SIERA

SIERA
45.



Anjeli memutuskan untuk keluar dan menenangkan diri sejenak.


Anjeli melajukan mobil milik Alma dan tanpa tujuan pasti ia terus melaju, hingga ia terhenti saat seorang pria dengan pakaian formal, stelan jas berwarna biru navi, tiba-tiba berhenti pas dihadapan mobil yang Anjeli kendarai.


Anjeli tak bergeming, ia hanya memperhatikan pria yang begitu lancang memotong arah jalannya.


"Apa maunya?, berhenti seenaknya dan sekarang malah menelpon dengan santainya," karena kesal Anjeli pun membunyikan klakson beberapa kali untuknya.


Pria itu kini berjalan kearah mobil yang Anjeli kendarai.


Tok....tok....tok.


"Apa anda kesal dengan saya?" tanya pria itu dengan santai.


Anjeli yang sudah memuncak akhirnya menurunkan kaca mobil dan menatapnya tajam.


"Rupanya seorang wanita cantik, kau beruntung bertemu dengan pria tampan seperti ku, di jaman sekarang makhluk seperti ku ini sangat langka, sayang!" kata pria itu pada Anjeli dengan penuh percaya diri.


"Sial, aku masih menyimpan amarah pada Bagas, eh....malah ketemu kutu kampret begini di jalan," guman Anjeli semakin tajam menatap pria tersebut.


"Cantik tapi sayang bisu!" ucapnya sambil memamerkan gaya glamornya dengan kaca mata bermerek keluaran terbaru.


"Lain kali jangan memotong arah jalan seseorang seenak jidat mu....!" ketus Anjeli dan menutup kembali kaca mobil.


PIP....PIP....PIP....lanjut Anjeli membunyikan klakson mobil, dan sontak membuat pria kepedean akut itu kaget, maklum ia baru melangkah beberapa kaki dari mobil Anjeli.


"Woy....dasar wanita gila....!" teriaknya sambil menunjuk Anjeli.


"Sial...!, kenapa dia gak jantungan sekalian, agar makhluk seperti dia cepat punah, orang seperti dia merusak ekosistem di bumi" cetus Anjeli, dengan perasaan puas melihatnya kaget di depan mobil barusan.


Anjeli pun langsung melajukan kembali mobil tersebut dan berusaha melewati mobil yang pria super pede itu.


"Lumayan juga wanita ini, aku tertarik dengan sikapnya, sangat jarang aku bertemu harimau betina seperti dia, tatapannya saja seakan ingin memburu dan menerkam mangsa," gumannya tanpa meladeni kelakuan Anjeli yang melajukan mobil dan melalui kendaraan miliknya tanpa permisi sedikitpun.


Lelah keliling kota, Anjeli memutuskan untuk kembali, namun mengingat Siera dan Amar ia memutuskan untuk membelikan cimilan kesukaan buah hatinya.


Anjeli kembali ke rumah, tampak di depan teras Bagas sedang bermain bersama dengan Amar.


Melihat kedatangan istrinya, Bagas sangat senang dan langsung mendekati sang istri.


Anjeli memundurkan langkah saat Bagas semakin dekat dengan tubuhnya.


Bagas pun otomatis langsung menghentikan langkah kakinya dan hanya menatap istrinya dengan tatapan sedih.


Anjeli mengulurkan tangan pada Amar dan putra mungilnya itu langsung merespon dengan riang.


"Jika bukan karena kedua buah hati kita aku takkan pernah kembali padamu, tolong pulanglah ke Indonesia aku sudah membelikan tiket untukmu dan tolong jangan mengganggu kami untuk beberapa hari kedepan...!" ucap Anjeli dan langsung mengakhir pembicaraan tanpa memberikan kesempatan pada suaminya untuk menanggapi.


Bagas yang hendak mengutarakan keberatan akan keputusan Anjeli, terdiam mematung.


Bagas hanya mampu menatap arah belakang wanita yang telah menjadi istrinya dan melahirkan dua anak untuknya.


Sebenarnya Bagas tak seperti dulu, bahkan sudah jauh berbeda, namun kecerobohan dirinya meladeni permainan si Mak Lampir, membuat Bagas hilang kendali atas istrinya.


"Anjeli, aku akan buktikan jika kau tak salah pilih pendamping. Aku hanya khilaf dan itu sudah lama berlalu," Bagas bergegas masuk kedalam rumah dan mengambil kembali koper miliknya yang belum sempat ia buka dan sekarang harus pulang kembali ke tanah air.


