Rajawali Online

Rajawali Online
Histeris



(Bab ini seharusnya untuk usia 21+ ya. Serap yang baik saja, dan abaikan yang buruk. disamping asam manis dan kecut pasti terasa. Jadilah SmartReader.)


Sementara Joni terjebak dalam penjara Es sementara, Arjuna sempat berpikir untuk kabur. Tapi, sebagai prajurit yang ditugaskan untuk melindungi wilayah Majapahit, dia enggan untuk melakukan itu.


‘Cih.. Kurasa, kita harus meminta bantuan Ayahanda.’ Pikir Arjuna


“Saudara! Kurasa kita harus meminta bantuan Ayahanda Bimasena!” Kata Arjuna kepada saudara-saudaranya yang tengah kelelahan dan hampir saja sekarat.


Puntadewa diam sejenak sebelum menjawab perkataan Arjuna. Bagaimanapun, keputusan Arjuna selalu masuk akal dan lebih cepat dari yang lain.


“Tapi, jika kita berlima saja sampai kwalahan menghadapi orang ini. Berarti, hanya Ayahanda yang bisa menjadi bantuan terkuat.-“


“Itu pun.. Kemungkinan untuk menang masih kurang, kurasa.”


Para Pendawa terlihat murung setelah mendengar perkataan Puntadewa. Dan pada saat itu, Karina mendatangi mereka berlima sambil meneriakan nama Arjuna.


“Arjuna!! Kau baik-baik saja?” Tanya Karina


“Yah.. Sementara kita masih baik-baik saja.” Jawab Arjuna


“Huh? Apa maksudmu? Bukankah kalian sudah berhasil menghentikannya?” Tanya Karina, dia tidak tahu jika Joni yang terjebak dan terlihat sudah tidak berdaya itu pasti akan segera terbebas dari penjara Es yang Arjuna sebabkan.


“Tidak. Ini hanya sementara. Karena dia terlalu kuat!” Jawab Arjuna dengan nada serius


Karina tertegun ketika mendengar jawaban Arjuna. Kemudian, dia bertanya-tanya.


‘Di mana Jae? Kulihat dia login sebelumnya. Tapi, kenapa sampai sekarang masih belum datang juga?-’


Meskipun Jae datang. Dia tetap saja berpikir mustahil jika Jae bisa menghadapi Joni yang mana telah menjapai level 300 secara tidak wajar. Dan jelas jika dia adalah Cheater.


‘Sungguh konyol. Baru juga masih sesi Beta. Bisa-bisanya ada Cheater. Jika seperti ini, reputasi Rajawali Online akan memburuk.’


Kemudian, Arjuna berkata kepada Karina tentang temannya yang sedang memperkuat diri di Dungeon Kahyangan.


“Oh ya. Temanmu saat ini sedang berlatih di suatu tempat.”


“Huh? Siapa yang kau maksud?”


“Tentu saja si Assassin yang bernama Jae itu-“


Jelas Arjuna. Dia sendiri terlihat bersemangat saat menceritakan di mana Jae berada saat ini. Dan juga, sudah setengah jam lebih setelah Jae masuk ke Dungeon hingga sampai saat ini masih belum terlihat kedatangannya juga.


‘Seberapa tinggi dia memanjat Dungeon? Sungguh bocah yang sulit kutebak.’ Pikir Arjuna


“Kurasa, dia bisa memanjat lebih tinggi dari kita berlima.”


Para Pendawa selain Arjuna terlihat heran dengan perkataan Arjuna. Sementara itu, mereka juga sempat sepemikiran dengan Arjuna.


Bagaimanapun, dia sudah cukup lama berada di dungeon. Dan jika mati di sana, seharusnya akan langsung terpindahkan oleh portal untuk kembali ke tempat semula orang itu sebelum masuk Dungeon.


Kemudian, suara familiar dan ceria ikut terdengar saat mereka membicarakan Jae yang sedang berada di Dungeon Kahyangan.


“Apa itu benar?-“ Tanya Gatotkaca yang telah pulih dan sebelum ikut bergabung bersama mereka berenam dan bertanya.


“Kalian sungguh memberinya kesempatan untuk masuk ke Dungeon?”


