
“Ayo kita cari dia! Dan segera laporkan jika ada yang
melihatnya!” Perintah Jack
…
Kembali pada party Jae. Karina yang tadinya terbang
telah berjalan kaki saat ini, karena terbang sangat menguras mana. Meskipun
menggunakan Artefak.
“Kurasa, aku harus manaikan Int agar manaku bertambah
lebih banyak!” Kata Karina
“Iya, bukan hanya itu.. Tapi, setiap 1poin hanya
menambah 3 untuk Int!” Jawab Jae
“Setelah Beta, kita harus menata statistic kita
dengar benar!- “
“Dan kurasa akan banyak yang berubah juga, mungkin
keseluruhan!” Sambut Orochi
Saat ini, kita sudah hampir sampai di pegunungan yang
gersang. Dan sudah terlihat pemandangannya dari kejauhan, tempat yang seperti
gurun pasir. Namun, saat itu juga kami merasakan sesuatu yang mendekat.
“Aku menemukannya!” Kata mereka yang berjumlah tiga
orang ketika melihat kami bertiga. Sebelum akhirnya mengepung kita bertiga.
“Siapa kalian? Kenapa mengepung kami?” Tanya Orochi
Sedangkan aku, sudah tak perlu bertanya lagi tentang
kedatangan mereka. Hingga aku langsung mencengkeram mereka dengan Bone Graves.
“Grasssp..”
“Huh? Apa ini?” Kata salah satu dari mereka ketika
tiba-tiba muncul tangan-tangan tengkorak. Sedangkan yang lain terlihat panic.
“Berapa banyak dari kelompok kalian yang akan
datang?” Tanyaku,
Aku sudah menebak jika mereka adalah guild yang
mencariku. Bagaimanapun, mereka tidak terlihat seperti Bandit yang sengaja
ingin merampok player. Jadi, jika dilihat dari gerak-gerik mereka yang langsung
mengepung, dan berkata ‘Aku menemukannya’ sudah jelas bagiku.
“Heh.. Kau tidak perlu tahu, karena kau akan menyesal
jika mengetahuinya!” Jawab salah satu dari mereka dengan nada nyengir
“Brasssk..!”
Seketika, aku langsung membunuh mereka dengan memperkuat
Bone Graves untuk meremas mereka hingga menjadi debu. Yang artinya mereka mati
dan log out.
“Huh? Seperti biasa, kau gila!” kata Orochi setelah
melihatku membunuh mereka dengan santainya.
“Ini hanya game, bukan?- “
“Ayo! Kita abaikan saja yang akan datang
selanjutnya!”
Sedangkan Karina masih terlihat heran dengan
kekejamanku. Hingga menutup mulutnya yang terbuka dengan tangannya.
“Ayo Karina! Sebelum hal yang merepotkan datang!”
Teriak Orochi, yang melihat Karina hanya bengong.
Orochi berpikir ketika mulai perjalanan ‘Kehidupan
sekeras apa yang Jae jalani hingga menjadi orang seperti itu? Dia sebenarnya
cukup cerdas, Cuma wawasannya saja yang minim.’
“Jae!” Tanya Orochi
“Ng?”
“Apa kau juga jago berantem di dunia nyata?”
“Tidak. Aku hanya berandalan!”
“Huh?”
“Apa semua berandalan seperti kau?”
“Entahlah.. Kenapa kau bertanya seperti itu?”
Orochi sempat terdiam sejenak sebelum menjawab.
Sebenarnya dia tidak sengaja bertanya tentang hal yang seharusnya tidak dia
tanyakan. Meskipun Jae sudah pernah cerita tentang kehidupannya sebelumnya.
“Em.. Tidak apa-apa! Maaf, seharusnya aku tidak
bertanya seperti itu!” Jawab Orochi
Namun, aku hanya bisa berkata apa yang aku pikirkan
sebagai jawaban pertanyaan Orochi yang merujuk pada kehidupanku.
“Yang aku tahu, aku melakukan segala hal untuk
bertahan hidup! Yang pasti, aku hanya pencuri. Bukan tipe kriminal yang
bertindak dengan kekerasan!- ”
“Apa kalian menyesal bergaul denganku?”
