
Bagas duduk termenung di ruang tunggu depan kamar bersalin, Sean dan Farah hanya bisa menatap dirinya dari tempat duduk yang berbeda, terletak di depan kursi tempat Bagas duduk dengan keadaan kacau. Beberapa kali pria dengan dua anak itu menjambak rambut miliknya membuatnya lebih terlihat berantakan.
Sean yang sudah khatam betul watak sahabatnya, hanya mampu mengamati kelakuan Bagas dihadapannya, sama sekali tak ada niat untuk menegurnya. Selama masih dalam batas wajar Sean masih bisa membiarkan Bagas melampiaskan emosinya pada dirinya sendiri.
Sean dan Farah saling menatap berharap salah satu diantara mereka dapat menghibur Bagas dengan keadaan kacau sekarang, " mungkin kita berikan kesempatan untuk ia seorang diri sekarang, semoga ia bisa tenang setelahnya, kita baru bisa memberi sedikit penjelasan tentang keadaan Anjeli jika ia lebih tenang, kau tau sendiri seperti apa seorang Bagas Wirawan," ujar Sean dan memilih meninggalkan ruangan bersalin dan merogoh gadjet miliknya, membuka layar dan mulai mencari kontak istrinya dan menghubunginya.
"Hello .. " terdengar suara seseorang yang begitu ia rindukan dari sebrang telpon, berada jauh darinya.
"Bagaimana keadaan disana?" tanya Alma.
"Anjeli jatuh pingsan, ia hamil sekarang dan sedang dirawat, ibu Rianti sudah mulai sadarkan diri, sedang Bagas tampak kacau sekarang," jelas Sean padanya.
"Kenapa Anjeli tak jaga diri?, sudah tau riwayat SC dan sekarang hamil lagi, Bagas juga sudah di jelaskan jika harus berhati-hati malah membobol gawang tanpa pengaman, jelas-jelas Anjeli tak bisa pake KB hormon, malah dia gak tau diri, dasar laki-laki tau enaknya saja," oceh Alma di sebrang telpon.
"Sudah jangan bahas mereka lagi..!, gimana keadaan kamu dan jagoan kecil ku?, apa ia rewel?, Rina dan Elin bisa bisa bantu rawat si kecil gak?,"
"Tenang aja kak, jagoan Kakak anteng dengan aunty-aunty cantik disampingnya, ia tau jika ia sedang bersama dengan gadis cantik makanya gak rewel," sahut Rani yang langsung mengambil alih kamera telpon dan menunjukkan wajah centilnya dengan Sean sahabat kakaknya dan dari dulu memang sangat akrab dengannya."
"Kau dari dulu tak berubah, selalu saja cerewet dan sok kecantikan...!"
"Ish....kakak Sean tak ada romantisnya sama sekali, muji balik kek...!"
"Bukan Sean namanya jika ia berubah jadi romantis, itu hal paling gak mungkin terjadi padanya," oceh Alma kembali.
"Jadi kak Sean ngelamar kakak, gak ada sesi romantisnya gitu?"....
"jangankan romantis masang cincin saja gak tau jari mana yang harus ia pasang kan,"....
"hahaha....ka' Sean separah itu."
Sekilas Rani dan Alma malah asyik mengobrol membahas sesi lamaran paling kocak yang pernah Alma rasakan. "Hey...aku masih disini setidaknya kasi aku kesempatan mengobrol atau matikan telponnya dan kalian lanjut bergosip," sahut Sean yang merasa di kacangin.
"Sayang, aku mungkin agak lama di sini, sampai Anjeli pulih, setidaknya Bagas bisa tenang sedikit, aku tak tega meninggalkan mereka dalam situasi seperti ini," jelas Sean dengan berat hati berpisah dengan keluarga tercinta.
"Ya, sayang. Kabari kami jika masalah tambah rumit...!, sampaikan salam ku pada mas Rama, mas Bagas, dan dokter Farah, tolong rawat dia dengan baik."
Ucapan terakhir Alma mengakhiri panggilan tersebut. Sean kini kembali menemui Bagas yang nampak lebih tenang. "Ini, minumlah." Sean menyodorkan segelas kopi hangat kepada Bagas.
