
Aku mulai dari beast yang sudah terpotong kakinya
oleh Dukun sebelumnya. Bagaimanapun, Degger paling cocok untuk ‘Break’. Tapi,
jika memang kulit beast ini terlalu kuat, coba pakai cara ini.
Ini cara seperti seorang Kuli Batu menghancurkan Batu
yang besar dan keras.
[Juggernout Great Sword, rank SS, attak up +10]
Aku melompat di atas tubuh satu beast yang kehilangan
kaki-kakinya dan menusuk bagian atas tubuhnya dengan Great sword yang aku aku
ambil dari inventory.
“Clank Tsssk..!”
“Kieeek..!”
Berhasil’ meski tusukannya tidak dalam. Namun,
seperti inilah kuli batu memecahkan batu besar dengan pasak.
“Showtime!”
Undeadku, khususnya para Orc yang memiliki Str lebih
dari Undead kelas krocoku yang lain, aku perintahkan kemudian untuk memukul
pedang yang telah aku tusukan agar lebih dalam.
“Orc! Lakukan apa yang aku pikirkan!” Teriakku
“Bang bang bang bang bang bang bang..!”
“Kieeeek!”
Black Iron Scorpion menjerit kesakitan hingga seluruh
Great Sword yang aku tusukan masuk tertanam pada tubuhnya.
“Tssssk… Sruat..!”
Kemudian, waktunya aku mencoba untuk Break dengan
degger. Logikanya, batu yang sudah tertusuk pasak cukup dalam akan
mengakibatkan medannya rapuh dan-
“Dancer!”
“Slash slash slash slash slash slash slash slash
slash..!”
“Kiieeek..!”
[Level up]
‘Berhasil’ Satu di antara lima sudah tumbang. Wajar
saja aku level up ketika membunuh satu. Sementara Dukun-
[Tuan, aku sisakan yang telah kehilangan kaki mereka
untukmu!]
“Huh?”
Selesai aku membunuh satu, Dukun juga selesai
memotong kaki-kaki satu Black Iron Scorpion.
“Oi.. Mengapa kau tidak sekalian bunuh saja, Tolol!”
[Ng? Baiklah Tuan!]
Kemudian, dengan ujung Sabit Alaksanya, dia
menusuknya sebelum lanjut menggoresnya dengan begitu mudah. Meskipun suara saat
menggores sangat kasar.
“Caklangklang.. Ceklangklang.. Brassh!”
[Anda level up]
‘Bahkan mahluk sekeras itu terbelah menjadi dua?’
“Bangsat..! Kalau dari tadi kau bisa dengan mudah
membunuh mereka, mengapa tidak? Huh!”
[Maaf Tuan. Aku takut kamu malu!] Ini semua karena
breakthrough dan senjatanya.
“Huh?- “
‘Jadi, dengan kata lain. Dia merasa sungkan karena
takut menyinggung perasaanku karena aku lebih lemah darinya. Setelah dia
berhasil Breakthrough?’
Sebenarnya aku memang malu karena itu. tapi juga
senang melihat perkembangan Undead-ku yang tak terduga ini. Namun tetap saja
aku merasa malu, hingga ekspresiku yang menjadi murung terlihat oleh Karina dan
Orochi.
“Puk.. puk..!- “
“Sabar-sabar..!” Kata Orochi sambil menepuk bahuku
“Jae yang Ganteng. Jangan nangis dong.” Sambut Karina
sambil mengelus kepalaku
Sungguh mereka malah membuatku semakin malu dan
menyedihkan.
“Kalian Ngeledek aku ya?” Tanyaku
“Hahaha.. Tentu saja iya!” Jawab Orochi dengan
santainya.
“Huh?” Sungguh Cicak satu ini paling bisa menggodaku.
“Jae, lebih baik kita hanya nonton mereka deh! Sudah
mau selesai tuh!- ” Potong Karina
“Hehe.. Kita ikut naik level dong setelah mereka
selesai!”
“Huh?”
