
Tidak lama kemudian. Setelah Jae dan Gunawan berkeliling di seluruh kota Temanggung dan pada akhirnya berhenti di depan rumah mewah dan cukup luas dengan dua lantai.
Namun, tempat itu tidak asing hingga Jae bertanya kemudian.
“Huh? Ayah mertua. Sepertinya lokasi ini tidak asing. Dan juga aku bahkan sering lewat sini.. Oh bahkan tadi saat mau ke tempatmu, aku juga lewat sini!” Tanya Jae, setelah berjam-jam berkeliling kota. Tapi pada akhirnya berhenti di depan rumah yang sering dia lewati yang mana dekat di antara jarak desa rumah Gunawan dan desa tempat tinggal Jae.
“Tentu saja! Ini kan, masih desa Kauman!” Jawab Gunawan dengan ekspresi konyol. Kauman adalah desa yang terhimpit antara desaku dan Gunawan.
“Terus mengapa kau ajak aku berkeliling kota jika ada rumah yang bagus dan luas seperti ini di dekat kita?!”Tanya Jae dengan nada konyol. Sedangkan Gunawan hanya menjawabnya datar seperti orang tidur.
“Aku tidak yakin kau punya uang untuk membelinya. Jadi, kupikir ini opsi terakhir!”
“Huh? Ya sudah.. Ayo panggil pemiliknya!”
Gunawan segera menghubungi pemilik rumah itu. Dan menunggu si pemilik rumah datang selama tiga puluh menit. Dan menggelikan, ternyata rumah si pemilik ada di sebelah rumah yang menjadi target kita.
“Hoho maaf. Kalian sudah lama menunggu ya?” Tanya seorang kakek pendek, kita keluar dari rumah yang sebelahan dengan rumah yang ingin Jae bali.
“Hah? Siapa kau?” Tanya Jae
“Dia pemiliknya.”Potong Gunawan
“Hah? Kenapa harus telepon sebelumnya jika pemiliknya hanya di sebelah? Grrr..!” Kesal Jae
“Hehe..”
Gunawan hanya tertawa sebagai jawaban dan dalam hatinya berkata.
‘Awas kau jika sampai tidak punya uang ketika membahas pembayaran. Bocah tengik!’
Kemudian, kita bertiga mulai melihat-lihat seluruh ruangan rumah itu. Dan membicarakan harganya setelah usai melihat-lihat.
Aku membiarkan Gunawan yang membicarakannya. Lagian, dia Pentolan di sekitar sini. Mungkin akan lebih murah dari yang lain.
Sedangkan aku membuka ponselku, sementara Gunawan dan si Kakek sedang membicarakan harga dan surat-surat rumahnya.
- Jae\, jika kau membaca pesan ini. Bacalah pemberitahuan system tentang event! Dan segeralah log in! Penting banget.
- Oi Jae\, Buruan log in! Ini sangat disayangkan jika terlewat!
Kemudian, aku membaca pesan mengejutkan dari Orochi dan percaya tidak percaya dengan ceritanya.
-Jae! Karina dalam bahaya di game. Kau tahu? Jack membantai ratusan lebih player hanya untuk mencarimu! Dan aku bahkan mati sekali tusuk tanpa bisa melawan!
Seriusan? Kemudian, aku membalas pesannya.
-Kau serius? Dan Jack maksudmu, Jack yang suka memberiku item?
Untungnya, Orochi langsung membalas pesanku. Terlihat dia menungguku dari tadi sepertinya.
-Hah? Memberimu item? Serius?
-Yah, kemarin aku menjarah item-nya karena berusaha mengkroyokku.
-Jadi begitu? Tapi, sekarang dia berbeda. Dia seperti cheater
-Apa yang membuatmu berpikir dia berbeda? Kau bilang tadi, dia membantai ratusan player, kau bercanda, kan? Dia yang kutahu itu pengecut.
-Makanya baca event-nya dan log in lah! Atau lihat live streaming event di situs RO! Dan kau akan percaya. – Terus, Karina sedang dijadikan Sandra agar kau muncul, tahu!!
-Apa? Baiklah.. sebentar lagi aku akan segera pulang dan log in.
Ketika aku selesai chating dengan Orochi. Gunawan dan pemilik rumah sedang tawar-menawar harga.
“3M sudah sangat murah, Gun.”
“Hem.. Memang rumah seperti ini kelihatannya harga segitu pas sih. Tapi, cobalah kurangi harganya! Kau tahu siapa aku, kan?”
“Yah, tentu saja aku mengenal siapa kau.. Tapi, tetap saja aku tidak bisa menurunkan harganya!”
“2M kubayar sekarang! Gimana?” Teriak Jae, memotong pembicaraan mereka
Gunawan dan pemilik rumah terkejut dengan teriakanku tiba-tiba.
