Rajawali Online

Rajawali Online
Kasih sayang menjadikan kekuatan



Selanjutnya, kita aku istirahat sebentar di rumah Gunawan sambil menunggu Mahda meletakan barang-barang yang dia beli sebelumnya untuk ayahnya tanpa mengatakannya pada ayahnya.


Saat ini, Jae sedang duduk di sofa sambil barsandar mengistirahatkan tubuhnya sambil memejamkan matanya. Katika itu juga, dia menyadari sesuatu di sekitar.


Namun, Mahda keluar dari kamarnya kemudian.


“Ayahmu orang baik, Menurutku!” Kata Jae


“Ng? Masa sih?” Jawab Mahda, sebelum duduk di sebelah Jae. Sambil melihat ayahnya yang masih mengelus-elus motor Jae.


‘Cih.. Si Tua itu..’


“Um.. Aku yakin, dia sangat memperdulikanmu.” Kata jae, masih memejamkan mata. Sambil berkata dalam hatinya ketika menyadari beberapa orang diam-diam mengamati mereka.


‘Cih.. Orang-orang bodoh ini. Mereka pasti penduduk Desa ini. Pasti sengaja menungguku sampai pergi dari sini.’


“Kau lelah?”


“Em.. yah, lumayan sih.”


“Terus, kau jadi mengajakku ke rumahmu atau sebaliknya, kau mau tidur di sini?”


“Huh..? Tentu saja jadilah..-“


“Kalau begitu, ayo!”


Siapa yang tidak semangat jika membawa seorang wanita yang disukai pulang dengan ijin orang tua?


Ketika aku dan Mahda keluar. Aku mendekati ayah Mahda dan berbisik ditelinganya sambil menepuk bahunya.


“Ayah mertua. Sebenarnya mereka yang bersembunyi itu musuh atau teman?”


Gunawan tertegun ketika aku mengatakan hal itu. Tapi menjawab ketika aku masih dalam posisi berbisik.


“Tenang saja. Meskipun, aku tidak menyangka jika kau menyadari mereka. Dengan begini, aku bisa percayakan anakku padamu. Tolong jaga dia!”


‘Seperti dugaanku, ayahnya begitu peduli padanya sebenarnya.’


“Apa aku perlu menghadapi mereka untuk mendapat kepercayaan mereka juga?”


“Tidak perlu.. Biar aku yang mengurus mereka!”


Sekian kita saling berbisik. Namun, kesan yang antara kami berdua terasa semakin membaik setelahnya. Dan aku berkata saat berpaling dari gunawan sebelum pergi meninggalkannya.


“Lain kali, jangan sembunyikan kepedulianmu pada anakmu!”


Saat itu, Gunawan hanya memandang Jae yang pergi membawa putrinya satu-satunya dan juga seorang bunga Desa di Desanya.


Kemudian, lusinan orang yang bersembunyi ketika Jae masih di sana mulai menampakan diri mereka.


“Bos.. Apa kita harus menghajarnya dan membawa Mahda pulang?”


“Tidak perlu.. Biarkan mereka! Karena itu urusanku, bukan kalian!”


Lusinan kriminal di Desa itu menggumamkan berbagai hal. Namun, keceriaan Gunawan tentang motor yang Jae titipkan mengubah suasana menjadi ramai.


“Uwahahah.. Kalian lihat, bukan?- “


“Sekarang aku memiliki motor keren! Ahahaha!”


“Vroom.. Vroom..”


Pada jam 11 malam lebih itu. Dia menggebor-gebor motor sport yang mengakibatkan suara gemuruh menggema di Desanya. Mengakibatkan lampu setiap rumah yang tadinya padam menyala. Sebelum berbagai lontaran kata diucapkan.


“Sialan!! Berisik!!”


“Woi.. Kalau mau pamer lihat-lihat waktu, sial!!”


“Ketua bodoh sedang kumat!!”


“Wah.. Keren sekali suaranya, Bos!”


“Mantap-mantap!”


Namun, seorang lelaki berumur 29 tahun yang tinggal dirumah Gunawan berteriak dari lantai dua sambil melemparkan buku. Namanya Micky, dan di juluki Brook oleh teman-temannya.


“Fukfukfuk!”


“Buk!”


“Aduh.. Oi itu sakit tahu!” Teriak Gunawan yang kepalanya tertimpa buku tebal


“Oi.. Bajingan! Berhenti membuat kegaduhan!” Teriak Micky


Dia adalah kakaknya Mahda. Berkulit putih dan berpostur tubuh kekar dan juga gagah seperti ayahnya. Ramput punk dengan tattoo logo Rajawali di samping kepalanya. Meski penampilannya seperti itu, tapi dia memiliki baby face.


Si pentolan tampan dari kampung X Bong.


“Gawat.. Dia marah. Ayo bubar-bubar..!”


….


Seketika suasana kembali sunyi setelah Micky keluar dan berteriak. Sedangkan Gunawan hanya diam dan tertawa kecil sambil menggosok kepalannya saat memandang Micky yang juga menatapnya.


“Berikan kunci motornya!” Kata Micky, membuat Gunawan langsung panic dan membantah.


