SIERA

SIERA
30.



Hari berganti demi hari, Bagas dan Ibunya menjalani hari yang terasa begitu sulit bagi mereka, Suara teriakan Siera terus terngiang di dalam rumah. Bagas yang tak sanggup menahan rindu terlihat uring-uringan tiap hari, sedang Miranti hanya mampu bersabar menunggu pekan berganti.


"Ah...kenapa lama sekali rasanya, baru kali ini aku merasa pekan depan itu seperti setahun rasanya."


Cetus Bagas setelah melakukan VC dengan Anjeli dan kedua anaknya.


Kring....Kring...


"halo....Hay bro...gimana kabar kamu?"


"Tanya Sean disebrang telpon."


"Bra....bro....segala, hari ini keadaan ku buruk, puas loh."


"Kau ini kenapa, gara-gara tunangan ku menemani istri kamu melahirkan pernikahan ku jadi batal dan di tunda."


"Apa hubungannya istri ku melahirkan dengan dengan tunangan mu itu, kau jangan asal bicara?"


"Ah...kau ini tak sepintar Bagas yang dulu."


Tunggu dulu...bukannya yang menemani Anjeli melahirkan hanya Alma seorang. Jadi gadis yang dia maksud itu Alma....begitu terlintas dalam otak Bagas.


"Oh...jadi itu rahasia kamu, si macan betina itu. Kalau begitu aku ucapkan selamat bergabung di kandang macan betina. Aku senang sekarang punya kawan baru."


"Eh...omongan mu itu. Seakan anjeli mengamuk tak seperti Alma, mereka itu sebelas dua belas."


"Hahaha....." Nasib kita sama kawan.


"Minggu depan aku akan menjemput mereka, apa kau ingin bergabung....kali ini aku traktir tiket untuk mu."


"Jangan sombong kamu, aku masih banyak tabungan, calon ku sekarang, tak suka dengan uang ia selalu menolak uangku."


"Itu, karena Anjeli sifatnya itu menular ke Alma." Ungkap Sean yang tak suka dengan sifat Alma yang mandiri.


"Cinta bertepuk sebelah tangan, sekarang mengejar sahabatnya, awas kamu dekat-dekat dengan Anjeli."


"Omongan orang ini, tak pernah difilter sebelum terucap," pikir Sean sejenak.


"Kau ini tak seru, ah. Aku tutup dulu nanti aku kabari Minggu depan."


Tut...Tut ...


Sean masih sulit melupakan Anjeli, sekarang malah kecantol sama sahabatnya. Bahkan Anjeli saja tak pernah sadar jika Sean adalah orang pertama yang menaruh hati padanya diantara kami bersahabat. Gumannya sedikit khawatir dengan Sean.


***


Sebaiknya aku segera ke kantor sekarang. Banyak pekerjaan terbengkalai akhir-akhir ini, karena aku gak bisa fokus.


Sampai di kantor, Bagas langsung memeriksa semua berkas perusahaan miliknya dan langsung mengadakan rapat dadakan.


Mendengar rapat dadakan Bu Mia langsung ketar-ketir. Ia sangat takut jika melakukan hal yang salah lagi.


Sedang Alang terlihat lebih santai tak seperti dulu ketika ia mendengar kata rapat dadakan, ialah orang pertama yang akan panik, namun sekarang dia adalah satu-satunya orang yang terlihat santai.


"Ada apa dengannya, tumben hari ini Alang sangat santai dengan rapat dadakan yang akan diadakan oleh bos." Gumannya melihat Alang yang sedang bersantai di ruangannya.


Karena jengkel, Bu Mia langsung menghampirinya dan mengagetkan dirinya.


Dengan membuka pintu perlahan Bu Mia berjalan pelan hingga mendekati meja Alang.


Duarrrr......


Alang yang kaget langsung melempar Bu Mia dengan pulpen dalam genggamannya.


"Hahaha.....siapa suruh duduk santai, udah tau ada rapat dadakan, eh ... masih punya waktu duduk santai disini, adem amat ya."


"Sirik tanda tak mampu lo'." Alang beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan Bu Mia.


"Woy....cepatan, udah hampir mulai, mau terlambat dan kena marah lagi...?" ucap Alang yang sudah berada di depan pintu keluar ruangannya.


"Ih...kau itu."


***


Persiapan sudah matang tiket pun sudah di boking sebelumnya, dan sekarang siap untuk berangkat.


Sampai di bandara Nyonya Miranti tak sengaja melihat Mira sedang. berada di bandara yang sama, Miranti berusaha untuk mengejarnya tapi ia kalah cepat dengan Mira, membuatnya kehilangan jejak.


Miranti yang khawatir langsung memberi tahu Bagas tentang Mira yang berada di bandara yang sama dengan mereka hari ini.


Ada rasa khawatir yang Miranti pikirkan, ia takut jika Mira melakukan hal yang melewati batas untuk mendapatkan Bagas kembali.


