SIERA

SIERA
13.



Sore hari ini tak seperti hari-hari sebelumnya, ada rasa gundah yang mengganjal dihatinya, memikirkan apa yang akan terjadi saat pertemuan itu tiba.


Rasa cinta yang dulu selalu menggebu-gebu perlahan memudar, bukan karena hadirnya orang ketiga melainkan karena hati yang terlalu tersakiti.


"Mas Bagas, inikah dirimu yang sebenarnya?. Bahkan Rama menyaksikan seorang ayah sepertimu tak memperhatikan anaknya sendiri.


Siera maafkan ibu nak...!, kita sama-sama terjebak dengan belenggu kehidupan kalangan atas yang miskin hati nurani." guman Anjeli sambil menyaksikan sang mentari yang hampir redup, menandakan jika sebentar lagi akan terjadi pergantian hari menjadi malam.


"Anjeli, aku jarang melihatmu naik ke atas balkon. Apa yang sedang kamu pikirkan hingga kamu harus menyendiri di sini!'


"Ada sesuatu yang mengganjal di hati, aku hanya ingin menenangkan diri dari situasi yang tak diharapkan" ucapnya dengan pandangan fokus melihat sunset yang sangat mengagumkan, namun sangat disayangkan suguhan suasana yang indah tak sejalan dengan perasaan gundah yang sulit ia abaikan.


"Huft...bukankah ini pilihanmu, jadilah berani dan hadapi rintangan kedepannya dengan tangguh, itu adalah dirimu yang sebenarnya. Gara-gara terlalu lama bersama pri brengsek, kamu melupakan jati dirimu sendiri" sindir Rama tak tanggung-tanggung dihadapan Anjeli.


Tak terima dengan peryataan Rama, Anjeli balik menatap dengan sorotan tajam kearah Rama.


"Sungguh cinta buta, dalam situasi sekarang masih membelanya" cetus Rama dengan sikapnya.


"Setidaknya dia laki-laki pemberani, tak sepertimu dulu, bahkan sampai sekarang masih terjebak dengan masa lalu. Tuan Rama, kapan anda akan move on?" ucapnya terlihat seperti mengejek, dengan mengarahkan jari telunjuk ke dada bidang pria dihadapannya.


"Anjeli, aku berdiri untuk mu dan ini balasan mu!"


Anjeli berlari meninggalkan Rama, dari pada ia harus berurusan dengan the king jomblo super akut.


"Aku senang melihatmu perlahan kembali bahagia seperti dulu" guman Rama dengan tersenyum sendiri melihat tingkah wanita yang selalu mengisi ruang dihatinya.


Mengingat rencana mereka malam ini, Rama segera bergegas menemui Anjeli kembali agar ia bersiap untuk segera berangkat ke tempat lokasi pertemuan sesuai dengan kesepakatan bersama.


Tok...tok...tok.


"Masuk" sahut Anjeli.


Melihat Anjeli yang sudah siap dengan gaun indah yang telah ia siapkan, Rama terpana dan tak sanggup berkata apapun, pandangannya tak bisa ia alihkan, bahkan Rama sampai meneguk berulang kali Saliva karena rasa iler yang kelewat batas melihat sosok wanita yang sangat cantik dan anggun dengan balutan dress panjang dengan belahan memperlihatkan paha mulusnya dan bagian atas yang sedikit terbuka.


"Aku pikir sebaiknya kamu ganti gaun saja" ucap Rama sedikit khawatir jika mahkluk buas seperti Bagas Wirawan akan melahapnya dalam sekejap.


"Bukannya pakaian wanita penghibur itu seharusnya seperti ini, apa ada yang salah?"


"Ya, ada. Bagas itu makhluk buas apa kamu tak takut ia melahap mu hidup-hidup...!"


"Aku sudah biasa dilahap olehnya, makanya nikah supaya bisa ngerasain nikmat melahap mangsa di depan mata, jangan kelamaan menyandang predikat the king jomblo."


Rama yang sudah jengkel padanya, kini bersikap iseng, berpura-pura mendekati Anjeli dan mengangkat tubuhnya dan menghempaskan di atas ranjang.


"Hey...mau apa?" ucap Anjeli sedikit terkejut dengan sikap Rama yang tiba-tiba berbuat aneh padanya.


"Melahap mangsa" melihat ekspresi Anjeli Rama justru menertawakannya.


"Dasar...gak lucu tau!"


cetus Anjeli.


"Jangan menunjukkan ekspresi seperti ini padanya, takut ia akan memotong bayaranmu nanti"


sambil menertawakan Anjeli dan berlalu meninggalkannya.


"Jangan terlalu lama, aku tunggu di depan"


"Andai rasa itu bisa hadir" guman Anjeli yang sebenarnya sangat bahagia selama setahun bersama Rama.


mereka pun berangkat menuju klub malam. Butuh waktu sekitar hampir sejam menempuh perjalanan menuju klub itu. Setelah sampai Rama memperingatkan Anjeli untuk tetap berada di mobil bersama sang supir pribadinya.


Rama keluar dari mobil dan memasuki klub itu, para body guard langsung menyambut Rama dan mengantarkan Rama kepada pemilik klub.


"Selamat malam Tuan Rama, lama tak jumpa"


"jangan terlalu berbasa-basi kita tak punya banyak waktu, bagaimana dengan kesepakatan kita?" ucap Rama to the point.


Pemilik klub yang sudah paham langsung menyodorkan uang dalam koper, Rama kemudian membuka koper tersebut dan memeriksanya.