Namun, ketika aku berkata seperti itu, Orochi dengan
keras menjitak kepalaku dan bahkan memanjat tubuhku dengan bentuk kadalnya.
Sebelum berkata dengan nada marah.
“Plak..”
“Kau bicara apa tolol? Kalo kau kriminal, bagaimana
denganku?” Tanya Orochi
“Huh? Maksudmu?” Jawabku dengan balik bertanya.
Namun, kemudian dia melakukan hal yang membuatku
begitu kesal dan mamalukan sebagai jawabannya. Dia dengan sengaja turun dari
punggungku sambil melucuti celanaku kebawah agar terlihat oleh Karina.
“Ini.. Aku lebih jahat dari kriminal, kan?”
“Sruut..!”
“Kyaaa..!” Teriak Karina, sambil menutup wajahnya
dengan kedua tangannya
“Bajingan kau Cicak sialan..!” Teriakku sepontan,
sambil membenarkan celanaku kembali dan mengejar Orochi yang lari begitu cepat
setelah apa yang dia lakukan.
‘Ini orang paling suka membuatku geram.’
“Ampuun.. Aku takut dikejar kriminal! Haha..!” Teriak
Orochi sambil berlari dan tertawa.
…
Tidak lama kemudian, kita bertiga sampai di
pegunungan gurun pasir dan bebatuan kering. Disertai angina kasar dengan suhu
yang amat gersang.
“Heh.. baru syncro rate 5% saja seperti ini rasanya!”
Kata Orochi
“Benar.. maka dari itu, kita kumpulkan banyak
pengalaman yang mungkin berguna nanti!” Jawabku
Ketika saat itu juga, gampa bumi kecil terasa sebelum
monster beast kalajengking raksasa bermunculan.
“Brassst.. Sssst..!”
“Oh tidak.. Kurasa satu saja sudah merepotkan, tapi
mereka datang lima sekaligus!” Kata Orochi
“Tidak ada waktu untuk takut!” Potong Karina, sebelum
langsung melakukan serangan langsung
“Staaab..!”
“Clank clank clank clank..!”
Namun, tidak terpikirkan serangannya hanya mental dan
tidak membuat kerusakan.
[Black Iron Scorpion, rank A+]
[Monster Beast dengan kulit baja hitam, dan memiliki
racun mematikan di bagian ekor]
[Damage sengatan 500, efek racun mengurangi vitalitas
20 perdetik]
“What the hell? Ini Monster paling bangsat sejak aku
masuk game ini!” Kesal Orochi. Dan terlihat putus asa saat melihat notifikasi
system
“Waspadalah.. sekali kita terkena serangannya pasti
akan berakibat mati!” Teriakku
‘Untung saja, aku tidak mengambil quest. Jadi, tidak
akan berdampak pada koin sebagai pinalty jika sampai mati di sini.’
Sementara Karina terlihat tetap fokus pada satu
monster yang dia serang tadi, keempat beast yang lain mulai melakukan tindakan
pada kami.
“Bone Graves”
Meskipun Bone Graves sudah berada pada level 5,
kurasa tetap tidak akan kuat untuk mengunci gerakan keempat beast ini. Kecuali
hanya satu beast, akan memungkinkan kekuatannya tidak terbagi.
“Brake brake brake brake!”
Seperti yang kuduga, semua Bone Graves-ku percumah.
“Cih. Showtime!”
Yang aku bisa hanya mengerahkan seluruhnya yang aku
punya. Dan juga aku mencoba menggunakan senjata rank SSS namun.
[Anda belum diperbolehkan mengambil senjata SSS ,
‘Jadi, aku hanya bisa menyimpannya saja sebagai
pajangan untuk saat ini?’
Sementara Orochi dan Karina juga sedang berusaha
sebisa mungkin denga semua yang mereka punya. Bahkan Karina menggunakan skill
ultimatenya yang sebelumnya bisa menghancurkan shield Dukun.
