SIERA

SIERA
8.



"Ehm....siapa yang kalian bicarakan dengan berbisik seperti itu?."


"Maaf, Tuan."


Sepertinya mereka sedang tertangkap basah, untung hari Tuan Bagas sekarang sedang cerah jadi tak mempermasalahkan yang terjadi di hadapannya.


"Cepat, kita ke perusahaan pak Rama sekarang...!."


"Sekarang Tuan?," tanya Asisten Alang, karena tak biasanya Tuan terburu-buru jika bersangkutan dengan masalah kerja sama dengan pengusaha baru.


"Apa perlu aku panggilkan dokter THT sekarang untukmu?."


"Siap...,Tuan."


Melihat kemunculan tuan Bagas secara tiba-tiba, Bu Mia ketakutan sampai gemetar, pegawai lain yang memperhatikan dari jauh langsung menemui Bu Mia setelah tuan Bagas meninggalkan kantor.


"Bu' jantung aman?," sambil menyodorkan air mineral.


"Hampir copot," Jawab Bu Mia dengan mengelus dada.


"Bos kian hari tambah galak, bertemu dengannya saja kami tak berani mengangkat wajah, takut lihat mukanya yang seram...!."


"Kamu jangan mancing, dia tiba-tiba muncul lagi seperti tadi, aku bisa kena serangan jantung."


"Hahaha....Bu Mia sih berani bergosip udah tau masih ada bos di sekitar kantor."


"Iya, gara-gara si Alang itu, curhat gak tepat waktu."


Bu Mia yang hampir kena terkam hari ini, langsung merasa lemas.


***


Setelah mereka sampai di depan kantor pak Rama, Asisten Alang langsung turun dari mobil dan melapor pada pak satpam jika Tuan Bagas ingin bertemu.


Pak satpam langsung melapor pada bagian resepsionis, dan mereka yang akan melanjutkan menyampaikan pada pak Rama akan kedatangan Tuan Bagas di kantornya sekarang, karena terlalu lama Bagas langsung turun dari mobil dan memasuki kantor Rama, bertanya pada resepsionis di mana ruangan Rama Putra Hardian Bos mereka.


"Tunjukkan ruangan Bos kalian, aku ingin segera bertemu dengannya,"


ucap Tuan Bagas dengan penuh tekanan.


"Tapi Tuan, anda harus melapor dulu" ucap pak satpam."


"Buang waktu, tunjukkan ruangannya atau hubungi dia katakan kerja sama kami batal."


"Mendengar ucapan itu sang resepsionis yang mengenal karakter Tuan Bagas tak berani menanggapi, ia langsung memberi kode pada pak satpam untuk mengantarnya."


Setelah sampai di depan ruangan pak Rama , pak satpam yang hendak mengetuk pintu langsung di tepis tangannya oleh tuan Bagas, dan Bagas langsung membuka pintu ruangan tersebut.


Untung di dalam ruangan tersebut sudah tidak ada Anjeli, karena ia baru saja keruangan barunya setelah Rama menerima lamaran kerjanya.


Rama yang terkejut langsung berdiri menyambut Tuan Bagas dengan sedikit gugup, hal ini disebabkan karena Anjeli sedang berada di perusahaan travel milik Rama yang baru berdiri selama dua tahun lebih, namun mempunyai perkembangan yang pesat dan tidak terpengaruh sama sekali dengan dampak pandemi di tahun sebelumnya.


"Senang Tuan meluangkan waktu untuk berkunjung dikantor kecil kami," sambut Rama dengan sikap yang ramah.


Bagas yang sudah duduk tampa menunggu di persilahkan, langsung menaruh laporan diatas meja Rama yang sudah lama ia kenal dan pernah menjadi saingan cinta dengan Anjeli.


"Silahkan kamu baca...!, aku bisa menunggu lima menit."


Rama yang sudah kenal dengan tempramen Bagas tak banyak memberi tanggapan, ia langsung mengambil berkas tersebut dan membuka bagian terpenting saja, Jika tidak mana mungkin ia bisa membaca berkas tebal dua centi meter selama Lima menit.


Bagas yang jeli bisa menangkap lirikan sinis Rama padanya.


