
Di hari berikutnya, Orochi mencoba untuk menghubungi
temannya yang dia anggap akan sangat membantu ketika di game nantinya.
Dia adalah orang yang dianggap Orochi sebagai
Proplayer dan bernama Satria.
“ Halo! Sat, kau luang ? “
“ Ah, halo! Kebetulan aku baru saja Log out dari
Dota! “ Jawab Satria yang saat ini masih berada di depan komputernya
“ Kapan kau akan mulai masuk Rajawali Online? “
“ Ah, itu..kapan ya? Lagian masih Beta Testing tak
perlu buru-buru!- “
“ Meskipun, aku sudah diundang guild yang mana itu
adalah teman-temanku juga sih! “
“ APAAA? Terus kau mau ikut bergabung di guild
mereka? “
“ Entahlah! Kau tahu Bro, jika aku orang yang bebas
tidak suka diatur! “
“ Emm, ya ya aku paham kau seorang bajingan! “
“ Hahaha dan kau masih seorang Cabul! “
“ Ah, sial…pokoknya aku tunggu kau! Aku punya hal
yang menarik! “ Kata terakhir Orochi dan sengaja mematikan ponselnya, agar dia
penasarn.
‘ Hem, aku rasa aku cukup mengenalmu Sobat! ‘ Gumam
Orochi setelah mematikan panggilannya
Orochi berpikir, jika orang ini dibuat penasaran, dia
akan tidak sabaran untuk mencari tahu. Dan pada akhirnya dia akan datang dengan
sendirinya.
Sementara Satria kesal dengan tingkah Orochi yang
sengaja membuatnya penasaran.
“ Ah! Kurasa dia sengaja membuatku penasaran! Hem,
biarlah aku tidak tertarik! “
Kemudian, dia beranjak dari kursi komputernya setelah
dan berbaring di tempat tidur di sebelahnya.
“ Hah, setelah bermain game seharian aku merasa
lelah! Waktunya tiduuuur! “
Dia seorang pecandu game yang sehari-harinya
mengurung diri di depan computer di kamarnya. Orang tuanya sudah menyerah
dengan sikapnya yang selalu mengurung diri di kamarnya.
Bahkan, orang tuanya pernah sengaja memperkenalkan
dirinya dengan seorang cewek seumuran dirinya, namun.
“ Ibu? Aku sedang menjalankan misi dengan Partyku!
Tunggu sebentar, aku akan menemuinya setelah ini selesai! “ Kata Satria
“ Huh? Sebegitu pentingnya itu kah? “ Jawab Ibunya
Namun, Satria tidak menjawabnya dan langsung menutup
pintu kamarnya sebelum lanjut bermain game.
Setelah setengah jam kemudian, Ibunya mengetuk
pintunya untuk mengingatkan lagi.
“ Tok tok tok! Satria! Buruan keluar! “
“ …. “
Namun, tidak ada jawaban dari Satria
“ Huh? Ini anak lama sekali sih ? “ Kesal si Ibu dan
terus mengetuk pintu berulang beberapa kali, hingga dia sedikit putus asa dan
memutuskan untuk menemui cewek yang ingin dia perkenalkan pada Satria yang
sedang menunggu juga.
“ Ah, Lina! Maaf dia masih belum keluar juga! “ Kata
Ibu Satria kepada cewek yang ingin dia perkenalkan pada Satria
“ Tidak apa Tante, saya bisa menunggunya! “ Jawab
Lina
“ Kalau begitu, selagi menunggunya cicipilah
cemilan-cemilan ini! “ Perintah Ibu Satria sambil menyajikan cemilan mahal dan
juga minuman untuk Lina.
“ Wah! Tante baik sekali, pasti beruntung yang
mendapatkan Satria sebagai pacarnya ya! “
“ Dia Jomblo! “
“ Huh? Ah, Tante pasti bercanda! Anda kan kaya dan
juga cantik, pastinya Satria juga tampan! “
“ Kau terlalu memuji nak! “ Jawab Ibu Satria, sebelum
menghembuskan nafas panjang dan meninggalkan Lina.
‘ Hem, sepertinya wanita ini sedikit matre, tapi
tidak masalah asalkan dia bisa membuat Satria keluar dari kamarnya dan mulai
beraktivitas di luar rumah! ‘
Satu jam kemudian
Terlihat Lina mulai tidak sabar menunggu dan tidak nyaman sendirian di ruang tamu,
sedangkan dia masih merasa asing.
“ Huft! Aku sungguh penasaran seperti apa anaknya
yang bernama Satria?- “
“ Tajir sih jelas! Tapi siapa yang mau jika dicuekin
begini? Sudah satu jam lebih aku menunggu! “
Lina mulai berpikir dan merasa jika dirinya
sebagai wanita seperti sedang dipermalukan. Kemudian dia memutuskan untuk
pamit.
“ Tante! Saya rasa, saya ingin pamit pulang saja! “
kata Lina
“ Ah, kenapa Nak? Sebentar, jangan pulang dulu! Aku
paksa dia keluar! “
“ Tidak usah Tante, mungkin dia memang lagi sibuk! “
Bantah Lina sambil tersenyum
untuk menunggu sebentar.
