Rajawali Online

Rajawali Online
Kasih sayang menjadikan kekuatan



Selanjutnya, kita berdua mulai membeli beberapa pakaian dan oleh-oleh untuk orang-orang yang berada di rumah.


Uang cash-ku habis. Aku perlu mengambil lagi beberapa besok. Sementara memakai ATM untuk membayar setiap tagihan. Meskipun mata si Kasir selalu melirikku beberapa kali saat aku menggunakan itu.


Sebenarnya 9-10 miliyar bukan jumlah yang besar untuk para pengusaha besar. Tapi itu jumlah yang besar untuk para buruh manapun.


“Mahda! Apa kau sudah selesai memilih pakaian untukmu?”


“Su-sudah kok.”


“Tapi, kenapa aku lihat pakaian wanita yang kau pilih hanya satu? Yang lain malah pakaian Pria yang kau beli, dan ukurannya cukup besar?”


Aku mengerti jika dia membelikannya untuk ayahnya. Ayahnya bisa dibilang sebagai salah satu Bos Preman juga. Sepertinya sedikit merepotkan ketika berurusan dengannya nanti.


Tapi, binatangpun mempedulikan anaknya. Kita lihat nanti, seperti apa sikap ayahmu pada orang yang ingin membuat putrinya bahagia!


“Em.. I,itu terlalu banyak. Kecuali jika aku mencuri uangmu, aku tidak akan sungkan memilih lebih.” Jawab Mahda tanpa menatapku dan tetap menunduk


Setelah mendengarnya, aku memegang tangan untuk mengajaknya memilih beberapa pakaian lagi sebelum sambil berkata dengan nada dingin.


“Sudah kubilang. Jangan berpikir untuk mencuri lagi!”


‘Dia.. Dia marah? Begitukah?’


Saat itu, Mahda teringat masa kecilnya ketika Ibunya masih hidup di dunia. Wajah tulus dan sedih Ibunya pernah mengatakan hal seperti Jae.


‘Jangan pernah berpikir untuk mencuri.’ Ibunya mencium keningnya saat setelah mengatakan hal seperti itu di ingatan masa kecilnya. Kemudian, Mahda berkata sambil menundukan kepalanya dan berhenti berjalan.


“Maaf! Maafkan aku!”


Dia minta maaf?


Jae tertegun mendengar Mahda minta maaf hanya karena hal itu. Bagaimanapun, Jae perlu membuktikan Dunia baru seperti yang katakan agar Mahda memiliki ketetapan hati untuk terlepas dari dunia kriminal.


“Hei! Mengepa kau menundukan kepalamu dari tadi?- “


“Aku tidak bisa melihat wajah cantikmu loh.” Kata Jae, sambil tersenyum dan menghiburnya.


Dari buku yang dia pernah baca. Wanita pastinya identic dengan pakaian dan kosmetik atau kecantikan. Wanita pada dasarnya lembut, tapi hatinya kuat. Maka dari itu, kebanyakan pria kalah jika soal perasaan. jika kau mengembalikan dirinya seperti seharusnya seorang wanita.


Namun, hal hatinya sangat rapuh jika orang yang dicintainya menyakiti hatinya.


Ironisnya, wanita yang hatinya tersakiti oleh pria yang dicintainya menjadi sangat rapuh. Namun, kebanyakan tetap kuat dalam menghadapi cobaan selain itu.


Seperti wanita yang ada di depan Jae. Dia bertahan dalam kehidupan yang susah dan sedih. Bahkan lupa tentang kecantikannya yang hanya dia gunakan untuk menipu agar bertahan hidup.


Mahda mengangkat kepalanya sebelum memandang Jae yang memandangnya peduli.


“puk”


Eh, dia memelukku?


Aku menggelengkan kepalaku ke kanan kiri untuk melihat sekitar. Orang-orang memandangku ketika Mahda tiba-tiba memelukku. Aku tidak tidak tahu harus berbuat apa saat ini, tidak biasanya aku yang seorang thief di pandang banyak orang.


Namun.


“Hiks.. Hiks.. Ibu.”


Ibu?


‘Ya ampun. Apa yang terjadi? Kenapa dia memanggil ibunya?’


Jae sungguh bingung apa yang sedang terjadi pada Mahda. Namun, melihatnya yang menangis seperti itu. Tidak pernah terbayangkan jika orang sekuat Mahda menangis. Bahkan di tempat umum seperti ini.