Dia benar, setelah Dukun membunuh satu tadi, Jalang
dan Cakil sudah meremukan sebagian besar kulit keras Black Iron Scorpion.
Meskipun mereka berdua tidak bisa membunuhnya langsung, tapi itu mempermudah
Dukun melakukan upaya eksekusi.
“Slaaarrssh..!”
[Level up]
“Slaarcssh..!”
[Level up]
“Slaaarcssh..!”
[Level up]
…
[Kerja bagus!] Kata Dukun dengan begitu bangga di
depan Cakil dan Jalang
[Sombongnya.. Coba saja aku yang Breakthrough lebih
dulu!] Jawab Dukun
[Cih.. Untung saja kau gesit hingga terhindar dari
ekornya yang beracun!] Sambut Jalang
[Huh? Racun mereka?- ]
[Tentu saja ini penawarnya, bukan!] Jawab Dukun,
sambil menunjukan ujung belakang sabit Alaksa yang berbentuk seperti ujung ekor
kalajengking.
[Senjata ini buatan Blacksmith legendaris dari
material yang didapat dari Demon Cobra dan Scorpion King!] Jelas Dukun
[Grrr… Kau beruntung, Tuan memberinya untukmu!] Jawab
Jalang
Terlihat mereka bertiga seperti selalu bersaing untuk
menjadi lebih kuat di antara para Undead-ku. Sedangkan yang masih rank B,
kebanyakan pada menjadi umpan untuk mereka tadi.
“Yay.. Lumayan aku naik 3 level!” Kata Karina
tiba-tiba
“Huh? Kenapa aku hanya 2 level?” Tanya Orochi, di
antara kita bertiga, dia yang paling rendah level-nya
“Kau kan tidak banyak berkontribusi. Hehe..!” Jelas
Karina
“Grrr…!”
“Enaknya kalian..!” Potongku
Jangan-jangan kau marah ya? Karena kita sempat menggodamu tadi?” Tanya Karina
dengan nada menggoda dan mendekatkan wajahnya pada wajahku.
“Eh.. Ti-tidaklah..!”
“Haha.. Kau ngambek ya? Ayo cari monster lagi kalau
begitu!” Sambu Orochi sambil seperti biasa memanjat pada punggungku dan
menampar kepalaku
“Cari kepalamu? Sana cari sendiri. Dasar Cicak
bawel!”
“Ahahaha.. Karina, dia beneran ngambek deh!”
“Kalau begitu, apa nih biar dia enggak ngambek lagi?”
Kemudian, Orochi yang paling paham dengan kelemahanku
berkata. Meskipun aku sudah menebak akal horrornya dan aku mencoba
membungkamnya.
“Huh! Diam.. Kau pasti ingin berkata yang tidak-tidak
kan!” Kataku sambil menutup mulutnya dengan tanganku
“Em… Um.. Um..!”
Aku merasa aman saat membungkam Orochi. Namun, hal
yang tidak aku duga terasa ketika pipiku tersentuh oleh sesuatu yang lembut.
“Cup!”
“Ng?”
Karina menciumku dan tersenyum setelahnya. Sungguh
membuat hatiku berdegum kencang dan menjadikan diriku sendiri salah tingkah
hingga wajahku memerah.
“Itu sebagai gantinya sudah menggodamu tadi. Jadi
maaf!” Kata Karina sambil tersenyum
Saat itu juga Orochi terlepas dan lanjut menggodaku
“Ciee… Enaknya kau! Gimana rasanya?”
“Plak- "
"Kau mau juga?” Kata Karina setelah menampar
Orochi
“Tentu saja!”
“Mimpi!”
“Plak plak plak..!”
Orochi berakhir dengan tamparan ketika itu. Dan
ketika itu juga aku merasa hidupku mulai berwarna dan hangat merasakan memiliki
teman di sekitarku.
Terlihat wajahku tersenyum bahagia. Meskipun ini
hanya dalam subuah game, aku menjadi berharap alangkah bahagianya jika aku
bahkan bisa bertemu dengan dengan mereka di dunia nyata.
Apakah mereka masih tetap orang yang bertingkah sama?
