Rajawali Online

Rajawali Online
Mahda



Hari berikutnya, setelah sarapan. Jae ingin jalan-jalan keluar rumah melihat situasi dan kondisi sekitar tempat tinggalnya.


“Jae.. Jae..”


“Aku ingin keluar sebentar. Kenapa Bu?”


“Oh.. Sekali-sekali, kau bisa berkunjunglah ke tempat Kakekmu!”


“Eh, Kakek ya?-”


‘Sudah lama juga aku tidak berkunjung ke rumahnya.’


“Baiklah.. Kebetulan kita belum membagikan sedikit rejeki yang kita punya saat ini pada Kakek.”


Rumah Kakek Jae ada di Kecamatan Parakan, agak jauh dari tempat tinggalku. Maka dari itu, dia memutuskan menggunakan sebagian uangnya untuk membeli motor. Lagian, uang yang dia miliki saat ini bahkan bisa membeli beberapa rumah di kotanya. Namun, dia belum memikirkan soal itu.


Selanjutnya, Jae pergi dengan berjalan kaki seperti saat dia masih menjadi seorang pencuri. Meskipun, saat ini dia juga masih suka mencuri di Virtual Game.


Di tengah perjalanan santainya, dia melihat seorang wanita cantik yang seumuran dengannya. Kemudian, wanita itu berpaling padanya ketika Jae memandangnya.


“Badump”


‘Ugh.. Dia sadar aku melihatnya?’


Wanita itu berjalan mendakati Jae ketika melihat Jae memandangnya. Sedangkan Jae yang mengenal dan memiliki kenangan dengan wanita ini menyembunyikan ekspresi gugupnya, sampai mendengar perkataan dari Si wanita itu.


“Lama tidak bertemu, Jae!” Kata Mahda


Mahda Risma, nama wanita yang saat ini berada tepat di depan Jae. Kulit putih, rambut hitam panjang  lurus dengan semir putih di bagian dalam rambut sekitar telinga.


Berpakaian Dress putih dengan menggunakan Jaket kulit hitam. Dia lebih terlihat seperti seorang Rocker cewek, dan dengan kecantikannya membuat auranya lebih mempesona.


‘Nih cewek bahkan makin cantik dari sebelumnya.’


“Ya, senang bertemu denganmu.” Jawab Jae, memerlukan sedikit upaya agar bisa menjaga dirinya tetap tetang di hadapan wanita. Khususnya pada gadis yang saat ini dia hadapi.


“Em.. Ngomong-ngomong mau ke mana kau?” Tanya Mahda


“Aku hanya jalan-jalan.” Jawab Jae, sebelum balik bertanya


“Kau sendiri?”


“Mencari mangsa. Tapi, sepi!” Jawab Mahda


Mahda menjaga matanya tetap terjaga pada pandanganku ketika berbicara. Membuatku memutuskan untuk bertanya.


“Hei, apa kau berniat menjadikanku sebagai korban?”


“Huh? Tidak kok.”


“Terus kenapa kau melihatku seperti itu?”


“Hanya mengamatimu saja, tidak boleh?”


“Hah.. Jujur saja. Hal itu membuatku tidak nyaman.”


Jae sudah sedikit berubah. Jika saja Jae masih seperti Jae yang dulu, dia akan hanyut dalam pesona Mahda. Dan sebelum itu terjadi, dia akan melarikan diri terlebih dahulu.


“Oh.. Kau takut jatuh cinta lagi padaku?”


Sebenarnya, Mahda sendiri menjadi penasaran saat ini. Dia mengenal Jae yang dulunya sangat pemalu dan sempat menyatakan cinta padanya. Meskipun berakhir tanpa Jae mendapat jawaban.


“Huh? Lagian, siapa yang tidak akan jatuh cinta padamu jika kau selalu menatap orang seperti itu?”


Mahda tertegun ketika mendengar perkataan Jae ‘Benarkah ini Jae? Dia sudah berubah? Apa yang membuatnya berubah?’ Kemudian, Mahda berkata pada Jae sambil tersenyum.


“Sungguh mengesankan.”


“Huh? Benarkah?“


Jae yang mendengar perkataan Mahda sambil melihat senyum yang keluar darinya saat ini adalah senyum yang jujur. Tidak seperti ketika dia ingin menipu seorang mangsa.


“Um. Aku penasaran dengan apa yang membuatmu berubah?”


“Bukan hanya aku. Tapi, banyak orang seperti kita akan berubah juga, mungkin.”


Setelah mengatakannya, Jae ingin lanjut berjalan-jalan. Namun, tanpa dia sadari, Mahda ikut berjalan-jalan menemaninya sambil terus bertanya. Sementara, Jae tanpa sadar menganggapnya Karina. Padahal jelas-jelas bukan.


“Eh? Bagaimana kau bisa berkata seperti itu?”


“Aku juga tidak tahu.”


“Ugh.. Kau memang berubah- “


“Berubah aneh!”


“Huh! Em.. kalau aku menjawabnya karena aku bermain game. Apa kau akan percaya?”


