
Beberapa saat kemudian, Gatotkaca kembali ke
Kahyangan dan menemui ayahnya untuk menanyakan tentang artefak atau sesuatu
yang bisa membuat tubuh tahan terhadap panas.
Saat itu, ayahnya yang bernama Bimasena sedang duduk
santai ditemani istrinya yang duduk di pangkuannya sambil mengupas apel.
“Gatotkaca menghadap Ayahanda!” Kata Gatotkaca sambil
berjongkok dengan kepala menunduk
“Hem.. ? Tumben kau pulang?- “
“Apa ada hal yang kau butuhkan?”
“Hus.. ! Anak kita pulang, seharusnya kau senang
sayang!” Potong Arumbi sambil mencubit pipi Bimasena
Bimasena berpikir ketika itu ‘Sebenarnya aku juga
senang! Tapi, tetap saja harus bersiap-siap menghadapi masalah setiap kali anak
ini pulang!’
Kemudian, Arumbi memutuskan berkata kepada Gatotkaca
menggantikan suaminya.
“Putraku, yang tampan! Bersikaplah jangan terlalu
formal! Katakan saja apa yang kau perlukan!”
“Huh?- ” Potong Bimasena, sebelum Arumbi langsung
menutup mulutnya dengan buah apel di sebelahnya
“Ng..? Emm..!”
“Diam.. Sayang! Dasar lelaki tidak peka! Pantas saja
dia tidak betah di rumah dan suka cari masalah di luar!- ” Kata Arumbi dengan
nada pelan, namun senyumnya membuat Bimasena entah mengapa bergidik
“Awas saja jika nanti malam hanya 3 detik! Ganti saja
itu!” Lanjut Arumbi mengancam sambil melirik bagian bawah Bimasena
Sementara itu, Gatotkaca juga mendengar apa yang
Ibunya katakana pada ayahnya, hingga membuat dirinya sendiri malu mendengarnya.
Bahkan dia tak tahan menahan mulut dan perutnya karena ingin tertawa.
Namun, dia tidak bisa menahannya meskipun sudah dia
tahan, dan berakhir batuk dan tawa bergantian sampai dia mulai sedikit tenang.
“Uhuk.. Ahahah.. Ehem.. Uhuk Ahahaha!- ”
“Ah.. Ah..
Maaf maaf! Ahahaha!-”
“Aduh.. Maaf! Sungguh aku tak tahan! Haah.. !”
Kata Gatotkaca yang berusaha menahan tawa namun
gagal. Dan berakhir membuat ayahnya memerah karena malu, hingga beranjak dari
kursi tahta untuk bersembunyi di balik kursinya dengan menyedihkan.
Kemudian, Arumbi memotong suasana konyol ini dengan
berkata kembali kepada Gatotkaca dengan penuh pengertian.
“Nak, Sini-sini! Deduklah di sebelah Ibumu!”
“Baik ibu!”
Kemudian, ketika Gatotkaca sudah duduk di sebelah
Ibunya, Sifat formal yang menjadi budaya kerajaan seakan-akan terlupakan. Sebagai
gantinya mereka bertingkah seperti halnya seorang teman atau sahabat.
“Hehe.. Bagaimana aktivitasmu di luar?
Menyenangkankah?” Tanya Arumbi
“Em.. tidak juga! Tapi, aku baru saja bertemu player
yang menarik, Bu!” Jawab Gatotkaca
“Oh ya? Ceritakan kepadaku dong.. kalau begitu!”
“Tentu! Begini Bu…!”
Kemudian dengan semangat Gatotkaca menceritakan apa
yang dia lakukan ketika di luar. Hingga pada saat dia mulai menceritakan
tentang player yang ingin membantunya menyelamatkan Candi di dekat hutan
Hidimbi.
Ketika itu, Ayahnya yang mendengar apa yang mereka
bicarakan muncul dari belakang kursinya dengan ekspresi yang semangat.
“Apa kaubilang? Jadi, ini maksud kedatanganmu?” Tanya
Bimasena
“Iya Ayah! Apa kau punya sesuatu yang bisa membuat
tubuh kebal terhadap panas?”
“Em.. Sebentar! Aku akan coba mencari informasi!- “
“Kau temani dulu Ibumu! Ayah pergi sebentar!” Kata
Bimasena sebelum pergi
Setelah melihat ayahnya pergi, Gatotkaca kembali
bertanya pada Ibunya.
“Ibu? Mengapa dia sengat bersemangat tiba-tiba?”
