SIERA

SIERA
53



Anjeli terdiam kikuk dihadapan beberapa pasang mata yang tertuju pada dirinya.


Ia sama sekali tak merasa gugup dengan tatapan para kaum Adam di hadapannya. Namun, yang ia khawatirkan terletak pada sepasang bola mata suaminya yang seakan ingin menerkam dan melahap dirinya saat itu juga.


Ya, benar saja. Bagas sangat marah melihat istrinya dengan pakaian seksi dan menampilkan lekuk tubuh nan elegan, langsung bereaksi membuka jas miliknya dan langsung melangkah menghampiri istrinya dan menutup tubuh Anjeli, sesaat suasana berubah menjadi cukup menegangkan.


Tubuh Anjeli seketika langsung kaku dan untuk mencairkan suasana sang pemilik acara langsung menghampiri mereka dan langsung membuat Anjeli terperangah saat yang empunya memperkenalkan diri padanya.


Bagas semakin menarik wajah panjang pada istrinya, raut wajahnya diselimuti emosi, tangannya mulai menggenggam kuat, dadanya berdebar menahan amarah yang luar biasanya, menyadari hal itu, Anjeli menjadi bergetar.


"Gila, mampus aku...! tak sengaja memperlihatkan ekspresi tersebut, tapi memang rupa dari tuan rumah lebih mempesona dari Bagas. Dan aku rasa dia dan aku pernah bertemu sebelumnya, Ah_tapi dimana?" guman Anjeli dan sesaat masih mencuri pandang pada pria maskulin di hadapannya dengan gaya glamor namun sangat pas ia kenakan membuat sisi maskulin dirinya jauh melampaui suaminya.


"Anjeli_!" geram Bagas padanya meski dengan nada setengah berbisik.


"Ah....maaf, kami ada sedikit mis komunikasi. tolong biarkan kami sebentar," ucap Anjeli berusaha mengalihkan perhatian sang tuan rumah.


"Oh .... silahkan! "


"Tuan , istri anda luar biasa, meski sudah memberi mu dua anak, dia masih cemerlang bagaikan bintang dari timur. Anda sangat beruntung...!" lanjutnya dan meninggalkan Bagas dan Anjeli yang masih berusaha menyelamatkan diri.


"Dasar...! Tuan rumah sialan mengapa ia harus menyalakan api sekarang, sudah tau dia mudah terbakar," cetus Anjeli dan masih terdengar oleh suaminya.


"Pulang sekarang....!" ucap Bagas dan menarik tangan istrinya.


"Ets' aku baru aja selangkah, masa udah mau pulang."


"Anjeli"


"Mas_Plis....!" pinta Anjeli setengah memelas pada suaminya dengan wajah centil yang sengaja ia lakukan, namun Bagas tak bergeming sama sekali, ia semakin melototi istrinya dengan setengah mengancamnya.


"Huft....kau ini, sebentar aja....plis!, ijinkan aku bicara dengannya, aku hanya ingin berkenalan dan mengucapkan terimakasih padanya.


"Apa kau budek?, kau semakin hari semakin sulit aku kendalikan," tegas Bagas dan menarik paksa Anjeli keluar dari ruangan tersebut.


Kecemburuan Bagas kini sudah menggelapkan hatinya dan membakar jiwanya, Bagas sungguh sulit mengendalikan emosinya. Hingga ia memutuskan membawa Anjeli keluar dari pesta tersebut, Anjeli pikir ia dan suaminya langsung pulang ke rumah untuk menyelesaikan masalah yang ia buat.


Namun, diperjalanan Anjeli tampak bingung " kok jalan yang diambil mas Bagas terlihat berbeda dengan jalan yang aku lalui sebelumnya," guman Anjeli sambil fokus memperhatikan jalan yang sedang mereka lalui sekarang.


Anjeli kini mengalihkan pandangan kearah suaminya, namun bukan sesuatu yang mengenakkan yang ia dapati melainkan raut wajah yang menyeramkan " Bagas kalau lagi marah, begitu menakutkan," gumannya dan langsung menarik kembali pandangannya.


Bagas masih dengan sikap dinginnya, sama sekali tak ingin membuka obrolan dengan Anjeli, ia merasa istrinya sudah menipu dirinya dan saatnya memberi pelajaran pada istrinya yang semakin hari semakin membuat Bagas putus asa untuk menyembunyikan dirinya, karena kecantikan Anjeli yang semakin menonjol dan sikap Anjeli yang terkadang menggoda.


Anjeli yang penasaran dengan arah tujuan mereka mencoba memberanikan diri bertanya pada pria menyeramkan di sampingnya " mas kita mau kemana?, ini bukan jalan pulang."


"Diam lah...!, jangan berisik....!"


"Jangan suka memainkan peran antagonis, aku gak suka," lanjut Anjeli belum tobat melihat sikap menyeramkan dari suaminya.


"Huft..." Bagas hanya menarik napas panjang dan tak memberi komentar apapun lagi.


