
Setelah Bos
Mage lantai tujuh benar-benar lenyap. Orochi dan Karina menjatuhkan tubuhnya
sendiri sebelum akhirnya pingsan dan wujudnya sempat meredup.
Yang
artinya, keadaan mereka kritis.
“ Eh ? Hei !
“ Kataku ketika melihat keadaan mereka sambil berlari mendekati mereka, mulai
dari Karina.
‘ Em,
sepertinya mereka terlalu memaksakan diri ! Setahuku, keadaan seperti ini
terjadi ketika setamina dan HP berada di bawah 5%. ‘
Kemudian, aku
memberi stamina potion dan HP potion.
“ Haah,
Untung saja kalian tidak mati ! “ Kataku setelah memberi mereka potion.
Butuh
beberapa saat untuk mereka pulih meskipun sudah meminum potion. Sementara
mereka pingsan, aku mengambil kesempatan untuk menjadikan mayat Bos yang hancur
menjadi Undeadku.
“ Huft !
Tidak kusangka dampak serangan mereka mengakibatkan mayatnya begitu rusak ! “
Gumamku
Aku berpikir
‘ Apa dengan levelku saat ini, aku masih memerlukan upaya keras untuk
memberinya kehidupan sebagai Prajurit Undeadku ? ‘
[ Target
berada 2 level lebih tinggi dari Anda ]
[
Kemungkinan berhasil 80% ]
‘ Hoho,
kelihatannya tidak akan sulit ! Namun, aku juga tidak akan menganggap remeh ! ‘
Selanjutnya,
dengan segenap mana, aku membuatnya bangkit dari kematian untuk kujadikan
Undeadku.
“ Show Time
! “
Segera
setelah aku mengatakan kode Living Death, pemandangan yang mirip saat aku
membangkitkan ‘ Cakil ‘ terlihat.
Setelah
tumbuh membentuk dengan sempurna dan sedikit perbedaan wujud ketika menjadi
Undead terlihat, kemudian dia berlutut di hadapanku.
[[ Aku siap
melayanimu Tuan ! ]]
“ Hem,
baiklah aku berinama siapa ya ? “ Gumamku
Karena
levelnya cukup lumayan, aku bisa memberinya nama untuk kupanggil secara
terpisah dari yang lain. Karena terlihat seperti Blak Mage, kurasa aku beri
saja dia nama.
“ Dukun ! “
[ Nama ‘
Dukun ‘ telah terkonfirmasi ]
Namun,
setelah aku memberinya nama, dia terlihat cukup senang dengan itu.
Selanjutnya,
Karina yang tadi sempat tidak sadarkan diri mulai membuka matanya.
“ Ah ?
Bosnya ? “ Kata Karina yang masih teringat soal Bos yang sebenarnya sudah dia
cincang mengenaskan.
“ Tenang
saja ! Dia sudah mampus ! “ Kataku sambil mendekat padanya
“ Jae ?
Benarkah ? “
“ Kau bisa
mengecek apa yang kau dapatkan juga pastinya ! “
Kemudian,
Karina memunculkan jendela layarnya untuk melihat apa yang dia dapatkan setelah
mengalahkan Bos.
“ Ah ? Aku
naik sampai level 27 ? Hebat ! “
“ Bagus !
Selanjutnya, biar aku yang bertempur agar pemulihanmu lebih cepat ! “
“ Em, Terima
kasih ! “
Jawab Karina
dengan menggangguk dan terlihat ekspresi wajahnya begitu puas dan gembira,
mengingat upayanya yang hebat.
“ Tidak
perlu, kita kan teman ! “ Jawabku sambil tersenyum
“ Eh,
bagaimana keadaan Orochi ? “
“ Tuh !
Masih pingsan ! “
“
Sepertinya, dia menerima damage lebih parah dariku ? “
“ Haha,
mungkin ! Tapi, dia sungguh membuatku terkejut ! “
“ Haha, iya,
padahal tingkahnya selalu konyol dan membuat kegaduhan pada kita ! “
“ Benar,
tidak disangka ! Ketika dia serius, dia hebat juga dan mengerti apa yang kita
butuhkan untuk mengalahkan musuh ! “
Kemudian,
sambil menunggu Orochi sadar, Karina memeriksa lagi soal apa yang dia dapatkan
lainnya setelah berhasil mengalahkan Bos.
‘ Aku pun
tidak menanyakan apa yang dia dapatkan, bagiku, mayat Bos sudah cukup untukku,
hehe. ’
Tidak lama
kemudian, Orochi telah sadarkan diri.
“ UWAAAA… !
“
“ Bosnya ?
Di mana dia ? Karian ? “
Sudah
terpikirkan jika dia akan heboh ketika kesadarannya kembali, membuatku dan
Karina tertawa ketika melihatnya
kebingungan.
“ Ahahaha !
Lihat dia ! Hahaha ! “
“ Iya !
hahaha lucunya ketika melihat Cicak kebingungan ! “
Kemudian,
seketika Orochi menundukan kepalanya dan terlihat malu karena kita berdua
menertawakannya.
“ Grrrr !
Kalian sungguh menyebalkan ketika terlihat kompak menertawakan kegelisahanku ya
?! “ Kata Orochi
“ Habisnya,
bentukmu memang terlihat lucu ketika seperti itu ! “ Jawabku
“ Eh, Orochi
jempol dengan kedua tangan manisnya
“ Hehe,
Siapa dulu ! Orochimaru versi kadal boleh juga kan ? “
Orochi
mengatakannya dengan gayanya yang sok ganteng. padahal, bagaimanapun, dia
terlihat seperti monster kadal putih, bahkan lebih cocok jika dipanggil Cicak.