Pada akhirnya aku  mengabaikan semua orang di sekitar dan balas memeluknya. Setidaknya itu keinginan hatiku untuk menemaninya dan melindunginya dari tatapan orang-orang.


“Tenang saja! Aku bahkan akan menemanimu, meski harus malu saat dipandangi banyak orang seperti ini!”


“Huh?” Mahda kembali sadar ketika mendengar perkataanku dan melihat sekeliling. Sebelum wajahnya tiba-tiba berubah warna seketika dan buru-buru menarik tanganku untuk kabur.


“Mengapa kau tidak bilang dari tadi!”


“Bilang apanya? Aku sendiri heran denganmu, mengapa tiba-tiba begitu?”


“Eh? Em.. Tidak, tidak apa kok!”


‘Sesungguhnya aku hanya merasa hangat dan kangen oleh pelukan ibuku. Namun, tidak kusangka ternyata Jae memberiku perasaan kehangatan seperti itu.’


“Ayo kita pulang saja!” Perintah Mahda


“Eh? Kan, kita belum membeli beberapa lagi untukmu?” Tanyaku


“Besok masih banyak waktu, kan- “


“Bukannya Ibumu akan mengkhawatirkanmu!” Jelas Mahda


Ibuku? Eh, benar juga. Ini sudah jam 9 malam lebih.


“Kalau begitu, bisakah aku meminta bantuanmu?”


“Ng? Apa itu?”


“Maukah kau menemani Ibuku?”


Mahda tertegun ketika mendengarku mengatakannya dan hanya menatapku tanpa kata-kata. Membuatku berkata lagi.


“Te-tenang saja. Aku akan bilang kepada ayahmu nanti, kok!”


“Huh? Kau pikir ayahku peduli?- “


“Bahkan jika aku tidak pulang berhari-hari. Dia mungkin tidak akan mencariku!”


“Huh? Serius?”


“Begitulah. Yang aku tahu hanya uang di kepalanya!”


Sebenarnya, meski otak ayahnya hanya ada uang. Tapi tetap saja dia selalu menolong Mahda ketika Mahda dalam posisi yang tidak menguntungkan. Namun si Ayah tidak pernah mengatakan hal seperti dia peduli pada Mahda.


“Huh..?- “


“Kalau begitu, apa kau setuju dengan permintaanku?”


“Em.”


Mahda perpaling dari pandanganku ketika mengatakannya sambil menganggukan kepalanya. Membuatku langsung heboh tidak terkendali yang mengakibatkan orang-orang di sekitar memperhatikanku.


“Hiiyeeehe.. Aku sungguh senang!”


Dengan begini, ibuku tidak kesepian lagi. Dan aku bisa Login tanpa kuatir tentang ibuku.’ Saat Jae berpikir seperti itu, dia tidak sadar jika ekspresinya seperti seorang psikopat yang sedang menyiksa monster sebelum dijadikan undead.


“Hei.. Kenapa wajahmu menyeramkan seperti itu?- “


“Kau punya niat jahat, ya?”


Aku tertegun mendengar perkataan Mahda ‘Benarkah seperti itu? Duh, aku terbawa suasana saat membayangkan aku bermain game.’


“Eh.. Tidak-tidaklah, sungguh!” Bantahku sambil menggosok kepalaku


Kemudian, aku berkata lagi yang kedengarannya konyol.


“Em.. Tapi, sebelum ke rumahku. Bisa tidak kita mampir dulu ke rumahmu?”


“Hah? Mau apa?”


“Aku tidak punya Garasi untuk motorku. Jadi, biar ayahmu saja yang pakai sementara. Lagian kampung kita tidak jauh juga, kan?”


“Huh..? Kau sungguh konyol, punya motor keren enggak punya garasi! Ahahaha..-”


“Ya sudah. Ayo! Itu masalah gampang. Kupastikan motormu aman!”


Namun, aku teringat sesuatu sebelum itu dan mumpung masih di dalam Mall.


“Tunggu! Apa kau punya ponsel?”


“Ng? Ti..tidak. Memangnya kenapa?”


“Dasar.. Ayo beli itu dulu- “


“Sekalian untuk ayahmu juga. Tapi jangan bagus-bagus jika untuk ayahmu!”


“Tidak usah! Dia sudah punya!”


“Oh, baguslah..”


….


Setelah beberapa saat ketika kita keluar dari Mall dan sampai di rumah Mahda.


“Vroom.. Vroom..”


Ayah Mahda yang bernama Gunawan mendengar suara motor mahal berhenti di depan rumahnya. Ketika itu, dia sedang bersantai dan memikirkan sesuatu.


