SIERA

SIERA
11.



Bagas yang tidak bisa sabar menunggu kabar tentang keberadaan Anjeli hari ini memutuskan untuk menyambangi kediaman Rama.


Rama yang tak menyangka jika Bagas sampai menyambangi rumahnya untuk mencari Anjeli, semakin mempermainkan perasaan Bagas.


"Tuan Pak Bagas Wirawan di rumah anda dan sedang menggeledah rumah mencarikan keberadaan nyonya Anjeli."


Lapor pak satpam yang tidak berani menghentikan orang paling berkuasa di kota itu.


"Biarkan saja, sampai dia puas mengeledah kediaman ku, Layani saja dia dan tunjukkan semua ruangan yang ada di kediaman ku termasuk kamar mandi sekalian,"


ucap Rama pada pak satpam.


Rama sangat senang mendengar kabar seorang Bagas Wirawan sedang mencari istrinya hingga ke tempatnya.


"Ini adalah pelajaran untuk mu pria sombong...!, bahkan sampai ke lubang tikus sekali pun kau tidak akan menemukan Anjeli."


Rama memang jarang pulang kerumah semenjak membawa Anjeli ke vila miliknya, bahkan ia juga jarang masuk ke kantor miliknya, ia lebih sering bekerja di vila dan hanya orang kepercayaannya yang tampak mondar mandir mengurus semua pekerjaan Rama.


Beberapa bulan telah berlalu Bagas belum juga mendapat kabar tentang Anjeli, meski ia dan anak buahnya telah menyisir seluruh kota, namun tetap saja tak ada hasil.


Klub malam yang ia percayakan dan bahkan mengadakan kerja sama untuk menemukan Anjeli juga belum menampakkan hasil bahkan mereka kehilangan jejak dari nyonya Anjeli.


"Rama, dimana kamu sembunyikan istri ku?." Emosi Bagas kian menjadi-jadi.


Karena terlalu fokus mencari ibu dari anaknya, Bagas sudah jarang pulang dan melihat keadaan Siera yang sebentar lagi akan merayakan hari jadinya yang ke tiga tahun.


"Segera lacak keberadaan Rama, ia pasti sedang bersama Anjeli sekarang, berikan aku kabar secepat nya." Perintah Bagas pada semua anak buahnya.


"Alang keruangan ku sekarang...!."


Bagas melemparkan selembar kertas untuk Asistennya.


"Cetak ini sebanyak-banyaknya dan sebarkan keseluruh penjuru kota, sekarang...!.


"Pengumuman bagi siapa yang menemukan wanita ini, akan mendapatkan hadiah satu milyar."


Terpampang jelas foto Anjeli dan alamat perusahaan atas nama Bagas Wirawan." Apa dia semakin gila, guman Alang membaca pengumuman yang di buat oleh tuannya.


"Hubungi para pengusaha Klub malam dan sampaikan agar mereka secepatnya menemukan Anjeli dan mengaturnya untuk ku."


"Baik. Tuan."


"Anjeli kau sudah cukup membuang waktu ku, tak ada lagi kesempatan untuk mu," guman Bagas dengan mimik penuh amarah.


Pengumuman yang Bagas buat membuat Rama tak bisa leluasa bergerak lagi, ia harus berhati-hati.


Anjeli yang sudah menaruh rasa curiga pada Rama, akhirnya mengetahui jika Rama dan Bagas sudah lama terlibat percekcokan di belakangnya .


"Jadi Bagas sedang mati-matian mencari ku, apa ia benar-benar ingin menjadikan aku wanita hiburan?."


Anjeli sangat marah dan kecewa ternyata selama ini, orang yang ia cintai telah membuat rencana seburuk itu pada dirinya. Awalnya Anjeli hanya mengira jika Bagas hanya menggertak Rama, akan tetapi melihat selebaran dan sudah anak buahnya sebar ke segala penjuru kota membuat Anjeli menyadari jika suaminya memang memiliki niat yang tidak baik terhadapnya.


"Mas aku ingin bicara serius dengan mu?."


"Ya, katakan saja. Sebelum aku keluar dan menangani sedikit masalah di luar," ucapnya pada Anjeli, dan memang hari ini Rama berniat menemui Bagas dan mempertanyakan tindakannya yang menurut Rama sudah sangat diluar batas.


"Aku tau jika kamu akan menemui mas Bagas, sebaiknya jangan terlibat jauh mas. Aku minta maaf sudah merepotkan mu, andai waktu bisa diputar kembali meski aku mencintai mas Bagas, aku akan lebih memilih tak menikah dengannya, dan membuat Siera menjadi korban dari pernikahan ini."


