
Beberapa saat sebelum Lewin keluar dari Kedai.
Para kawanan penjahat sempat melihat hasil jarahan yang didapat dari Lewin.
“ Wow ! Kita kaya Bos ! “
“ Lihat ! Uang tunainya berjumlah 10.000.000 Rupiah ! “
“ Benarkah ? Jarang-jarang kita menemukan jarahan kaya ! “
“ Hei ! Lihat, bukankah ini ATMnya ? “
“ Bukan ! Itu kartu kredit ! “
“ Bodoh ! Cukup ambil saja uang tunainya ! Ganti kartu Identitasnya dengan milik kalian yang selanjutnya beraksi ! “
Pembicaraan mereka ketika melihat dan menghitung hasil jarahan mereka sebelum membagi hasilnya. Selanjutnya mereka menukar kartu identitas Lewin dengan salah satu kartu identitas milik mereka untuk digunakan sebagai menjebak Lewin.
“ Lewin Andreas ? Hei inikah kartu identitasnya ? berbeda sekali dari milik kita ! “
“ Bodoh ! Tentu saja, karena dia orang luar negri ! “
Tidak lama kemudian ketika Lewin keluar dari kedari, Mereka sudah bersiap dengan semua rencananya. Bermula dari seorang wanita.
“ Hai, Kakek ?! Ingin jalan-jalan? Anda terlihat asing dan bingung? Mungkin saya bisa bantu ! “
Kata wanita cantik yang terlihat polos dan manja. Namun dia adalah salah satu anggota penjahat.
Dengan pakaian bersih dan sedikit seksi, memang digunakan untuk menipu orang-orang yang terlihat kaya dan berkedudukan.
Sebenarnya Lewin sudah tidak ingin mempercayai siapapun sejak kesialan menimpanya. Tetapi ketika dia melihat mata wanita ini, hampir membuat kewaspadaannya lengah.
“ Ah, saya baru saja mengalami kesialan ! Maaf saya akan berjalan sendiri saja ! “ Jawab Lewin
“ Oh, kasian sekali ! Tidak apa-apa kok saya tidak bermaksud jahat ! “
Kata wanita itu dengan menjaga matanya menangkap pandangan Lewin agar tertuju padanya.
“ Em, baiklah ! Lagi pula saya tidak mengenal kawasan ini, dan saya sudah lupa arah di mana tempat mobil saya parker ! “ Jelas Lewin, yang merasa putus asa karena menyadari bahwa dia sudah tersesat.
Setelah Lewin menjelaskan di mana letak mobilnya parkir di dekat sebuah Mall. Wanita itu segera memimpin jalan ke arah yang salah dan sengaja di sesatkan.
Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kerumunan orang. Tanpa dia ketahui bahwa mereka adalah sekumpulan penjahat yang akan menjebaknya.
Mereka berjalan menatap kedepan dan sengaja tidak memperdulikan orang lain yang berjalan berlawanan. Hingga ketika Lewin terpaksa berhenti dan menyamping untuk mengalah memberikan jalan kepada orang-orang ini.
Meskipun begitu, Lewin tetap ditabrak dan terdorong oleh setiap kerumunan penjahat yang lewat itu. Selanjutnya setelah ketika Lewin berada di tengah-tengah kerumunan itu.
“ Tunggu ! Dompetku hilang ! “ Kata salah satu kerumunan kepada kawan-kawannya, sambil menatap pada Lewin.
Lewin yang terkejut dengan kejadian tiba-tiba itu. Seketika merasakan hal buruk akan terjadi padanya, yang membuat dia merinding dan Nampak gemetar.
‘ Eh, tunggu ? Wanita yang tadi bersamaku ? ‘ gumam Lewin yang terkejut dan memalingkan kepala di segala arah untuk mencari keberadaan wanita itu.
Namun, dia tidak menemukannya dan sebagai gantinya dia dikejutkan dengan tindakan kasar oleh salah satu kerumunan saat ini.
“ Hai ! Kau pencuri ya ? “ Kata Bos preman yang saat ini ikut berperan langsung dalam rencana kejahatan ini.
“ Ti..tidak ! “ Jawab Lewin sambil mengangkat kedua tangannya
“ Geledah dia ! “ Teriak Bos preman sambil tetap melihat wajah Lewin yang ketakutan.
Sementara kerumun di luar anggota para penjahat, Kasihan melihat orang asing yang saat ini sedang menjadi korban kejahatan mereka, namun tidak berani melakukan tindakan pencegahan.
“ Wah! Bos ini dompetku ! “ Kata salah satu penjahat yang menggeledah Lewin.
Sedangkan Lewin terkejut dengan adanya dompet itu, bagaimanapun itu adalah dompetnya yang tadi hilang. Namun, baru saja dompet itu berada di kantong snellinya tanpa dia sadari.
