
...Warning....ada adegan ahem-ahem !...
Melihat kondisi Rama yang hampir menabraknya, Farah menuruti permintaan darinya.
Farah pun membantu Rama berpindah ke mobil miliknya dan meninggalkan mobil Rama.
"Rama, mobil kamu tak apa ditinggal ?"
"Aku akan menghubungi orang ku mengambilnya."
"Oh...baguslah.
Farah mengantar Rama ke hotel terdekat. Hanya butuh beberapa menit mereka sudah sampai di depan hotel, Farah memarkirkan kendaraan miliknya dan keluar memapah Rama dan memesan kamar di hotel tersebut.
"Mbak pesan satu kamar untuknya,"
ucap Farah pada resepsionis di hadapannya.
"Mbak ini kunci kamarnya, mari biar saya antar menuju kamar"
"Terimakasih," ucap Farah.
Mereka berjalan menuju kamar tersebut.
"Sudah sampai, ini kamarnya mbak, jika membutuhkan layanan kamar mbak tinggal hubungi kami."
"Ya, baik"
Farah memapah Rama yang sudah hampir tak sadarkan diri, masuk kedalam kamar dan menutup pintu kamar tersebut, Kemudian membawa Rama dan membaringkan dirinya di atas ranjang.
"Merepotkan sekali dirimu malam ini, kalau tak kuat sebaiknya jangan mabuk dan bikin repot seperti ini."
Mendengar ucapan Farah, ia langsung menarik tubuh Farah hingga Farah terjatuh diatas dada bidangnya.
"kalau begitu izin aku merepotkan mu sekali lagi."
"Rama sadarlah..., sikap kamu ini kelewat batas"
Farah berusaha bangkit dan membebaskan diri, namun tak disangka Rama langsung membalikkan tubuhnya hingga posisi tubuhnya berada dalam tekanan Rama.
"Rama....Kau jangan macam-macam...!"
Farah aku....tak tahan lagi.
Rama langsung membungkam mulut Farah dengan ci*man bertubi-tubi, sementara Farah terus berusaha membebaskan diri, namun bukannya terbebas dari Rama yang sedang bermain diatas t***hnya, Farah malah semakin terperangkap jauh masuk ke dalam permainan Rama.
umm....Farah, aku tak tahan.
Rama terus memainkan b****r lembutnya, dan Farah yang tak sanggup melawannya hanya bisa pasrah dengan permainan Rama.
Puas bermain dengan b****r lembut itu, ia kini melanjutkan aksinya turun ke l***r jenjang milik gadis di hadapannya.
Rama yang selalu mampu menekan hawa nafsunya, entah ada apa dengan dirinya sekarang ia seakan sedang di rasuki roh jahat super mesum.
"Rama geli .... Sudah, aku mohon...!"
"Farah..."
Rama yang tak sanggup menahan sesuatu dalam dirinya yang terus meronta meminta untuk di p**skan seakan menggila mungkin karena ia
telah dikuasai oleh nafsu dan tak mampu menahan dirinya.
srekkkk....
Rama membuka paksa atasan Farah.
"Rama, hentikan...!"
Rama yang seakan tuli dan tak terkendali lagi, kini semakin jauh terperosok oleh nikmat surgawi dunia dihadapannya, meski berkali-kali terucap di mulut Farah meminta belas kasih namun Rama kini sudah di penuhi n***u hingga sedikitpun ia sama sekali tak memperdulikan Farah.
Melihat kem****kan t*b*h Farah ia semakin menjadi buas bagaikan harimau yang kelaparan sedang memakan mangsanya tanpa ampun.
"Ah....Farah kamu n***at sekali"
Sambil bermain pada bagian me***j*l dari t***h indah itu.
"Ah..."
Farah yang sudah terbawa suasana permainan pa***as Rama akhirnya melepaskan l**gu**n dari b***r manisnya.
Rama yang mendengarnya, langsung membalasnya dengan c*m**an mesra, memainkan Li**d*h lembut Farah dan berkali-kali m*lu***t b****rnya.
Puasa bermain di bagian atas Rama mulai melepaskan semua paka****nnya dan me****dih kembali Farah.
"Mas cukup. Kita sudah terlalu jauh, kamu masih bisa mengendalikannya, kamu belum mabuk sepenuhnya"
"Mas Rama jangan.....!,
Mas sakit.....,
mas..!"
Rama yang berhasil menembus dinding pertahanan Farah...
Membuat Farah diam dan pasrah....
Bulir air mata Farah kini menghiasi permainan p***s itu, sakit memang sangat sakit jika sesuatu yang sangat berharga direnggut dengan paksa, terlebih lagi oleh pria yang sama sekali belum mendapatkan tempat terbaik di hatinya.
