
Dukun memperlihatkan wajah sombong dan bangganya
setelah menunjukan kehebatannya pada semua Undead.
{Cih..} Kesal Jalang
{Hem..} Geseng hanya mengangguk
Sedangkan Cakil yang berada di dekatku bersembunyi
dengan tubuh besarnya di belakangku sambil menangis.
“Hoi.. hoi.. Tidak perlu berkecil hati seperti itu.
Kau kan monster, bodoh!”
Dengan perkataanku, dia malah tambah menyedihkan.
Hah… biarkan saja deh.
Kemudian, aku segera menyambut hadiahku yang muncul
setelah kematian Behemoth. Yaitu adalah buku hitam yang tertulis ‘Conjurer’ di
sampulnya.
Saat aku mengambilnya, Dukun muncul di sebelahku dan
berkata.
{Anda memilih sesuatu yang tepat, Tuan!}
“Huh? Benarkah?”
{Em, dengan mempelajari skill yang ada di dalam buku
itu. Anda tidak perlu kuatir lagi soal senjata jika sedang tidak memiliki
senjata.- }
{Dan itu adalah skill yang cocok untuk Necromancer
seperti anda.}
“Serius? Baguslah.. aku akan mempelajarinya.- “
“kalau begitu, kalian kembalilah!”
[Anda naik level]
Naik 1 level saja, ya.
Kalau begitu, aku tunda dulu di mana aku akan
menempatkan poin statusnya. Lagian, setiap naik level seluruh setatus naik.
[Tangga lantai 41 telah muncul]
Aku memutuskan untuk menunda tangga selanjutnya
sebentar.
Sambil beristirahat agar stamina dan Mana pilih lebih
cepat. Dan juga berusaha tenang agar tidak terburu-buru untuk segera keluar
dari Dungeon. Jae mempelajari isi di dalam buku hitam itu dengan pelan-pelan.
Setelah menghabiskan satu jam lebih, dia menutup
bukunya dan mempraktekan apa yang dia pelajari.
Benar apa yang dikatakan Dukun sebelumnya. Ini adalah
kemampuan dari Necromancer, tapi setelah diciptakan bisa digunakan oleh Job-ku
yang satunya, karena aku yang menciptakannya.
Ssshwaruruk..
Degger muncul di tangan kananku, di mana aku mencoba
mempraktekan skill conjurer yang aku pelajari. Terlebih lagi, semakin unik dan
semakin berwarna energy di dalam tubuhku bisa kugunakan untuk memodifikasi
Senjata yang terbuat dari Mana atau energiku ini.
Kemudian, aku mencoba membuat salah satu senjata lagi
dengan tangan kiriku. Dan ditambahkan dengan racun dari Venom Body.
Berkat memahami isi di dalam buku hitam itu, aku
menjadi paham bagaimana cara memanfaatkan ability tubuhku dan juga energy yang
aku punya. Dan aku juga menyadari mengapa auraku berbeda dari yang lain.
Mungkin ini efek special id yang memiliki Job ganda.
Ssshwarurukess..
Warnanya seperti warna aura Mana-ku, dan terkombinasi
oleh hijau gelap. Mungkin karena racun yang kusalurkan.
Dan senjata yang berada di tangan kananku yang hanya
dominan seperti Auraku, aku tambahkan energy dari Core Merapi.
Hwaruruk..
Hitam gelap diselimuti warna magma vulkanik sebelum
memadat sepenuhnya menjadi warna hitam dengan corak orange menyala.
“Hoahaha.. Ini keren!!”
Baiklah, waktunya menguji senjata yang terbuat dari
kekuatanku sendiri.
Sambil berjalan ke tangga selanjutnya, Jae memeriksa
status senjata.
[Tangan kiri, Blessing poison Degger. 200 base
damage, memberikan efek racun 300hp/detik, cooldown 1menit.]
Hehe.. Ini racun yang cukup mengerikan, bukan.