Namun, hanya menggores bagian luar kulit saja. Skillnya tidak
efektif selagi serangannya hanya melukai bagian luarnya saja. Skillnya akan
sangat berdampak jika berhasil memberi kerusakan pada organ dalam target.
“Hah.. Hah.. Sial, ini hanya membuang stamina saja!”
Gumam Karina, setelah melakukan banyak upaya untuk memberikan damage pada Black
Iron Scorpion.
“Splassh.. Blaree..!”
Musuh kita bahkan tidak membiarkan kita beristirahat.
Hampir saja Karina terkena ekor Black Iron scorpion, untungnya dia ninja dan
gesit untuk menghindar.
“Hiiiik… Jae! Sepertinya aku tidak bisa bertahan lama
lagi. Staminaku hanya tersisa 25%!” Teriak Karina yang gelisah setelah
menghindari serangan ekor yang hampir mengenainya.
Di samping itu, Orochi yang seorang mage belum
memiliki tipe serangan yang cocok untuk beast ini.
“Cih.. Sial, dia kebal terhadap racun- “
“Jae! Kurasa aku hanya bisa mendukung kalian dengan
Buff!”
Jadi, yang bisa diharapkan untuk melumpuhkan Black
Iron Scorpion hanya aku dan Karina.
Di sisi lain juga undeadku sedikit memperlihatkan
harapan. Meskipun hanya mereka bertiga yang besa bertahan Dukun, Cakil dan
Jalang. Cakil mulai menggunakan Palu raksasanya.
“Bang Bang Bang!”
Yang mengejutkan, serangan palunya yang besar
mengakibatkan retakan pada kulit Black Iron Scorpion.
“Splaaash.. Tssk..!”
Namun, ekornya beast yang cepat lebih unggul
menghadapi gerakan Cakil yang lambat hingga mengenai pinggangnya.
“Pofft..!”
Hanya sekali sengatan, Cakilku langsung lenyap
dan kembali ke slot undead-ku?
Sedangkan Dukun selalu menjaga jarak dan melakukan
serangan Range. Saat itu juga aku teringat oleh senjata yang aku dapatkan dari
‘Kerna’.
“Dukun! Terima ini!”
“Fuk fuk fuk fuk…!”
“Clak..!”
[Huh? Tuan.. ini sungguh suatu kehormatan bagiku!]
Kata Dukun, terlihat begitu bersemangat ketika aku memberinya sabit Alaksa
[ Sabit Alaksa, Rare Rank SS, Damage 500/hit.
Memiliki racun di bagian ekor tongkat senjata. Dampak serangan pada ekor
meracuni korban 20hp perdetik. Durasi 1 menit]
[Undead Dukun merasa sangat bangga dan terpicu
melakukan breakthrough]
“Huh?” Aku heran ketika melihat pemberitahuan system
Dan juga, para Iron Black Scorpion terlihat sedikit
ketakutan setelah melihat Dukun memegang Alaksa.
‘Sebenarnya apa yang terjadi? Memang sih, wujud dukun
menjadi lebih menyeramkan dan terlihat cocok dengan sabit itu. Hingga terlihat
seperti Grim Reaper.’
Jika membaca deskripsi senjatanya, itu sama dengan
damage serangan ekor Iron Black Scorpion. Jae tidak tahu jika senjata itu
dibuat dengan kombinasi Beast ular dan Black Iron Scorpion.
Kemudian, hal yang tidak terduga segera terlihat.
“Slash.. slash slash slash..!”
Dukun yang tadinya selalu menjaga jarak, kini
melakukan serangan langsung dengan sabitnya. Bahkan kecepatannya menjadi
meningkat, belum lagi dia bisa menghilang dan muncul di mana pun dia inginkan.
Sebelum lanjut melakukan tebasan dengan sabitnya.
Yang lebih mengejutkan, setiap tebasannya mengenari
celah-celah di antara kulit besi yang melindungi Black Iron Scorpion hingga
mengakibatkan bagian yang tertebas terpotong.
