
Setelah berhasil mendapatkan Core Merapi, Gatotkaca
dan Arjuna kembali ke Kerajaan untuk melaporkannya kepada ayahnya dan agar core
itu dimurnikan seorang Alchemis terlebih dahulu.
“Ayah! Kita berhasil mendapatkannya!” Kata Gatotkaca
“Wow, kalian berdua lebih cepat dari dugaanku!” Jawab
Bimasena
“Ini Yah! Tolong minta seorang Alchemis memurnikannya
agar temanku tidak mati terbakar hidup-hidup ketika menelannya!” Kata Gatotkaca
sambil memberikan kotak yang berisikan Core Merapi
“Anak nakal! Apa kau sangat terburu-buru?” Tanya
Bimasena
“Iya.. maaf hehe!- “
“Sepertinya, player yang akan membantuku tidak punya
banyak waktu!” Jelas Gatotkaca
….
Kembali ke Jae dan Karina
“Si Genit itu lama sekali perginya?- “
“Hah.. Ngalamat bakal seharian di game nih!” Kata Jae
“Iya! Ngomong-ngomong apa kau ada hal yang harus
dilakukan di rumah?” Tanya Karina
“Tidak sih! Hanya saja, aku meluangkan waktuku untuk
Ibuku tidak banyak!”
“Tenang saja! Lagian, kau cari uang di dalam game ini
kan?”
“Iya sih..!”
“Kupikir, kau hanya terlalu berambisi pada aturanmu!-
“
“Tidak semua hal yang kau inginkan dan kau rencanakan
akan berpihak kepadamu!”
“Ng? Iya.. Kurasa kau ada benarnya juga!”
Beberapa saat kemudian, hari sudah mulai malam dan
Gatotkaca masih belum datang. Jae dan Karina sempat ingin pergi lebih dulu ke
Candi Hidimbi, namun, percumah setelah dipikir-pikir kembali.
Dan mengingat Gatotkaca yang begitu kuat sampai tidak
berdaya di sana, meskipun karena adanya sebuah susunan sihir. Tetap saja, bukan
berarti musuh di sana lemah.
Tidak lama kemudian, Gatotkaca datang. Kali ini dia
ditemani oleh Arjuna, meskipun sebenarnya dia tidak menginginkan Arjuna untuk
ikut.
Beberapa saat lalu ketika Ayahnya memaksa agar Arjuna
ikut dengan Gatotkaca
“Nak! Biarkan Arjuna ikut denganmu!” Kata Bimasena
“Huh? Ah, tidak perlu ayah! Aku dan dua player itu
bisa kok mengatasi sisanya!” Jawab Gatotkaca
“Bukankah akan lebih mudah jika dia membantumu?”
Tanya Bimasena lagi
“Ah.. Tentu saja! Tapi.. Ah, ayah? Kau sungguh tidak
mengerti ya? Kali ini salah satu player yang akan membantuku adalah seorang
perempuan!” Jelas Gatotkaca
“Huh? Terus kenapa?” Tanya Bimasena
“Yah.. Dasar! Tolong mengertilah ayah! Jangan
hancurkan kisah kepahlawananku yang sedang berjuang melindungi seorang wanita
cantik!” Kata Gatotkaca
“Huh…? Masa bodoh! Kau terus saja bertingkah konyol!
Pokoknya biar dia membantumu!” Bantah Bimasena
Namun, Arjuna yang mendengar perdebatan Gatotkaca dan
Bimasena memutuskan angkat bicara kemudian.
“Ehem.. Adik! Kau tenang saja, aku akan pakai
topengku!- ”
“Lagian, sekali-sekali juga aku ingin melihat kau
menuruti perkataan ayah!” Kata Arjuna sambil tersenyum
‘Haduh.. sifatnya yang seperti itu bahkan membuat
lelaki menghormatinya! Apalagi seorang wanita?’ Pikir Gatotkaca
Kemudian, Arumbi memotong
“Gatot! Biarkan Kakakmu ikut! Lagi pula, kau pasti
akan belajar banyak dengannya!”
