Rajawali Online

Rajawali Online
Pengemis misterius



Kemudian Jae melakukan serangan kombinasi tendangan melingkar dengan terus memutar tubuhnya sambil menyerang dengan kakinya seperti baling-baling.


Dia menargetkan setiap pertahanan bagus Kakeknya. ‘Jika tidak ada celah, maka buat saja celah itu.’


“Fukfukfuk bug!”


Mengakibatkan si Kake terus melangkah mundur. Dan pada gerakan tendangan ke empat, si Kakek gagal menghindar dan berakhir menangkisnya. Namun, Jae tidak berhenti dan lanjut melakukan tendangan lingkar dalam tipuan dengan kaki kanan yang mengarah ke kepala sambil membuat jarak untuk serangan selanjutnya yang dia rencanakan.


“Fwuk”


Si Kakek sudah bersiap untuk menangkis tendangan Jae yang bertujuan untuk mengecoh itu.


‘Ng? Tipuan?’ Si kakek tertegun saat menyadari itu adalah serangan pengecoh. Namun sudah terlambat untuknya menghindari serangan lanjutan Jae yang melakukan tendangan rendah lingkar luar kaki kiri.


Diiringi suara gesekan tanah dengan kaki kiri Jae sebelum tendangan itu berhasil mengenai kaki si Kakek yang mengakibatkan si Kakek berakhir terjatuh.


“Sreet.. Buak!”


‘Sial!’


Sementara Jae telah menggunakan banyak tenaga untuk melakukan gerakan tendangan berputar beruntun seperti itu.


“Hosh.. hosh..”


“Bagaimana? Kakek?” Tanya Jae, sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk membantu Kakeknya yang terjatuh agar berdiri.


“Hah.. Mungkin aku sudah terlalu tua untuk hal seperti itu.” Jawab si Kakek sebelum menggapai uluran tangan Jae


“Grap”


Kemudian, suara tulang sedikit terdengar ketika si Kakek berdiri. Meskipun Jae telah membantunya.


“Ugh.. pinggangku, encok.. encok..!” Keluh si Kakek


“Oi.. Oi.. Makanya, sudah tua jangan terlalu bersemangat!” Kata Jae


“Berisik!! Bocah bau!”


“Berhenti memanggilku bocah. Aku sudah berumur 21 tahun.”


“Tetap saja kau bocah di mataku!”


Kakek terlihat masih tidak menerima kekalahannya hingga terus berbicara kesal. Namun, aku terus saja menjawab untuk menggodanya.


“Yah.. Bocah yang membuatmu jatuh, kan?”


“Grrr.. Berisik!! Kuhancurkan motormu!”


“Apa kau bisa?”


“Tentu saja!!”


“Kalau begitu, coba saja!”


Aku langsung melepaskan tanganku yang membantu Kakek berjalan sambil merasakan sakit pinggangnya, kemudian.


“Huh?”


“Kretek!”


“Aduduh.. Encokku.. Pinggangku!-”


“Bocah nakal! Teganya kau!”


Aku membantunya lagi saat melihatnya kesakitan karena tulang tua itu. Meskipun, mulutnya tidak berhenti berbicara yang membuat telingaku panas.


Mahda, tertawa kecil ketika melihat aku dan Kakek seperti itu.


“Jae.. Jangan terlalu kejam dengan Kakekmu!” Perintah Mahda


“Hehe.. Habisnya, telingaku panas sih.” Jawab Jae


“Tuh! Dengarkan calon menantu anakku!” Potong Kakek


“Berisik..!”


….


Selanjutnya, kita bertiga masuk ke dalam rumah kakek dan berbicara berbagai hal. Termasuk beladiriku dan mengenai Mahda. Dia sangat bersemangat ketika berbicara dengan Mahda.


Kemudian, ponselku bergetar di tengah perbincangan kami bertiga. Si pemanggil adalah Orochi.









….