"Dasar pria bodoh, untuk tidur dengan istri sendiri saja harus seperti ini caranya, makanya jangan terlalu sombong" guman Rama dengan memperlihatkan senyum sinis nya.


"okey, kalian antar Anjeli menuju hotel dan pastikan untuk menjaga keamanan klien kalian, dan satu hal lagi, rahasiakan pertemuan kita ini, jika sampai Bagas mengetahuinya aku jamin klub ini akan gulung tikar dalam sekejap jika hal itu terjadi."


'Baik tuan." ucap pemilik klub dengan ketakutannya melihat ekspresi Rama.


"Ekspresinya sebelas duabelas dengan tuan Bagas" ucap pemilik klub setelah Rama meninggalkan dirinya.


Anjeli kini berganti mobil, sesuai perjanjian ia akan diantar oleh orang-orang klub tersebut untuk menemui Bagas.


Jantung Anjeli semakin berdegub kencang, ada rasa khawatir dengan tempramen Bagas jika kumat lagi.


"Nyonya ini kamar Tuan Bagas, apa perlu kami menghubunginya terlebih dahulu?"


"Tak usah, aku akan masuk sendiri"


deg ... deg ...deg...


Jantung Anjeli semakin berdegup kencang, ketika ia memegang gagang pintu kamar hendak membukanya.


"Ah ... sebaiknya aku perbaiki perasaan ku dan mengetok pintu kamar"


Baru akan mengetok pintu kamar tiba-tiba Bagas membuka pintu dan langsung menunjukkan dirinya dan hampir saja Anjeli justru mengetok suaminya sendiri.


Anjeli yang kaget langsung mengelus dadanya.


"Masuk..!"


Anjeli langsung masuk dan Bagas langsung mengunci pintu kamar.


Sementara Rama memperhatikan Anjeli dari kejauhan, memastikan keamanan Anjeli.


"Semoga saja ia masih bisa keluar hidup-hidup dari kamar itu." gumannya setelah Anjeli memasuki kamar hotel.


Rama yang tak sanggup menunggu Anjeli, keluar dari hotel menuju tempat sahabatnya Ardi.


"Aku keluar sebentar kalian tunggu dan berjaga - jaga di sini, jika terjadi sesuatu segera hubungi aku.


"Baik Tuan"


***


Kamar yang sangat indah menyuguhkan suasana romantis layaknya pengantin baru.


'kurang kerjaan" ucap Anjeli melihat dekorasi kamar yang menurut ya berlebihan.


"Lantas siapa yang mengajarkan mu berpakaian seperti itu, apa kamu sudah terbiasa seperti ini di depan Rama, apa dia tak bisa memuaskanmu sehingga kamu menyerahkan diri padaku?"


"Jaga mulut kamu brengsek" ucap Anjeli yang tadinya ingin berbaik hati , namu ia akhirnya tak kuasa menahan emosi mendengar hinaan Bagas.


"Oh.....Selain gaya pakaian murahan, sikap kamu juga semakin berani, apa ini yang diajarkan Rama padamu?"


nada bicara Bagas semakin meninggi melihat sikap istrinya yang banyak berubah.


"Bukan kah kamu ingin tubuh ku, oh....atau jangan-jangan menantu pilihan ibu mu itu kalah jauh dari ku, sampai kamu masih kecanduan tubuh ku" balas Anjeli.


'Anjeli....!" teriak Bagas menggelegar membuat suasana semakin menegangkan.


"Aku bukan Anjeli yang dulu, yang dengan mudahnya kalian tindas dan selalu patuh, dan jangan berteriak pada ku karena aku tak tuli mas." ucapnya dengan penuh penekanan.


"Lalu bagaimana dengan mu, bukan kah hanya wanita murahan yang meninggalkan rumah sendiri dan kumpul k*bo dengan pria lain"


Anjeli tak tahan lagi, ia mengangkat tangan dan melayangkan tamparan keras pada Bagas Wirawan, melihat keberanian istrinya Bagas mengangkat tubuh Anjeli dan membantingnya diatas kasur, dan melampiaskan nafsu bejatnya dengan kasar pada Anjeli.


Anjeli berulang kali berteriak menolak nafsu Bagas yang menggila padanya.


"Diam Lah, ini pantas untuk wanita murahan sepertimu, meninggalkan suami dan tinggal di vila pria lain"


"Mas Bagas..kamu keterlaluan"


"ah....sakitttt,


mas hentikan...hentikan."


Teriak Anjeli dengan perlakuan kasar suami.


Anjeli yang tak kuasa melawan hanya mampu menahan rasa sakit akibat permainan


kasar suaminya, hingga Anjeli meneteskan air mata.


Bagas yang tak peduli tetap memaksakan kehendaknya, hingga ia mencapai puncak kenikmatan diatas penderitaan Anjeli.


Setelah puas menikmati, Bagas bangun dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi dan membersihkan diri, karena pikiran busuknya yang berfikir jika Anjeli sekarang tak suci lagi dan seketika terlintas rasa jijik pada sang istri.


Bagas keluar dari kamar mandi dan memakai piyama. Ia berjalan mendekati kasur dimana Anjeli masih terbaring tak berdaya meringis kesakitan dan berderai air mata.


"Aku pikir aku akan menikmati tubuhmu, tapi sayang aku malah jijik padamu, entah berapa kali kalian melakukan hubungan kotor itu, setahun bukan waktu yang singkat, aroma tubuhmu saja bahkan sudah berganti aroma tubuh pria lain."


"Aku menyesal telah menikah dengan mu Bagas Wirawan, ternyata inilah wujud asli mu!"