“ Itu dompetku ! “ Potong Lewin yang yakin bahwa itu dompet miliknya
“ Ijinkan aku memeriksanya ! Tolong ! “ Lanjut Lewin
Sedangkan Bos preman membiarkannya mengeceknya. Bagaimanapun semuanya sudah dia rencanakan, upaya apapun percumah kerena di kawasan ini mereka tidak peduli dengan pembelaan apapun.
Sedangkan Lewin, sebenarnya hanya ingin mencari secerak kertas yang dia simpan di dompet miliknya. Ketika dia berbalik menghadap tembok didekatnya untuk memerika dompetnya, dia tidak terkejut dengan semua uangnya yang hilang.
Dia melihat kartu kredit dan ATMnya masih di sana, namun Lewin lebih focus untuk mengambil secerak kertas yang dia simpan di dompetnya dan mengambilnya.
Dengan hati-hati dan dengan menghindari terlihat oleh kerumunan itu, dia menyisipkan kertas itu di selah lengan snellinya sebelum dia berbalik menghadapi para penjahat.
“ Ini ! Mirip sekali dengan dompetku maaf ! “
Kata Lewin, meskipun dia tahu bahwa itu sungguh dompetnya. Namun dia paham bahwa akan percumah dan memperburuk keadaan jika dia mengatakan itu dompet miliknya. Sementara situasinya sangat tidak memiliki menguntungkan. Seperti domba yang terjebak di kandang harimau.
“ Bangsat ! ”
“ Buak ! “
Tanpa basa-basi salah satu kerumunan penjahat memukul wajahnya dengan keras dan membuat tubuhnya jatuh. Bagaimanapun Lewin seorang kakek-kakek.
Tak berhenti di situ, penjahat yang lain menginjaknya, hingga satu persatu dari mereka semua ikut menganiayanya orang tua ini.
Lewin yang menjadi korban penganiayaan kerumunan penjahat ini, melindungi kepalanya sebisa mungkin dengan kedua tangannya. Dia tidak bisa membiarkan orang menginjak kepalanya yang berharga ini.
‘ Apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan kepalaku yang berharga diinjak-injak oleh sampah ! ‘ Gumam Lewin sambil dipukuli bergantian.
Beberapa saat kemudian, dia diguyur dengan bensin. Mereka sungguh kejam seperti menikmati kejahatan yang mereka buat seperti Iblis. Hingga kali ini mereka mencoba untuk membakarnya hidup-hidup.
Kerumunan yang bukan anggota kejahatan ini menagis melihat kekejamannya. Ada juga yang berteriak histeris, namun tidak dipedulikan oleh mereka sedikitpun.
Lewin yang terkapar di tanah masih dalam keadaan sadar karena dia selalu melindungi kepalanya, dia berpikir ketika seluruh tubuhnya dibasahi oleh bensin.
‘ Apakah ini adalah akhir hidupku ? bagaiman mungkin aku berakhir tragis seperti ini ? ‘
“ Hahaha! Kalian siap teman-teman?! “ Siar bos preman kepada semua anggotanya.
Jika mereka akan melakukan hal gila ini.
“ Hiya ! ”
“ Lakukan ! “
“ Kita tetap bersama meskipun dipenjara ! “
Saut-paut para penjahat itu.
Selanjutnya Bos preman menyalakan korek apinya dan melemparkannya kepada Lewin agar terbakar. Untungnya sebelum Api sampai pada bahan bakar yang membasahi Lewin, seorang pemuda menangkap korek api yang menyala itu.
“ Grap! “
“ ouh ! oof ! oof ! “
Kata pemuda itu yang tangannya panas akibat korek api yang dia genggam.
Sedangkan kerumunan penjahat hanya diam tertegun pada keberanian pemuda ini. Mereka mengenali siapa pemuda ini, yang tidak lain adalah seorang pencuri dan juga penjahat seperti mereka.
Namun, untuk pemuda ini, dia bukan orang yang suka melakukan kekerasan, dan hanya dalam keadaan tertentu saja.
“ Gawat ! kelompok sebelah sedang dikejar pasukan polisi dan intel ! Sebentar lagi mereka tiba ! “ Lanjut pemuda itu
“ Beraninya kau..! “ Kata Bos preman saat itu sambil menarik kerah baju pemuda itu.
Namun, suara sirine yang familiar terdengar jelas ketika itu. Yang membuat Bos preman tidak ingin membuang waktunya untuk memberi pelajaran kepada pemuda itu. Dan segera kabur dari lokasi itu, beserta kawanannya.
Tidak lama kemudian setelah kawanan penjahat itu pergi. Pemuda itu segera memeriksa keadaan Lewin yang terkapar mengenaskan.