Tidak lama kemudian, setelah kita selesai bercanda
dan tawa. Kita segera melanjutkan perjalanan kita untuk leveling.
“Hei? Kenapa kau murung lagi, Jae?” Tanya Karina
“Ah.. Itu- “
“Aku hanya kesal saja karena sepuluh slot Undead
harus dibuang jika ingin menjadikan Balck Iron Scorpion menjadi Undead!”
“Em.. Bukankah kualitas lebih bagus dari pada
kuantitas?!”
“Iya sih..!”
…
Di sisi lain, Guil Dewa yang mengejarku tiba di Gurun
di mana kami berhasil mengalahkan Black Iron Scorpion.
“Sepertinya di sini baru saja terjadi pertarungan!”
Kata Jack
Dan kali ini sudah ada Dory bersama mereka. Mereka
berjumlah 50 orang dikurangi 3 orang yang sebelumnya telah terbunuh oleh Jae.
“Lihat! Itu seperti jejak kaki mereka..!” Salah satu
anggota menunjukan jejak kaki di gurun pasir yang gersang ini.
“Tidak salah lagi, mereka bertiga. Ayo kejar mereka!
Kita harus mendapatkannya hari ini!” Perintah Jack
Sedangkan Dory juga sudah geram karena anggotanya
telah terbunuh. Dan perlu dua hari untuk bisa kembali login. Meskipun tidak
masalah karena ini masih sesi Beta. Tapi, dia menganggap ini sebagai provokasi
lebih dari Jae.
Namun, ketika mereka beranjak pergi, Gempa dari gurun
pasir itu terasa dan membuat mereka berhenti.
“Huh! Apa yang terjadi?” Tanya Jack dan anggota guild
lainnya
“Bersiaplah..! Sepertinya kita menghadapi masalah
yang tak terduga!” Jelas Dory.
Dia yang paling terlihat Pro di antara mereka.
Kemudian, pemandangan yang mengejutkan mereka pun terlihat.
[Black Iron Scorpion King telah muncul]
(Hp 4000, Shield 6000, Stamina 10.000)
[Quest darurat telah diaktifkan-
Misi – kalahkan Scorpion King
Hadiah 500 koin, Black Iron Ingot, Orichalcum vein,
- Berpotensi mendapatkan julukan
Pinalty – 500 koin, pengurangan Exp sebanyak 10.000
“What..?! Dia bercanda, kan?” Protes Jack
Jack yang heran dan bertanya-tanya bagaimana mungkin
Bos muncul sebelum para keroconya dikalahkan?
‘Jangan-jangan..?’ Jack baru menyadari bahwa bekas
pertarungan yang mereka temukan adalah sisa pertarungan melawan para Keroco Bos
ini.
“Bangsaaaat…!!” Teriak Jack
Suaranya menggema hingga sampai terdengar oleh Jae
dan kawan-kawan.
“Ng? Suara apa itu? Apa kalian juga dengar?” Tanyaku
“Em.. Aku dengar!”Jawab Karina
“Aku juga dengar.. Meskipun aku tidak punya daun
telinga!” Jawab Orochi, sambil mengerek lubang telinganya dengan kelingkingnya
Aku dan Karina berwajah konyol saat mendengar dan
melihat tingkah Orochi ‘Tanpa daun telinga? Benar juga.’ Kami berdua baru sadar
jika Orochi tidak memiliki daun telinga.
“Mengapa kita memiliki teman seperty seperti ini?”
“Um.. Entahlah!”
“Hoi.. Apa wajah kalian itu? Ini keren tahu!- ”
“Inilah seni! Kalian tahu?- “
“Lihat ini baik-baik! Seluruh bentukku, Elastisku,
lembutku,- “
“Bahkan aku kadal tertampang yang pernah ada!- “
Teriak Orochi, dan lanjut membanjiri perkataan padaku dan Karina dengan nada
keras hingga aku dan Karina saling menutup telinga kita sambil memejamkan mata.
‘Ampun deh.. Ini Cicak kalau ngomel menyeramkan.’
…
…