
Meraka berdua berlari melawati keramaian kota dan
kerumunan orang-orang di jalanan. Dengan perasaan mereka yang tidak mengenal
takut seperti mengabaikan aturan yang tidak menginginkan mereka untuk bahagia
dan ketidakadilan.
Kemudian mereka berhenti di taman kota.
“Hah.. Hah.. Hah..”
“Mengapa kau suka sekali berlarian seperti itu?”
“Entahlah.. Aku hanya ingin berlari. Hehe..”
“Huh? Dasar.. Terus apa yang akan kau lakukan
sekarang?”
“Di sana!” Jawab Jae singkat, sambil menunjuk
Showroom Motor di dekat taman kota.
“Huh? Kau ingin beli motor?” Tanya Mahda, hanya heran
memandang Jae dan bertanya-tanya seberapa banyak uangnya sebenarnya. Bagi
mereka uang jutaan rupiah sudah banyak. Sedangkan Jae sebenarnya miliarder saat
ini.
“Um!!- ”
“Bukan hanya itu, sudahlah ayo! Kau tidak ingin aku
mengajakmu berlarian terus,kan?”
Tidak lama kemudian, setelah dia selesai membeli
motor dengan langsung membayarnya lunas.
“Terima kasih banyak atas kunjungan pembeli yang
terhormat, semoga pelayanan kami membuat anda senantiasa mengutamakan Showroom
kami!” Kata pemilik Showroom
“Ah.. sudah-sudah bacotnya. Aku sedang buru-buru!”
Jawab Jae
‘Ugh.. Sial, palingan anak ini tidak lama juga masuk
penjara setelah mencuri uang sebanyak itu.’ Pikir pemilik showroom, sebelum
berkata
“Ah..
Maaf-maaf. Silahkan Tuan muda!”
‘Dan yang lebih menyebalkan, ada gadis cantik
bersamanya.’ Pikir Pemilik showroom saat melirik Mahda.
“Oi.. Oi.. Begitukah kau melirik pasangan para pembelimu?!”
Kata Jae
“Huh? Eh.. Maaf, maaf. Saya tidak bermaksud begitu,
sungguh!” Jawab Pembeli Showroom
Sedangkan Mahda ‘Apa maksudmu pasangan? Kau sungguh
menganggapku pasanganmu?’
…
“Vroom.. Vroom..!”
Dengan Motor Sport CBR250RR Sp Qs type special
edition. Di kotanya hanya motor itu yang paling bagus saat ini.
“Ayo! Kau masih mau menemaniku, kan?” Kata Jae
Menawarkan Mahda untuk segera naik motor barunya.
‘Tentu, aku akan mengikutimu untuk saat ini. Aku
ingin melihat, apa yang akan kau lakukan dari apa yang kau katakan beberapa
saat sebelumnya. ‘Aku tidak ingin
melihatmu bertahan hidup seperti itu di Dunia yang berbahaya ini! Aku yakin,
kau pasti lelah, kan.’ Pikir Mahda,
“Em.. Aku ikut.” Jawab Mahda sambil memanjat motor
baru Jae untuk membonceng dan berpegangan pada pinggang Jae. Kemudian Jae
berkata.
“Percayalah.. Aku akan membuatmu merasakan kehidupan
baru!”
Itu membuat Mahda tersenyum dan berharap.’Semoga yang
diucapkan mulutmu benar.’ Jika itu bukan Jae, dia tidak akan berharap. Dan
awalnya juga dia tidak percaya pada Jae, namun, perasaan hangat itu membuatnya
ingin mempercayainya.
“Vroom.. Vroom..”
Sementara
suara motornya yang garang membuat orang-orang sekitar memandangnya dan
terpesona. Berbagai macam perkataan dari kerumanan orang yang berbeda-beda
terlontar.
“Ah, sial.. Penampilannya miskin, tapi ternyata
banyak duit.”
“Bukan hanya itu, dia punya wanita cantik juga.”
“Sungguh beruntung.”
“Wah.. Kerennya!”
“Aku ingin jadi wanitanya! Hiks..”
“Lihat! Itu mangsa kita selanjutnya!”