Setelah mendengar suara Orochi. Sebenarnya aku sangat ingin login. Tapi, meluangkan waktu untuk kakek dan juga Mahda adalah sesuatu yang tidak kalah penting juga.


“Itu temanmu?” Tanya Mahda


“Hem.. Kau sudah punya banyak teman juga ya sekarang?” Potong Kakek


“Tidak banyak.. baru dua!” Jelas Jae


“Kalau aku temammu bukan?” Tanya Mahda, menggodaku sambil tersenyum.


“Kau.. Jelas-jelas sekarang lebih dari sekedar teman, kan?” Jawabku


“Hehe..” Mahda hanya tersenyum sebagai jawaban


Setelah beberapa saat. Aku dan Mahda memutuskan untuk segera kembali pulang. Meskipun Kakakku memaksa kami berdua untuk menginap saja. Tapi aku membantah dengan alasan, “Sekarang aku punya motor. Tidak masalah untuk mengunjungimu, Kek. Jangan kuatir!”


Ketika di perjalan pulang ke kota Temanggung. kami berdua mampir terlebih dahulu di sebuah Mall.


“Eh, mau apa kita di sini?” Tanya Mahda


“Tentu saja untuk membuatmu senang!” Jawabku


“Tunggu. Apa kau berpikir aku seorang cewek matre? Yang mengakuimu sebagai pasangan karena kau banyak duit?”


“Tentu saja tidak! Kau tahu, kan. Jika kita hidup di jalan yang sama. Meskipun, sekarang aku berpikir jika aku tidak berada di jalan itu lagi- “


“Namun, pengalaman pahit dan pedih tidak akan terlupakan. Dan jika memang kau seorang cewek matre yang mengakuiku karena uang, cukup ijinkan aku yang memiliki rasa untukmu membuatmu senang!” Jelas Jae


Namun, setelah aku berkata seperti itu. Seorang Pengemis tua mendatangi kita untuk meminta sedekah.


“Tolong! Beri aku sedikit rizkymu, Nak!” Kata Pengemis tua


Aku melihat si pengemis bukan bagaian dari seorang kriminal atau penipu yang pura-pura jadi pengemis. Bagaimanapun, aku cukup paham wajah-wajah kriminal atau bukan. Dan aku cukup yakin pada pengamatanku.


Begitu juga dengan Mahda. Dia pasti juga paham mengenai hal itu. Kemudian, aku bertanya saat memberi beberapa lembar uang kepadanya.


“Ini, untukmu dan keluargamu! Tapi sebelum anda pergi, bisakah anda memberitahuku berapa banyak orang seperti anda di sekitar sini?”


“Huh? Banyak sekali!” Kata Pengemis, terlihat ekspresi wajahnya seperti tidak percaya pada apa yang dia lihat.


‘Itu cuma 500 ribu. Memang banyak juga bagiku saat masih menjadi berandal copet. Tapi, sekarang sudah berbeda dan lagian, aku bingung menggunakan uangku untuk apa juga.’


“Sudah-sudah.. Kau bisa pergi. Semoga uang sedikit itu bermanfaat untukmu dan orang terdekatmu!” Kataku


Kemudian si Pengemis tua pergi setelah berkata.


“Ada beberapa Pengemis sepertiku di sekitar sini!”


Setelah melihatnya pergi, aku dan Mahda berjalan menuju pintu masuk Mall. Namun, sebelum itu. Aku melihat kawanan wajah kriminal menatap seorang pengemis tadi.


‘Cih. Sungguh malang nasib pengemis itu.’


“Mahda, kurasa kesenangan kita akan tertunda sebentar!” Kata Jae, sambil memandang kawanan kriminal yang berjumlah empat orang


“Ng? Apa ada sesuatu? Tanya Mahda yang melihatku menatap pada sesuatu


Mahda ikut memandang ke tempat di mana aku memandang. Hingga dia mengerti apa yang aku maksudkan.