"Kau juga beruntung berhasil mendapatkannya, kau belum tau rasanya mencintai tak bisa memiliki, dan itu dengan sahabat sendiri. Berjuang bertahun-tahun lamanya menata hati, mengabaikan seseorang yang memberi cinta dengan tulus di depan mata, hingga akhirnya memberanikan diri melepaskan, itu sangat sulit Bagas."
"Tapi akhirnya kau mendapatkan Alma dia gadis yang baik, meski keras kepala," timpal Bagas.
"Jejak Anjeli perlahan hilang, aku juga tak menyangka menatap Anjeli sekarang seakan lupa jika aku pernah bertahun lamanya menyimpan rasa paling dalam untuknya."
"Kau yang sering mempermainkan cinta, akhirnya karma datang memberi tahu rasanya kehilangan orang tercinta, meski itu sekian detik," lanjut Sean mengingat perjuangan Anjeli melahirkan Amar.
"Ya, hanya sekian detik, namun meruntuhkan segalanya, aku bahkan gila dibuatnya, dan trauma hingga saat ini," jawab Bagas tertunduk sambil menyapu wajahnya dengan kedua tangannya, meratapi kejadian sebelumnya dan meninggalkan bayang-bayang trauma untuk waktu yang lama.
"Menurut dokter kandungan jika Anjeli melakukan operasi tutup kandungan saat ini, itu akan beresiko besar terjadinya kehamilan di luar kandungan kerena dari faktor umur masih tergolong usia produktif memuncak, dalam kata lain kalian masih dalam kondisi usia produktif dengan masa subur pasutri yang cukup baik," jelas Sean tentang keadaan Anjeli jika memutuskan melakukan tindakan tubektomi pada kandungannya.
"Ya, aku juga pernah membaca artikel tersebut, dan satu-satunya jalan terbaik adalah aku harus melakukan Vasektomi."
"Jika kau bersedia aku akan menemani ke dokter spesialis kandungan dan kita akan membahasnya bersama. Tenang aja, aku punya kok kenalan dokter kandungan pria, jadi kamu tak akan sungkan nantinya," lanjut Sean menjelaskan dengan gaya bahasa yang mudah Bagas pahami, mengingat besic mereka yang jauh berbeda.
"Aku akan membahasnya bersama Anjeli terlebih dahulu, dan kami tentu akan menemui dokter kandungan itu bersama," sahut Bagas semakin tenang dengan solusi yang Sean berikan padanya.
Sean berdiri dan berpamitan pada Bagas berniat melihat keadaan ibu Rianti. "Sean, terimakasih tas semuanya, aku dan Anjeli sudah banyak merepotkan mu."
"Akhirnya kau menyadari jika kalian adalah keluarga yang merepotkan ku," jawab Sean membalas Bagas dengan perkataan agak pedas menusuk di telinga Bagas.
"Cikk....nyesal aku mengucapkannya," sahut Bagas kembali.
"Minta maaf kok nyesal, kau ini kadang suka aneh...!"
Bagas hanya tersenyum mendengar protes dari Sean seperti biasanya. ia masih menatap Sean dari belakang hingga Sean menghilang di ujung lorong ruangan sekitar dua ratus meter dari tempat ia duduk sekarang.
Bagas yang lelah dengan hari ini, dikejutkan dengan nada dering handphone miliknya, yang ia simpan di saku celana jeans yang ia kenakan, tanpa menunda panggilan ia langsung mengangkat, "Hey....kalian benar-benar orang tua tak bertanggung jawab pada anak, apa kau tau sejak tadi Amar rewel mencari ibunya, kalian kenapa belum kembali?, sampaikan padanya jika Amar rewel dan mencarinya," ucap Diman terdengar kesal di ujung telpon.
"Diman, tolong bawa mereka ke rumah sakit, Anjeli sedang dirawat, ia tadi pingsan, nanti aku jelasin jika kau sudah dirumah sakit," jelas Bagas pada Diman.
" Kau sungguh pria brengsek, adik ku sakit dan kau tak segera memberi kabar padaku," ucap Diman dan langsung mematikan handphone miliknya.
...----------------...