
Alma sangat khawatir melihat Bagas tak kunjung keluar dari ruangan pasca operasi.
"Aunty, kenapa Ayah lama keluarnya, Siera tegang nih, Siera mau tau keadaan ibu Anjeli." Rengek Siera pada Aunty Alma.
"Sabar ya, Nak. Aunty juga tegang nih. Ayah kamu lama keluarnya, tapi kita belum boleh masuk. Anak sabar entar dapat hadiah Dede bayi." Hibur Alma pada Siera, meski ia tak tau jika anak dalam kandungan Anjeli selamat atau tidak.
"Benar...?"
"Iya..." (Ya Tuhan apa yang sedang aku katakan pada Siera, selamatkan mereka, aku mohon), Alma memang tak yakin, tapi ia terus berdo'a atas keselamatan Anjeli dan putranya.
"Hore...Hore...Horeeeeee......!
Dapat Dede bayi,
ada teman baru,
gak kesepian lagi,
Horeee....!" teriak Siera kegirangan, ditengah kondisi sang ibu yang berjuang melawan maut.
"Nona, apa bisa kita bertanya keadaan Tuan dan Nyonya di dalam, aku sangat khawatir, Tuan belum keluar juga." Tanya Asisten Alang pada Alma.
"Coba aja, kali yah, siapa tau ada info dari mereka."
Setelah beberapa jam menunggu, hingga jam dinding sudah menunjukkan jam empat dini hari, dan sebentar lagi mentari akan menunjukkan cahaya merah di ufuk timur, menandakan dirinya bersiap untuk menerangi dunia yang gelap. Malam tak lama lagi akan berlalu, gelap di luar sana, tak lama lagi akan berganti terang dan menjadikan suasana hari cerah. Namun, tak secerah suasana hati mereka sat ini.
"Suster, di ruang pasca operasi ada pasien atas nama Anjeli dan dia sedang ditemani oleh suaminya, apa boleh kami mendapatkan sedikit saja info dari mereka, aku sangat khawatir, suaminya belum keluar dari ruangan pasca operasi dan ini sudah dua jam lebih, tolong lah bagi kami info sikit sajalah...!" ucap Alma yang sedang mengeluarkan bujuk rayuannya untuk mendapat info keadaan Anjeli.
"Maafkan kami, Nona...!, saya saja yang bertugas disini tidak diperbolehkan untuk masuk. Saya mohon maaf tak bisa memberikan info pada Nona."
"Baik, Sus. Aku paham kok."
Alma menghela napas panjang, karena tak dapat info sedikit pun, terpaksa ia kembali ke ruang tunggu.
"Bagaiman?"
"Mereka juga, gak tau."
Siera yang cerdas, kini punya akal jitu, Siera tiba-tiba menangis meraung-raung di ruangan tunggu pasien.
"Ayah.....perut Siera sakit....aduh....Aku ingin Ayah...mana Ayah....Aku mau Ayah."
"Waduh. Non Siera kok' tiba-tiba....
Bukannya tadi dia baik-baik saja....
pasti ini akal bulusnya lagi.
Ah....ikutan juga deh, siapa tau berhasil," pikir Alang melihat tingkah gadis kecil itu, yang sangat pandai membaca suasana.
"Non, ada apa...?, aduh gawat, dia sakit perut, biasanya Non kalau sakit gak pernah mau sama orang lain, ia maunya sama Ayahnya. Gimana ini?"
ucap Alang yang turut ikut terlibat sebagai pemeran figuran yang memperkuat akting tokoh utama.
Alma terlihat mengerutkan kening, sangat tak mungkin baginya Siera tiba-tiba saki perut.
Alang yang melihat Alma belum connect juga, langsung memberi kode, jika mereka sedang bermain akting bersama.
Alma yang sudah paham, kini menambah drama sakit perut Siera menjadi dramatis dan membuat panik semua perawat yang berjaga, hingga salah seorang memberanikan diri masuk dalam ruangan dan menyampaikan kondisi di luar pada sang dokter.
Namun, kerana keadaan masih gawat, dokter hanya memberi kode agar dia segera keluar.
Perawat itu segera keluar, setelah mendapat kode keras dari sang dokter.
Dia berjalan ke arah mereka, dan memberi informasi, jika pasien di dalam ruang pasca operasi sedang gawat dan dalam penanganan darurat sekarang.