“Huh? Oi.. Eit.. Tidak, tidak akan!”


“Be..ri..kan!” Perintah Micky dengan nada mengancam


“Hum.. Jangan harap!” Jawab Gunawan, sebelum kembali menyalakan motor Jae untuk segera pergi dari Micky yang bangun dari tidurnya.


‘Cih.. Mengapa sih anak lelakiku bangun juga.’


“Vroom.. Vroom..”


“Cih.. Dasar orang tua penggila motor. Mengganggu saja!” Kata Micky. Sebelum menutup jendela kamarnya yang berada di lantai dua dan tiduran sambil membaca buku.


Dia orang yang sedikit unik. Meskipun tampilannya seperti itu, tapi dia suka membaca buku. Ketika itu, ada secarik kertas yang jatuh dari buku bacaannya.


“Ng? Apa ini?”


‘Kakak! Lihatlah yang ada di bawah ranjangmu!’


Ini tulisan Mahda


Micky melihat apa yang ada di bawah ranjangnya dan terkejut ketika melihat box Smartphone.


“Huh!! iPhone 12 Pro!!” Teriak Micky. Produk itu yang sedang mahal saat ini. Dan yang paling bagus di Temanggung. Membuat sekitar heboh tanpa dia sadari.


“Ahahaha.. Mantap! Aku bisa melakukan banyak hal dengan ini!”


Suaranya membuat telinga tetangganya panas.


“Ugh.. bukannya dia yang tadi menyuruh kita untuk diam?”


….


Setelah beberapa menit kemudian, Micky menyalakan ponsel itu dan memulai untuk membaca apapun yang dia inginkan lewat internet. Dia sangat senang saat itu.


“Ah.. Tunggu, aku saking semangatnya sampai lupa menyimpan nomor adikku.”


Kemudian, setelah menyimpan nomor Mahda. Dia mengirimkan pesan untuk mengucapkan terima kasih.


{Mahda, ini kau, Micky kakakmu-


{Terima kasih atas apa yang kau berikan.


Micky tidak ingin menanyakan bagaimana bisa dia mendapatkan barang semahal ini. Bukankah lebih baik untuk membeli persediaan makan  sampai beberapa hari? Namun, dia tidak berani berkata seperti itu kepada adiknya karena takut mengecewakan adiknya.


‘Adik. Lihat saja. Tidak akan kubiarkan orang memanfaatkanmu atau menyakitimu.’


Yang ada dalam pikiran Micky tentang Mahda bisa membeli barang semahal ini adalah ‘mungkin adikku morotin anak orang kaya. Huh.. aku kasihan dengan adikku sebenarnya.’


Setelah berpikir seperti itu dan berbagai pikiran lain berada dalam benaknya. Ponselnya bergetar, membuat Micky bersemangat karena itu pasti dari Mahda. Namun,


[Selamat, anda mendapatkan bonus kuota sebagai pelanggan baru]


“Ugh.. ternyata bot!”


Teringat waktu sudah menunjukan hampir jam 12 malam. Dia berpikir mungkin adiknya sudah tidur di kamarnya.


‘Di kamarnya? Oh tidak, kenapa aku tidak melihatnya saja? Bodohnya aku!’


Namun, ketika melihat kamar adiknya. Dia tidak berada di sana dan kembali ke kamarnya. Dia ingin menanyakan di mana adiknya kepada ayahnya, tapi ayahnya sudah kabur darinya.


“Assiiaal.. Pertamakalinya aku menyesal ditinggalnya pergi!”


Kemudian dia teringat motor yang dipakai ayahnya.


Motor yang dia pakai? Jangan-jangan?


“Sebenarnya apa yang terjadi? Besok aku harus bertanya sendiri kepada mereka berdua! Grr..”


‘Tidak nyamannya menunggu jawaban dari hal yang ingin diketahui. Seperti membaca bab yang sengaja dibuat agar pembaca penasaran oleh bab selanjutnya. Grrr..’


Saat berada di kamarnya lagi, dia membuka lemarinya dan melihat tas kantong yang berlogo Mall di Temanggung yang isinya adalah beberapa pakaian. Dan pakaian itu adalah pakaian yang pernah dia ingin beli saat bepergian dengan Mahda beberapa hari lalu.


‘Wah.. Adik! Lihat itu? Bukankah Hoodie itu sangat cocok untukku?’


Dia sangat terharu ketika melihat Hoodie yang dia inginkan namun belum sempat memilikinya, dan sekarang berada di lemari bajunya.


Menyedihkan.. Aku kakak laki-laki yang menyedihkan.


Saat itu, dia bertekad untuk membalas apa yang diberikan adiknya dengan caranya sendiri. Dan bahkan dia bertekad untuk tidak menggunakan uang hasil kekerasan untuk membalas adiknya.


Dia menganggap hal itu sebagai tantangan untuk dirinya sendiri. Menghasilkan uang dengan cara yang baik.’ Itulah tantangannya pada dirinya sendiri. Tanpa orang lain memaksa. Melainkan itu karena pengetahuannya ketika sering membaca buku.