“Huh? Kau serius?”


“Tentu. Kau bahkan bisa mendapatkan uang dari itu!”


“Ah, omong kosong!”


“Kalau begitu, ayo lihat apa yang akan aku lakukan!”


“Huh? Baik.. Ayo!”


Pada saat ini, Jae baru sadar jika dia berjalan-jalan dengan Mahda dari tadi. Dia sempat tidak percaya pada apa yang terjadi ‘Benarkah ini? Cewek yang menurutku paling cantik di hatiku, dari tadi mengikutiku? Aku malah mengira dia Karina.’


“Haah.. Mungkinkah ini efek kebanyakan main game virtual?- “


“Eh, ngomong-ngomong, sejak tadi kau mengikutiku?”


“Hah? Memangnya kau tidak sadar?”


“Eh.. Ah.. Ti-tidak-tidak, aku sadar kok! Hehe..”


“Huft.. Pembohong!”


“Hehe.. Mungkin kau menghipnotisku ya?”


“Huh? Konyol, apa untungnya aku menghipnotismu? Paling juga uang koin, kan?”


Jae tertegun dan berhenti sebentar setelah mendengar perkataan Mahda. ‘Koin? Benar juga. Bukankah koinku sudah bertambah juga sejak terus menyelesaikan misi?’ kemudian, Jae berkata pada Mahda sambil tersenyum sebelum lanjut berjalan.


“Mahda?”


“Um.. Apa? Nadamu seperti ingin ‘nembak saja?”


“Ahaha.. Jangan bercanda. Aku serius!”


“Huh? Kau.. Kau..” Mahda terlihat sedikit memerah, meskipun, dia belum memikirkan soal hubungan asmara. Namun, hal yang dia dengar dari Jae kemudian membuatnya sadar.


“Ayo kita bersenang-senang! Haha..” Kata jae dengan nada keras sambil tertawa bahagia. Dan tanpa sadar memegang tangannya sebelum berlari.


Mahda heran dengan perubahan Jae. Yang dia tahu tentang Jae adalah seorang yang pendiam dan tertutup. Meskipun dulu dia sering kalah jika berantem dengan kriminal sekitar, tapi dia bukan pengecut.


Dan terlebih lagi, saat kejadian seorang Kakek-kakek yang sempat dia jadikan korban kerja sama dengan Bos preman waktu itu. Jae adalah orang yang tidak terduga, yang berani menolong mangsa dari Bos preman waktu itu.


Setelah beberapa saat, mereka berdua berhenti di depan kedai sambil menghembuskan nafas kasar karena berlarian.


“Hah.. Hah.. Hah..”


“Kau sungguh kejam!” Kata Mahda


“Huh?” Jae tidak paham dengan maksud Mahda


“Meskipun, aku seorang wanita pencuri, tetap saja aku wanita!” Jelas Mahda dengan nada keras


“Hehe.. Maaf-maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu kelelahan. Ayo, kita sudah sampai kok!” Jawab Jae, sebelum memasuki kedai.


‘Dia mengajakku makan bareng? Bukankah ini artinya kencan?’ Pikir Mahda, sebelum berkata


“Bodoh amatlah.. Lagian hari ini sepi, mumpung ada yang traktir.”


Kemudian, Jae memesan banyak menu dari Kedai itu. Sebenarnya ini adalah Kedai di mana Lewin mulai apes. Mahda heran dengan apa yang jae lakukan ‘Apa dia sungguh punya uang? Awas saja jika ujung-ujungnya tidak bisa bayar.’ Pikir Mahda.


“Mahda! Kau pesan saja sesukamu. Tenang saja, aku yang bayar!”


“Kau yakin? Uangmu cukup?”


Jae mengerutkan kening ketika itu sebelum menjawabnya dengan nada pelan sambil memandang Mahda dengan tatapan serius.


“Bahkan masih banyak tersisa jika untuk aku melamarmu!”


“Huh?- ” Mahda terkejut dan tertegun saat mendengar Jae mengatakan hal itu. Di sisi itu juga dia ragu mempercayainya.


“Buktikan dulu, sebelum kau mengatakan hal seperti itu, Bodoh!”


Namun, Jae kemudian mengeluarkan Kartu rekeningnya sebelum memanggil pelayan untuk membayar terlebih dahulu sebelum hidangan disajikan.


“Set!!”


“Hehe.. Kau kira aku membohongimu?- “ Kata Jae, sebelum memanggil


“Pelayan!!”


Kemudian si Pelayan mendatangi Jae dan mengikuti perkataan Jae. Hingga setelah si Pelayan kembali dari melakukan apa yang Jae katakan, suara yang terlontar dari mulut Pelayan itu membuat Mahda tertegun dan heran.


“Tuan.. Semuanya sudah selesai. Kebetulan sedang ada diskon. Suatu kehormatan seorang pemuda rendah hati seperti anda berkunjung di Kedai kami!” Jelas Pelayan kedai


Kemudian, Pelayan itu pergi setelah mengembalikan Kartu rekening yang digunakan Jae untuk membayar tagihan.