Siapa yang datang malam-malam begini? Dan suara itu..


“CBR250RR!!”


Dia langsung bergegas berdiri dan melihat siapa yang menggunakan motor itu. Dan tidal lupa membawa kunci Inggris. Karena dia berniat untuk merampok si pemilik motor.


“Eh? Ka.. Kau..?” Tanya Gunawan


Dia melihat seorang Pria muda dan anaknya turun dari motor yang ingin dia rampok itu.


“Kenapa kau bengong begitu?” Tanya mahda kepada Gunawan. Sebelum melirik tangan kanan di mana ayahnya memegang kunci inggris. Membuatnya menghembuskan nafas panjang.


“Huuuuft.. Letakkan itu!”


“Huh? Oh i..ini hanya untuk, untuk memperbaiki motor itu saja karena suaranya terlalu keren. Hehe.. jadi kukira tidak normal motor itu!”


“Bodoh, lihat baik-baik.. Apa itu terlihat seperti motor yang dipakai lebih dari sehari?!”


“Huh?”


Benar juga, it..itu motor baru?


Gunawan heran ketika mengamati motor itu. Namun, sekilas dia melihat lecet di tanki motor sedikit. Kemudian dia bertingkah konyol menangisi motor Jae yang sedikit lecet akibat lemparan kayu kakeknya sebelumnya.


“Uwaa.. Motorku.. kenapa bisa lecet bigini? Bukannya ini masih baru dibeli?- “


“Hei! Kau apakan motorku?” Teriaknya kepada Jae


“Huh?” Jae hanya heran saat memandang Gunawan yang seperti itu. Kemudian, Jae melemparkan kontak motornya kepada Gunawan.


“Cklik..”


“Huh?” Gunawann tertegun sekaligus terkejut saat menangkap kunci motor yang Jae berikan


“Sebenarnya, aku ingin menitipkan motor ini, Pak! Karena aku tidak memiliki Garasi untuk menampungnya!”


“Huh.. Kau dapat dari mana motor ini?”


“Tenang saja.. Ini Surat-suratnya! Jadi, tidak perlu kuatir saat bepergian!- “


“Tapi, sebelum itu. Ijinkan Mahda ikut bersamaku!”


Ekpresi Gunawan tiba-tiba berubah ketika mendengar perkataan Jae. ‘Ikut dengannya? Apa dia berpikir untuk aku menjual putriku?’.


Jae mengamati ekspresi Gunawan saat itu. Dan memiliki kesimpulannya sendiri. Dan berpikir apa yang dikatakan Mahda sebelumnya tentang ayahnya sebenarnya salah. Tapi sebaliknya ‘ayahnya peduli padanya. Tentang dia seperti tidak pernah menggambarkan kepeduliannya pada Mahda adalah karena agar menjadikan Mahda perempuan yang kuat’.


Tapi, menurutku itu salah. Karena aku bahkan bisa sampai bertahan di dunia ini berkat kepedulian dan kasih sayang seorang Ibu seperti Ibuku sendiri.


“Tenang saja. Aku tidak berniat buruk pada putrimu dan aku juga tidak berniat membelinya.. Tapi, suatu saat. Aku ingin melamarnya juga ketika waktunya tiba!- “


“Oh.. dan juga tidak perlu kuartir, kau bisa menghubunginya setiap waktu, kok! Dan pastinya aku juga akan sering berkunjung.- ”


“Tentu saja, aku juga akan senang jika anda mampir ke rumah saya!”


Jae berbicara cukup banyak kali ini. Tidak seperti Jae yang biasanya pendiam.


‘Dia bisa berbicara seperti itu?’


Mahda mengamati mereka berdua yang sedang membicarakan dirinya. Sebenarnya dia makin luluh ketika melihat Jae seperti itu.


‘Kau sudah banyak berubah Jae. Sekarang kau lebih terlihat seperti seorang lelaki. Tidak seperti dulu yang pengecut.’


Kemudian, ayahnya mulai angkat bicara kepada Jae.


“Di mana rumahmu?”


“Cukup dekat, rumahku Tejosari!”


“Ah.. Begitu! Siapa Ibumu?”


“Mina!”


….


Gunawan sedikit terkejut dengan jawaban Jae. Namun, pada akhirnya. Dia mengijinkan Jae untuk pergi bersama Mahda. Meskipun sebenarnya Mahda tidak peduli jika Gunawan menentang. Tapi, lebih baik pergi dengan ijin orang tua, bagaimanapun.