“Mangsa matamu! Dia juga seorang seperti kita,
tolol!”
“Memang apa salahnya jika sama seperti kita?”
“Itu prinsip kita!”
“Aku tidak peduli! Yang penting uang!”
“…-“
Kemudian, Jae mulai berkendara ke arah kota Parakan
dengan motor barunya sambil ngebut dan kasar. Sebenarnya, sudah lama Jae tidak
mengendarai motor. Jadi, perlu beberapa saat untuk membiasakan dirinya dengan
kendaraannya. Hal itu membuat Mahda sedikit takut dan berteriak.
“Vrom-vrooooom.. Vrooooom..!”
“Bangsat!! Hati-hati dong! Jangan ngebuuuut!”
Jae memperlampat kecepatannya dan berkendara dengan
kecepatan rendah ketika Mahda berteriak.
“Hehe.. Maaf, aku terbawa suasana. Sudah lama aku
tidak mengendarai motor, dan ini motor pertamaku dan juga yang paling bagus.”
Jelas Jae
“Kau mulai sombong, ya?” Tanya Mahda
“Huh? Tentu saja tidak. Meskipun jika orang lain
berpikir begitu, aku tidak peduli.”
“Em.. Ngomong-ngomong, akan ke mana kita?- “
“Mengapa mengarah ke Parakan?”
“Aku mau mengunjungi Kakekku.”
….
Setelah 20 menit terlewat, mereka berdua sampai pada
tujuan Jae. Yaitu rumah kakeknya yang telah lama tidak dikunjungi.
“Vroom.. Vroom..”
Di sini adalah kota yang cukup lebih aman dari pada
kota Temanggung. Meskipun, tingkat perekonomiannya tidak jauh lebih baik.
Setidaknya tindak kriminal tidak separah kota tempat tinggal Jae.
Kakek Jae hidup sendirian di rumahnya. Terkadang
teman-temannya suka menemaninya ketika malam. Dan saat ini jam 13.30 biasanya
Di depan rumah kakeknya yang sederhana dekat
pinggiran sawah, dengan pekarangan di depan rumahnya yang sedikit luas. Jae
memarkirkan motornya di sana sebelum masuk ke rumah kakeknya.
“Ini rumah Kakekmu?” Tanya Mahda, sambil melepas helm
“Ya. Dan di sinilah awal aku belajar berkelahi!”
Jawab Jae
“Eh? Setahuku kau selalu kalah saat berkelahi?!”
Jawab Mahda
“Hem.. Itu sebelum aku pergi ke sini!” Bantah Jae
“Sungguh?”
Tiba-tiba, suara teriak serak seorang Kakek terdengar
ketika itu.
“Kalau begitu biar aku tunjukan kemampuan Bocah bau
ini padamu, gadis cantik!!” Kata Kakek Jae, sambil melemparkan batang kayu ke
arah Jae dan Mahda
“Frukfukfukfuk..”
“Huh! Awas!” Kata Jae, sambil dengan reflex memeluk
Mahda dan bergerak untuk menghindari lemparan kayu yang datang tiba-tiba.
“Kya…” Teriak Mahda ketika itu
“Clank!” Kayu yang dilemparkan menabrak motor baru
Jae, dan menyebabkan lecet.
“Oi!! Dasar Kakek sinting! Bisa tidak kau melihat aku
yang sedang bersama seorang wanita?!” Teriak Jae yang kesal pada Kakeknya
Namun, Kakek Jae yang beramput putih dengan pakaian
lusuh bekas dipakai untuk bertani, muncul sambil berkata.
“Itu sudah kewajibanmu untuk melindungi pasanganmu,
bukan?” Kata si Kakek
‘Hem, Cucuku sudah tumbuh dewasa sepertinya.’
“Oi.. Tapi kau membuat motor yang baru saja aku beli
menjadi lecet tuh!” Protes Jae, sebelum berpaling ke Mahda dan berkata
“Kau baik-baik saja?”
“Em, aku hanya terkejut saja.” Jawab Mahda
Kakek Jae sebenarnya sangat senang dengan kedatangan
Cucunya. Dan membuatnya tidak tahan untuk mengukur kemampuan Jae sejak terakhir
kali dia berkunjung.