"Apa yang kamu katakan Anjeli, aku yang salah tak kukuh mempertahan kan orang yang aku cintai dulu, dan sekarang aku sangat menyesal melihat mu terjebak dalam pernikahan seperti ini, dia memang patut diberi pelajaran agar ia bisa menghargai ketulusan mu."


"Aku punya rencana Mas, bagaimana kalau aku kembali ke rumah Elin dan mengatur siasat bersamanya, Elin dan adik kamu pasti bisa diandalkan dalam hal ini."


"Apa maksudmu Anjeli?."


"Ya, aku ingin kerja sama dengan salah satu pemilik rumah bordil atau pemilik Klub malam, dengan keuntungan bagi hasil 50 persen, dan selain itu aku juga akan mendapatkan uang untuk biaya operasi aku" Ucap Anjeli pada Rama, sambil menyodorkan hasil pemeriksaannya sebelum pergi meninggalkan kediaman Bagas.


"Anjeli, kenapa kamu sembunyikan hal sebesar ini untukku, pantas kamu sering pingsan dan terlihat pucat." Rama yang baru mengetahui penyakit Anjeli, semakin kecewa dengan Bagas.


Rama yang emosi meremas hasil diagnosa dari dokter dan berjalan keluar meninggalkan Anjeli, namun kali ini Anjeli berusaha menahan Rama, bahkan sampai memohon padanya dengan memeluk Rama dari belakang.


"Mas aku mohon jangan gegabah, aku memang tidak bisa mencintai mu tapi jika kamu terluka maka aku takkan bisa memaafkan diri ku sendiri, aku sangat menyayangimu tapi rasa sayang itu berbeda dengan perasaan ku untuk Bagas dan kamu tau itu."


"Tapi Anjeli aku tak butuh kasih sayang mu sebagai saudara, aku mencintaimu, sampai kapan kamu bisa memberi aku kesempatan itu, Jika memang harus berakhir di tangan suami mu mungkin itu lebih baik dari pada hidup dan melihat mu tersakiti olehnya," gumannya sejenak.


"Mas...kita bicarakan dulu dengan baik dan atur rencana, jangan gegabah seperti dulu. Alasanku menikahi mas Bagas karena ia juga mengancam akan membunuh mu di depan ku, mas aku sudah cukup banyak berutang budi pada mu, tolong jangan menambahnya lagi."


"Apa aku terlalu miskin dimata mu sehingga untuk membayar biaya operasi itu aku tak akan sanggup,"


lirih terdengar dari mulut Rama, kerena sikap Anjeli kali ini sangat membuatnya kecewa.


"Mas jangan salah paham dulu."


Anjeli berusaha menenangkan Rama.


"Bukan kah, aku memang masih istrinya mas Bagas dan apa salahnya menghabiskan satu malam dengannya, sekalian itu akan menjadi pertemuan yang terakhir, jika kamu bersedia membantu, aku ingin mendaftarkan perceraian kami secepatnya dan sekalian membawakan surat cerai untuknya, aku rasa itu akan menjadi pembelajaran penting untuk pria angkuh seperti mas Bagas." Anjeli memberi tahu Rama dengan penuh keyakinan akan rencananya itu.


"Anjeli kamu pikir aku sanggup membiarkan dia menginjak harga dirimu lagi." Rama yang tak terima dengan keputusan Anjeli karena ia tak sanggup lagi menerima kenyataan pahit melihat mereka menghabiskan malam bersama, itu sangat menyakitkan untuknya.


"Maaf, ini yang terakhir kali, dan aku takkan pernah menerima dia lagi dalam hidup ku. Mas Rama pikir aku tak sakit, itu sangat menyakitkan melihat orang yang kita cintai tapi berniat buruk seperti itu, dan tak menghargai sama sekali."


Tak lupa pula Anjeli menyodorkan foto kwitansi sebagai tanda bukti jika Elin telah di jual oleh ibu tirinya dulu, hingga sekarang ia masih terjebak menjadi wanita simpanan dari teman Rama sendiri, Rani mengirimkan foto itu pada Anjeli untuk meminta bantuan kak Rama karena Rani sangat sulit menghubungi kakaknya selama ini.


"Apa ini Anjeli?."


Rama mengerutkan kening melihat nama Ardi Ardian, sahabatnya sendiri tertera dalam kwitansi itu.


"Dokumentasi yang Elin simpan sebagai bukti hutang jual beli ibunya atas dirinya pada sahabat mu, dan itu sudah berlangsung lama, aku dan Rani berniat untuk membantu membebaskan Elin." Jelas Anjeli pada Rama.


"Ardi kau sungguh sangat bejat."


Belum selesai emosi Rama pada Bagas kini ia harus menahan amarah pada Ardi sahabat karibnya.