SIERA

SIERA
20.



Setelah selesai membersihkan diri, Farah keluar lebih dahulu dan meninggalkan Rama membersihkan diri.


"Hey...bantuin, tidak tau terima kasih," ucap Rama menggoda Farah.


"Kamu sudah besar mas, masa aku harus memandikan mu juga, itu juga bagian dari tugas seorang istri."


"Hah...dosa apa aku bisa menjadi istri bayi besar seperti mu."


Tak peduli lagi, Farah semakin jengkel oleh sikap Rama.


Farah berjalan dengan pelan dan mengambil baju miliknya ketika hendak memakainya.


"Ya...ampun jadi baju ku ini sudah sobek, mas Rama sungguh keterlaluan, apa karena ia perjaka tua yang tak kuat menahan gejolak bertahun-tahun hingga berbuat kasar seperti ini, pantas saja badan ku remuk olehnya, pria buas itu sangat menyeramkan, siapa bilang malam pertama itu nikmat?"


"Ehem ...."


Rama yang sudah sejak tadi berdiri di belakang Farah dan mendengar bisikan tentang dirinya, langsung berdehem lembut ditelinganya.


"Hah....."


Farah sampai kaget dibuatnya.


"Cih....awas ketagihan..!"


"Lihat..." Menunjukkan jejak perbuatannya semalam.


"Maaf, tunggu sebentar. Aku sudah memesan baju buat kita."


"Sekarang makan dulu."


"Kapan makanan ini diantar?"


"Mungkin ketika kita sedang di kamar mandi."


"apa...!, jadi ada petugas hotel yang masuk dalam kamar ketika kita sedang di kamar dan ia pasti telah melihat ke kacauan ini, ah...memalukan sekali, apalagi jika ia tau itu aku, harga diriku semakin anjlok!."


"Berapa sih harga dirimu?, biar aku beli sekalian dengan semua yang ada pada dirimu."


"cih....OKB, Mas Bagas saja tak pernah sombong seperti dirimu."


"Jangan sebut pria brengsek itu di hadapan ku."


"Jika ia pria brengsek, lalu kau akan sebut apa dirimu ini sekarang?"


"kamu ini, kian hari semakin pintar berdebat."


tok..tok...


"Mas, itu siapa lagi?"


Farah langsung bergegas menyembunyikan tubuhnya di belakang Rama.


"Hanya orang suruhan aku, memintanya mengambilkan pakaian dan membelikan pakaian untuk mu"


"Masuk....!"


"Tuan...bajunya"


"Simpan di atas meja dan keluarlah...!"


"Baik, Tuan"


Farah yang penasaran langsung mengambil pakaian yang dibelikan oleh mas Rama dan mencobanya.


"Kok...bisa pas?, pakaian dalamnya juga" Farah mengerutkan kening menatap mas Rama.


"Kenapa?"


"Hebat kamu ...., bisa tau ukuran ku luar dalam."


Rama melangkah mendekati Farah. "Tadi malam aku sudah mengukurnya sekujur tubuh ini, setiap inci demi inci, jika tak puas dengan ukurannya, dengan senang hati aku akan mengukurnya kembali."


"Hah...!, udah pas kok, tak perlu ukur lagi, dasar mesum"


****


Rama tak mengalihkan pandangannya sama sekali, ketika Farah sedang berganti pakaian, Farah yang menyadarinya tersipu malu dihadapan mas Rama.


"Mas..., jangan diliatin seperti itu, malu tau. Cepat balik badan sana...!"


"Gak mau, Aku belum puas, malah di suruh balik badan"


"Hah..., belum puas apanya badan ku remuk semua, di sekujur tubuh juga ada tanda cap dari mu."


Rama bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Farah, dan merangkul tubuh gadis di hadapannya seakan ingin memakannya lagi, Farah langsung meronta, namun ia tak dapat melawan Rama, melihat Farah panik Rama semakin mengerjai gadis itu, hingga Farah berteriak keras memanggil namanya.


"Ramaaaaa.......!"


Rama langsung menutup mulutnya.


"Mas, ini memang termasuk pelecehan."


"Yuk, lapor ke KUA sekarang!,"


ucap Rama yang tak ada henti-hentinya menggoda Farah.


Melihat sifat asli dari mas Rama, Farah tak mau meladeninya lagi, ia lebih sibuk merapikan pakaiannya dan melangkah hendak meninggalkan Rama di kamar seorang diri.


"Fara tunggu, biar aku antar kamu pulang"


Rama yang menyadari jika Farah masih lemah, langsung berjalan mengikuti Farah, dan menggandeng tangannya, mereka berjalan hingga ke tempat parkir.


"Ais...perih"


Farah meringis dan tak sadar jika ia sedang di perhatikan oleh mas Rama.


