga dua keponakan lucunya.
"Anjeli, saatnya menikmati kebahagiaan mu sekarang, maafkan kakak tak berada disamping mu saat engkau menghadapi masa tersulit dalam hidup mu, Sean dan Rama menceritakan semuanya pada ku, aku sangat menyesali semuanya, jika nanti ingin pulang ke negri kita tercinta, aku kini bersedia pulang dan kembali dan satu lagi carikan calon pendamping terbaik untukku yang seperti Alma," ujar Diman dengan memberikan tatapan hangat pada adik sepupunya.
"Kak....Bibi pasti akan senang, bagaimana kalau nanti kita ajak Bibi sekalian tinggal di Jakarta?, lagian Bibi tinggal sendiri di Singapura sebagai dosen rasanya itu sudah cukup lama dan ini semua gara-gara kakak yang ngotot ke Singapura belajar arsitek....Bibi yang tak mau pindah-pindah lagi apalagi menyebrang negara, namun kakak malah dapat kerjaan di Paris, terpaksa kini ia memilih menetap seorang diri di sana. Lagian di indonesia peluang jadi dosen cukup besar bahkan ia bisa saja mendapatkan jabatan dekan ataupun direktur dengan jam terbang yang luar biasa."
"Kalau begitu, kamu yang lebih tepat membujuknya. Ia pasti akan setuju, kau itu Putri tercintanya mana peduli ia padaku, apalagi dengan statusku sekarang, jomblo karatan sesuai julukan mu, tapi sembunyikan kisah suami brengsek mu itu padanya, jika tidak dia akan berubah wujud seperti dirimu sekarang."
"Apa?" tanya Anjeli penasaran.
"Suami mu bilang kau berubah wujud menjadi harimau."
"Ckkk....Dia saja buaya darat, berani ngatain aku harimau."
"Hahaha..... Dia sudah pensiun, kamu yang tenang, justru aku sekarang malah khawatir dengan pesona adik ku, aku takut suami mu akan menjadikan ku psikiater dadakan."
"Emang ia sering curhat?"
"Kisah kalian sudah hampir aku khatamkan jika dituangkan dalam novel, aku yakin episodenya sudah cukup banyak bahkan sudah hampir tamat."
"Ckk....semuanya ia ceritakan....?"
"Ya, termasuk malam panas mu dan melahirkan si jagoan kecil itu....dia membuat mu kewalahan karena baru menikmati buka puasa dan sekarang kau membuatnya puasa kembali...tapi godaannya kali ini katanya cukup luar biasa bahkan ia bisa menghabis kan waktu 3 kali sehari di kamar mandi bersemedi," ucap Diman dengan tawa terpingkal-pingkal.
"Astagfirullah....!, sampai hal paling intim ia beberkan juga," cetus Anjeli geram dengan kelakuan dua makhluk Adam yang sama-sama mengenyam profesi yang sama dahulu, seorang player sejati...dari radius puluhan kilometer dapat mencium aroma gadis cantik dan seksi, hanya saja bedanya suaminya hampir pensiun tapi kakaknya baru mempertimbangkan untuk pensiun."
"Ckk...dasar buaya....!" umpat Anjeli dan meninggalkan kak Diman yang masih menertawakan dirinya dan kepolosan Bagas padanya.
Anjeli melangkah masuk dengan wajah masam, Bagas yang sedang menemani buah hati bermain Lego, mengerutkan kening dan saling beradu tatap dengan Siera.
"Ayah bikin ulah lagi?" tanya Siera menatapnya penuh selidik.
"Ngak...Ayah mana berani...!" jawab Bagas masih dengan wajah bingung dengan Anjeli, ada apa gerangan yang membuat dia marah setelah kembali dari apartemen sebelah.
Mengingat Anjeli habis bertemu dengan Diman, Bagas mulai curiga.
"Kalian tunggu Ayah...mainnya lanjutin aja dulu, ayah mau menemui pembuat onar di sebelah."
"Dia sebelah duabelas dengan ayah, jadi jangan menjulukinya seperti itu," balas Siera dengan ucapan tepat sasaran.
"Ckk...otak anak ini sangat keterlaluan...!" umpat Bagas yang merasa tersinggung dengan putrinya yang semakin hari semakin kompak dengan ibunya.
"Huft...aku hanya membeberkan jika curhatan suaminya sampai pada hubungan paling terdalam kalian."
"Ngomong yang jelas Jangan membuat kamuflase seperti itu...?" ucap Bagas semakin geram dengan sikap santai Diman.
"Apa?, hanya itu?"
"Diman...aku serius....!, kamu tau ngak aku sudah hampir buka puasa malam ini dan kau kini membuatku harus melanjutkannya lagi, kau ini tak berperikemanusiaan."
"Hahaha....kau ini lucu sekali, ya....aku ingat ia marah saat aku menceritakan tentang puasa mu itu."
Mendengar penuturan Diman Bagas naik pitam dan mengambil bantal sofa kemudian melemparkan bantal tersebut hingga tepat mengenai wajah Diman, apartemen pun menjadi gaduh hingga terdengar keluar, Siera dan Anjeli langsung keluar, sedang Amar tak mengerti apapun hanya asyik dengan permainan Lego nya.
Anjeli langsung masuk dan mengecek jika semuanya baik-baik saja, "yang benar saja apa yang sedang mereka lakukan...?" guman Anjeli melihat suaminya dan kakaknya sedang adu Jambak dan saling tindih satu sama lain di atas sofa sedang bantal sofa berserakan dimana-mana.
Siera dengan konyolnya berteriak riang bagaikan suporter bola. Anjeli pun yang kesal tak berucap apapun ia memilih meninggalkan dua orang pria yang menurutnya terlalu kekanakan.
"Paman....Ayah....ayo lanjutkan..! yang menang dapat permen lolipop dan yang kalah beresin ruangan," ujar Siera penuh antusias.
"Ayo' paman...!" lanjut Siera.
"Kau ini sebenarnya anak siapa?, memihak sama lawan." tukas Bagas dan keluar dari apartemen dan menemui Anjeli sebelum semuanya menjadi bencana.
"Hey....beresin dulu!" teriak Diman tak mendapatkan tanggapan apapun.
"hah...urusan orang dewasa gak ada habisnya..!" ucap Siera sambil bantuin pamannya beresin semua kekacauan yang mereka buat.
"Hehehe...Ayah mu yang duluan, paman hanya membela diri."
"Sama aja..!" ucap Siera ketus.
"Bentar malam bawa adik kerumah, ibu dan ayah kamu ada acara penting!"
"Kenapa gak paman aja yang kerumah..?"
"Kau ini, lama kelamaan mirip Bos arogan itu."
"Tenang aja, disini dia bukan Bos!, jadi gak bisa arogan!" ucap Siera tak setuju dengan perkataan paman Diman tentang ayahnya.
"Lalu apa?" tanyanya.
"Susis...alias suami takut istri"
Hahahaha......
...----------------...