Bocah ini. Apa dia sungguh punya duit segitu banyak?
Namun, seperti biasa. Orang selalu melihat penampilanku saja. Dan si pemilik rumah berkata.
“Hoho.. Aku tahu kau sangat bermimpi memiliki uang sebanyak itu. Tapi, Gunawan bilang ada yang sudah memesan rumah ini. Kau diam saja anak muda!”
“Huh?” Jae melirik pada Gunawan
Bajingan ini. Dia tidak bilang jika aku yang akan membelinya? Jadi, dia meragukanku dan bilang jika dia memiliki calon pembeli selain diriku?
“Hehe.. Iya. Kau diam saja, Bocah tengik!” Kata Gunawan yang seperti orang tak berdosa
“Cepatlah! 2 M. Kau jual atau tidak? Aku yang beli!” Kata Jae dengan nada keras dan serius. Namun, mereka berdua hanya tertawa setelah mendengarku.
“Ahahaha..”
“Kenapa kalian tertawa? Aku serius bangsat!- ”
“Cepatlah!! Aku sedang terburu-buru!” Potong Jae
“Huh? Cukuplah bercandanya, Bocah!” Perintah pemilik rumah
“Siaaapaaa yaaang Bercandaaaa?? Buruan.. Kau jual 2 M. Langsung kubayar ke rekeningmu sekarang!!” Jawab Jae
‘Cih, bocah ini keras kepala sekali’ Pikir pemilik rumah
‘Oh tidak. Kurasa aku akan kehilangan muka.’ Pikir Gunawan
Namun, untungnya si pemilik rumah meragukanku dan berkata.
“Baiklah.. Jika kau memang punya 2 M, aku akan menjualnya kepadamu! Tapi, kalau kau berbohong. Kau harus meninggalkan motor itu untukku!” Kata pemilik rumah
“Apa?? Kenapa harus motor itu?” Potong Gunawan
“Hah? Kau pikir ada yang lebih berharga selain harta untuk taruhan? Lagian, kau yang membawa bocah ini. Jadi tidak masalah, kan jika motor itu jadi jaminannya!” Jelas Pemilik rumah
Ketika Gunawan dan pemilik tawar menawar soal jaminan karenaku. Aku keluar dan menggebor-gebor motorku keras.
Vrooom… Vrooom.. Vroom!!
“Eh? Motorku, motorku!!” Kata Gunawan, ketika aku hendak pergi mengambil uang dari bank terdekat.
Untungnya, ini masih jam 2 siang. Jadi masih ada waktu pelayanan dari bank pastinya. Lagian, identitasku termasuk berkelas tinggi.
Setelah satu jam kemudian. Aku kembali ke tempat pemilik rumah dan Gunawan. Mereka masih saling berbicara, tapi mengabaikan soal aku yang akan menjadi pembelinya.
Tap tap tap tap
Suara langkah kakiku pun mereka abaikan.
Braaak!!
“Itu 2 milyar! Hitung sampai puas lalu berikan surat-suratnya, cepat!!” Kataku pelan, namun auraku sangat bangga waktu itu.
Rasakan kau bajingan tua! Kau rugi besar karena meremehkanku. 3 M itu sudah murah, tapi kau harus melepaskannya untukku dengan harga 2 M.
Pemilik rumah dan Gunawan membelalakan matanya dan membuka mulutnya sangat panjang hingga menyentuh lantai.
Mereka terlihat tidak percaya dengan apa yang dia lihat pada uang yang aku bawa dengan karung dan berceceran itu.
“Ayah mertua!!” Teriakku, memecah keheranan mereka berdua.
“Ah.. Ah iya Anakku.. Jadi, apa sekarang?” Kata Gunawan, dia berubah drastis setelah aku terbukti tidak membohonginya. Dan sekarang bahkan memeluk kakiku seperti anjing.
Sementara aku sedang terburu-buru dan berkata.
“Kau tahu kan? Jika Tadi dia akan menjualnya padaku dengan harga 2 M jika aku bisa membuktikannya?” Tanyaku
“Benar! Aku menjadi saksinya tadi!” Jawab Gunawan
Padahal dia tidak mendengarkan dengan serius tadi.
“Kalau begitu, Pak tua?” Tanyaku pada Pak tua, yang pastinya mengerti maksudku.
“E.. Aa.. I.. I..” Jawab Pemilik itu yang masih syok. Bagaimanapun, dia tidak bisa merubah harganya lagi setelah berkata jelas padaku sebelumnya. Bahkan motorku sudah dijadikan jaminan.
“Bilang cepat!! Aku buru-buru! Jangan bilang jika kau tidak jadi menjualnya setelah berkata seperti sebelumnya!” Potongku, sebelum lanjut berkata kepada Gunawan.
