
**
Dory yang sedang kesal dengan keributan yang terjadi
pada anggota Guild Dewa, khususnya Jack.
‘Cih, selama ini aku bergaul dengan orang tak berguna
yang mudah terpancing emosi. Membuat salah seorang Player handal seperti Gompel
keluar dari guild adalah suatu kerugian besar.’
Ketika dia sampai di rumah dan berada di depan pintu
rumahnya. Dia membuka pintu itu dengan menendangnya.
“Brank!”
Membuat para pembantu di rumahnya terkejut dan
bertanya-tanya.
“Tu-Tuan muda.” Kata Pembantu pelan
Dory sama sekali tidak memperdulikannya karena mereka
hanya pembantu. Namun, dia tidak mengeri jika ayahnya saat ini sedang berada di
rumah.
“Ada apa denganmu? Mengejutkan saja!” Kata Garry,
ayah Dory
Dory tertegun ketika mendengar suara ayahnya yang
ternyata saat ini berada di rumah. Setahu Dory, dia sedang berada di Korea
untuk urusan server RO di sana.
“Pa.. Papa?! Kau pulang?”
“Hem.. Sayangnya aku malah disambut dengan tendangan
pintu.” Jawab Dory, membuat ekspresi kecewa.
“Maaf.. Aku..”
“Kau bisa menceritakannya nanti. Ada hal yang aku
ingin bicarakan denganmu!” Potong Garry
Dory tertegun dan bertanya-tanya saat mendengar
perkataan Garry.
‘Nada bicaranya seperti begitu penting. Apa yang
ingin dia bicarakan? Mungkinkah tentang ‘pernikahan?- ’
‘Ah.. Sial. Tolong jangan pernikahan.’
Kemudian, Dory mengikuti ayahnya ke ruangan ayahnya
untuk membicarakan hal yang ingin dibicarakan oleh ayahnya.
Garry duduk di kursi di mana dia biasanya bekerja di
rungannya sebelum menghadap Dory yang berdiri di belakangnya dan berkata.
“Aku ingin membawamu ke Korea!”
“Huh? Benarkah? Mengapa mendadak sekali?”
“Hem.. Bukankah kau suka tinggal di Korea?”
Dory tidak langsung menjawabnya. Dia sempat berpikir
pasti ada sesuatu hal yang mendesak atau urusan keluarga. Karena, Ibunya adalah
orang Korea asli.
“Em.. Tergantung kondisinya saja.”
“Bocah pintar! Kau mulai mirip sepertiku!”
Garry bangga jika anaknya memiliki kemiripan
dengannya. Karena itu sudah sewajarnya sebagai orang tua akan bangga jika
anaknya mewarisi sifat dari orangtuanya, selagi itu hal yang baik.
Kemudian, Garry mulai menjelaskan apa yang dia
rencanakan.
“Aku langsung pada intinya saja. Aku ingin kau
menjadi bagian dari player yang mewakili Korea!”
“Hah? Jika hanya begitu, bukankah aku bisa saja tetap
di Indonesia?”
“Masalahnya, kau ini pemilik Special ID. Demi
mengimbangi kesetaraan player dalam game di luar skill atau bakat masing-masing
player!”
Namun, Dory berpikir berbeda mengenai kesetaraan itu.
Dan melontarkan pertanyaan yang membuat ayahnya sedikit terkesan.
“Jika membicarakan keseimbangan atau kesetaraan dalam
game. Mengapa tidak membuat event untuk mendapatkan Job ganda atau Job Rare,
Unique dan Legendaris misalnya?!”
Garry mengerutkan kening saat mendengar perkataan
dory.’Tidak buruk. Mungkinkah ini yang dipikirkan pengguna Special ID yang
memiliki harga diri?’ dalam kata lain ’persaingan yang seimbang ya? Jika tidak
bisa menghapusnya, lebih baik membuat hal baru yang setara atau lebih baik.’
“Menarik!” kata Garry setelah memikirkan perkataan
yang terlontar dari anaknya.
“Huh? Jangan bilang kau tidak memikirkan Hal itu?!”
Tanya dory dengan ekspresi mengejek
Namun, ayahnya yang malu mengakuinya membantah sambil
tertawa.
“Hoho.. Jangan konyol! Tentu saja aku pernah
memikirkannya!”
“Oh ya? Terus kenapa kau pusing soal Special ID- ?
“Lagian, hal itu tidak menjamin user itu menjadi OP!”
Ayahnya tertegun dengan perkataan Dory
lagi.’Mungkinkah dia telah dikalahkan seorang player tanpa Special Id? Kurasa
tidak mungkin’. Kemudian, Garry memutuskan untuk bertanya dari pada berpikir
tentang hal yang tidak pasti terjadi. Meskipun kemungkinan itu terjadi.
Tapi, menurut dia, tidak mungkin saat Beta ada player
normal mengalahkan pengguna Special ID.
“Hem.. Janga bilang..”
“Cukup! Aku tidak kalah, hanya saja aku sedang sial!”
Potong Dory, yang sudah menebak apa yang ayahnya pikirkan.
“Brak!!”
Garry menampar mejanya sambil berdiri sebelum berkata
dengan nada keras dan tidak percaya pada apa yang terjadi.
“Jadi, kau benar-benar telah dikalahkan seorang
player normal?”
“Cih, biarkan aku bertanya terlebih dulu sebelum kau
kecewa!” Jawab Dory
“Huh?”