“Huh? Em.. Sebenarnya dia sangat berharap jika kau
mulai mengambil tindakan untuk mengambil alih Candi itu!- “
“Bagaimanapun, itu dulunya tempat tinggalku,
Sedangkan Ayahmu tidak boleh turun tangan sendiri untuk menangani hal itu!”
Jawab Arumbi
“Mengapa tidak boleh?”
“Tentu saja untuk menjaga keseimbangan antar kerajaan
dan menghindari perang!”
Jika Bimasena turun tangan, Raja dari kerajaan lain
juga akan turun tangan dan akan menyebabkan perang yang sulit untuk dihindari.
“Tapi, jika aku yang melakukan?” Tanya Gatotkaca
“Itu tidak masalah selagi kau bukan seorang Raja dan
selagi menggunakan kekuatanmu sendiri!” Jawab Arumbi
“Terus, kalau player ikut campur tangan tidak masalah
kan, pastinya?”
“Tentu saja! Dan jika kau beruntung, kau bisa
mendapatkan dukungan dari player yang menjanjikan!- ”
“Kau bayangkan saja! Setelah sesi Beta selesai,
Kerajaan kita lambat laut tidak akan ada apa-apanya dibanding jumlah mereka
yang begitu banyak!” Jelas Arumbi
….
Tidak lama kemudian, Bimasena kembali namun tidak
membawa apapun. Sebagai gantinya, dia berkata.
“Hah.. Nak! Aku mendapatkan informasi mengenai apa
yang kau butuhkan! Cuma, masalahnya kau harus mengambilnya sendiri!”
“Memangnya apa itu? Dan di mana aku bisa
mendapatkannya?” Tanya Gatotkaca
“Itu adalah sebuah inti Core dari gunung merapi!”
“Jadi, aku harus mengambilnya dari gunung Merapi?”
“Em, aku juga membawa saudaramu yang paling cocok
untuk berhadapan dengan panasnya Merapi!”
Sesaat setelah ayahnya mengatakan itu, Saudara
Gatotkaca menampakan dirinya.
Satu-satunya saudara lelakinya yang paling tampan dan
menawan ‘Arjuna’. Hanya dengan Ketampanan dan kharismanya saja akan membuat
kaum wanita yang meliriknya terbawa suasana hangat dan terpesona.
Namun, setelah
Gatotkaca mengetahui bahwa Arjuna yang ditugaskan ayahnya untuk membantu,
Gatotkaca terlihat muram dan menyedihkan. Karena merasa popularitasnya sendiri
terancam menurutnya.
sekali nasibku’
“Ayah? Apa kau serius?” Tanya Gatotkaca
“Huh? Memangnya kenapa?”
“Kau tidak tahu perasaan lelaki ketika di kelilingi
dewi-dewi ya?” Kata Gatotkaca dengan nada keras dan wajah konyol
“Huh?”
“Tentu saja kalau dia ikut! Duniaku yang menjadi
idaman para dewi akan hancur! Uwaaa.. !”
Gatotkaca hanya bisa protes putus asa sambil menangis
di lantai. Kemudian, Arumbi yang tertawa melihat tingkah Gatotkaca berkata.
“Gatotkaca! Jika kau mendambakan hal seperti itu,
Arjuna adalah saudaramu yang paling tepat!”
“Huh..? Bahkan Ibu berkata seperti itu? Uwaaa…!”
Jawab Gatotkaca
Sedangkan Arumbi dan Bimasena tertawa melihat anak
satu ini, dan satu-satunya yang konyol. Namun, Arjuna yang bijaksana berkata
ramah pada Gatotkaca.
“Saudaraku! Kau tak perlu bersikap seperti itu!
Tenang saja, aku akan membawa ini!” Kata Arjuna, sambil menunjukan Topeng
Wayang
“Huh? Sungguh? Uwaaa.. Kau baik sekali Kakak!”
“Sudah.. Sudah.. Ayo kita segera bergegas!” Perintah
Arjuna sambil tersenyum ramah.
Namun, sebelum pergi, Gatotkaca menanyai Ibunya
tentang hal yang membuat ayahnya merasa konyol.
“Ibu! Bolehkah aku bertanya sesuatu lagi?”
“Huh! Tentu saja, apa itu?” Tanya Arumbi
Sebelum menanyakan pertanyaan selanjutnya, Bimasena
sedang membuka mulutnya untuk menelan anggur.
“Berapa lama Ayah bertahan, sehingga Ibu bisa
mengandung anak seperti Kak Arjuna?” Tanya Gatotkaca
Bimasena yang hendak menelan buah anggur langsung
tersedak ketika mendengar pertanyaan itu.
