
"Ibu....Ayah....!" teriak girang Siera melihat kedua orang tuanya, namun berbeda dengan Diman yang menatap mereka dengan tatapan sinis dan tak menghiraukan sama sekali.
"Maaf ka....!, jangan marah, aku punya sesuatu buat kakak dan pasti kamu suka," ujar Anjeli sambil membuka bungkusan kue kesukaan Diman sejak dulu.
"Dasar curang...!, tau diri salah makanya mau merayu dengan makanan kesukaan aku, asal kamu tau semenjak aku tak sama Alma aku tak pernah lagi makan kue tersebut, kenangan nya lebih membuat ku hilang selera."
"Hay...bung, move on. Sudah bertahun-tahun lamanya masih saja kayak katak dalam tempurung," cetus Bagas tak sudi melihat tingkah Diman.
"Ngaca sana...!, kau aja bertahun-tahun belum lepas dari rubah betina itu," balas Diman tak kalah menyindir dari ucapan Bagas.
Anjeli mengerutkan kening bergantian mengarahkan tatapan kearah mereka berdua.
"Mulai lagi deh," ucap Siera dan menarik tangan ibunya serta menggandengkan adiknya kembali ke apartemen mereka.
Anjeli yang tak ingin menjadi saksi perdebatan mereka akhirnya mengikuti Siera, "Bu, aku lapar. Paman belum sempat membuatkan kami sarapan."
"Tunggu disini, ibu kembali mengambil kue yang ibu bawa tadi dari pada mubazir. Paman kamu katanya hilang selera jadi biarkan kita aja yang makan."
Anjeli kembali dan mengambil kue tersebut, namun sangat disayangkan karena ketika Anjeli sampai di apartemen Diman, Anjeli disuguhkan dengan pemandangan kekanakan mereka, Bagas dan Diman sedang terlibat adu rebutan kue yang ia bawa.
"Sisakan anak-anak mereka belum sarapan, lagian katanya gak suka, ini malah sedang rebutan dan kuenya juga hampir ludes," cetus Anjeli dan merampas bungkusan kue yang sedang dipeluk oleh Diman dan membawa kue tersebut.
"Bagas..mau ikut gak?," ucap Diman yang belum puas memakan kue favoritnya dan sudah dirampas dari pelukannya.
"Boleh, aku juga masih doyan dan belum puas ," sahut Bagas yang paham.maksud Diman dan membuat hubungan mereka kembali akur.
Anjeli yang baru masuk ke dalam apartemen sempat melirik dan tak sengaja menangkap jejak mereka.
Melihat jejak mereka diapun langsung mengejar mereka dan menghentikan langkah mereka ketika Bagas dan Diman baru sampai di tempat parkir.
"Gawat, ketahuan," ucap Bagas terlihat jelas jika dirinya sekarang telah menjadi suami takut istri alias susis.
Diman hanya tersenyum cengengesan melihat tingkah suami adik sepupunya. "Udah samperin sana, siapa tau dia mau nitip, itu kue kesukaan kami sejak dulu," ujar Diman dan mendorong tubuh Bagas agar secepatnya menghampiri Anjeli.
"Kenapa?" tanya Diman.
"Ia meminta kita membeli kue itu selusin."
"Hahaha .... kebiasaan dulu tak berubah rupanya."
"Wajar, kuenya memegang enak," sanggah Bagas.
"Wajar saja enak karena Macaron sejenis kue berbahan utama tepung almond dan putih telur dicampur dengan gula, memang membuat lidah tak ingin berhenti melahapnya. Aku dan Anjeli sejak dulu sangat menyukai desert yang terkenal lezat dan creamy di kota ini," jelas Diman.
"Dulu jauh belum mengenal Bagas Alma dan Anjeli adalah gadis yang periang mereka selalu meminta oleh-oleh yang sama ketika aku pulang ke Indonesia, ah....rasanya dunia ini waktu berputar begitu cepat hingga kejadian itu terasa sudah tenggelam bersama dengan bergantinya waktu demi waktu," lanjut Diman dan mulai membunyikan mesin mobil miliknya kemudian melajukan kendaraan tersebut menuju toko kue yang menyajikan makanan penutup nan lezat.
"Apa kamu belum rencana balik ke indo?" tanya Bagas memecah keheningan di antara mereka.
"Kalau mau pulang, ya pulang aja sendiri. Mengapa harus menunggu istri ku?" ketus Bagas.