Sebelum meninggalkan anak dan istrinya,Bagas menyempatkan diri bertemu dengan ke dua buah hatinya, dengan perasaan sangat sedih Bagas mencium kening Siera dan Amar. "Ayah pulang dulu, Nak!, Aku akan selalu merindukan kalian.


Meski mereka sedang berselisih paham, Bagas tetap mencium kening istrinya, "jangan buang diriku dari dalam hatimu, aku takkan sanggup bertahan hidup tanpa mu," bisik Bagas pada Anjeli.


"Selesaikan masalah mu, aku tak mau bertemu dengan pelakor itu lagi, aku sudah muak dengannya, kesalahan fatal terbesarmu adalah karena kau orang pertama yang merenggut kesuciannya dan kau mencampakkan dirinya begitu saja."


"Dia yang melemparkan dirinya bagaikan makanan kucing, dia sendiri yang menghancurkan dirinya dan aku sama sekali tak merasakan apapun dari hubungan singkat itu, meski tidur dengannya yang aku pikir itu adalah dirimu dan aku baru sadar keesokan harinya," jelas Bagas mulai membuka kisah itu yang sudah sangat lama ia lupakan.


Suasana menjadi hening....setelah penjelasan itu.


"6 tahun lamanya, kenapa baru sekarang....?" ucap Anjeli menghidupkan suasana kembali.


"Izin kan aku bersama mu malam ini....!, dan aku akan menjawab semua pertanyaan yang selama ini kau ingin ketahui tentang ku," pinta Bagas berusaha membujuk Anjeli.


"Pergilah....izinkan aku menenangkan diri...!"


"Apa perlu aku melenyapkan nyawanya untuk mengakhiri semuanya...?" tanya Bagas tanpa ragu.


"Akan kah kau membunuhku saat kau tak butuhkan ku lagi?" tanya balik Anjeli.


Bagas merasa kalah telak dengan pertanyaan balik Anjeli padanya.


"huft....baiklah aku mengerti, hubungi aku jika hatimu sudah membaik. Jangan membuang ku dari dalam hati ini," ucap Bagas meletakkan tangan tepat di dada istrinya.


"Aku sangat mencintaimu Anjeli, aku memang pria bejat, tapi hati ini tak pernah membiarkan wanita lain mengusiknya, selain dirimu....kita sudah memiliki dua buah hati, tapi hati mu belum sepenuhnya untukku, jangan seperti itu, tak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini," lanjut Bagas.


"Aku pamit, jika butuh sesuatu segera hubungi diriku, aku tak mengizinkan pria lain mengambil alih tanggung jawabku terhadap kalian."


Bagas pun melangkahkan kaki meninggalkan kediaman sahabat Anjeli, kembali ke tanah air tercinta.


Anjeli tak menatapnya sama sekali, ia fokus menatap Amar dan Siera yang sedang bermain.


Tanpa sadar Anjeli pun meneteskan air mata, ada rasa lega dalam hatinya, namun ia harus kuat karena jika ia lengah sedikit maka Bagas akan kembali berulah.


"Pulang lah mas Bagas dan maafkan aku mungkin aku akan pergi untuk ke dua kalinya saat ini, aku butuh ketenangan, aku ingin memulihkan hati ini," guman Anjeli.


"Siera bagaimana pendapatmu jika kita Pindah ke Paris?" tanya Anjeli.


"Bukankah itu sangat jauh dari Ayah, Bu?" tanya balik Siera.


"Apa kamu setuju kita menjauh dari Ayah untuk sementara waktu. Ibu lelah, Nak!" ucap Anjeli tanpa menjawab pertanyaan Siera melainkan melempar pertanyaan balik pada putrinya.


"Siera paham keadaan Ibu. Apapun keputusan Ibu, Siera akan ikut," jawab Siera mengakhiri pertanyaan beruntun mereka.


"Ibu sangat beruntung punya putri sepertimu, masih kecil namun sudah mampu mengimbangi pembicaraan orang dewasa seperti kami. Maafkan Ibu, Nak!" ucap Anjeli dengan tatapan nanar, hatinya sangat terpuruk saat ini, namun ia harus kuat demi kedua buah hatinya.


"Jangan sedih, Bu!. Sebaiknya besok kita berangkat agar ibu tak berubah pikiran lagi."