Arjuna dan empat yang lainnya melirik kepadanya seketika mendengar suaranya. Namun, jawaban untuk Gatotkaca terpotong oleh Karina yang dengan sepontan berkata kepada Gatotkaca tiba.


“Ah.. Om Gatot! Kau sudah pulih dari luka-lukamu sebelumnya?” Tanya Karina dengan ekspresi heran sekaligus senang.


Bagaimanapun, Gatotkacalah yang pertama memberi kesempatan kepada Karina untuk bertindak sebelumnya. Dengan sengaja mengalihkan perhatian Joni dengan memprovokasi Joni.


Walaupun pada akhirnya, Gatotkaca dibuat hampir babak belur oleh Joni.


“Hehe.. Tentu saja. Aku kan Lelaki perkasa di antara para gadis. Dewiku!”


‘Oh tidak. Seharusnya aku tetap bersikap dingin dengan saru orang ini. Tingkahnya selalu saja membuatku jijik.’ Pikir Karina, sebelum menjawab Gatotkaca dengan nada datar.


“Ah.. Haha.. Lupakan saja.”


“Huh? Apa maksudmu? Mengapa nada bicaramu tiba-tiba saja berubah” Tanya Gatotkaca yang sedikit kecewa. Sedangkan para Pendawa tertawa kecil dan sebagian juga ada yang terlihat menahan tawa ketika melihat Gatotkaca yang selalu diperlakukan oleh wanita seperti itu.


“Uhuk.. Ihihihi.” Batuk dan suara tawa yang terdengar karena menahan tawa.


Itu semua karena dirinya sendiri terlalu ke-Pede-an. Dan gombalannya membuat para wanita enggan untuk berbicara dengannya. Meskipun sebenarnya dia orang yang baik dan perhatian.


Sedangkan Gatotkaca mulai terlihat memerah ketika menyadari mereka berlima menertawakan dirinya.


“Urrgh.. Awas ya kalian.” Kata Gatotkaca yang kesal.


Kemudian, dia lanjut bertanya mengenai Jae yang masuk ke Dugeon.


“Sudah-sudah.. Aku tahu kalian menertawakanku. Bagaimana dengan pertanyaanku tadi? Dan sudah berapa lama dia di Dungeon?”


“Iya. Dia sudah ma..”


BOM!! BOM BOM!!


Suara ledakan yang terdengar tiba-tiba mengejutkan mereka semua dan tanpa Gatotkaca selesai mendengar jawaban dari Arjuna.


“Sialan! Apa yang mereka lakukan?” Kata Arjuna.


“Semuanya!! Serang dia sebelum mati dikalahkan oleh para NPC itu! Ini kesempatan kita. Siapa cepat dia dapat!”


“Hyaaaa!!”


Para Player sangat antusias saat berpikir jika bisa mencuri poin killer pada Joni yang mana sedang tidak berdaya.


Sedangkan Joni yang merasa lega karena tindakan para player itu.


‘Bagus. Dengan begitu, aku tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk menghancurkan Es ini. Bagaimanapun, akan menguras banyak setamina dan Mana untuk menghancurkan penjara Es ini dengan kekuatanku sendiri.’


Pada saat itu, Joni terus menjaga pandangannya kepada Arjuna. Sejak awal, Arjuna sudah menjadi satu-satunya yang paling dia benci di antara para NPC yang menyerangnya.


Bahkan sampai bisa memenjarakannya seperti seekor ayam di dalam freezer seperti ini.


Tidak lama kemudian, ketika Es sudah mulai melemah oleh serangan yang datang dari ratusan player yang sebelumnya hanya sebagai penonton dan bertindak saat mengira ada kesempatan.


Haaarrrggh!!


Bruaasskk.. Bruaassskk..


Teriakan Joni dan suara pecahan Es Terdengar. Menjadikan para player dan pendawa tertegun dan mengerutkan kening.


“Oh. Tidak.” Kata Arjuna dengan ekspresi yang sangat gelisah.


“Apa? Dia masih belum mati? Dan bahkan masih punya kekuatan tersisa seperti itu?” Tanya Ketua Guild yang ikut membombardir Es sebelumnya.