"Cerewet...!" cetus Bagas dan langsung melangkah memasuki hotel dan terus menuju ruangan tanpa memperdulikan disekitar, para resepsionis langsung berhamburan berjejer dibelakang mereka, Anjeli yang heran menghentikan langkah suaminya " Mas jangan bikin ulah, ini negara orang, kamu lihat dibelakang kamu!" ucap Anjeli merasa khawatir dengan tingkah arogan suaminya.


"Lanjutkan kerjaan kalian dan berikan kamu jamuan terbaik di hotel ini, kirim makanan favorit nyonya ke kamar dan kalian siap 24 jam jika dia butuh bantuan."


Anjeli semakin bingung, "Apa penyakit arogan kamu semakin akut?, Mas ini hotel orang lain, jangan sok memerintah!" cetusnya.


"Tunggu...!, kalian tolong beritahu dirinya siapa pemilik hotel ini...!" ucap Bagas dan meninggalkan Anjeli kerena kamar mereka sudah di depan mata.


Bagas memasuki sebuah ruangan dengan papan nama tertera dengan ukiran indah, VVIP Bagas Wirawan dan Anjeli juga di suguhkan dengan lukisan indah foto keluarga yang digantung pada dinding pas depan ruangan itu.


Resepsionis langsung mengambil alih dan menjelaskan semuanya pada Anjeli, membuat Anjeli tak habis pikir jika ternyata suaminya kini sudah melebarkan sayap ke mancanegara. Anjeli cukup bangga namun tentunya tidak dengan sikap arogan suaminya yang sering kambuh di depan matanya.


"Nyonya, Silahkan masuk...!, dan tolong segera hubungi kami jika nyonya membutuhkan bantuan," ucap sang resepsionis dan langsung berpamit lan melanjutkan pekerjaan pada sang nyonya.


Saatnya Anjeli memasuki ruangan itu, ia membuka pintu ruangan dan sebuah kejutan kembali ia dapatkan, sebuah kamar yang didalamnya berhias melebihi keindahan kamar pengantin, "Hahaha....Apa kamu terobsesi dengan kamar pengantin?, atau mas ada keinginan untuk mendapatkan selir lagi?...atau mas ingin poligami?...mas bilang aja, aku pasti membantu...!" ucap Anjeli semakin membuat panas keadaan kamar tersebut.


Bagas tak memperdulikan istrinya, ia hanya mengambil sebuah laptop miliknya dan memulai sebuah pekerjaan tertunda karena perbuatan istrinya yang sudah memancing emosinya sebelum ia membicarakan kontrak dengan pemilik acara jamuan tadi.


"Untuk apa menghiasi kamar seindah ini, kalau hanya untuk melanjutkan pekerjaan di disini, ah...kalau gitu aku pulang aja ya mas...!, kasian anak-anak sendiri di apartemen."


Bagas menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan sikap Anjeli yang semakin melonjak mempermainkan dirinya, "Berhenti....!, diam disitu dan tunggu aku...!"


"Mas, udahlah jangan kekanakan. Silahkan lanjutkan pekerjaan kamu atau aku bisa pesankan seseorang yang bisa menghibur kamu sekarang...!" ucap Anjeli semakin keterlaluan.


Bagas dengan emosi meluap, menendang kursi yang sebelumnya ia duduki, kursinya tak apa-apa tentu karena kualitas produk yang terbaik, tapi jangan ditanya perasaan Anjeli langsung berubah menjadi 180 derajat, tak pernah sebelumnya ia melihat suaminya semarah itu padanya, Anjeli akui jika memang dirinya sudah keterlaluan, tapi ia bukan lagi istri penurut sekarang, meski ia takut Anjeli tetap memperlihatkan sikap menantang suaminya.


"Lihat dirimu, berpakaian seperti ini dihadapan pria lain dan tak melakukan kewajiban mu sama sekali, apa kau pantas menjadi seorang istri?"


"Hah, Hey Bung....aku sudah berapa kali mengajukan cerai padamu, bahkan aku meninggalkan mu kesini, namun kau yang membuat ulah menyusul ku."


"Jadi kau meminta cerai dari ku, hah...!," tegas Bagas dengan suara menggelegar.


"Kalau itu keinginan kamu, siapkan pemakaman suami mu besok, aku akan membuat mu menjadi janda, puas...!" ucapan Bagas kali ini tak main-main, membuat Anjeli sangat terkejut dan syok dengannya.


"Aku rasa kau sudah gila, Mas...!" sahut Anjeli.


"Kau yang membuatku gila, apa kau tak sadar?"


Bagas yang lelah dengan sikap Anjeli, duduk dan menyandarkan bahu di tembok kamar meraka dekat meja kerja miliknya.


Anjeli masih terdiam kaku dengan ucapan Bagas padanya, ia tak menyangka kelakuannya kali ini sungguh membuat frustasi suaminya.


"Pergilah....!" ucap Bagas lirih dan tatapannya hanya terarah pada sebuah kursi yang dijadikan pelampiasan emosi sebelumnya.


...----------------...