“Kau serius ingin melakukannya?” Tanya Mahda lagi


“Em, karena aku tidak bisa membayangkan betapa pedihnya si tua itu jika berakhir dirampok!” Kataku, dengan ekspresi marah.


 


 


Kemudian, aku mengikuti pergerakan mereka. Hingga ketika mereka sampai pada si tua itu yang terlihat sedang bergumam sambil memegang uang yang sebelumnya aku berikan.


“Oh, Tuhan.. Terima kasih atas belas kasihmu! Dengan ini aku bisa membelikan nasi bungkus dan bahan pokok untuk keluargaku!”


Namun, para kriminal beraksi dengan perbuatan tanpa kata-kata terlebih dahulu. Salah satu dari mereka langsung merebut semua uang itu dan berjalan pergi tanpa mempedulikan si pengemis.


“Set!”


“Huh?” Kaget si Pengemis tua sebelum berteriak memohon dan marah.


“Jangan!! Itu uangku! Kembalikan!!”


Dia hendak merebut kembali dan bahkan ingin memukul. Namun, dari belakangnya dia disambut oleh pukulan keras yang mengenai kepalanya.


“Bauk!!”


“Tua Bangka! Berhenti bertingkah!” Kata salah satu perampok


Si pengemis sempoyongan di hantam oleh pukulan itu dan hampir jatuh. Namun, yang mengejutkanku terjadi.


“Kalian. Bertindak tanpa melihat mangsa! Demi keluargaku, aku tidak akan membiarkan kalian mengambil apa yang sudah menjadi hakku!” Kata Pengemis, meski terlihat tenang. Tapi, kebencian di dalamnya tak tertahankan saat itu.


“Huh?? Bicara apa dia si Tua ini?”


“Sudah hajar saja!”


“Hei Tua Bangka! Seharusnya kau tidak usah melawan, kan.. Kau akan berakhir sekarat deh jadinya, dasar brengsek!”


Mereka segera melakukan tindakan kekerasan pada si pengemis itu. Membuatku segera melangkahkan kakiku ketika melihatnya. Namun,


“Bak big buk!- “


“Fwuuk.. Buak!”


Si pengemis itu menghajar mereka semua dan mereka masing-masing tumbang pada setiap satu pukulan saja.


Aku berhenti berpikir untuk membantunya setelah menyaksikan kejadian tak terduga ini. Dia terlihat lemah, tapi mengapa bisa begitu kuat?


Pengemis itu segera mengambil uangnya kembali. Sementara para penodong itu telah tidak sadarkan diri di tanah. Kemudian, pengemis itu berkata padaku saat sebelum pergi, tanpa memandangku.


“Aku tahu, kau dulunya seorang pencuri juga! Semoga kau tidak lupa semua kepedihan yang telah kau lalui nanti, pahlawan!”


Aku tertegun saat mendengarnya mengatakan hal itu, dan juga bertanya-tanya apa dia berbicara denganku? Apa dia tahu jika aku ingin membantunya?


“Sungguh, membingungkan.” Gumamku, setelah melihat pengemis itu pergi dan berbelok ke gang hingga aku tidak melihatnya lagi.


“Jae! Kau baik-baik saja?” Tanya Mahda yang telah menyusulku


“Bukankah aku memintamu untuk menunggu saja?!”


“Aku terlalu mencemaskanmu. Lagian siapa yang tidak cemas jika melihatmu ingin menghadapi empat orang?”


Aku tidak menjawab perkataan Mahda. Sebagai gantinya aku menunjuk pada kawanan penodong yang tidak sadarkan diri di tanah.


“Lihat itu!”


“Huh? Kau sungguh menghajar mereka semua?”


“Kalau aku bilang yang menghajar mereka adalah si pengemis itu, apa kau akan percaya?”


“Tidak!”


“Hah… Sudahlah, ayo kita masuk Mall saja!”


Kejadian seperti ini bukan mustahil tapi sungguh tidak terduga. Dan lagi, perkataan yang terucap terakhir kali saat pengemis itu pergi membuat Jae penasaran.