Mira memang akhir-akhir ini terlihat lebih berubah setelah Miranti tak terlalu mendukungnya lagi. Miranti pernah memergoki Mira sedang bersama pria lain di sebuah swalayan dan dengan sengaja karena kecurigaannya pada Mira, Miranti menyewa seseorang dan menyelidiki rencana Mira, dan rencana pun berhasil, kelicikan Mira diketahui oleh Miranti, jika Mira ingin memanfaatkan anaknya dan mengambil alih perusahaan milik Bagas.


"Dasar gadis licik, apalagi yang ia rencanakan sekarang. Dulu ia sering mempengaruhi aku agar membuat cucuku melupakan ibunya. Sekarang apa lagi yang ada di otaknya, semoga ia tak nekat mencelakai menantu dan cucu ku." Pikir Miranti, yang khawatir dengan keadaan Anjeli dan kedua cucunya di Malaysia.


"Bagas....kamu harus hati-hati aku melihat Mira, seperti sedang mengikuti kita, entah apa yang ia rencanakan sekarang. Semoga ia tak berniat mencelakai Anjeli dan ke dua cucu ku!"


"Aku akan menyuruh seseorang untuk menyelidikinya sekarang, Bu."


Pesawat yang mereka tumpangi akhirnya berangkat menuju negri Jiran Malaysia.


Dalam perjalanan Miranti terus memikirkan Anjeli dan kedua cucunya. Hingga pesawat mendarat dengan aman. Dan mereka pun segera turun dari Pesawat.


Bagas yang tak tenang langsung menghubungi istrinya dan menanyakan keadaan mereka, serta memberikan info jika mereka sudah mendarat di bandara Malaysia sekarang.


Anjeli memberi kabar balik, jika Alma sudah di bandara menunggu mereka bersama Siera.


Mendengar nama Siera Bagas langsung khawatir dan tanpa berkata apapun, Bagas langsung menutup sambungan telepon pada Anjeli dan menghubungi Alma segera.


Alma yang sudah di telpon berulang kali oleh Bagas dan kunjung mengangkat sambungan telepon miliknya, membuat Bagas dan Miranti semakin panik, terlebih lagi mereka sedang berada di luar negri sekarang, pergerakan Bagas tentu terbatas.


Bagas kembali menghubungi istrinya dan menanyakan sudah berapa lama mereka berangkat, Anjeli menjawab jika sudah satu jam yang lalu mereka pergi meninggalkan rumah.


"Satu Jam yang lalu, sedangkan perjalanan ke sini hanya memakan waktu setengah jam saja, itu artinya tiga puluh menit yang lalu mereka sudah berada di bandara, tapi dimana mereka sekarang." Bagas dengan pikiran kalut dan semakin kahwatir menjadi tak tenang.


"Bagas....." teriak Sean dari jauh."


"Syukur kamu disini, apa Alma dan Siera ada bersamamu?"


"Kau ini, bagaimana?, bukannya meraka menjemputmu dan seharusnya sekarang mereka sudah lama disini."


"Aku barusan menghubungi Anjeli katanya mereka sudah sejam yang lalu meninggalkan rumah."


"Bagas, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa wajahmu terlihat kacau seperti itu?"


"Ibu melihat Mira mengikuti kami, sejak di bandara, sebelum kami naik di pesawat. Aku kahwatir dia berbuat macam-macam, karena mengetahui aku dan Anjeli kembali bersama."


"Gawat, pantas sejak tadi aku tak bisa menghubungi Alma."


Sean yang mempunyai banyak kenalan di negri Jiran, tersebut langsung menghubungi orang kepercayaannya dan menyelidiki kasus tersebut.


Mereka mencari Alma dan Siera hingga ke tempat parkiran, namun yang anehnya Sean menemukan mobil Alma, tetapi tidak bertemu dengan mereka setelah menyisir seluruh bandara internasional Malaysia.


Sean segera menemui Bagas dan menceritakan semuanya. Bagas pun marah.


"Awas kau Mira, jika sampai mencelakai anak ku dan Alma, maka aku akan melemparkan mu pada pria hidung belang di hiburan malam milik Ardi. Jika kau memang gadis gatal yang tak tau malu menggangguku terus menerus, akan aku buat merasakan nikmatnya belaian para hidung belang di sekujur tubuhmu," ucapnya penuh dengan emosi.


"Bagas sebaiknya, kau antar Ibu Miranti terlebih dahulu, dan aku tetap disini menunggu informasi dari orang suruhan ku, semoga mereka belum bergerak jauh kali ini."


"Baik, segera hubungi aku jika ada kabar tentang mereka."


Bagas langsung bergegas mengantar Ibunya ke rumah Alma.


"Nak, bagaimana dengan cucu ku, aku tak mau pergi, aku harus ikut mencarinya, tolonglah....!"


"Disini ada Sean dia akan membantu aku, Alma yang aku ceritakan itu ternyata adalah tunangan Sean dan mereka akan segera menikah."


"Alma sahabat anjeli, yang sering menghubungi Anjeli dulu...?"


"Iya, Bu"


"Aku antar Ibu dulu dan kembali ke sini lagi, kasian Anjeli di rumah," ucap Bagas berusaha menenangkan ibunya.