
Hari berikutnya.
Jae bangun kesiangan setelah semalam begadang ketika sampai di rumah. Dia bahagia melihat Ibunya langsung akrab dengan Mahda dan mengijinkannya untuk menginap.
“Wah.. Tentu saja aku senang jika ada gadis secantik ini menginap di rumahku.” Kata Mina yang sebagai Ibu Jae. Sebelum berkata pada Mahda dengan nada suram sambil melirikku.
“Dari pada ditemani si bocah tidak peka ini yang terus membuatku kesepian jika sudah berada di kamarnya. Huft!”
“Eh.. Begitukah? Kau tidak pernah bilang kepadaku sebelumnya?” Tanya Jae sebagai ganti membeladiri
“Bodoh!” Jawab Mina singkat
Ugh.. Seketika kepeduliannya padaku terasa seakan-akan dirampas oleh Mahda.
Sedangkan Mahda terlihat tersenyum ketika itu. Terlihat juga dia bahagia sebenarnya.
Setelah teringat hal yang semalam terjadi itu. Jae mendengar suara Ibunya memanggil.
“Jae..! Jae.. Kau sudah bangun? Keluarlah!” Teriak Mina
“Klak”
Aku bertanya padanya setelah membuka pintu kamarku.
“Em. Ada apa Bu? Kenapa teriak?”
“Apa itu? Mau ditaruh di mana benda sebesar lemari itu?”
Aku terkejut ketika melihat apa yang Ibuku maksud.
“Huh? Bukankah.. Ini.. Capsule VR?!” Kataku
“Benar.. Tuan Lewin yang menyuruh kami membawakan ini dan sekaligus merakitkannya di rumahmu!” Kata orang suruhan Lewin
“Huh? Bukannya dia saat ini berada di America?”
“Memang!”
….
Selanjutnya, aku menyuruhnya untuk merakitnya di kamarku. Meskipun, kamarku menjadi begitu sesak pada akhirnya.
‘Hah.. Kurasa aku harus membeli rumah yang lebih luas dan memiliki ruangan sendiri untukku log in Rajawali Online.’
Mahda bertanya-tanya alat apa itu yang sebesar lemari dan bentuknya aneh.
“Jae.. Apa itu?”
“Itu Capsule!”
“Hah? Untuk apa itu?”
“Itu untuk.. Rajawali Online!-”
“Sebenarnya, aku ingin kau mencobanya. Tapi kurasa lebih baik menunggu sampai aku memberikan capsule utnukmu!”
“Tidak usah.. Nanti siapa yang akan menemani Ibumu?”
‘Benar juga. Ah, aku jadi bingung.’
Jae memutuskan untuk memikirkannya lagi nanti. Saat ini, dia sedang penasaran oleh sensasi yang akan dirasakan saat memakai capsule.
‘Jadi, Capsule sudah mulai didistribusikan dan diedarkan ya? Cepat sekali, munkin sebelum rilis game, mereka sudah memproduksinya lebih dulu.’
Kemudian, suara Ibuku terdengar saat aku melihat orang yang merakitkan capsule di kamarku yang sempit dan terhambat oleh sempitnya ruangan.
“Jae.. Sarapan dulu! Lihat, Mahda sudah menyiapkannya untukmu!”
“Wah.. Benarkah?”
‘Kita bahkan belum menikah, tapi aku merasa seperti sedang memiliki seorang istri. Meskipun belum… itu sih xxx’
“Kenapa malah bengong?” Kata Mahda ketika melihat aku hanya bengong memikirkan hal yang mesum.
“Kamu berpikir jorok ya?” Tanya Mahda lagi
“Eh.. ti-tidak tidak. Hehehe..”
“Kau lupa siapa aku?”
“Ah.. I-iya aku lupa. Hehe..”
Benar juga, dia paling sensitive jika melihat orang yang berpikir tidak baik atau mesum kepadanya. Sial, aku sepertinya ketahuan memikirkan sesuatu yang memalukan.
“Sudah.. Makan saja dulu!” Kata Mahda, sambil memegang tanganku ketika aku duduk di meja makan. Membuatku merasa lega dan nyaman.
Sedangkan Ibuku
“Uhk.. Ehem, ehem..!”
Batuk Ibuku, seperti mengingatkanku dan Mahda jika ada dia juga di meja makan. Sebelum mengambil air putih di gelasnya dan berkata setelah minum seteguk.
“Glup”
“Ayo makanlah! Nanti keburu dingin!”
‘Sepertinya dia sengaja memotong kegembiraanku.’
….
Setelah selesai makan, aku naik ke atap rumahku untuk merokok sambil menghubungi Orochi dan Karina.
[Halo. Orochi?]
[Ya.. Tumben kau menelefon duluan?]
[Yah, aku sedang menunggu capsule-ku yang sedang di pasang di kamarku.]
[Wah.. Kau sudah beli capsule? Kaya juga kau, Maling!]
[Ahaha.. Kau ini. Aku sudah bukan Maling kurasa.]
[Bukan Maling matamu.. Kau masih Maling Kill tahu!]
[Haha.. Itu sih pekerjaan di dunia virtual.]
[Hem.. Ngomong-ngomong log in jam berapa nih kita?]
….
Aku lanjut menikmati beberapa batang rokok setelah menghubungi Orochi. Dan suara langkah kaki terdengar mendekat sebelum duduk di sebelahku.
“Kau sepertinya punya teman yang cukup dekat?”