"Masih sakit?, apa perlu kita ke dokter periksa?,"


ucap Rama yang berubah menjadi sangat perhatian padanya.


"huft....."


Farah hanya menghela napas panjang mendengarkan perkataan dari mas Rama, perhatian yang barusan diberikan malah membuatnya semakin kesal, ia tak menyangka pria di hadapannya itu sama sekali tak berpikir jika ia mengantarnya ke dokter sama saja ia sedang membuka aibnya sekarang.


Rama yang sama sekali tak paham hanya bisa menatap Farah dengan penuh pertanyaan, Rama berfikir jika semua wanita sangat sulit untuk di pahami. Hal inilah yang membuat Rama melajang hingga sekarang umurnya sudah memasuki angka kepala tiga.


***


Setelah mengantar Farah pulang ke rumahnya, Rama bergegas kembali ke kantor dan memeriksa keadaan kantor di pagi hari.


"Tuan..., barusan Tuan Bagas mencari anda, namun karena lama menunggu ia sekarang sudah balik ke kantor miliknya dan Tuan Bagas berpesan agar anda menemuinya di kantor sekarang juga."


"Ya."


jawabnya dengan singkat.


Setelah sampai di ruangan kantornya, Rama langsung menghubungi para bodyguard dan menanyakan keberadaan Anjeli sekarang. Bukan Rama jika ia tak mampu mendapatkan informasi keberadaan Anjeli secepatnya, kini ia tau jika Anjeli sekarang tinggal di kompleks perumahan sederhana dengan fasilitas yang lumayan lengkap.


Tanpa menghiraukan pesan dari Bagas, Rama bergegas ke kompleks perumahan tempat Anjeli tinggal sekarang. Rama sangat khawatir dengan keadaan Anjeli, meski sekarang perasaannya pada Anjeli sudah tak seperti dulu, sejak ia menghabiskan malam bersama dengan Farah, entah kenapa rasa itu juga langsung berubah dalam hati Rama, meski demikian perhatian Rama belum berubah sama sekali terhadap Anjeli.


Tiba di kompleks tersebut, Rama melihat Anjeli sedang berada di teras rumah dan mengobrol dengan tetangga baru di kompleksnya.


"Mas Rama,"


ucap Anjeli yang sama sekali tak menyangka jika Rama masih mencarinya setelah perdebatan mereka dikantor Rama.


"Ya, kenapa kamu pergi gak bilang sama saya?"


"Mbak Anjeli..., itu suaminya?"


Tanya tetangga Anjeli yang sedang berkunjung di rumahnya sambil perkenalan.


"Ah...bukan, hanya teman"


ucap Anjeli langsung menjelaskan kesalahpahaman nya.


"O....begitu, karena mbak ada tamu aku pamit dulu"


"Ya, makasih karena sudah bertamu di rumah, lain kali aku yang mampir"


Dengan ekspresi datar Rama hanya melihat tetangga Anjeli pulang dari kediaman Anjeli, dan tanpa ijin dari Anjeli Rama langsung masuk ke dalam rumah dan memeriksa keadaan hunian yang Anjeli tempati sekarang.


"Ada apa sih mas?"


"Aku hanya pastiin jika kamu akan nyaman tinggal disini"


"Mas...., aku ini bukan orang kaya, tinggal di rumah sederhana sudah biasa bagi ku."


"Tapi kamu lagi hamil sekarang, sebaiknya kamu jangan tinggal sendiri."


"Mas, aku sudah bilang aku sudah terbiasa, aku pasti mampu menjalaninya, jangan khawatir, fokuslah pada kehidupan mas sendiri, cari pendamping hidup yang tepat dan akhiri masa lajang mas Rama, dan jangan lupa undang aku juga,"


ucap Anjeli dengan senyum manis di bibirnya.


Inilah perbedaan Anjeli dan Farah, tutur ucapannya sangat lembut dan menenangkan hati, sementara Farah sangat pandai berdebat dan sedikit keras kepala. Tapi bagaimanapun Farah adalah wanita terakhir yang akan menjadi pilihannya.


"Aku sudah menemukannya, dan kamu juga kenal dengannya, tak lama lagi aku akan menikahinya, tapi saya mohon kamu jangan sungkan setelahnya, hubungi aku jika ada masalah"


"Ya mas, tapi boleh aku tau siapa gadis yang beruntung itu?"


"Farah..., dialah gadis yang aku pilih untuk menjadi istri aku selamanya."


"wah, selamat ya mas. Aku tak sabar untuk menghubunginya sekarang, dan jika perlu aku dengan senang hati membantu jika ada yang Farah butuhkan dari ku"


Melihat ekspresi Anjeli. Rama kini sadar jika dirinya sama sekali tak ada di hati Anjeli, tak ada rasa cemburu yang ia lihat dari wajah cantik itu, justru rasa bahagia dan bersemangat yang terpancar dari wajahnya.