
Setelah di rawat selama enam hari di rumah sakit internasional Malaysia. Hari ini anjeli dan putranya bisa pulang kembali ke rumah Alma.
"Ahirnya kita kembali ke rumah dengan anggota keluarga baru,"ucap Alma.
Anjeli yang merasa khawatir dengan perusahaan suaminya di Indonesia, merasa harus membuat mas Bagas mengambil keputusan untuk segera kembali.
"Mas, sudah seminggu kamu bersama kami di sini, kapan rencana kamu akan pulang?"
deg.
Anjeli, kenapa ia menanyakan hal ini padaku, apa ia sungguh tak menginginkan kebersamaan ini lagi. Seketika hati Bagas yang sudah senang luar biasa, karena Anjeli tak mempermasalahkan dirinya dan terlihat menerima keberadaannya kembali, kini suasana hati berubah menjadi suram, dengan pemikiran yang berlebihan.
"Apa keberadaan ku disini, membuat kamu tak nyaman?"
"Mas, kamu salah paham. Aku hanya mengkhawatirkan perusahaan kamu dan ibu di sana, ia pasti akan kesepian tinggal di rumah seorang diri."
Lega......
"Aku pikir kamu, akan membuang ku sekarang, karena kamu juga sudah sukses dan tak membutuhkan ku lagi."
"Mas, ucapan mu itu....!"
"Kalau begitu kita pulang bersama sekarang....!"
Mendengar ucapan mas Bagas, Anjeli terdiam seketika, ia belum memikirkan hingga kearah itu, hingga sekarang, ia masih mau fokus dengan usahanya bersama Alma di Malaysia.
"Anjeli....!"
"Mas, aku pikirkan dulu, tapi untuk sekarang kamu pulanglah seorang diri, aku akan merawat kedua anakku dan aku tak ingin merepotkan ibu lagi."
Sendiri......
"Oh...tidak, tanpamu saja aku tak sanggup apa lagi sekarang, Bagas harus pulang sendiri tanpa ke dua anakku, terutama Siera, aku pasti tersiksa dengan rasa rindu setengah mati," gumannya seketika mendengar ucapan sang istri yang tak berpihak dengan perasaannya sama sekali.
"Anjeli, kau ini tega sekali. Kamu pikir aku tak tersiksa dengan perpisahan kita."
"Mas, kau ini. Ada apa denganmu sekarang, aku sepertinya tak mengenalmu. Kita tak kekurangan uang untuk membeli tiket dan kamu bisa datang kapan saja."
"Aku pikir, kamu beneran gak mau bersama ku lagi, dan karena sudah sukses, ingin merawat mereka seorang diri."
"Huft...aku semakin sulit dengan sifat mu yang melankolis sekarang."
Melankolis....
Ah....Anjeli andai kau yang berada di posisiku hari itu, kau juga akan bersikap seperti ini. Melihatmu meregang nyawa, bahkan sudah tak bernapas lagi, belum lagi melihat anakku yang hampir tak terselamatkan, semua itu merubah segalanya dalam sekejap, aku baru merasakan kehilangan yang begitu mendalam. Meski hanya sekejap, tapi rasanya bagaikan disambar petir.
"Baiklah, besok aku akan balik, tapi janji ketika aku menghubungi mu kau harus selalu mengangkatnya, dan jangan tak mengabari ku dalam sehari."
"Mas, bersiaplah....aku sudah mengurus tiketnya, kamu tinggal berangkat."
"Bahkan tiketnya sudah ada, benar-benar tak memberiku pilihan sama sekali, Anjeli pembalasan mu ini sungguh kejam, kau tak tau rasa rindu akan menyiksaku." Begitu pemikiran yang muncul dalam benaknya, entah ia sanggup menjalaninya.
Keesokan harinya....
Bagas pun segera berangkat dan pulang ke Indonesia.
Pesawat mendarat dengan aman, sejak di perjalanan Bagas pun terlihat murung, Alang yang sudah memahami hati melankolis bosnya itu, tak banyak bicara padanya. Ia hanya menanyakan hal yang penting sesekali.
Tanpa mengabari Nyonya Miranti, mereka langsung kembali ke rumah.
Sampai di rumah....
Miranti yang sebenarnya sudah banyak perubahan, ia langsung keluar melihat cucu dan anaknya.
Oh....alangkah terkejutnya ia melihat, jika Bagas pulang seorang diri, tanpa cucunya, dan tanpa menantunya. Hatinya seketika menjadi sedih, banyak hal yang ingin ia utarakan seketika sirna sudah semuanya. Tanpa banyak bertanya, ia pun kembali ke kamarnya dan mengurung diri, Miranti kini menyesali perbuatannya dulu, ia menyadari jika Anjeli adalah menantu yang terbaik sangat berbeda dengan Mira yang hanya memikirkan harta, martabat atau status sosial lainnya.
