SIERA

SIERA
21.



Buat para pembaca setia yang bertanya-tanya....


Kapan Siera akan muncul....?


Kok, Gak sesuai judul....?


Kok, dalam kisah tentang orang tuanya melulu.....?


Mohon Maaf Yach...!


Mulai Bab ini dan seterusnya kita akan mengungkapkan kisah Siera dan kesehariannya, serta tingkah cerdasnya membantu sang ayah menjalankan perusahaan, dan menyatukan kembali ke dua orang tuanya...memadamkan karakter angkuh dari seorang CEO, dan memunculkan kasih sayang ❤️sekebon dari CEO yang konon alergi sama wanita karena sakit hati yang mendalam.


...****************...


Siera Bagas Wirawan...


Gadis mungil cantik dan cerdas, berpendirian teguh dan selalu cerewet, tetap saja pasti punya sisi angkuh yang diwarisi dari sang ayah.


Hari ini adalah hari ulang tahun gadis mungil tersebut, suasana di kediaman Bagas Wirawan sangatlah ramai, banyak para tamu undangan dari kalangan atas turut hadir memeriahkan acara spesial tersebut.


"Ayah........!"


Panggil Siera kearah seorang pria yang baru saja memasuki ruangan pesta tersebut, meski pesta hanya diadakan dikediaman Bagas, namun suasananya tak kalah dengan hotel berbintang lima.


Kediaman tersebut telah dirombak habis-habisan oleh sang pemilik, dengan alasan ingin membuang jauh jejak Anjeli istrinya dalam kediaman yang super big itu.


Bagas kerap kali tak merasa nyaman dengan suasana rumah yang masih menyimpan kenangan sang istri di setiap sudut ruangan.


Sembilan bulan sudah pertemuan Bagas terakhir dengan Anjeli. Ia tak pernah lagi mencari keberadaan Anjeli, meski Anjeli dan Bagas masih tinggal dalam satu kota yang sama.


Anjeli Pun sama ia tak pernah lagi berusaha untuk menemui sang suami, meski sekarang kondisinya tengah hamil besar dan akan segera melahirkan sang putra sesuai dengan diagnosa dokter melalui USG.


Balik ke Siera...


"Aku senang Ayah pulang. Tak kira, gak akan pulang kayak ulang tahun Siera yang ke tiga tahun kemarin?"


Siera yang masih mengingat Ayahnya dengan rasa kecewa mendalam padanya, karena waktu itu Bagas sama sekali tak menghiraukan dirinya apalagi acara ulang tahun untuk putrinya.


"Maafkan Ayah Nak, saya janji tak akan ada lagi ayah yang cuek dan tak sayang sama tuan Putrinya lagi."


"Janji harus ditepati dan gak boleh ingkar, ingat itu Ayah...!."


Bukan Siera Putri Bagas Wirawan jika tak suka berucap dengan penuh penekanan, seakan ingin menghakimi setiap lawan bicara dihadapannya.


"Hah....anak ini kian hari semakin meniru gaya bicara ku," Ucap Bagas lirih dan berjalan menuju kamar pribadinya di lantai atas, untuk berganti kostum dan menyegarkan diri sebelum menemani sang putri pada acara inti ulang tahun putrinya.


Teman-teman Siera pada berkumpul, karena dalam acara tersebut, panitia menyiapkan acara hiburan yaitu lomba meniup balon ulang tahun. Bagi siapa yang berhasil meniup balon lebih banyak, maka ia akan dinobatkan sebagai pemenang lomba dan berhak menerima hadiah terbaik dari Siera, dan memotong kue ulang tahun bersama tuan Putri.


Bagas kini sudah bergabung dan menambah kemeriahan acara sang putri. Mira tak membuang kesempatan terbaiknya begitu melihat kemunculan sang pujaan hati. Dengan berbagai trik licik Mira tak pernah pantang mundur untuk mendapatkan Bagas.


Mira yang sebelumnya enggan mendekat pada Siera, ketika melihat Bagas menemani putrinya, Mira tiba-tiba berjalan mendekati gadis cilik tersebut dan berusaha memainkan peran ibu tiri yang baik hati.


"Hay....tuan putri, selamat ulang tahun, semoga panjang umur dan menjadi anak yang cerdas dan tambah cantik selalu."