“ Jangan! Duduk dulu! Akan aku panggilkan dia agar
kamu tidak menyesal nantinya! “ Jelas Ibu Satria
“ Huh? “
Lina bertanya-tanya apa maksud perkataan Ibu Satria,
dia rasa bahwa Ibu Satria terlalu membanggakan putranya.
‘Apa maksudnya menyesal? Apa sungguh begitu istimewa
anaknya itu?-’
‘Yang ada hanya aku merasa dipermalukan sebagai
seorang wanita! Huft!’
Meskipun begitu, dia tidak bisa langsung pergi begitu
saja, sedangkan Ibu Satria terlihat begitu memaksa.
Kemudian, Ibu Satria mengetuk pintu kamar Satria
lagi. Namun, kali ini sedikit lebih keras dan juga teriakan.
“ Tok tok tok tok!”
“ SATRIAAAA! KELUAR KAU! “
“ …. “
Tidak ada jawaban dari Satria meskipun dia sudah
cukup keras mengetuk pintu dan berteriak.
Sementara Satria saat ini sedang menggunakan
Headset gamingnya yang berkualitas bagus dan mendengar keramaian yang penuh
dengan suara ledakan dan kebisingan lainnya di dalam game, termasuk suara
teman-temannya yang terus berteriak saut-sautan.
“ Bajingan!!! Jangan asal woi! “ Teriak Satria saat
itu juga, hingga Ibunya yang berada di depan pintu kamarnya salah paham
“ Huh? Apa dia bilang barusan? “ Gumam Ibu Satria
“ Oi Bangsat!! Diam atau hasilnya kalah, *****!
“ Teriak Satria pada anggota partynya saat ini
“ Apa? Bagaimana bisa kau mengatakan aku seperti itu?
Huh? “ Teriak Ibu Satria, dan mencoba membuka pintu kamar, namun percumah
karena terkunci dari dalam
“ Oh! Awas kau ya ketika keluar! Kau sudah
keterlaluan! “ Teriak lagi Ibunya
“ Bagaimana? Dasar tak tahu diri! “ Kata Satria pada
ketika itu dia telah berhasil mengalahkan party musuh. Sedangkan teman-temannya
bersorak atas kemenangannya
“ Lain kali jangan ganggu aku ketika aku sedang
fokus! “ Lanjut Satria kepada teman-temannya di game
Sementara Ibunya masih dalam keadaan salah paham,
bahkan sempat hampir menangis dengan perkataan anaknya yang bahkan juga
meneriaki dirinya yang sebagai seorang Ibu.
Namun, ketika Satria selesai, Ibunya sudah menyerah
dengan Satria dan kembali menemui Lina.
“ Bagaimana Tante? Di mana putra Anda? “ Tanya Lina
“ Hiks.. hiks.. Maaf Lina, sepertinya aku menyerah!
Aku gagal sebagai orang tua! “ Jawab Ibu Satria
“ Huh? Apa maksud Tante? “ Tanya Lina yang heran dan
tertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi hingga membuatnya seperti ini
Karena Lina merasa tidak ingin untuk ikut campur, dan
juga asing dan sebagainya, termasuk telah merasa dipermainkan dan sebagainya
juga oleh Satria. Dia memutuskan untuk lanjut pamit.
“ Em.. Ya sudah Tante, saya pamit dulu! Terima kasih!-
“ Kata Lina sedikit Judes
“ Sudah berjam-jam hanya untuk melihat hal seperti
ini? Sungguh sialnya diriku! ”
Lina pergi langsung pergi tanpa membuang waktu
setelah pamit, tanpa menunggu Ibu Satria menjawabnya.
Bagaimanapun, Ibu Satria saat ini lebih memikirkan
apa yang dikatakan anaknya kepadanya. Meskipun itu sebuah kesalah pahaman.
Sesaat kemudian, dia mendengar suara Satria yang
dengan santainya dan seperti tidak ada masalah apapun.
“ Eh? Di mana cewek yang akan Ibu kenalkan padaku itu
Bu? “
“ Huh? Kau bahkan masih memanggilku Ibu? “
“ Huh? “
“ Kau bilang apa tadi padaku? Kau bahkan
mengatakannya dengan keras?! “
“ Huh? Kapan aku berteriak kepadamu Bu? “
“ Huh? Jangan pura-pura lupa! Terserah padamu mulai
sekarang! Kawin saja sana sama komputermu! “ Kata ibunya dengan nada keras
sebelum pergi ke kamarnya meninggalkan Satria dalam kebingungan
“ Huh?- “
“ Sebenarnya apa yang terjadi? Aku sungguh tidak tahu
apa maksud perkataan tadi ‘ bahkan masih memanggilku Ibu?' "
Namun, Satria tidak mau terlalu memikirkannya dan
menganggap jika mungkin Ibunya saat ini sedang lelah dan banyak pikiran.
“ Haah, ya sudahlah! Kasian Ibu, mungkin dia sedang
ingin menyendiri karena banyak pikiran! “
Kemudian, Satria masuk ke kamarnya lagi setelah
mengambil semua cemilan yang dia lihat di meja tamu itu.
“ Mungkin ini untuk wanita yang dimaksud Ibu tadi, ah
lumayan buat aku ngemil di kamar sambil nge-war! Hehe! “
….
*