“Huh? Bahkan Ibu juga mendukung usulan ayah?- “
“Hah.. Baiklah kalau begitu!” Jawab Gatotkaca dengan
ekspresi muram, sebelum berkata kepada Arjuna.
“Kak! Kau boleh ikut! Tapi, jangan coba-coba ganggu
aku ketika aku dekat dengan wanita, oke?!”
“Siap..! Kau tenang saja, lagian, aku juga belum
pernah bertemu seorang wanita yang mampu memikat hatiku! Hehe..!” Jawab Arjuna,
sebelum mengenakan Topeng wayangnya
Dan saat ini, Gatotkaca tiba kembali kepada Jae dan
Karina.
“Woi..! Kau kenapa lama sekali, Genit!” Teriak Jae
“Maaf, tapi memang tidak bisa cepat untuk mendapatkan
ini!” Jawab Gatotkaca, sambil melemparkar Kotak yang terdapat Core Merapi yang
sudah dimurnikan
“Ng? Apa ini?” Tanya Jae
“Bukalah! Dan telanlah!” Perinta Gatotkaca
“Baiklah! Aku sudah tidak punya banyak waktu juga!”
Jawab Jae
Kemudian, Jae langsung menelan Core Merapi tanpa
terpesona dengan uniknya Core yang berbentuk pil dan mengeluarkan cahaya yang
unik itu.
“Glup!”
Setelah menelannya, Jae tiba-tiba dikejutkan dengan
panas di tubuhnya yang tiba-tiba, yang sebenarnya disebabkan oleh core yang dia
telan.
“Ng? Haaaaaaah..!” Teriak Jae
“Jae?! Apa yang terjadi?” Tanya Karina yang terkejut
dengan teriakan Jae tiba-tiba yang tampak kesakitan.
Kali ini Jae bahkan tidak sempat mendengarkan sekitar
karena merasakan panasnya tubuhnya. Dan bahkan remang-remang mendengar
peringatan system.
efek buff yang bermanfaat setelah proses selesai – 1.85%]
[Anda menelan tanpa mengetahui cara memproses esensi
dengan benar!]
[Semoga berhasil, proses tersisa 60.35%]
“Aaarrrggghh…!” Teriak Jae lagi
Sementara Karina tidak tahu harus berbuat apa untuk
membantunya. Namun, seseorang bertopeng yang bersama Gatotkaca memahami apa
yang dipikirkan Karina.
“Kau tenang saja! Asalkan dia akan baik-baik saja!”
“Tapi, kenapa bisa sampai seperti ini? Sebenarnya apa
yang kalian berikan?” Tanya Karina
“Itu adalah apa yang dia inginkan sebelumnya! Kau,
tenang saja Dewiku! Meskipun, jika dia mati, dan ketika dia log out kembali
nanti, Proses itu akan berlanjut!” Potong Gatotkaca
“Apa..?! Sebegitunya kah?” Terkejut Karina dengan
penjelasan Gatotkaca
“Itu adalah sesuatu yang berharga! Jadi, wajar saja
jika prosesnya menyakitkan dan butuh perjuangan yang tidak biasa!”Potong Arjuna
*
Sementara aku yang saat ini sedang mengalami kejadian
yang seperti disiksa dengan suhu di dalam tubuhku yang begitu sangat panas,
seakan-akan indraku tidak merasakan hal lain selain panas.
‘Sebenarnya apa ini? Vitalitasku tidak berkurang
meskipun aku kesakitan seperti ini? Ini namanya penyiksaan, sial!’
“AAaarrrggghhhh….!”
[Proses penyerapan esensi tersisa 25.54%]
Anehnya, dengan suhu yang sangat panasnya itu tidak
membakar tubuh dan item-item yang aku pakai.
Dan tidak lama kemudian, akhirnya selesai sebelum aku
masih mendengar suara system yang mengingatkanku jika proses telah selesat
100%.