"ummmuach..." Mira mencium pipi kanan dan kiri Siera sebagai tanda kasih sayang pura-pura yang mendalam.


"Mak Lampir ini, kian hari semakin lihai memainkan peran ibu tiri yang baik hati," begitu pemikiran Siera melihat akting perempuan licik di hadapannya itu.


Mira yang tak pernah menyangka jika kecerdasan Putri Bagas ini diatas rata-rata kecerdasan anak-anak pada umumnya, bahkan kecerdasan Siera sendiri mampu mengalahkan kecerdasan para orang dewasa termasuk ayahnya sendiri.


"Cih...anak ini, tak bisa diajak kompromi sama sekali, ia malah mengelap bagian pipinya bekas aku cium tadi dihadapan ku dan Bagas."


"Akting mu terlalu murahan, Mak Lampir," Bisik Siera dan membuat telinga Mira meradang dibuatnya.


"Hah....sial. Dari mana anak ini belajar kasar seperti itu, sifatnya ini bagaikan pinang di belah dua oleh sang ayah," guman Mira mendengar bisikan maut dari Siera.


Siera yang malas berurusan dengan Mak Lampir menarik tangan Ayahnya dan menjauh dari wanita licik itu.


"Ayah...ini untukmu, terimakasih sudah menjadi Ayah yang baik, dan tidak cuek lagi"


Deg.....


Mendengar kata tidak cuek lagi, hati Bagas bagaikan sedang tertusuk anak panah menembus jantungnya.


"Ternyata putri ku sudah semakin besar dan pandai menilai orang lain."


"Hehehe....maaf Ayah, tapi aku masih kecewa dengan Ayah yang dulu."


"Ayah janji akan menjadi orang tua yang lebih baik dan penyayang untuk Siera."


Siera menarik dasi sang Ayah dan menyuruhnya menundukkan wajah tepat dihadapan sang putri.


Cup.....


Satu ciuman mendarat di kening sang Ayah.


"Wauah...nambah lagi Nak," sambil menunjukkan pipi kiri dan kanan.


"Ah...tak seru, itu ciuman untuk anak-anak."


"Hahaha...."


Terdengar tawa ramai dari semua tamu yang menyaksikan momen romantis antara anak dan ayah itu.


"Anak ku memang sudah besar sekarang."


"Hey....kau ini belum berubah juga, masih saja suka memaksakan kehendak." Ucap salah seorang tamu yang baru datang.


"Paman Rama...."


Teriak Siera ke arah Rama dan sang istri yang tak lain adalah dokter Farah.


"Hay...Farah. Makin buncit aja kamu, akhirnya Rama berhasil meniup balon kali ini."


"Mas Bagas, banyak anak-anak, jaga ucapan mu itu."


"Maaf Farah, aku hanya bahagia melihat kalian masih menyempatkan untuk hadir."


Bagas melihat ke arah belakang mereka seakan mencari sosok yang biasanya terlihat mengekor mengikuti Rama dan Farah.


"Cari Sean?, katanya ia tak sempat hadir lagi sibuk dengan persiapan acara nikahannya sepekan lagi." jelas Farah pada Bagas.


"Siera, ini kado kamu dari paman Rama, dan paman Sean."


"Wah....cantik sekali aunty. Siera sangat suka." Boneka panda yang super gede' dan boneka beruang raksasa hampir setinggi orang dewasa.


Melihat keakraban mereka tampaknya perselisihan itu sudah selesai dan tamat, namun berbeda dengan Anjeli dan Bagas, yang masih menyimpan kisah misteri yang tak terpecahkan hingga kini.


Usut punya usut, ternyata Anjeli untuk beberapa bulan berjalan berhasil menjadi seorang designer yang hebat di negri Jiran, dan jarang kembali ke Indonesia karena keadaannya yang tengah hamil.


****


Mohon kritik dan saran untuk meningkatkan kualitas karya lebih baik lagi.🙏


Jika Siera mampu menarik hati para pembaca setia, jangan bosan-bosan yach...!


Berikan dukungan sebanyak-banyaknya agar author lebih semangat lagi Up kelanjutan kisah dari Siera.


semoga kisah Siera dapat menghibur.


Salam dari Siera....


🥰