“Hem.. Aku tidak bohong, kan?!” Kata Jae kepada Mahda yang hanya melongo melihat apa yang terjadi.


‘Sebenarnya berapa uangnya? Sampai Pelayan itu begitu menghormatinya?’


“Kau telah mendapat mangsa besar, sepertinya!” Kata Mahda


“Ceritanya panjang. Sudahlah, sekarang waktunya bersenang-senang!” Jawab Jae


“….”


Selanjutnya, mereka berdua menikmati semua sajian yang telah mereka pesan. Sambil membicarakan hal-hal yang mereka lakukan sejak terakhir kali mereka bertemu.


Kemudian, setelah mereka selesai dan keluar dari kedai itu.


“Wah.. Kenyangnya.. Sudah lama aku tidak makan makanan selezat itu.” Kata Mahda


“Hehe.. Syukurlah kalau kau senang.” Jawab Jae


Mahda melihat ekspresi Jae dengan matanya yang indah, dan menyadari senyum dan wajahnya sangat tulus.


‘Dia.. Sungguhkah Jae yang aku kenal?’


“Ngomong-ngomong, aku jadi penasaran dengan apa yang kau katakan tadi mengenai Rajawali Online.” Kata Mahda


“Kau harus mencobanya. Tapi sebelum itu, apa yang akan kau lakukan sekarang?” Tanya Jae


“Em.. Aku tidak tahu, Mangsa sedang sepi akhir-akhir ini.” Jawab Mahda, dan wajahnya terlihat murung.


Tapi Jae selalu curiga dengan ekspresi dari Mahda, dia berhati-hati jika itu bagian dari tehnik penipu. Apalagi setelah mengetahui jika dirinya sedang banyak uang. ‘Sebisa mungkin, aku tidak ingin melihatmu sebagai seorang penipu atau pencuri.’ Pikir Jae, sebelum berkata.


“Mahda?”


“Ng?”


“Maaf, tapi.. Apakah kau berpikir jika sekarang, aku adalah mangsamu?”


“Huh? Hahaha.. Tidak- “


“Meskipun, tadi sempat berpikir begitu sih. Hehe..”


Namun, Jae berkata kemudian.  Membuat Mahda makin tersentuh hatinya ketika Jae mengatakan hal itu dengan perasaan yang tulus. Bahkan air mata terlihat berkaca-kaca di mata Jae.


“Aku tidak ingin melihatmu bertahan hidup seperti itu di Dunia yang berbahaya ini! Aku yakin, kau pasti lelah, kan?”


Mahda tersentuh hatinya sekaligus heran dengan perkataan Jae. Namun, jauh dari lubuk hatinya ‘Jika ada seseorang yang bisa menyelamatkanku dari Dunia ini. Dan bisa menjalani hidup yang lebih baik, aku akan mengikutinya, apapun yang terjadi.’


Namun, Mahda menjawab dengan melontarkan perkataan yang menyangkal hatinya sendiri.


“Jangan konyol! Aku bahkan sudah lupa bagaimana rasanya menderita dan ketakutan!”


Yang mereka tahu, menderita soal mencari nafkah dengan cara yang jahat mendatangkan ketakutan. Dan mereka secara alami mengendalikan perasaan mereka dari rasa takut, pedih dan pahit.


Karena, di dunia kriminal seperti itu, kehilangan nyawa mereka sudah menjadi konsekuensinya. Minimal hanya masuk penjara, namun hal itu tidak akan terjadi jika tidak ketahuan atau di abaikan oleh aparat keamanan negara.


Dan kota ini, bertindak jika hanya ada uang sebagai imbalannya.


“Maka dari itu, ayo! Cobalah hidup bahagia tanpa ketakutan menghantui kita!” Kata Jae


Mahda hanya diam ketika mendengar perkataan Jae. Namun, selanjutnya Jae mengulurkan tangannya sambil berkata dengan ekspresi yang hangat.


“Maukah kau ikut denganku untuk bersenang-senang?”


Mahda merasakan angin yang lembut menghempasnya ketika itu. Seakan-akan juga ada cahaya yang membuatnya nyaman dan hangat. Dan entah mengapa dia sengat tertarik dengan uluran tangan Jae.


Mayat hidup berhati sekeras batu, tidak mengerti arti kata-kata. Tidak mengerti huruf, tidak mengerti angkat, tidak mengerti apa itu setitik perasaan.


Setetes air membasahi batu keras, terus-terusan mengetukku hingga batu itu berlumut. Aku heran saat aku pecah karena lapuk.


Setetes lagi menyentuhku, mengapa begitu menyejukan? Apakah ini kehidupan baru untukku?


Mahda menggapai uluran tangan itu, dan terkejut ketika tiba-tiba tertarik oleh tangan itu untuk berlarian. Sambil memandang punggung orang yang mengajaknya lari.


‘Jae Kau sungguh.. Jae?!’