“Apakah mungkin seorang pengguna Job Assassin bisa
melakukan Sihir tipe pemanggilan atau Summoner?”
“Em.. Tidak! Karena jika memang itu terjadi, hanya
“Jadi, apa maksudmu ada player lain di Indonesia yang
memiliki Special ID selain aku dan Jaka?”
Garry terdiam setelah mendengar pertanyaan Dory. Dia
yakin jika anaknya cukup cermat, jadi cukup dia memutuskan untuk memikirkannya
dan menyelidikinya.
“Em.. Jika yang kau katakan itu benar, aku akan
menyelidikinya.” Kata Garry
“Aku sangat mengharapkan kebenarannya!” Jawab Dory
dengan ekspresi serius
Membuat Garry bertanya-tanya ‘Apa yang terjadi
padanya? Mungkinkah dia dikalahkan dengan sangat memalukan?’
Merasa tidak berguna menebak-nebak hal yang tidak
jelas kebenarannya. Garry meminta Dory menceritakan detail apa yang terjadi.
“Hum.. Aku jadi tertarik dengan hal apa yang
membuatmu seserius ini, anakku!”
Kemudian, Dory menceritakan semuanya pada Garry dari
awal Jae bertarung dengan Jack hingga sampai kemarin saat kecolongan kill.
….
Sementara Jae yang beberapa saat lalu telah log out
dari Rajawali Online sedang menikmati kopi dan rokoknya di depan computer
sambil membaca bacaan yang menurutnya menarik.
Kemudian, dia teringat dengan Karina dan Orochi
ketika itu.
‘Benarkah mereka akan datang mengunjungiku?’
‘Teman yang kudapat dari dunia virtual.’
‘Apakah akan sama saja sikap mereka saat bertemu di
dunia nyata’.
Kemudian, suara ponsel yang bergetar terdengar ketika
Jae memikirkan hal itu.
“Bzzzt.. Bzzzt..”
“Halo, siapa ini?” Tanya Jae, karena nomor si
pemanggil adalah orang asing yang belum tercantum di kontak ponselnya.
Namun, suara yang familiar dan gaya bicaranya
membuatnya teringat dengan temannya yang biasa sebagai party.
“Bangsat.. Ini aku Orochi!”
“Ah.. Ini sungguh kau?”
Jae terlihat gembira ketika mendengar jika itu
benar-benar Orochi. Kemudian Orochi terus lanjut berbicara seperti biasanya,
dia cukup cerewet.
“Oi.. Bocah mesum! Aku hampir saja dihajar oleh
Karina tadi.”
“Kau yang mesum oi!- “
“Haha.. Memangnya apa yang terjadi?”
“Huh.. Semua ini karena kau yang tiba-tiba saja log
out begitu saja tanpa berkata apapun!- “
“Terus, dia muncul deh. Dan dia sungguh-sungguh
menggunakan skill untuk menyerangku di Maja Pahit!- “
“Gila, kan?”
“Ahahaha.. Kau serius?”
“Tentu saja. Ngapain juga aku bohong!”
Kemudian, panggilan lain terlihat ingin masuk yang
juga nomor asing.
“Eh, ada nomor asing yang mencoba memanggil nih!”
“Ya sudah hubungkan saja. Nanti kau telepon balik
ya!”
“Oke!”
Jae menerima panggilan dari nomor asing itu kemudian.
Suara wanita terdengar ketika dia menerima panggilan itu.
“Halo, Jae? Benarkah ini nomor Jae dari Temanggung?”
Tanya Karina
‘Ugh.. Bicaranya seperti orang penagih hutang saja.’
“Ah.. I-iya. Gimana ya?” Tanya Jae yang masih ragu
jika ini Karina. Karena suaranya cukup mirip. Namun, hal yang dia dengar
berikutnya membuatnya berhenti berpikir jika si pemanggil adalah Karina.
“Aku ingin menagih hutang!” Jawab Karina dengan nada
judes
“Apa?? Siapa yang berhutang? Tunggu, seingatku aku
sudah tidak memiliki hutang siapapun!” Teriak Jae yang terkejut mendengar
pernyataan si pemanggil
Namun, Karina menyerah membuat Jae kebingungan. Dan
berhenti membuatnya penasaran. Dia Cuma tidak habis pikir jika Jae akan
menganggapnya serius.
“Hah.. Jae Jae. Ini aku Karina!”
“Huh? Sungguh? Jadi, ternyata tebakanku sebelumnya
benar?!”
“Oi.. Kau sudah menebaknya tapi masih saja
menanggapiku seperti itu bukan aku saja tadi? Ternyata kau jago acting ya?”
“Eh.. Apa? Tidak tidak, aku hanya saja langsung panic
ketika itu menyangkut soal uang!- ”
“Lagian, nada bicaramu sungguh seperti DC.”
“Haha.. Begitukah? Sialan, cantik-cantik dibilang
DC.”
Kemudian, Jae menceritakan tentang Orochi yang baru
saja juga menelepon dirinya. Hingga kemudian, mereka berdua menghubungkan
panggilannya pada Orochi juga.
Mereka bertiga ramai berbicara bercanda dan tertawa
lewat telepon di kamar masing-masing rumah mereka saat ini.
Saat itu, Ibu Jae yang sedang berbaring di kamarnya
tersenyum saat mendengar suara Jae yang sedang berbicara lewat telepon dan
tertawa seperti itu membuatnya senang.
‘Akhirnya, kau memiliki teman, Jae. Semoga mereka
orang yang baik.’