“Ayolah, Nak! Kita mulai!” Kata Kakek sambil
melakukan pemanasan otot. Terlihat di wajahnya sangat bersemangat ketika itu.
“Oi.. Oi.. Semangatmu datang di waktu yang tidak
tepat, Kek!” Jawab Jae
“Hoho.. Tentu saja bukan masalah, kan! Lagian,
bukannya calon Istrimu itu ingin melihat kemampuanmu, kan?” Jawab Kakek.
‘Cih.. Si Tua ini, pandai sekali bicara.’
Mahda tersipu malu ketika mendengar perkataan Kakek
Jae. Namun, Mahda berkata hal yang tidak terduga bagi Jae dan Kakeknya.
“Ehem..-“
“Baiklah, Jae, jika kau berhasil mengalahkan Kakekmu,
aku akan mengakuimu sebagai pasanganku!”
Jae tertegun saat mendengar perkataan Mahda sekaligus
jantungnya berdebar kencang.
“Badump!”
“Apa kau serius? Kau tidak menipuku?”
“Kau tidak percaya?”
“Bagaimana mengatakannya ya? Habisnya.. Kau itu..”
Jawab Jae yang tersenyum sambil menggosok rambutnya, namun.
“kecup”
Mahda, sebenarnya untuk yang pertamakalinya mencium
seseorang. Bahkan dia tidak pernah mencium siapapun ketik menipu mangsanya.
Selama ini dia memanfaatkan pesonanya dan kemampuan misteriusnya untuk menipu
korbannya.
“Badump!! Badump!!”
Jantung Jae berdetak makin kencang dengan hal tak
terduga ini. Sekaligus bahagia di hatinya sangat terasa tanpa bisa
menggambarkannya dengan kata-kata. Dan Hanya bisa diam memandang Mahda tanpa
kata-kata.
“Kenapa? Apa itu belum cukup? Kau orang pertama
tahu!”
Mahda mengatakan itu Sambil tersenyum dan meletakkan
kedua tangan manisnya pada wajah Jae. Kemudian, suara teriakan serak terdengar
memotong suasana romantic.
“Hei kalian tega-teganya melakukan hal seperti itu di
depan seorang kakek-kakek!” Teriak si Kakek
Jae dan Mahda melirik si kakek yang membuat mereka
berdua cekikikan melihat si kakek seperti itu.
“Kakek, jika dipikir-pikir.. Ternyata kau kasihan
juga ya?”
“Huh? Kau menghina kakek tua ini ya?”
“Hum.. Maksudku, kasihan sekali kau karena kau akan
kalah melawanku saat ini!”
Jae berlari ke arah kakeknya untuk memulai
pertarungannya. Untuk yang kesekian kali setelah lama tidak sparing dengan
kakeknya yang juga seorang gurunya dalam hal beladiri.
‘Ini kah Jae? Dia sudah berubah. Sangat berbeda
dengan Jae yang dulu aku kenal dan bahkan sempat aku abaikan.’ Pikir Mahda
ketika melihat Jae hendak bertarung dengan Kakeknya.
“Hyaaaat..!”
“Hem, cerobohnya.. Kau tidak belajar sama sekali ya?”
Kata Kakek ketika melihat Jae mendekat dan melakukan serangan langsung. Hingga
si Kakek melihat banyak celah dari serangan yang akan Jae lakukan.
Dengan situasi berlari seperti itu, hanya tendangan
terbang yang memungkinkan lebih efisien untuk melakukan serangan. Demikian
juga, si kakek juga berpikir seperti itu.
“Fwuuk”
Jae melakukan tendangan terbang, namun si Kakek
dengan mudah menghindar dan segera melakukan counter attack pada perut dengan
tendangan lurus.
“Bak!”
‘Huh? Dia menangkisnya?’ Heran si kakek, meskipun itu
bukan hal yang mustahil jika dilakukan.
Jae mendarat dari tendangan yang telah dia lakukan
kemudian. Dan berkata.
“Apa? Kau mengira aku tidak berkembang ya, Kakek?”
“Hem.. Lumayan juga.” Jawab Kakek