SIERA

SIERA
46.



Malam hari menjelang, Siera dan Anjeli sedang sibuk packing.


"Apa yang sedang kalian lakukan?, kenapa mengemas barang seperti itu?, apa kalian akan pergi?, tapi kenapa mas Bagas sudah pulang duluan dan kenapa kalian tak pulang bersama?," tanya Alma beruntun pada sahabatnya.


"Kami tidak pulang ke Indonesia, Aunty!" jawab Siera.


"Lalu?" tanya balik aunty Alma.


"Ibu mengatakan ia ingin ke Paris?" jawab Siera kembali.


"Hah...?, Paris...!, apa aku gak salah dengar?" jawab Alma sedikit kaget mendengar Siera.


"Ya, Aku dan anak-anak akan ke Paris esok hari," setelah pertanyaan kesekian kalinya barulah Anjeli menjawabnya.


"Apa masalahnya begitu parah Anjeli, sampai kamu harus pergi sejauh itu meninggalkan kami semua?" Alma semakin serius mengajukan pertanyaan pada sahabatnya itu.


"Jangan salah paham Alma, aku hanya ingin melanjutkan studi di sana, mengambil jurusan fasion."


"O.....aku kira kamu marah dengan kami."


"Anjeli biar aku bantu," ucap Alma tak ingin berpisah dengan Anjeli dan kedua keponakan lucunya itu.


"Jangan, kamu lagi hamil. Aku sudah finish."


Alma terpaksa duduk menonton Anjeli yang sibuk menyelesaikan pecking barang miliknya.


"Kenapa tiba-tiba?, bukan kah di sini juga bisa melanjutkan kuliah dan gak perlu sejauh itu sampai di Paris ?"


"Alma...!, kapan pertanyaan kamu akan berakhir?" tanya balik Anjeli yang sudah kewalahan dengan pertanyaan beruntun dari Alma.


"Kamu yang tiba-tiba pergi, kamu kan tau aku gak pernah masalah jika dokter Sean masih menyimpan namamu di hatinya," jelas Alma pada Anjeli.


"Istri mana yang akan mampu menahan rasa cemburu, jika pasangannya berselingkuh apalagi pakai hati."


"Anjeli, maaf...!"


"Jangan minta maaf, sayang. Kamu gak sebanding dengan mereka, jika bukan karena Siera dan Amar aku juga tak peduli lagi."


"Derita mu kapan berakhirnya, aku saja sudah gak tahan..!" ucap Alma tak tega dengan keadaan Anjeli.


"Entahlah....aku hanya bisa bertahan dengan melindungi hati ini agar aku tetap waras, jika aku tetap bersamanya dan meladeni Mak Lampir itu, aku pasti akan gila."


"Ya, ini bukan masalah si mak lampir itu, melainkan suami kamu yang terlalu lengah padanya," jelas Alma.


"Mungkin ia menyimpan rasa untuknya, toh sebelum aku datang mereka memang telah lama berteman dan Mira memang telah lama naksir mas Bagas jauh sebelum aku datang."


"Bagas memang mengenal Mira karena kedua orang tua mereka dan awal bisnis yang Bagas bangun itu dari bantuan keluarga Mira, jika itung-itungan emang Bagas utang budi pada mereka, tapi Bagas juga pernah memberikan bantuan pada bisnis mereka hingga sukses seperti ini," jelas Sean yang sudah mulai terpancing buka suara dengan percakapan antara dia sahabat itu.


"Lalu, kenapa ia malah memilih saya?, kenapa bukan Mira?" tanya balik Anjeli.


"Itu, hanya Bagas yang mampu menjawab, ini berhubungan dengan masahalah hati, aku mana tau perasaan Bagas."


"Terus, aja bela dia, kalian memang klob satu sama lain, saling menutupi," sahut Alma kesal pada suaminya.


Anjeli kini hanya tersenyum melihat perdebatan kecil mereka.


"Antakan kami besok ke bandara jam tujuh pagi...!" pinta Anjeli.


"Hah....sepagi itu?" tanya Alma dan Sean serentak.


"Ya, Paris itu jauh dan aku juga harus mencari hotel tempat menginap sebelum menyewa apartemen di sana."


"Sudah tau ribet begitu, kenapa juga pergi ke Paris."


"Apa kamu lupa aku punya kerabat di sana?" lanjut Anjeli.


"O....Kak Diman, yah aku ingat dia."


"Gak mesti semangat gitu kali, takut ada yang cemburu," bisik Anjeli pada Alma mengingat Alma pernah menaruh hati pada kakak sepupunya itu.