[Tangan kanan, Blessing Vulcano Degger. 200 base
damage. Memberikan efek Burn yang menghasilkan fire shock damage 500 dan
membakar Hp sebanyak 50/detik, cooldown 3detik.]
[Semua efek bisa direset dengan menyerang ulang
target. Durability masing-masing senjata 1000]
‘Senjata yang memiliki efek berlebihan. Tapi,
ketahanannya rendah? Itu tidak masalah, aku bisa menciptakan ulang semauku,
sih.’
Dan skill ini masih tahap permulaan, entah seperti
apa jika aku sudah makin mahir dan paham 100% semua isi di buku itu.
[Anda memasuki lantai 41]
[Get ready and.. Fight!]
“Hoho.. Kau semangat juga sekarang ya!” Kata Jae
kepada system, meskipun tidak ada jawaban darinya.
Cih.. Tidak membalas, berarti bukan Pak Tua Lewin.
Brudududuk..
Monster mulai bermunculan, bukan 5 macam monster lagi
kali ini. Tapi 7 macam monster yang mana adalah Orc, Goblin, Basilics, giant
wolf, Ahoo, sekeleton dan evil sorcerer.
“Heh.. Kebetulan aku sedang bersemangat. Makin banyak
makin bagus untuk bereksperiment!! Hyaaah!!”
Slashslashslashshshshshsshshshshshshsh…
Dengan Degger, aku bahkan lebih lincah dan lebih
cepat dari sebelumnya. Bukan hanya karena ringan dan nyaman. Tapi aku baru
sadar ada bonus status 5% pada Int dan Stamina ketika menggunakan senjata yang
paling cocok dengan Job-ku.
Meskipun, dengan senjata lain bisa dipelajari. Namun,
senjata yang paling cocok memang yang terbaik.
Kawanan monster terkejut dengan kemampuanku, mereka
pasti tidak menyadari Job-ku yang sesungguhnya. Atau pemilik Dungeon ini
mengira aku seorang lancer? Karena sejak awal aku menggunakan tombak?
Slaap!!
Slicesliceslicesliceslicesliceslicesliceslicesliceslicesssssh..
Di mana aku bergerak, aku menyisahkan kepala yang
terputus dari lehernya. Senjata yang kupakai serasa seperti senjata rank SS.
Menggores monster seperti ini seperti menggores tahu.
Sedangkan untuk menghadapi sekeleton yang rapuh.
Buak!!
Aku cukup menendag kepalanya dan menginjak-injak
tubuhnya.
“Dasar mayat hidup merepotkan! Harus diincak-injak
biar tibah menyatu lagi dengan tulang-tulangmu, ya?!”
Bowll bowll bowll bowll!!
Tembakan fireball dari corcerer melesat ke arahku
ketika aku sibuk menginjak-injak tulang.
Huh? Mengambil kesempatan ya?
Frukfukfukukukukukukuk..
Aku menepis semua fireball dengan flying knives.
Dengan Degger, banyak hal bisa kulakukan sesuka hati dan imahinasiku. Meskipun,
mengendalikan degger yang terbang masih menggunakan control tangan agar lebih
mudah.(masih belum bisa mengontrol laju Degger hanya dengan pikiran.)
Bom bom bom bom!!
Selagi Degger masih terbang dan terkendali. Jae
mengontrol laju mereka ke arah Evil Sorcerer.
Fukfukfukfukfukfukfuk…
Slasher.. Slasher..Slasher..Slasher..
[level up]
Naik level? Mungkin karena sebagian besar aku
headshot-in mereka. Jadi, sedikit bonus sangat berpengaruh dengan monster
sebanyak kira-kira 100 tadi.
[Tangga selanjutnya telah muncul]
[Lantai 42]
….
[Lantai 43]
[Lantai 44]
[Lantai 45]
…
[Lantai 49 selesai, lantai selanjutnya Boss]
[Pilih Hadiah sebelum memanjat ke lantai selanjutnya]
Host.. host.. host..
“Gila.. Bahkan dengan Degger tetap saja berat ketika
memanjat semakin tinggi.- ”
“Oke, apa hadiahnya sekarang?”