"ada apa dengannya?, aku kenal dengan kamu Rama, sepertinya dia menemukan sisi kelemahan ku, namun itu bukan terletak pada berkas kerja sama kami, melainkan ada hal lain yang ia sembunyikan,"


gumannya dengan lirikan sinis Rama yang sempat tertangkap oleh nya.


"Ya, aku setuju dengan kerja sama ini," sambil menanda tangani berkas yang Bagas sodorkan padanya, dan memberikan berkas tersebut kembali pada Bagas .


"Ngomong-ngomong, aku dengar kabar akhirnya Anjeli menyerah dengan harimau buas sepertimu.


Kali ini jangan harap kamu akan kembali padanya, kesempatan itu tak akan aku berikan padamu lagi,"


ucap Rama dengan penuh penekanan.


"Oh..., pantas saja menejer bank ternama yang ada dihadapan ku ini mati-matian bersaing bisnis dengan ku karena ada udang dibalik batu."


"Aku yang bodoh, menyerahkan orang yang sangat aku cintai untuk mu, dan sekarang aku melihat kau campakkan dia begitu saja."


"Jangan pernah berani menyentuh istri ku, jika itu terjadi aku pastikan kamu tak akan pernah bisa menggunakan senjata biologis kamu lagi."


"Bagas Wirawan, bukannya dia yang meninggalkan kamu. bagaiman jika dia yang datang menyerahkan dirinya padaku, aku takut aku tak sanggup menolak wanita berkelas seperti Anjeli, meski ia seorang janda, tapi nikmat dari istrimu bukan kah tak sebanding dengan perawan di luar sana."


Bagas yang tersulut emosi langsung menarik kerah baju Rama, dengan mengepalkan tangannya, ingin rasanya Bagas melayangkan kepalan tangan itu membungkam mulut berbisa dari Rama.


"Simpan emosi kamu dengan baik, sebelum kamu melihat aku merangkulnya didepan umum."


Akhirnya waktu yang telah lama Rama nantikan kini terjadi di depan matanya, melihat Bagas merasakan sakit yang luar biasa melihat orang yang sangat ia cintai direbut oleh orang lain.


"Silahkan, aku ingin melihat sampai dimana kemampuan seorang Rama Putra Hardian menaklukan istriku."


"Deal."


Bagas menghentikan cengkeramannya dan merapikan kerah baju Rama dan berjabat tangan dengannya.


"Untuk bersaing dengan Bagas Wirawan, sebaiknya jaga nyawa anda dengan baik."


Setelah kalimat terakhir itu terucap Bagas langsung meninggalkan ruangan kantor Rama dan menutup pintu ruangan itu dengan membantingnya sekeras mungkin.


"Udah tamu tak di undang, sikapnya gak sopan lagi," guman Rama yang terlihat bahagia menyaksikan kemarahan seorang Bagas Wirawan.


"Aku masih sangat mencintai istrimu Bagas, kesempatan ini tak akan aku biarkan lepas seperti sebelumnya."


ucap Rama sambil melihat duplikat berkas kerja sama mereka.


Rama yang sadar betul jika ia tak mungkin bersaing bisnis dengan Bagas, namun tidak dengan persoalan cinta.


Bagas meninggalkan kantor Rama dengan penuh emosi melihat tingkah Rama yang berbeda dari sebelumnya.


"Rama semakin berani sekarang, rupanya ia masih mencintai Anjeli," guman Bagas yang merasa khawatir jika Rama bertemu dengan Anjeli kembali.


"Kamu secepatnya cari kabar tentang keberadaan Anjeli dan paksa dia kembali ke rumah."


"Kenapa wanita itu sulit aku kendalikan dari dulu, apa aku terlalu memanjakannya, awas kamu Anjeli aku takkan memberimu ampun kali ini," bisik Bagas yang terdengar sampai ke telinga asisten Alang.


"Gawat jika tuan menemukan nyonya, maka ia akan dilahap bulat-bulat olehnya, kalau begitu lebih baik nyonya bersama dengan Tuan Rama," guman asisten Alang yang khawatir jika nyonya Anjeli kembali kepangkuan suaminya lagi, ia bisa celaka dibuatnya.