[ Proses penyerapan esensi Merapi telah selesai 100%]
[Attribut Api didapat]
[Tubuh telah dimodifikasi oleh esensi Merapi, efek
esensi vulkanik dari core merapi membuat tubuh anda kebal terhadap panas yang
merusak]
‘Ah.. Akhirnya selesai juga penyiksaan ini!’ Pikirku,
sebelum mendengar suara Karina yang tampak cemas dengan apa yang aku alami.
“Jae? Kau baik-baik saja?”
“Iya, tadi sangat menyiksaku, sungguh!” Jawabku
Namun, Gatotkaca malah mencibir padaku ketika melihat
Karina mengkhawatirkanku.
“Cih, Sebenarnya kau yang paling beruntung di antara
kita! Enggak usah lebaylah!”
“Huh? Apa maksudmu? Justru kau yang selalu lebay,
Genit!” Jawabku
Kemudian, aku mulai berdiri dan merasakan sesuatu
yang baru dalam diriku. Sebelum aku terkejut ketika levelku ternyata naik
5level setelah menelan esensi itu tadi.
‘Level 45? Mantap!’ Pikirku
Selanjutnya, aku menjelaskan rencana yang telah aku
rancang beberapa saat sebelumnya. Sebelum aku pergi duluan meninggalkan mereka.
‘Kebetulan, saat ini sudah malam! Aku jadi lebih
percaya diri untuk menyusup dan mencuri Kristal yang menjadi sumber energy
susunan sihir di sana!’
Kali ini, aku teringat kembali ketika pertama kali
log in di game ini. Dengan kemampuan alami menyelesaikan quest dan mendapatkan
julukan Goblin Slayer waktu itu.
Dan sekarang, aku tidak bisa menggunakan mana di misi
ini sampai aku berhasil mencuri Kristal itu. Dengan kata lain hanya menggunakan
kemampuan alamiku sebagai pencuri dan skill tanpa mana yang bisa aku gunakan.
‘Kurasa tidak masalah, kita lihat saja nanti seperti
apa penjagaan dan design bangunan di sana! Selagi masih malam, aku bisa
memaksimalkan menyembunyikan hawa keberadaanku!’
Tidak lama kemudian, aku sampai di muka candi Hidimbi
ini. Di mana subuah bangunan candi yang megah dan terdapat tiga lantai. Di setiap lantai ada penjaga
yang menggunakan tombak, dan salah satu dari setiap penjaga tiap lantai
berkeliling di sana.
Yang lebih merepotkan adalah pakaian besi mereka dan
mereka juga memakai helm.
‘Cih, kali ini sepertinya tidak akan mudah seperti di
desa Goblin!’
Dengan helm yang menutupi hingga leher seperti itu,
aku harus melakukan headshot dari depan dan juga harus cepat dan akurat.
‘Kalau aku bisa pakai mana tidak akan sampai
repot-repot amat!’
Kini aku mulai bergerak secara diam-diam. Untungnya,
sebagian besar skill dari Job Thief sebelumnya tidak menggunakan mana dan sudah
level maksimum. Sedangkan skill dari Assassin semua menggunakan mana.
Aku mulai dari saat penjaga yang berkeliling menjauh
dan berpaling dari temannya, namun tetap waspada untuk penjaga yang berada di
lantai atasnya. Karena pola bangunan yang seperti kerucut memungkinkan penjaga
yang berada di lantai yang lebih tinggi bisa melihat yang di bawah.
“Ng?”
“Jleb!”
Korban pertama, aku berhasil menyelinap dan berada di
belakangnya sebelum membungkam mulutnya dan menusuk rahang bawahnya, karena
hanya di situ celah untuk membunuh dengan serangan tunggal. Kemudian aku
menyembunyikan mayatnya diam-diam.
Satu demi satu aku membereskan mereka semua dengan
menikam dan menyembunyikan mayatnya. Untungnya, yang di lantai atasnya tidak
menyadarinya. Namun, tetap saja aku harus cepat, bagaimanapun, nantinya juga
akan ketahuan jika aku sampai ceroboh, dan untuk mengurangi kemungkinan terjadi
kecelakaan yang menyebabkan mereka menyadari hal ini.
Semakin lembut semakin mematikan, semakin tenang
semakin tajam.