“ Buk ! “
“
Berhentilah sok keren dasar Cicak ! “
Aku berkata
sambil melemparkan sepatuku ketika melihat gaya Orochi yang lebay.
“ Hahaha ! “
Tertawa
Karina ketika sepatuku mendarat di wajahnya dan membuatnya malah lebih berpose
menyebalkan sebelum bercanda dengan mulutnya.
“
Uwohohoho..ternyata sang pangeran bernama ‘Jae ‘ Bahkan cemburu dengan
ketampanan si Lizarman yang hebat ! “
“ Cemburu
hidungmu ?! “
“ … “
“ … “
Seperti
biasa, ketika Orochi aktif kami berdua mengubah suasana menjadi ramai
seakan-akan tidak ada hal menegangkan yang menimpa kita sebelumnya. Sedangkan
Karina selalu tertawa terhibur di tengah candaan kita.
Tidak lama
kemudian, setelah kita lelah bercanda dan system memperingatkan waktu login
kita sudah melebihi batas yang dianjurkan, Kita mulai bersiap lagi untuk naik
ke lantai delapan.
“ Setelah
lantai delapan masih tersisa tiga lantai lagi ! “ Kataku
“ Ayo ! Kita
sudah memakan banyak waktu di dalam game ! “ Lanjutku
“ Tenang
saja ! Itu hanya peringatan system, dan tidak memaksa kita untuk Log out ! “
Jawab Orochi
“ Bukan
begitu, aku harus membagi waktu untuk Ibuku juga soalnya ! “ Jelasku
“ Wah, kau
anak baik juga ternyata ya ?! “ Sambut Karina
“ Tentunya
dia juga akan menjadi suami yang baik juga loh ! “
Potong
Orochi sambil mendorong Karina dengan bahunya sambil tersenyum
“ Berhenti
bercanda ! Dasar Cicak ! “ Kataku
“ Lagian,
hidupku di Dunia nyata sangat menyedihkan sebelum game ini mulai dirilis ! “
“ Ayo
bergegas ! “
Lanjutku,
tanpa membiarkan mereka memotong perkataanku.
Tidak lama
kemudian, kita sampai di lantai delapan. Anehnya tidak ada monster di lantai
ini hingga selanjutnya kita terus naik sampai lantai Sembilan.
Dari sini,
auranya mulai terasa menekan, dan kabut merah seperti saat berada di rawa-rawa
juga muncul di lantai ini, meskipun tidak setebal saat di rawa.
Namun, tidak
lama setelah kita memasuki area lantai Sembilan ini, puluhan bahkan mungkin
ratusan panah menyambut kedatangan kita.
“ Fwoosshh !
“
“ Awas ! “
Teriakku,
sambil
meloncat dengan membawa mereka berdua untuk menghindari kerumunan panah yang
mengarah ke kita, dan berlindung di balik Kristal-kristal hijau di sekitar
ruangan.
“
Tsktktktktktktkttkktktktktktk…! “
“ Terima
kasih ! “ Kata Karina
“ Um, santai
! “ Jawabku
“
Sepertinya, panah-panah mereka sama dengan yang saat menembakiku di rawa
sebelumnya ! “ kata Orochi
“ Um, kali
ini biar aku yang menghadapi mereka ! “ Jelasku
“ Kalian
pasti masih belum pulih sepenuhnya, atau stamina dan HP kalian akan cepat
terkuras ! sisakan saja untuk kita bertiga ketika berhadapan dengan Bos nanti !
“ Lanjutku
Mereka pun
memutuskan untuk menurut dengan apa yang aku katakan. Kemudian, aku memanggil ‘
Dukun ‘ untuk menghadapi sumber pemanah. Bagaimanapun, dia pastinya lebih
familiar dengan lokasi dan monster-monster di sini.
“ Eh ? Kau
bilang apa barusan ? “ Tanya Orochi ketika mendengarku menyebutkan nama ‘ Dukun
‘ yang sebenarnya adalah kodeku memanggil Undead secara individu
Namun,
sebelum aku menjawabnya, sosok Dukun telah muncul dengan pose berlutut sebelum
aku memerintahkan padanya untuk melakukan apa yang aku suruh.
“ Uwaaa ! “
Teriak serentak Karina dan Orochi,
karena
terkejut melihat sosok Bos yang mereka kalahkan sebelumnya telah muncul kembali
dan bahkan tepat di hadapan mereka yang sebenarnya menghadapku.
“ Apa lagi
ini ? Bukankah kami sudah mengalahkannya tadi ? “ Tanya Orochi, sedangkan
Karina bersiap untuk menghunuskan senjatanya, yang kemudian aku cegah.
“ Tahan !
Dia bukan musuh lagi ! “
“ Eh ?
Maksudmu ? “ Tanya Karina
“ Aku
jelaskan nanti ! “
Kemudian,
aku meminta ‘ Dukun ‘ untuk melakukan apa yang aku pikirkan. Dan seperti yang
di harapkan, tidak butuh waktu lama baginya untuk membereskan sumber pemanah
ini.
Setelah ‘
Dukun ‘ membereskan mereka, aku pun bertanya soal apa yang akan aku hadapi
selanjut hingga lantai sebelas beserta item yang tersembunyi untuk
menyelesaikan Quest.
Untungnya,
dia masih mengingat banyak informasi mengenai Pusat Lembah Hantu yang menjadi
lokasi Quest tersembunyi ini. Meskipun dia sekarang menjadi seorang Undead.