"Kalian hanya suami istri bisa putus kapan saja, sedang dia adalah adik ku, aku wajib menjaganya dari mu," ujar Diman dengan kedewasaannya yang tiba-tiba datang entah dari mana.
"Hanya adik sepupu, bangga amat....!" lanjut Bagas semakin menunjukkan sikapnya pada Diman.
"Ya, sikap kamu yang seperti ini yang aku sangat khawatirkan, kemarin malam pasti Anjeli membuat ulah makanya kau menghukumnya di hotel, aku tau semuanya dan permainan mu itu selalu tak mau puas, membuatnya terlalu lelah, wajar saja ia membuat mu puasa berbulan-bulan," jelas Diman dengan wajah datar, menunjukkan sikap yang sama seperti yang Bagas lakukan padanya.
"Itu urusan rumah tangga kami dan kamu tak berhak ikut campur, aku juga yakin bujang lapuk seperti mu akan membuat wanita yang jadi pendamping mu kelak lebih kewalahan, hahahaha...!," tawa Bagas meledek Diman, di usianya yang begitu matang masih betah dengan status bujang.
"Cikk, kau ini. Buat apa juga punya istri terus berpuasa berbulan-bulan lamanya!" balas Diman membuat Bagas terdiam sesaat.
"Pantas tak ada wanita yang betah padamu, omonganmu itu sangat tajam."
"Hahaha.....Ya, mungkin kau benar, mereka harus tahan banting dengan lidah ku ini."
Bagas tak menanggapi lagi omongan Diman ia kini serius memperhatikan beberapa toko yang ada di hadapan mereka," berhenti kita sudah sampai, sebaiknya kamu turun memesan aku akan menunggu di mobil saja, lagian jika ingin makan di sana sudah tak mungkin pengunjungnya sangat banyak aku tak nyama karena mereka sedikit berisik," ucap Bagas menunjukkan sikap bos arogannya pada Diman.
"Dasar Sosis, berlagak di depan ku," cetus Diman dan masih terdengar jelas di telinga. Bagas.
"Apa kau bilang aku Sosis?, apa maksudmu?" tanya Bagas kesal dengan perkataan Diman.
"Hahaha....tanyakan pada putri tercinta mu, itu julukan yang ia berikan padamu."
Bagas semakin kesal, sedang Diman meninggalkan dirinya menuju toko kue yang menyediakan beberapa desert enak, Bagas kini seorang diri di dalam mobil, tak lama berselang Bagas tak sengaja melihat seseorang yang ia kenal, "Sepertinya aku mengenalnya, bukanya dia orang yang mengajak ku kerja sama dengan butik Anjeli, jadi Diman mengenalnya juga, mereka tampak akrab satu sama lain, aku harus menginterogasi Diman untuk ini..!" guman Bagas menjadi sangat penasaran dengan pria itu.
"Hey....Diman," Sapa pria dengan pakaian formal ala pengusaha berkelas.
Randi Gabriel, pengusaha di bidang konveksi, namun kini memiliki banyak anak cabang butik di setiap negara, ia terkenal sangat sukses di bidangnya dan merupakan perancang ternama namun ia bukan perancang bak lelaki lemah gemulai, ia lelaki tulen bahkan setiap orang tak akan menyangka jika ia mempunya profesi tersebut.
Randi adalah mantan arsitek, ia belajar arsitek bersama Diman, namun jatuhnya sebagai perancang busana para modeling kelas atas.
"Kau semakin mendalami peran sebagai perancang busana, aku lihat...!" gurau Diman padanya.
"Kau bisa aja, aku yakin adik mu juga sangat berbakat, aku suka dengan karyanya, suatu saat Bagas melepaskannya kabari aku, dengan senang hati akan ku jadikan ia ratu dalam istana ku," balas Randi dengan gurau yang sama pada Diman.
Diman tak menanggapi semuanya, kini ia sudah paham maksud Rendi ngotot meminta kerja sama dengan Bagas, ternyata ada udang dibalik batu, tentu hal ini membuat Diman sedikit tak mendukung Randi, biar bagaimanapun Bagas adalah pria yang Anjeli cintai tak mungkin bagi Diman membiarkan rumah tangga adiknya hancur.
Diman langsung berpamitan dan menuju mobil.
"Kau mengenalnya?" tanya Bagas dengan tatapan tajam pada Diman ketika Diman masuk dalam mobil.
...----------------...