Namun yang muncul kali ini bukan senjata atau buku.
Melainkan gear, tapi cukup unik yang membuat Jae yakin itu adalah item rare.
Topeng Leak dan Set kostum.
Tentu saja aku akan memilih set kostum. Karena aku
sedang miskin item. Namun, hal yang tidak kuduga terdengar dari ruang undead,
dan itu adalah Cakil.
{Tuan.. Aku mohon, berikan aku topeng itu! Aku mohon
padamu, Tuan!}
Huh? Apa-apan dia? Topeng itu seperti sangat berharga
baginya.
“Eh.. Em.. Baiklah. Aku mengalah untukmu kali ini.”
Mungkin ini akan berpengaruh kepada kondisinya yang
sedang terpuruk karena di-bully teman-temannya yang lebih dulu Breakthrough.
Kemudian, aku mulai memanjat ke lantai 50.
Begitu aku memasuki pintu lantai 50, pemandangan di
sekitar itu terlihat sangat berbeda. Yang tadinya malam hari gelap. Sekarang
ada di siang hari yang cerah dan menyilaukanku setelah berada di tempat gelap
sebelumnya. Namun, lingkunganku saat ini penuh dengan bebatuan besar.
[Bos ‘Master of the Mask’ akan segera muncul]
Master topeng?
Suara langkah kaki terdengar setelah aku memikirkan
nama Boss di lantai ini. Kemudian aku memandang pada arah suara langkah kaki
itu.
Tap tap tap tap tap..
[[Hem.. Kau bukan salah satu dari penghuni Kahyangan,
ya?]]Kata Master topeng
Aku tertegun sekaligus sedikit melangkah mundur
sebagai antipasti. Namun juga merasakan jika yang aku hadapi kali ini tidak biasa.
Dia tidak terlihat seperti monster. Lebih terlihat
seperti manusia yang hanya menggunakan lima topeng sekaligus. Hingga seluruh
kepala dan wajahnya terbungkus topeng.
Saat kulihat lebih teliti, salah satu topeng itu
mirip dengan yang dipakai Arjuna. Ketika itu juga, aku teringat apa yang pernah
Arjuna katakan sebelumnya.
‘Meskipun belum ada yang mampu sampai lantai lebih dari 50.’
lebih dari lantai 50.’
memanjat lebih dari lantai ini.
Kemudian,
aku menjawab pertanyaannya.
“Benar, aku
hanya seorang petualang yang diberikan kesempatan oleh Lima Pendawa untuk
memasuki Dungeon ini.”
[[Dungeon?
Jadi, para Petualang menyebut tempat ini Dungeon, ya.]]
“Memangnya
apa lagi tempat ini, jika bukan Dungeon?”
[[Ah.. aku
juga tidak tahu, tapi aku dikurung di sini. Bahkan, saat aku berhasil
dikalahkan, aku kembali lagi hidup di sini. Ingatanku semakin pudar jika tidak
ada yang mengunjungiku untuk mengingatkanku.]]
Aku
bertanya-tanya setelah mendengar penjelasannya. ‘Mungkinkah, dia selalu respawn
di sini selagi Dungeon ini masih belum terselesaikan sampai puncak?.’
“Kalau
begitu, bagaimana jika Dungeon ini berhasil diselesaikan?” Tanya Jae
[[Huh? Soal
itu, aku juga belum tahu pasti. Karena sejak dunia ini tercipta. Belum ada yang
berhasil menyelesaikannya sampai puncak.]]
“Kalau
begitu, beritahu aku, siapa yang berhasil naik lebih tinggi di tempat ini? Dan
sampai lantai berapa dia?”
[[Tentu saja
aku tidak tahu! Tapi, kau bisa menanyakannya kepada mahluk yang tinggal di
atasku. Namun, kau harus bisa melewatiku dulu.]]
Aku
mengerutkan kening setelah perkataan terakhirnya. Padahal tentu saja tidak ada
penyelesaian di Dungeon hanya dengan berjabat tangan.