“Ayah mertua!! Aku sedang terburu-buru. Pastikan Kakek tua ini menepati perkataannya. Jika tidak, kau ambil saja uang itu dan suruh anak buahmu untuk membakar rumah ini!” Perintah Jae, dia terlihat sangat berwibawa setelah memperlihatkan bahwa dirinya tidak berbohong.
Kemudian, Jae pergi untuk pulang dengan motornya untuk segera login. Meninggalkan si kakek pemilik rumah yang gemetaran karena kerugian besarnya, kalah dengan taruhannya, dan takut dengan Gunawan beserta anak buahnya jika sampai dirinya mengubah perkataannya pada Jae yang sudah disaksikan oleh Gunawan.
“Kenapa, Pak Tua?” Tanya Gunawan, dengan nada dan ekspresi Preman saat ini. Membuat pemilik rumah bergidik ketakutan.
Pada akhirnya, dia hanya bisa menyetujui harga yang telah dia setujui dengan Jae.
‘Gila.. Si Bocah bau itu bisa-bisanya mendapatkan harga rumah ini segitu.’ Pikir Gunawan setelah selesai dengan urusannya dengan mantan pemilik rumah Jae.
“Eh? Di mana motorku?” Tanya Gunawan saat ingin pulang setelah urusannya selesai. Dia tidak sadar jika Jae membawa motornya karena sedang terburu-buru.
Gunawan sempat membuka ponselnya untuk menghubungiku. Tapi, aku meninggalkan beberapa pesan Whatsapp padanya.
-Ayah, jika sudah beres. Tolong katakan pada Mahda, aku pulang duluan. Dan akan kujemput setelah selesai dengan urusanku.
-Motornya sedang kubawa. Karena aku sedang terburu-buru. Nanti malam aku antar lagi ke rumahmu sambil menjemput putri cantikmu
-Oh, ya.. besok carikan aku mobil, oke!
-Thank you. Mertua preman!!
“Apa?? Mertua Preman!”
Sialan.. benar aku preman. Tapi memalukan dia memanggilku seperti itu rasanya.
“Hah.. Aku sudah tertipu oleh penampilannya yang biasa saja!”
Ketika itu juga, Gunawan juga teringat perkataan Jae yang akan memberikan motornya untuknya beserta surat-suratnya.
“Apa dia serius ingin memberiku motornya?- ”
“Sudahlah.. Aku tidak begitu berharap juga sebenarnya. Anakku dibahagiakan olehnya saja aku sudah cukup bersyukur!” Gumam Gunawan, sambil berjalan kaki untuk pulang ke rumahnya yang jaraknya tidak jauh dari sana.
Sementara Jae sudah sampai rumah dan mengunci pintu kamarnya sebelum masuk ke capsule dan login.
[Link Start]
Saat aku log in, aku spawn di tempat terakhir aku log out sebelumnya. Aku tertegun sekaligus merasa beruntung saat menyadari spawn di kahyangan.
Namun, sebelum melakukan apa yang aku rancanakan. Aku memeriksa statusku terlebih dahulu dan juga memeriksa hadiah sebelumnya yang belum aku lihat setelah mengalahkan bocah Iblis.
Kelihatannya aku mendapatkan banyak exp.
Ngomong-ngomong kenapa aku skill poinku 2x lipat? Tapi levelku naik 10 saja.
Hah.. Karena pingsan waktu itu, aku jadi tidak paham.
[Anda memiliki 16 skill poin]
[ Player name: Jae]
Level : 67
- Jobst Ranger, class thief -> Assassin
Skill :Fast running lv. Max, Ninja step lv. Max, Throwing knife lv.max-> Flaying knives lv.4, Stealth lv. Max, Lockpicking lv. Max, Dance of killer lv.5, Shadow stealth lv.4, Shadow Clone lv.4, Death blow lv.4, Sonic dash lv.4,
Evasion skill – Shadow evasion lv.1, aktif setengah detik sebelum terkena serangan.
Ability/power: Venom body( tubuh racun bisa diperkuat, Core merapi( attribute api bisa diperkuat)
- Jobnd Necromancer
Skill: Bone graves lv.5, Summon undead lv.5 Mp cost 5-100 tergantung jumlah yang dipanggil dan kekuatan yang dipanggil, living death lv.5 Mp cost 10-200 tergantung tingkat level target, Expunge lv.3 memulihkan Mp dan Hp 3% perdetik.
Hp. 1500, Mp. 970, Dex.780, Int. 716, Def. 640, Str. 750, Stamina. 1000
Julukan : Goblin slayer, Jaeger/Berserk
Reputasi story/Dongeng 5000. NPC akan bersikap baik kepada anda.
Kemudian, aku menambahkan 16 poin yang kupunya untuk Int. agar Mp-ku makin banyak dan menjadi 764.
Hah.. Sedikit sekali. Kenapa masih dapat 3 poin saja dengan 1 skill poin? Urrgh..