Kemudian, aura hitam dan merah menyelimuti Dukun dan
meresap pada seluruh tubuhnya. Hingga sosok baru terlihat pada dukun.
‘Keren.. Dia benar-benar seperti Grim Reaper
sekarang.’
Pakaian dengan tudung dan wajahnya yang hanya
tengkorak, ditambah sabit Alaksa yang berwarna hitam dengan bilahnya saja yang
terlihat mengkilap tajam sudah mengerikan untuk dilihat.
Ditambah auranya yang hitam pekat dengan sedikit
warna merah darah menghiasi karismanya yang menyeramkan.
[Dukun Berhasil Breakthrough – Lich]
(Cobalah membuat Undead yang lain breakthrough untuk
memungkinkan Job anda mengalami Breakthrough lebih cepat)
“Menakjubkan! Ini kah kekuatan seorang Necromancer?
Bisa memiliki bawahan yang kuat seperti itu?” Guman Orochi ketika melihat dukun
“Huuf.. Syukurlah kita punya harapan!” Kata Karina,
sambil menghembuskan nafas panjang sebelum mendekat kepadaku dan disusul oleh
Orochi.
“Kurasa kita bisa istirahat sebentar selagi Dukun
menghadapi mereka bersama dengan teman-temannya!” Kataku
Kemudian, aku memanggil Cakil kembali untuk
bertarung. Karena hanya mereka bertiga yang mampu mengimbangi Black Iron
Scorpion. Cakil berkata pada jalang saat kembali muncul.
[Wanita tua! Apa kau tidak mencoba menggunakan
senjatamu?]
[Grrr.. Tentu saja akan kugunakan karena kalian
lemah!]
Kemudian, Jalang yang setengah ular memunculkan
senjatanya yang dia simpan di dalam tubuhnya untuk keluar dari mulutnya.
Menjijikan ketika melihatnya mengeluarkan senjata itu dari mulutnya yang
melebar seperti ular.
Senjatanya adalah dua bilah kapak besar.
[Tuan! Aku tidak mengira kau tidak berdaya menghadapi
mereka!] Kata Jalang tiba-tiba.
“Huh?” Aku sungguh tidak mengira jika Bawahanku akan
berkata seperti itu padaku. Namun Cakil memotong
[Lancang! Kau berani meremehkan Tuan kita?]
[Tentu saja aku tidak bermaksud seperti itu! Tapi,
Tuan belum menyadari semua kekuatannya saja!]
Di tengah pertarungan Dukun yang baru saja melakukan
Breakthrough dan sedang sibuk menghadapi 5 beast. Mereka malah berdebat karena
aku? Untungnya, Dukun yang kali ini menjadi lebih kuat dari mereka berkata.
[Diam kalian! Bantu aku atau aku akan menghukum
kalian nanti!]
[Huh? Cih, kau beruntung bisa Breakthrough hingga berani memerintah kami!] Jawab Jalang
[Sudahlah! Ayo bantu dia dan kita bantu Tuan kita
menjadi lebih kuat!] Potong Cakil, sambil berlari mendekat pada musuh dan
disusul oleh Jalang yang juga tidak mau kalah dalam hal ini.
Mereka terlihat seperti sedang berlomba-lomba mencari
perhatian padaku lebih tepatnya.
Aku merasa malu ketika melihat mereka, sebagai
tuannya, aku masih sangat lemah. Meskipun aku yang tadinya mengalahkan mereka,
namun mereka bertambah kuat juga seiring diriku naik level.
“Expunge” Aku menggunakan skill ini untuk memulihkan
manaku dengan menyerap vitalitas Black Iron Scorpion.
Mereka sempat melirikku ketika mereka menyadari jika
aku menyerap vitalitasnya. Namun, mereka sedang disibukkan oleh tiga bawahanku.
“Tenang saja. Aku juga tidak mau kalah oleh bawahanku
tentunya!” Kataku ketika hendak bertindak
Dukun dan kawan-kawannya terlihat tersenyum ketika melihatku
ingin bertindak.
[Inilah Tuan kita yang sesungguhnya!] Seakan-akan
mereka semua berkata seperti itu.