"Hust....rahasia hati, jangan dibocorin," bisik Alma kembali.


"Aku dengar kok, gak perlu berbisik lagi." Sean yang cemburu langsung pergi meninggalkan mereka yang masih asyik bergurau tanpa perduli lagi padanya.


"Alma, kamu cium gak?....sepertinya ada yang hangus...!" ucap Anjeli menggoda Alma dan Sean.


"Hangus?, hidung kamu salah cium kali?, aku gak merasa?" ucap Alma pura-pura.


"Hahaha...." ejek anjeli pada seseorang dan Alma pun turut meramaikan.


"Ya, lucu sekali. Aku yakin bentar lagi harus manggil pemadam."


Sean yang gak tahan akhirnya muncul kembali, " kalau mau manggil pemadam cepatan....!, keburu hangus," ucap Sean pada Alma cetus bagai anak TK.


"Cepat sana...!, entar ngambek beneran tau rasa kamu." titah Anjeli pada Alma yang masih santai saja.


"Ya, aku heran udah tua juga, masih ngambekkan," cetus Alma.


"Ingat jam tujuh pagi."


"Ya" jawab Alma dan meninggalkan Anjeli yang sudah siap dengan koper-koper miliknya dan kedua anaknya.


Setelah packing, Anjeli mengajak kedua buah hatinya untuk beristirahat lebih awal, agar mereka tak ketinggalan pesawat.


*


*


*


Suasana di kamar Alma dan Sean.


"Yakin, gak mau beri tahu mas Bagas tentang keputusan Anjeli sekarang?" tanya Alma pada suaminya.


"Apa perlu?"


"Ya, jangan menjadi teman syaiton yang suka bahagia diatas penderitaan orang lain," jawab Alma dengan sindiran halus.


"Andai hati itu bisa dibelah dan kamu dapat melihat jelas apa isinya, aku sangat ingin membelahnya untuk istriku," jawab Sean dengan ungkapan penuh makna tersirat.


"Coba bisa dibelah betul, aku yakin tak berani mengatakannya!" jawab Alma tak percaya sama sekali.


Sean kini terdiam dan terlihat memikirkan sesuatu, tapi bukan perkataan istrinya yang mengganjal pikirannya, melainkan reaksi Bagas jika tahu kebenaran Anjeli.


Sean seketika merasa Anjeli akan pergi lama kali ini meninggalkan Bagas seorang diri.


Kalut dengan isi otaknya, Sean memutuskan menghubungi Bagas.


Kringggggg


"Ya, ada apa menghubungiku selarut ini?" tanya Bagas disebrang telpon.


"Anjeli akan ke Paris besok."


"Ya, aku tahu. Aku sudah menduganya makanya aku menyusulnya. Aku ingin mencegahnya tapi momennya tak mendukung.


"Lalu, kenapa tak mengabari ku sebelumnya. Aku bisa membantu mu," jawab Sean sedikit kecewa.


"Sudahlah, biarkan dia menemui satu-satunya kerabat dekatnya. Aku sudah menghubungi kak Diman, rival kamu. Makanya aku tidak mengabari mu."


"Aku sudah menang, dia bukan lagi rival."


"Jangan lupa, dia masih melajang Sean, ingat sobat kita Rama..!"


"Hahaha ... rival sejati kamu.!"


"Aku juga sudah menang, bukan rival lagi."


"Tapi pernah hampir kecolongan. Hahaha....!"


"Bahas apaan sih?, heboh benar!" sindir Alma yang risih dengan pembahasan masalah rival.


"Urusan para suami dan istri gak boleh kepo...." jawab Sean menggoda Alma, meski ia tau jika Alma mendengar pembahasan mereka karena Alma memang bersandar di dada bidang suaminya sejak awal percakapan mereka.


"Gila, Alma lumayan sabar. Jika itu Anjeli mungkin aku sudah koid saat ini, ia semakin galak setelah punya dua anak."


"Induk ayam juga galak saat sedang bersama anaknya, mungkin aja mereka satu sifat," jawab Sean asal.


"Jangan salah kamu, induk ayam lebih galak saat sedang bertelur," lanjut Bagas kembali


Alma yang mendengarkan langsung melonjak ....Sean....!


"Ets' ...udahan dulu, induk ayam aku mengamuk sekarang," ucap Sean


"Hahaha....." suara tawa Bagas masih terdengar sebelum Sean menutup telpon.


"Seannnnn......!" teriak Alma.


"Ya, maaf hanya bercanda doank, sayang...!


...----------------...