“Kalau
begitu, aku akan mencoba. Apa kau akan terlepas dari tempat ini setelah aku
mencapai puncak!” kata Jae, perkataannya yang seperti memiliki simpati kepada
Master topeng, membuat Master Topeng tertegun dan tertawa.
[[Ha..Hahahahaha..
Hahaha..]]
Urrgh.. Apa
aku terlihat seperti bercanda hingga dia tertawa?
[[Kau
sungguh lucu, Bocah! Apa kau pikir bisa melewatiku? Hahaha.. Ha?]]
Slash…
Satu tebasan
mengakibatkan darah mencruat.
Seeer..
[Anda
memberikan 500 + 300 bonus Critical damage]
Satu tebasan mengakibatkan 3 tebasan, ini skill [Over
Slash, base damage 300 dan 150 x3 setelah tebasan pertama berhasil] baruku
setelah banyak belajar hal baru.
Dan tambahan damage Burn 300. Seharusnya itu sudah
membuatnya sekarat. Tapi, sepertinya dia tahan api juga. Jadi, damage burn
berhasil dinetralkan.
Slicesliceslcie!!
Efek skill kemudian menyebabkan topeng-topeng di
bagian depan tercaik-cabik. Namun, yang mengejutkan, topengnya tidak hancur dan
hanya retakan terlihat.
“Bagaimana? Apa masih lucu?” Tanyaku dengan nada sinis sambil memutar
belatiku dengan jari-jari tanganku.
[[Cih.. Lumayan juga. Sepertinya aku meremehkan
petualang.]]
Jawab Master topeng sambil menoleh ke belakang, di
mana aku berada. Sebelum dirinya memasang kuda-kuda untuk mulai serius
bertarung. Namun, aku juga berkata sebelum mulai.
“Oh ya, jika dipanggil petualang.. sepertinya, kurang
cocok. Karena aku..-”
Syaat..
Syaat..
Kami berdua melesat cepat sambil melakukan serangan
bersamaan.
Clank!!
Master topeng menepis belatiku dengan Cakar
Adamantium seperti milik Wolverine. Saat itu juga aku meneruskan kata-kataku.
“Pencuri!!”
Selenjutnya, kami saling membanjiri serangan dan
menepis bergantian dengan sengit.
Clankangkangkangkangkankangkangkangkang..!
Kami berdua tersenyum ketika pertarungan mulai
mengesankan. Meskipun, lawanku masih tertutup dengan topeng. Tapi, aku yakin
merasakan dirinya yang bersemangat dan tersenyum juga.
[[Kau sungguh.. Hebat, pencuri!!]] kata master
topeng, sambil maju dan melakukan serangan menggunakan Mana lebih pekat dan
kuat sekaligus cepat.
“Dan kau bukan tujuanku untuk berhenti!!” Begitu juga
aku, aku mulai menggunakan Manaku pada setiap gerakan.
Sedangkan senjata Jae tidak bertahan lama untuk terus
berbenturan kuat seperti itu.
[Durability senjata 30% terkuras]
[Durability senjata 20% terkuras]
[Durability senjata 10% terkuras]
Cetarr!!
Kedua belatiku hancur setelah terus-menerus
berbenturan dengan cakarnya. Namun, begitu juga miliknya.
Ceketar!!
Klinklink..
“Hem.. Kau punya senjata yang lain?” Tanyaku
[[Huh? Apa kau sungguh kasihan terhadapku?- ]]
[[Sialan.. Tentu saja aku punya. Setiap topengku
adalah ahli dari masing-masing senjata yang aku punya!]]
Kemudian, dia mengeluarkan Greatsword dari ruang
itemnya. Greatsword yang begitu besar. Sebenarnya setiap senjatanya mirip
dengan apa yang dipakai lima pendawa. Namun, Jae belum pernah melihatnya.
Sedangkan waktu sebelumnya ketika Jae tertolong oleh lima pendawa. Dia sedang
tidak sadarkan diri.
