SIERA

SIERA
16



Dua bulan berlalu kondisi Anjeli semakin membaik. Meski operasi pengangkatan tumor telah berhasil namun Anjeli harus tetap menjalani kontrol rutin setiap minggu untuk pemulihan seutuhnya.


"Hay Anjeli, bagaimana keadaan mu sekarang?," sapa dokter Farah yang semakin akrab dengan Anjeli.


"Saya sangat bersyukur tak lagi selemah dulu, yang dikit-dikit pingsang dan ngerepotin semua orang."


"Kalau begitu kita adakan pemeriksaan terakhir kali, untuk mengecek jika tumor yang bersarang di otak kamu sudah bersih total atau masih ada bakal calon tumor lagi."


"Baik...aku sudah tak sabar ingin sembuh total." Sambil memperlihatkan senyum dan Anjeli mulai melakukan pemeriksaan.


dokter Farah yang sudah berpengalaman langsung dapat menarik diagnosa begitu melihat hasil foto rontgen Anjeli.


"Hasilnya sudah bersih Anjeli sekarang kamu sembuh total


Selamat ya."


Mendengar ucapan dokter Farah, membuat ia sangat bahagia, akhirnya perjuangannya tak sia-sia.


Baru beberapa detik dinyatakan sembuh total dari penyakitnya, tiba-tiba Anjeli merasakan isi perutnya sedang meronta meminta untuk dikeluarkan dari tubuh Anjeli.


"Kamar mandi dimana?."


Anjeli bergegas menuju kamar mandi, dan tak lama terdengar....


"Hoek...hoek...hoek....


dokter Farah bergegas melihat kondisi Anjeli yang sudah berjongkok di depan toilet sambil memuntahkan seluruh isi perutnya.


"Anjeli, kamu sakit?, " tanya dokter Farah yang bingung dengan kondisinya karena sebelumnya Anjeli tampak baik-baik saja dan dalam sekejap ia langsung muntah.


"Aku mungkin salah makan tadi," ucap Anjeli yang hanya mengira-ngira tentang kondisinya sekarang.


Namun bukan seorang dokter namanya jika tak dapat menyimpulkan diagnosa yang tepat pada kondisi Anjeli sekarang.


"Anjeli kamu harus jujur, haid kamu sekarang masih teratur kan?."


Anjeli tampak berusaha mengingat jadwal terakhir haidnya.


"Kayaknya sejak setelah operasi aku tak pernah haid lagi, dan aku terakhir haid sekitar seminggu sebelum aku masuk rumah sakit."


"Anjeli ...!," panggil dokter Farah yang membuyarkan lamunannya.


"dok, apa aku hamil sekarang?, gimana ini aku sedang dalam proses perceraian dengan mas Bagas, dan aku yakin ia pasti tak akan mengakui anak ini, celaka aku semakin melibatkan mas Rama dalam hubungan kami."


"Jangan berasumsi yang bukan-bukan, belum Tespek juga, jadi belum tentu hamil."


"Kalau begitu aku tespek dulu biar jelas hasilnya."


"Kamu tunggu disini, biar aku minta tespek nya di apotik rumah sakit, dekat kok cuman di sebelah ruangan ku."


"Baik dokter Farah, maaf aku ngerepotin kamu."


"Jangan suka seperti itu, kita udah lama saling kenal kamu masih aja sungkan."


Farah meninggalkan Anjeli dan keluar mengambil Tespek di apotik sebelah, dan langsung kembali ke ruangannya, dan menyodorkan Tespek tersebut pada Anjeli agar segera mencobanya, tak hanya Anjeli, Farah juga sangat penasaran dengan hasilnya.


Farah yang tak sabar, tampak mondar mandir di depan toilet dan sesekali memanggil Anjeli dan menanyakan hasilnya.


Butuh waktu sekitar beberapa detik hingga hasilnya terlihat.


Deg .....


Antara siap dan tidak. Begitu Anjeli melihat hasil Tespek tersebut menunjukkan garis dua yang berarti Anjeli sekarang tengah berbadan dua, hasil pertemuan dan penyatuan paksa yang mas Bagas yang terjadi padanya dua bulan sebelumnya.


"Siera kamu akan segera jadi kakak, tapi ayah pasti tak akan mengakuinya," guman Anjeli begitu melihat hasil Tespek ditangannya. mengingat kejadian itu, membuat bulir air mata mengalir dari sudut matanya, penyatuan yang dipaksakan, bahkan tak ada kebahagiaan sedikitpun didalamnya, teringat kata jijik yang terucap dibibir Bagas Wirawan, Anjeli mengepalkan tangannya.


"jika memang ia tak mengakuinya tak apa baginya, toh ia pasti mampu membesarkan bayinya seorang diri.


Anjeli, sabar. kamu harus kuat bisa jadi anak yang sedang kamu kandung akan menjadi sumber kebahagiaan dalam hidup ini," guman Anjeli ketika pikirannya menerawang jauh ke masa depan bersama sang buah hati.