“ Tuan ! Tuan ! Eh, kau masih sadar ! “
Kata pemuda itu yang sedikit terkejut ketika melihat seorang kakek dihajar banyak orang tetapi masih sadarkan diri.
“ Anak muda ! Terima kasih ! Tolong terima ini ! Dan Log in lah ! “ Kata Lewin pelan dengan segenap tenaganya yang tersisah, sambil memberikan secerak kertas kepada pemuda itu.
Pemuda itu pun menerimanya dan menyimpannya di saku celananya. Dan ketika itu juga Lewin mengatakan hal terakhir sebelum dia pingsan.
“ Ra..jawa..li On..line ! “
“ Eh ? Apa yang kau katakana barusan Pak tua ? Pak tua ? ! “ Kata pemuda itu.
Sebelum lanjut berteriak minta tolong.
“ Tolong ! Tolong ! Hei kalian pengecut ! Kemari bantu aku menggendongnya ! “
Namun, tidak seorangpun ingin ikut campur. Pemuda itu berkata dalam benaknya saat itu.
[ Apa yang terjadi di dunia ini ? Bahkan mereka takut untuk mencegah hal keji yang jelas ada di depan mereka ? ]
“ Haaahh ! “ Teriak keras pemuda itu karena emosi melihat lingkungan ini, sedangakan suara teriakannya menggema jauh.
Sebenarnya Lewin masih setengah sadar dan masih sedikit bisa mendengar suara pemuda itu. Namun dia sudah tidak memiliki tenaga bahkan untuk membuka matanya.
Lewin berharap, ‘ semoga apa yang aku berikan akan memberimu banyak manfaat untukmu nak. ‘
ketika itu rekan-rekan Lewin yang berusaha mencarinya di seluruh penjuru lokasi itu dan dibantu orang-orang yang Sam kirim. Mereka mendengar suara teriakan pemuda itu.
Jony dan yang lainnya terlihat penasaran dan takut ketika mendengarnya, hingga mereka memutuskan untuk mendekati suara itu. Mereka takut jika itu ada hubungannya dengan keadaan Lewin.
Tidak lama kemudian ketika mereka semakin dekat dengan arah suara yang tadi mereka dengar.
Mereka mendengar beberapa orang bergosip mengenai orang asing berjas putih.
“ Hei, tadi sungguh mengerikan ! “
“ Hampir saja orang itu mati dibakar hidup-hidup ! “
“ Seperti apa orangnya ? “
“ Dia terlihat seperti Turis ! “
Garry yang waspada mendengar pembicaraan mereka ketika dia kebetulan lewat.
“ Permisi ? Apakah yang anda maksud adalah kakek-kakek berjas putih seperti kami ? Dan dia seorang Amerika ? “ Tanya Garry dengan tergesa-gesa
“ I,iya ! “
“ Di mana dia ! Tolong antar kami ! “ Memohon Garry dengan sepontan teriak karena begitu panic dan emosi bercampur-aduk.
Salah seorang yang bergosip tadi untungnya segera menyetujui permintaan Garry dan mengantarnya.
Tidak lama kemudian mereka melihat Lewin dari kejauhan sedang tertidur takberdaya di atas kedua tangan seorang pemuda yang sedang menggendongnya.
“ Tunggu ! “ Teriak Garry kepada pemuda yang menggendongnya.
“ Oh my god ! Dia sungguh Lewin ! “ Teriak Garry yang sangat yakin dengan apa yang dia lihat
Mereka segera meminta salah satu petugas keamanan yang bersama mereka untuk memanggil ambulan setelah Garry merebut Lewin dari pemuda itu.
Namun, ketika mereka menunggu datangnya ambulan, mereka mulai saling menyalahkan yang lain atas apa yang menimpa Lewin.
“ Semua ini salahmu ! “
“ Bagaimana bisa ? “
“ Cukup ! Ini semua kesalahan kita yang lalai ! “
“ Iya, bagaimanapun dia pergi tanpa mengatakan apapun kepada kita sebelumnya ! “
“ Sudahlah ! Untunglah dia masih bernyawa ! “
Mereka berdebat dan saling bertengkar satu sama lain beberapa saat. Untungnya mereka masing-masing bisa memahami kesalahan mereka masing-masing, hingga tidak lama kemudian mereka teringat ketenangan mereka masing-masing.
“ Eh, Tunggu ! Aku harus berterima kasih kepada orang itu ! “ Kata Garry yang kembali tenang dan teringat hal itu.
“ Benar ! Kita sampai lupa ! “
“ Eh, di mana dia? Baru saja dia di sini, bukan ? “
Mereka kembali lalai ketika itu hingga tidak menyadari sang ponolong Lewin pergi tanpa mereka sadari. Setelah hal itu, mereka teringat oleh kelalaian mereka sebelumnya, hingga terdiam sebentar, sebelum ambulan akhirnya datang.