“Uhhk..Uhuk uhuk!”
“Bo.. Bocah kurang ajar! Sini kau! Huh..!” Teriak
Bimasena yang sebenarnya malu, karena bisa-bisanya seorang anak menanyakan hal
seperti itu kepada orang tuanya.
Sedangkan Gatotkaca sebenarnya memang sengaja, dan
pergi begitu saja setelah menggoda ayahnya.
….
Ketika Gatotkaca dan Arjuna terbang menuju Merapi,
Arjuna berkata.
“Bisa-bisanya kau membuat ayah melu seperti itu!
Ckckck!”
“Ahahah.. Aku hanya cari perhatian orang tua!”
“Kau sudah sangat dewasa tahu! Tidak perlu seperti
itu!”
“Yah, Aku tahu! Tapi, itu sungguh membuatku terhibur
ketika aku menggoda ayah yang terkadang suka ‘Jaim’ sama anak sendiri!”
“Huh…!”
“Sudah.. Sudah.. Kak! Lain kali, mungkin kau perlu
mencoba menggoda ayah juga!”
“Huh?”
“Hehehe.. Serius deh!”
“Baik.. baik..!”
….
Tidak lama kemudian, mereka berdua sampai di atas
langit gunung Merapi. Terlihat kawah penuh magma vulkanik dan lahar, bahkan
hanya dengan melihatnya dari atas saja sudah terbayang panasnya.
“Hehe.. Kak? Kau pastinya tidak berencana membuatku
menjadi seperti Babi panggang kan?” Tanya Gatotkaca
“Tidak..!- “ Jawab Arjuna, sebelum lanjut berkata
“Tapi Mungkin, Siput panggang lebih enak!”
“Huh..? Kau sekarang sudah pintar menggoda orang ya?”
Kata Gatotkaca, heboh dan tidak menyangka Arjuna yang kalem berkata seperti itu
“Kan kamu yang mengajariku?” Jawab Arjuna dengan
santainya
“Huh…? Grrrr…!”
Sementara Gatotkaca hanya geram tanpa kata-kata,
bagaimanapun ‘ Mungkin memang aku yang mengajari dia menggoda orang! Hah.. ini
kah yang dinamakan karma?’
Selanjutnya, Arjuna berkata kepada Gatotkaca saat
mulai turun untuk mendekat tepat di atas lubang kawah yang penuh lahar dan
material panas lain.
“Adik..! Bersiaplah untuk mengambil Corenya! Aku
tidak akan bisa menahan panas ini lama!” Teriak Arjuna, Sedangkan Gatotkaca
masih di atasnya.
“Eh? Ba-baik..!” Jawab Gatotkaca, namun, tidak
langsung bergerak, dan hanya mengamati saja
Sementara Arjuna sedang menjaga tetap fokus
memperkuat mana dan menyerap energy di sekitar untuk diekstrak menjadi energy
Es/beku. Sebelum kesal karena melihat Gatotkaca masih belum bergerak dan
berteriak.
“Sedang apa kau masih di sana?! Buruan!- ”
‘cih, Dasar bandel!’
Sebenarnya, Gatotkaca sedang memperhitungkan
kemungkinan nantinya dan mengamati Skill Arjuna yang membuat isi gunung
terselimuti oleh Es.
Kemudian, Gatotkaca melesat dengan sangat cepat masuk
ke dalam tanah dari luar sisi gunung yang tidak terselimuti oleh Es. Dia
menyatu dengan tanah dan mendeteksi energy Core dari Merapi.
Setelah 3 menit, dia muncul dari pusat lubang dasar
kawah Merapi sambil terbang membawa bongkahan Tanah yang dilapisi Es Arjuna
dengan kedua tangannya di atas.
Namun, ketika baru saja keluar dari tanah dan berada
di udara, Bongkahan tanah yang terselimuti Es itu terlepas dari skill Arjuna.
Hingga dengan cepat melebur dan menyisahkan Core Merapi yang membara.
Untungnya, Gatotkaca sudah siaga akan hal ini, dan
inilah kenapa dia tadi tidak langsung bergerak ketika Arjuna memintanya. Dia
mengeluarkan Kotak ruang kecil anti elemental untuk menyimpan Core Merapi yang
amat panas itu.
Jika tidak menggunakan itu, mereka yang berani
menyentuhnya secara langsung akan berakhir terbakar dan kehilangan bagian tubuh yang menyentuhnya.
“Hehe.. kita mendapatkannya!” Kata Gatotkaca dengan
tersenyum puas
“Cih! Bocah mesum boleh juga akalnya!” Jawab Arjuna