“Em.. Sebenarnya, aku sempat ragu awalnya. Tapi, mereka berdua bilang akan mengunjungiku ketika Closed Beta.”
“Kau beruntung- “
“Eh, aku penasaran orang yang bernama Lewin? Siapa itu?”
“Huh?”
Saat di kedai aku menceritakan seorang tua yang aku selamatkan, tapi tidak menyebutkan namanya. Dan Mahda saat kejadian itu juga sempat mengambil bagian untuk menjebaknya.
“Dia adalah.. Orang yang pernah kau jebak sebelum dihajar dan ingin dibakar hidup-hidup waktu itu!”
Mahda tertegun, mendengar penjelasan Jae. Dan teringat, jika orang-orang yang terlibat melakukan kekerasan itu berakhir masuk di penjara dan mendapatkan hukuman berat.
Hanya Mahda yang beruntung tidak terseret ke dalam penjara. Karena hanya mahda yang menjadi seseorang di luar kelompok itu.
Lebih jelasnya, mereka semua tertangkap di gang setelah mencoba mengkroyok Jae waktu itu.
“Kalau bisa, aku ingin minta maaf kepadanya!” Kata Mahda setelah terdiam beberapa saat.
Jae mencoba mengerti perasaannya. Terlihat dari raut wajahnya memang benar-benar menunjukan penyesalan.
“Em, jika aku bertemu lagi dengannya, akan kukatakan permintaan maafmu kepadanya!”
Mahda tersenyum sambil menutup matanya yang berkaca-kaca agar tidak terlihat sedih ketika berkata pada Jae.
“Terima kasih, Jae.”
Meskipun Jae tetap saja tahu jika dia sedih karena penyesalannya. Namun, Jae merangkul Mahda dan meletakan wajahnya di dadanya. Hingga air mata keluar dari Mahda sebelum mencurahkan isi hatinya karena penyesalan perbuatannya yang hampir mengakibatkan Lewin terbunuh secara tidak manusiawi.
Untungnya Jae menyelamatkannya tepat waktu. Bisa dibilang kalau Jae adalah Pahlawan di hatinya yang menyelamatkannya dari jurang penyesalan itu.
Mahda menangis terisak-isak dan tidak mencoba untuk menahannya lagi ketika berada di pelukanku.
Sedangkan Jae merasa itu seperti mimpi.
‘Cewek yang paling dicintainya dan dulu tidak memberikan jawaban dari pernyataan cintanya, sekarang menangis seperti ini di pelukanku. Ini seperti sebuah keajaiban bagiku.’
….
***
Sementara itu, Garry kembali ke Korea setelah tinggal sehari di Indonesia dan berbicara kepada Dory Beberapa saat lalu.
“Maaf, Dory. Aku tidak bisa menemukan jawaban mengenai Player bernama Jae itu! Dan bahkan, President perusahaan yang mengelola Rajawali Online menegurku agar tidak mencampuri urusan para player. Dia bahkan mengancam untuk memberi tindakan tegas jika terus menyelidikinya!”
“Apa? Tidak kusangka dia cukup bijak seperti itu. Dan bagaimana mengenai keseimbangan game?”
“Seperti yang kau katakan sebelumnya. Idemu tidak jauh sama dengan para pengembang lainnya termasuk CEO. Sepertinya kau berbakat dalam hal ini, Nak. Aku bangga padamu!”
“Kalau begitu, aku juga akan menghadapi Jae secara adil, bukan? Ini menjadi lebih menarik.”
‘Anakku sudah mulai tumbuh lebih dewasa. Bagaimanapun, hadapilah secara laki-laki semua masalahmu.’
**
Sementara Lewin. Sedang memikirkan bagaimana perasaan Jae ketika memikirkan jika harus menarik item-item yang ada pada inventory-nya demi keseimbangan Game.
Tentu saja bukan hanya untuk Jae. Tapi juga untuk ke lima Special ID lainnya juga. Sedangkan untuk orang selain Jae, dia tidak akan segan-segan.
Maka dari itu, dia memutuskan untuk memberinya kompensasi dengan mengirimkan uang ganti rugi atas penarikan tersebut.
….
Setelah beberapa saat. Dia memeriksa ID milik Jae dan memiringkan mulutnya setelah melihat nomor ponsel tercantum di ID-nya.
‘Kalau begini, aku akan lebih mudah menghubunginya di luar game.’
Kemudian dia dibuat terkesan oleh perkembangan Jae di permainan. Meskipun masih banyak pencapaian Jobnya yang masih belum terpenuhi.
Wow! Dia naik level begitu cepat.
Eh? Dia memberikan beberapa item kepada temannya?
Lewin sempat mengerutkan kening ketika menyadari hal itu. Dia berpikir Jae begitu ceroboh, tapi tidak masalah. Karena setelah beta tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.
Kemudian, dia melanjutkan untuk mengamati rekaman-rekaman permainan Jae di Rajawali Online.
*
Sedangkan Jae. Ketika itu ingin segera log in.
[Akun anda sedang tidak bisa diakses untuk sementara]
[Dimohon untuk menunggu beberapa saat hingga pembaruan selesai]
‘Apa? Bukankah maintenance seharusnya masih beberapa hari lagi? Ah.. sial!’
Jae keluar dari capsule-nya dengan ekspresi kesal dan kecewa. Seperti orang yang kehilangan uang tiba-tiba dan tidak tahu entah hilang kenapa penyebabnya.
“Cih.. Menyebalkan sekali!”