Sementara diluar toilet tampak dokter farah yang sudah tak sabar dengan hasil tespek Anjeli.


Kreakkk....


Ups...., Anjeli hampir tertawa melihat tingkah dokter Farah yang terlihat gelisah di depan pintu kamar mandi.


"Dok, kamu kebelet?, silahkan aku sudah selesai"


"Anjeli, kamu...!, aku mondar mandi nunggu hasilnya kamu malah sengaja melamun di dalam."


"Sikap kamu ini seperti seorang suami yang menanti kabar bahagia dari istrinya."


"Malah bercanda lagi, gimana hasilnya coba aku lihat."


meski kesal dengan Anjeli tapi rasa penasaran dokter Farah meredamkan kekesalannya itu.


"Wowwwww....., Siera bakal punya adik."


Sorak dokter Farah yang turut bahagia menyambut calon baby Anjeli.


"Udah, jangan manyun seperti itu, tak baik buat ibu hamil, kamu harus kuat demi anak kamu," cetus dokter Farah, yang tak suka dengan sikap Anjeli.


"Tapi benar kata Anjeli, melihat situasi sekarang pasti mas Bagas tak akan percaya sedikitpun padanya. Tapi aku percaya kamu Anjeli karena aku kenal dengan baik mas Rama, ia dulu sangat penakut pada seorang gadis, bahkan sifatnya mas Rama dulu pernah membuat Farah berpikir jika mas Rama ada kelainan," guman Farah akan keadaan Anjeli sekarang.


"Dengan keadaan mu sekarang kamu harus ektra hati-hati dan jangan melakukan pekerjaan berat," ucapnya menasehati Anjeli.


"Ya, akan aku usahakan, aku pamit dulu dokter Farah. Mas Rama pasti khawatir jika aku telat pulang."


****


Anjeli pulang dengan mengendarai sebuah mobil yang ia beli dari hasil


One night love bersama suaminya.


"Aku harus segera mencari tempat tinggal sendiri tak baik rasanya masih tinggal dengan pria lain dalam kondisi seperti ini." Pikir Anjeli dan ia memutuskan untuk singgah di beberapa agen properti dan mencari rumah sederhana sesuai dengan bajet yang ia miliki.


Anjeli cukup beruntung ada agen properti yang menawarkan harga diskon untuknya, tanpa ragu Anjeli langsung melihat kondisi rumah tersebut.


Rumah yang ditawarkan cukup bagus pas dengan selera Anjeli, dan Anjeli pun memutuskan untuk mengambil rumah tersebut.


Namun ia harus memberi tahu mas Rama terlebih dahulu jika ia akan segera pindah dari vila mas Rama.


Tanpa menunda lagi Anjeli melajukan kendaraan roda empat miliknya menuju kantor mas Rama untuk menyampaikan niatnya itu.


Tiba di kantor mas Rama, Anjeli langsung menuju ruang kerja mas Rama.


Tok ... tok...


"Masuk," sahut Rama.


Anjeli membuka pintu dan masuk ke dalam ruang kerja mas Rama. Rama yang melihat Anjeli menemuinya langsung kegirangan, secara wanita yang ada di hadapannya itu, adalah wanita yang sangat ia sayangi.


"Giman hasil kontrolnya hari ini?."


"Alhamdulillah, mas dokter Farah mengatakan aku sudah sembuh total sekarang."


"Baguslah kalau begitu kamu harus percepat proses perceraian kamu dan jika ada kendala dengan si brengs*k itu tinggal hubungi aku."


"Mas, aku berencana tak ingin melanjutkan gugatan itu, karena sekarang aku sedang mengandung anak mas Bagas."


"cih...Bagas memang hebat sekali hentakan langsung jadi," ucap Rama yang tersulut emosi mendengar penuturan Anjeli.


"Gugurkan saja, dia juga pasti gak peduli dengannya, Siera saja yang jelas-jelas seperti itu, ia tak peduli apalagi dengan kehamilan kamu yang sekarang, pasti ia menyangka itu anak aku."


"Mas....kamu, Setega itu. Tampaknya keputusan aku kali ini memang tepat, menikah dengan mu juga tak akan merubah keadaan ku. Aku datang ke kantor kamu untuk menyampaikan jika hari ini aku akan pindah dari vila kamu."


"Anjeli, kamu salah paham, aku tak bermaksud seperti itu."


"Sudahlah mas, aku sudah mendengarnya, aku sangat berterimakasih atas kebaikan mu pada ku selama setahun, dan aku minta maaf mas karena aku tak akan pernah bisa membalas perasaanmu pada ku."


Anjeli meninggalkan kantor mas Rama dengan perasaan kecewa.


"Anjeli, maaf," ucap Rama melihat Anjeli pergi meninggalkannya.


"Bagas Wirawan kejantanan mu ini, pantas aku acungkan jempol, kamu sekali lagi menghancurkan rencana ku pada Anjeli," ucap Rama dengan menghantam meja kerjanya sebagai objek pelampiasan emosinya yang membara.