Berarti Cuma dengan naik level saja status cepat naik? Atau mungkin bug?
Dan selanjutnya Jae memeriksa hadiah sebelumnya yang belum dia terima.
[Anda mendapatkan hadiah pencapaian A- Skill Regen]
A?? Bukankah aku membunuhnya secara solo?
[Anda tidak berhasil membunuh Iblis sebelumnya]
[Pihak lain mencuri kill poin anda]
“Apa?? Siapa yang mencuri, Bangsat!!”
Jae kemudian sadar ‘ Memang sih waktu itu Hp-nya masih sisa sekitar 25 sebelum aku pingsan.’
“Ah.. Jadi, pencuri poin kill-nya adalah yang menyerangku tiba-tiba?- “
“Aaaaah… Sial sial sial sial!!”
Tapi lumayanlah.. Skill regen tidak buruk juga. Hehe..
Bahkan sebelumnya, skill regen milik Iblis sangat menyebalkan. Jika tanpa racun dari Geseng dan sabit Alaksa, aku tidak akan menang.
Pada saat itu, suara familiar terdengar.
“Oh.. Ternyata kau yang teriak-teriak itu.” Kata Arjuna
“Oi.. Arjuna?!” Sambut Jae
“Bagaimana kau bisa ada di sini, Jae?”
“Ah.. Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja aku berada di sini.”
Petualang memang suka seperti itu ya?’ Pikir Arjuna. Dan masih tidak bisa memahami misterinya, yang sebenarnya adalah perbuatan system.
“Oh iya, kau sedang berada dalam masalah!” Kata Arjuna
“Huh? Masalah apa?” Tanya Jae
“Kau tidak tahu?” Balik Tanya Arjuna, sebelum menjelaskan
“Ada petualang kuat yang membantai ratusan lebih petualang lain. Dan kudengar, dia mencari orang yang bernama Jae. Bukankah berarti itu adalah dirimu?”
“Em.. Iya, itu memang aku yang dia cari. Tapi, aku ragu dengan kekuatannya kali ini. Apa dia benar-benar kuat hingga bisa membantai banyak playe- eh, maksudku petualang, lain?” Tanya Jae
“Dia sangat kuat! Bahkan jauh lebih kuat dariku, tapi.. gaya bertarungnya buruk!” Jelas Arjuna
“Sungguh?”
“Em. Aku cukup yakin dengan pengamatanku lewat cermin baru ayahku!”
Cermin? Apa seperti di film-film kerajaan maksudnya? Bisa memantau dari cermin?
“Ah.. Kalau begitu, aku harus menghadapinya sekarang.” Kata Jae, sebelum menepuk bahu Arjuna dan pergi.
Namun, Arjuna menghentikannya.
“Tunggu! Sebaiknya jangan!”
“Tidak. Aku harus menolong temanku, Karina!”
“Gatotkaca sedang mencoba menolongnya saat ini!”
Jae tertegun ketika Gatotkaca memutuskan untuk menolong Karina. Dan bertanya pada Arjuna.
“Dia? Kau yakin?”
“Tentu, meski kita sempat mencegahnya.. tapi dia tetap bersikeras.”
“Bukankah kaubilang jika lawannya lebih kuat darimu? Jadi, apa Gatotkaca lebih kuat darimu?”
“Aku lebih kuat.. Tapi, dia keras kepala.”
Untuk pertamakalinya aku salut dengan si genit itu.
“Kalau begitu, aku harus membantunya. Permisi, Arjuna!” Kata Jae, segera berlari untuk pergi.
Grap!!
“Ah.. Lepaskan aku! Aku harus pergi! Aku tidak punya banyak waktu lagi!” Perintah Jae
“Tidak bisa! Setidaknya, perkuat dirimu terlebih dahulu!”
“Huh? Aku tidak ada waktu, bodoh!”
“Aku tahu.. Jadi, tunggulah sebentar!”
Arrrgh.. mengapa dia sangat memaksa sih. Waktu hanya tersisa kurang lebih 10 jam hingga event berakhir.
Kemudian, Arjuna menarikku ke sebuah ruangan yang di tengahnya ada ukiran seperti susunan sihir.
“Tempat apa ini?” Tanya Jae
“Ini ruang latihan terbaik milik kerajaan kita. Meskipun belum ada yang mampu sampai lantai lebih dari 50!- ”
“Tapi, itu saja sudah memperkuat para pendawa sampai saat ini! Duduklah di tengah susunan itu dan keluarlah jika kau sudah menyerah!”
“Hah??? Oi.. aku tidak punya waktu!” Jelas Jae, yang tidak mau mengikuti perintah Arjuna.
Namun, seseorang tiba dari atas langit saat berkata.
“Ikuti saja perintahnya! Sehari di sana sama dengan 1 menit di sini!” Kata Werkudara