Hanya sesekali Farah merangkul Rama karena perih yang ia rasakan, semakin cepat h****kan yang dibuat oleh Rama semakin perih pula rasanya, akan tetapi rasa itu tentu berbeda dengan yang Rama rasakan, ia semakin dalam me***mati permainan tersebut dan menjelajahi sekujur t***h indah sang gadis, me****mati dari ujung ke ujung hingga sampai pada puncak n****t terindah dalam hidupnya.
"Agrrrh....Farah, kamu sungguh n****t....."
Brukkk....
Rama menjatuhkan dirinya dan berbaring disamping Farah. Sedang Farah hanya terdiam dengan bulir air mata yang terus mengalir dari sudut matanya, harga dirinya sudah hancur, dan entah bagaimana ia akan menghadapi kehidupan kedepannya.
Niatnya baiknya menolong kini berbalik dia yang celaka dan hancur.
"Mas Rama, aku tak menyangka dirimu setega itu padaku, bukannya kamu tidak mabuk sepenuhnya tapi kenapa tak bisa menahannya."
Karena lelah fisik dan pikiran, Farah pun terlelap disamping pria yang sudah menghancurkan harga dirinya.
***
Sinar mentari mulai menampakkan dirinya dan menembus dinding kaca, membuat Kilauan indah di mata sepasang insan yang sedang terlelap oleh dunia yang kadang tak selalu menawarkan kebahagiaan yang hakiki.
Rama terbangun lebih dulu, membuka dan menyempitkan mata, hingga ia tersadar sepenuhnya dan pandangan matanya langsung tertuju pada gadis di pelukannya.
"Farah....kamu bersamaku. Apa aku tadi malam telah berbuat melewati batas?"
"umm..." Farah mulai terbangun dan mencoba membuka mata dengan perlahan.
"Ah....sakit, kenapa tubuh ku terasa sangat sakit?", ucap Farah dan terdengar oleh Rama yang masih berbaring memeluk tubuhnya.
"Farah Maaf"
deg....
"Kamu....."
Farah langsung melepaskan diri dan menjauhkan tubuhnya.
Sedangkan Rama hanya terdiam, lidahnya seakan menjadi kaku.
Tak ada yang bisa ia perbuat, Rama sadar jika dirinya telah memaksakan kehendak pada Farah.
Melihat mata sembab sang gadis membuatnya semakin merasa bersalah, entah berapa banyak air mata yang ia tumpahkan untuk menahan rasa sakit akibat kelakuannya semalam.
Farah berusaha menguatkan diri, sudah cukup baginya untuk terus menangis dan membuatnya lemah. namun ketika ia hendak bangun dari tempat tidur fisiknya justru tak sekuat hatinya, ia justru ambruk kembali di tempat tidur.
Melihat gadis yang berlagak sok kuat di hadapannya, membuatnya tak bisa menahan tawa. Farah yang sempat melihat sikapnya, langsung menghunuskan tatapan maut seakan ingin segera mencabut nyawa pria yang telah membuat remuk dirinya, kini malah menertawakan dirinya yang tak mampu bangkit dari tempat tidur.
"Rapuh sekali gadis ku ini, baru juga sekali. Bagaimana nanti kedepannya?"
"Nanti....kamu bilang nanti..."
"Iya, nanti dan selamanya," ucap Rama dengan tatapan lembut pada Farah.
"ih....seram"
"hahaha....kayaknya semalam aku berubah menjadi hantu dihadapan mu?"
Rama mendekat pada Farah dan mengulurkan tangan kemudian menggendong gadis itu menuju kamar mandi, dan membantunya untuk membersihkan diri.
"Katanya dokter, tapi tubuh mu ini sangat lemah"
"Kamu yang terlalu kuat, mana bisa aku menahannya, dasar bejat, sekarang malah mengatai ku lemah"
"Jangan khawatir aku akan bertanggung jawab atas semuanya, dan aku tak akan melakukan dengan kasar lagi"
"siap yang mau jadi istri pria buas sepertimu"
"Tapi sayangnya sesuatu yang menjadi milik ku tak akan pernah aku lepaskan, paham!"
"Lalu bagaimana dengan Anjeli?"
ucap Farah memastikan isi hati pria yang telah memaksakan kemauannya padanya tanpa kompromi.
"Masa lalu, aku melakukan pada mu itu bukan tanpa sadar, bahkan di pikiranku tak sedikitpun teringat padanya, mungkin rasa ini memang telah lama hadir hanya saja aku yang tak menyadarinya, melihat mu tadi malam aku benar-benar tak sanggup menahannya"