“Kita harus mundur!” Teriak Karina kepada para Pendawa dan Gatotkaca saat melihat Joni terbebas. Namun, upaya dirinya yang meneriakan kata Kabur sudah terlambat setelah angina terasa melewati tubuhnya.


Swiiiissh..


Kemudian, kejadian tragis terlihat. Yang mana Dada Arjuna tertusuk oleh Hellberd dengan Joni sudah berada di depan Arjuna sambil mencekik leher dan mengangkatnya ke atas dengan sangat kejam.


Tsssk.. Sruaat!!


Empat pendawa, Gatotkaca dan Karina hanya diam tanpa kata karena terkejut sekaligus ketakutan dengan apa yang mereka saksikan tepat di depan mata mereka.


Sejak kapan dia sampai di sini?


Dia sungguh secepat ini?


Ini mustahil. Mungkinkah karena kita sudah melemah hingga tidak menyadari gerakannya?


Keheranan mereka segera lenyap setelah suara Arjuna terdengar dan menyadarkan mereka dari keheranan bodoh mereka.


“La.. ri.. lah!!” Teriakan Arjuna dengan sekuat tenaga saat menahan sakit di dadanya dan cekikan di lehernya hanya terdengar lirih. Namun sudah cukup untuk membuat para saudaranya dan Karina sadar.


“Bajingan!! Beraninya kau!!” Teriak Puntadewa sambil menebaskan greatsword-nya pada Joni. Begitu juga yang lainnya. Mereka sepontan bergerak untuk menyerang Joni bersamaan.


Tidak peduli apa. Mereka tidak akan lari ketika salah satu saudaranya diperlakukan dengan kejam seperti itu.


Haaaaarrrgh!!


Namun, upaya mereka sungguh sia-sia. Ditambah dengan keadaan mental seperti itu, mereka sama saja hanya melakukan tindakan bunuh diri.


Menghadapi lawan yang jelas jauh lebih kuat  dan bahkan saat keadaan mereka sempurna dan berpikiran jernih juga tidak bisa menang. Sekarang, dengan kondisi yang amat buruk itu mereka bertindak bersamaan, itu sama saja bunuh diri.


“Heh!”


Joni hanya tersenyum keji sebelum menghempaskan skill yang mengakibatkan sekitarnya diselubungi oleh auranya. Mengakibatkan target yang masuk dalam radius auranya terkena efek stun dan fear.


Di saat itu juga, Joni membiarkan mereka melihat bagaimana dia akan menyiksa Arjuna yang saat ini berada di genggamannya.


[Efek Fear diperkuat oleh tindakan anda]


Srrrssk..


Joni menggerakan tombaknya pelan-pelan agar rasanya begitu menyakitkan untuk Arjuna. Membuat Arjuna menggigit lidahnya untuk mengalihkan rasa sakit yang dia rasakan oleh Joni.


“Hoho.. Kau memang tangguh ya, Tampan?!” Kata Joni, ketika tidak melihat apa yang dia harapkan terjadi pada Arjuna.


Membuatnya makin kesal dan tidak berperasaan. Dia sungguh terlihat seperti Iblis saat ini dari pada seorang manusia. Mungkin ini sifat asli dari karakter Joni jika memiliki dendam.


Saat itu, Karina duduk terjatuh dan gemetar melihat adegan ini meskipun dia sadar bahwa ini hanya sebuah dunia virtual.


Bruuk!!


‘Sial.. Kenapa aku bisa terjatuh hanya melihat kekejaman itu? Aku player. Aku tidak sungguh-sungguh akan mati jika terbunuh di sini. Ssssiial!!’ Pikir Karina ketika mencoba melawan perasaan takutnya dan gemetaran tubuhnya yang tidak terkendali.


Kemudian, teriakan histeris Arjuna mulai terdengar.


Haaaaaaarrgh..!!


“Hahaha Bagus. Itu yang aku harapkan! Berteriaklah sekeras mungkin dan tidak perlu malu- “


“Dasar NPC!!” Kata Joni saat melihat Arjuna begitu kesakita hingga berteriak seperti itu.


(Ngomong-ngomong, saya sempat berpikir untuk pindah di ***. tapi di sana berbayar untuk pembaca. jadi, saya masih berpikir dulu. Terima kasih atas semua pembaca setia novel saya.)