"Ibu, ada apa dengannya?, mimik mukanya jelas memperlihatkan kesedihan, sepertinya aku harus bicara dengannya, jika ia sungguh sudah berubah, aku akan mempunyai pendukung sekarang dan aku akan mengajaknya untuk ke Malaysia membujuk Anjeli pulang secepatnya, semua ini akan menyiksa hidup ku jika terus di biarkan." Pikiran Bagas yang tak pernah terlepas dengan istri dan anak nya yang jauh berada di luar negri.
Tok...tok...tok.
"Bu, buka pintunya. Ini ada oleh-oleh dari menantumu dan biar aku jelaskan kepulangan ku seorang diri."
Kreeek...
Pintu terbuka...melihat wajah sembab itu dihadapannya Bagas paham, jika ada kekecewaan mendalam untuknya.
"Bu, ini oleh-olehnya."
"Apa ia sangat membenci ku jadi ia tak ingin kembali lagi?, Apa tak ada kesempatan untuk ku lagi memperbaiki segalanya?, ia tak peduli lagi Bahkan Siera sekarang...!"
"Ibu, kau sungguh salah paham padanya, ia tak pulang bersama ku Karena masih kurang sehat, bayangkan saja ia barusan habis operasi dan harus menempuh perjalanan jauh, itu tidak mungkin, Bu."
"Jadi kapan kita akan ke Malaysia?"
"Ibu, aku saja baru sampai, Ibu malah bertanya padaku kapan kita akan ke Malaysia. Yang benar saja, Bu."
"Nak, Ibu rindu mereka, kamu pikir tinggal sendiri itu enak?"
"Bu, kita mempunyai masalah yang sama, Bukan Ibu saja yang seperti itu, apalagi ke dua anak ku jauh diluar negri."
Ke dua anak kamu.....
Miranti langsung terpikir cucunya yang belum bisa ia lihat.
Uhuk...Uhuk...
Tangisannya semakin kuat, Miranti benar - benar merasakan kerinduan yang mendalam, andai ia bisa memutar waktu kembali ingin rasanya ia menyambut dan memperlakukan menantunya dengan baik sejak awal, dan Anjeli takkan pernah meninggalkan dirinya.
Melihat Ibunya, Bagas tak dapat berbuat lebih banyak sekarang.
"Bu, sebentar malam aku janji akan menghubungi mereka lewat VC, biar Ibu bisa melihat mereka."
Mendengar kata VC, berulah Miranti bisa lebih tenang sedikit.
***
"Ayah......Ayah....!"
Siera yang baru terbangun dari tidurnya langsung mencari sang Ayah, karena ketika Bagas pergi Siera masih tertidur bersama sang adik. Hal ini juga sengaja Anjeli lakukan agar Putrinya tidak merengek dan merepotkan Bagas, dan membuat suaminya tak berubah pikiran lagi.
"Nak, Ayah...sudah pulang ke Indonesia, nanti kita akan nyusul kalau Ibu sudah sehat."
"Bu, jahat tidak bangunin Siera. Ayah pergi dan Siera tidak tau."
"Sudah, Mungkin sekarang Ayah sudah sampai, kamu mau Ibu hubungi Ayah?"
"Boleh.."
Kring....kring...
Bagas yang baru akan keluar dari kamar Ibu Miranti, mendapat VC dari Anjeli, seketika ia langsung mundur dan duduk kembali di atas ranjang bersama Ibunya.
"Anjeli menelpon Ibu."
Miranti yang sebelumnya masih sedih langsung kegirangan.
"Ayah....Ayah....Ini Siera, kangen sama Ayah, gak kasi bangun Siera, main tinggal aja."
"Siera, kamu gak rindu sama Omah."
"Ah....Omah....Rindu...."
"kamu kayaknya gak rindu deh, buktinya senang gitu. dan tak pernah menghubungi Oma, selama di sana. Oma sangat rindu."
"Ibu...Maaf. Persalinan Anjeli kemarin Agak sulit, jadi kami tak sempat menghubungi Ibu. Mas Bagas juga sangat kelelahan mengurus kami. Tak ada maksud seperti itu Bu."
Mendengar suara menantunya untuk pertama kali setelah sekian lama mereka terpisah, Miranti langsung menangis sesegukan, Ia langsung menyerahkan hp milik Bagas tanpa membalas ucapan Anjeli.
"Mas, Ibu kenapa, sepertinya aku melihatnya menangis."
"Ya, ia tak sanggup lagi berbicara denganmu, ia sangat merindukan kalian, Minggu depan jika keadaanmu sudah membaik aku dan Ibu akan menjemput kalian."
"Jangan Minggu depan besok saja." Miranti langsung menyerobot pembicaraan mereka."
"Ibu, jangan mulai lagi deh, Anjeli dan Putra ku belum bisa melakukan perjalanan jauh sekarang. Ah....ibu ini lebih merepotkan di bujuk dari pada Siera." Cetus Bagas yang masih terdengar oleh Anjeli dan Siera.
"Omah, jangan sedih Siera akan sering menelpon Oma."
"Baik, minggu depan Omah jemput yah."
"Sepertinya Ibu sudah banyak berubah sekarang, begitupun juga dengan Mas Bagas, tapi sifat mereka ini lebih merepotkan dari pada yang dulu." Guman Anjeli.