Alma, Alang, serta Siera langsung tegang....
tiba-tiba drama sakit perut itu terhenti.
"Apa ibu sedang gawat, apa itu artinya ibu sedang sekarat," pikir Siera sejenak.
Siera semakin menangis kuat, namun kali ini tangisannya bukan lagi karena Akting, melainkan tangisan sungguhan, begitupun dengan Alma.
***
Di dalam ruang pasca operasi....
Setelah hampir dua puluh menit mereka bergelut dengan berbagai alat kesehatan untuk penyelamatan pasien.
Tiba-tiba layar monitor EKG, yang di gunakan untuk memantau jantung pasien yang gawat....tiba-tiba terhenti, dan terdengar bunyi.
Tut....Tut....Tut......
gelombang grafik yang biasa terlihat di layar, berganti menjadi garis lurus......
Bagas langsung mengancam akan menendang pintu jika dokter tak segera membukakan untuknya.
dokter pun mengalah dan membuka pintu tersebut.
Bagas langsung mendorong sang dokter hingga terhempas dan terbentur ke dinding kaca.
Bukkk.....
Setelah mengurungku di dalam, kalian malah gagal dan membiarkan aku hanya menonton di balik pintu kaca itu, apa kalian masi mau hidup...?. segera lanjutkan penanganan kalian dan jangan berhenti hingga ia bernapas kembali.
"Ta_tapi, Tuan....itu tak mungkin."
"Tak mungkin katamu, lakukan....!"
Bagas berubah menjadi dirinya yang sesungguhnya....membungkam semua mulut dalam ruangan, membuat jantung seakan berhenti berdetak, semua tim medis ketakutan melihatnya.
Ia berjalan ke arah sang istri, menatap dengan pilu, sakit kian terasa lebih menyakitkan, apa lagi sebelumnya ia hanya bisa menonton perjuangan sang istri di balik pintu kaca.
Bagas memeluk Anjeli, meneriakkan namanya, dan memohon padanya untuk bangun dan memberinya kesempatan sekali lagi.
Semua orang dalam ruangan terdiam, keadaan menakutkan seketika menjadi keadaan mengharukan.
Bagas yang tadinya membuas, sekejap langsung berubah menjadi melankolis.
(Bagas ini, pintar sekali akting sama dengan Siera.)
Tak lama Bagas memeluk sang istri, garis lurus yang sebelumnya terlihat dalam monitor berubah menjadi grafik naik dan turun, menandakan jika Anjeli telah kembali dan menunjukkan bahwa dirinya masih mau berjuang melawan maut.
Perawat yang memantau langsung, kaget dan memberitahu sang dokter yang tak berani lagi mendekat pada Padas yang mengamuk sebelumnya.
"dokter pasien, bernapas kembali..."
"Bernapas kembali.................." Bagas terperangah, ia seakan tak percaya, dengan penuh semangat ia langsung melihat kearah dokter dan bergegas menarik tangan sang dokter yang masih gemetar karena dirinya.
"Tolong. Selamatkan dia...!"
ucap Bagas yang terlihat memohon pada dokter setelah ia hempaskan ke dinding dan membuat sang dokter gemetar hingga sekarang.
dokter langsung melanjutkan tugasnya menyuntikkan pada bagian infus beberapa obat yang dapat memperkuat detak jantung, memperlancar cairan infus dan terus memantau tanda-tanda vital pasien.
Kondisi Anjeli semakin membaik...meski ia belum sadarkan diri.
Bagas yang terlihat lelah, berjalan kearah dinding kaca yang terduduk bersandar, baru kali ini ia merasakan perjuangan hidup yang sesungguhnya. Bagas terlihat pucat dan lemah, ia juga terlihat memegang dadanya, dokter yang paham dengan kondisi seperti itu, langsung meminta perawat untuk menyuruh Bagas istirahat baring agar kondisinya membaik.
"Tuan tempat tidur pasien di sebelah nyonya ada yang kosong, sebaiknya Tuan beristirahat di sana dulu" ucap sang perawat dengan hati-hati, takut jika ia mendapat marah dari Bagas.
"Tak usah, biarkan aku di sini sebentar," ucapnya lirih dengan mata terpejam.
*
*
*
Mohon koreksinya, untuk membantu author membuat karya lebih baik lagi.
Lov U All.
❤️