Suara logam bergema saat master topeng
mengayunkannya.
[‘Ini senjataku yang paling kuat! Karena, kurasa dia
begitu kuat jika aku menggunakan senjata selain ini. Dengan ini, kuharap bisa
bartahan lama. Jika saja aku tidak memiliki resistensi 5 element, aku sudah
akan kalah dari tadi.’] Pikir master topeng
Hp Master of the mask [ 5000-> 3000]
[[Akan kutahan kau dengan pedang ini!]] Kata master
topeng, sambil memasang kuda-kuda dengan Greatsword besarnya.
“Kalau begitu..”
Ding!!
Silver dragon staff aku ambil dari inventory. Ini
merupakan item yang langka dan SS rank.
“Aku akan menggunakan ini!”
[Huh? Kau memilih senjata itu di lantai sebelumnya
ya!]
[‘Grrr.. kenapa pilihannya selalu aneh. Bukankah
Job-nya Ranger Assassin? Ngapain pakai tongkat, bodohnya?’] Pikir mater topeng
Fwuuk..fwukfukfukfukfuk.. Ding!!
Setelah Jae menarikan Staff-nya dengan indah sebagai
pemanasan. Dia berkata sambil melakukan kuda-kuda dan menunjukan jari tengahnya
sebelum berkata.
“Sudah cukup, Bajingan bertopeng! Ayo!”
Sebenarnya kata-kata dan tingkahnya yang seperti itu
adalah jebakan alaminya untuk musuh. Yang menjadikan lawan terprovokasi.
Akibatnya-
[[Sialan!! Kau tertalu percaya diri!]] Teriak Master
topeng. Dia maju dengan cepat. Namun mengayunkan pedang besar itu memperlambat
gerakannya.
Sedangkan Jae yang sebelumnya sudah terbiasa bergerak
cepat. Dengan gesit dia meluruskan Staff-nya sebelum memanjangkannya dan
mengakibatkan kecepatan sekaligus perpanjangan tongkatnya menghantam tepat pada
muka lawan dengan kejutan.
BUAAk!!
[Anda mengakibatkan 300 damage+ 600Critital damage.
Efek fear dan stun pada korban setengah detik aktif]
[[URGHH!!]] Hp Master topeng tersisa 2100.
“Uugh.. Pasti itu sangat sakit, ya!” kata Jae, sambil
menutup matanya dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kiri memegang Staff.
Pyarrr..
Tiga topeng pecah seketika setelah menerima pukulan
tongkat yang memanjang itu. Mengakibatkan Master topeng sekaligus jatuh.
Bruk!!
Dia langsung bangun setelah efek fear dan stun dari
Silver Dragon staff hilang.
Syuut set..
‘Dia sungguh petarung yang tangguh!’ Pikir Jae
[[Aku sudah ceroboh.]] Kata master topeng, sambil
mengusap darah yang keluar dari mulut dan wajahnya.
Dua topeng tersisa. Itu adalah topeng Api dan petir.
Cekater cekater..
Dia terlambat untuk mulai menggunakan attribute-nya.
Kali ini, dia mulai menggunakan semuanya.
Jae tertegun melihat kilatan ditubuh Lawan. Dan
greatsword lawan mulai terselubungi api. Bukan hanya itu, Master topeng juga
menembakan sihir-sihir api dan petir kemudian.
Fwooosshfwoshfwoshfwosh..
Jedar!! Cetar cetar cetar!
“Uwoo.. Kau mulai ngamuk ya!” kata Jae sambil
menghindari setiap serangan dengan gesit dan lincah. Meski tidak mendapat bonus
Int ketika menggunakan Staff.
Dengan bergerak menghindar sambil jungkir balik
sana-sini seperti kera. Jae, mulai melukan counter dari jarak sejauh 20 meter
dari lawan.
“Memanjang dan menarilah!” Teriak Jae
Bombombombom..
Jae gagal mengenai lawan. Namun, sebagai gantinya,
dia menepis setiap sihir yang datang dengan Staff-nya.
Bersambung
kawan!