Never Say Never

Never Say Never
Ben (end)



Setelah tiga tahun lebih mencoba berobat kesana kemari, penantian panjang Anggita dan Romi untuk memiliki keturunan akhirnya terkabulkan. Hari ini mereka dikaruniakan seorang anak lelaki yang Romi beri nama Ben Tantoleli, Tantoleli gabungan nama Intan, Anto, Leo dan Liana.


"Hamil tidak bilang-bilang, sekarang sudah lahiran saja." protes Anderson yang baru saja tiba, ia sudah cukup lama tidak mampir ke kantor Anggita, selama ini hanya berurusan dengan Romi dan pekerjaannya sepeninggalan Om Lee sangat menyita waktu.


"Kamu tidak pernah tanya sih, sibuk dengan pekerjaanmu saja." kata Anggita terkekeh. Mereka sudah setahun lebih tidak bertemu.


"Maklumlah Kak, aku gantikan Papa yang tidak ingin kembali lagi Ke Indonesia." Anderson sampaikan alasannya.


"Setelah sabotase sekretaris Daddy mana berani kembali Ke Jakarta." sungut Anggita mengingat kelakuan Om Lee.


Jadi setelah Richard Lee diantar Juwita ke S'pore dia minta Juwita dan Lola untuk urus passport, sebulan kemudian Leo mengirim Juwita ke S'pore terkait dengan urusan pekerjaan mereka. Selama hampir setahun Juwita mondar-mandir Jakarta S'pore demi kelancaran kerja sama perusahaan Leo dan Lee, tentu saja atas sepengetahuan Anderson. Kadang Anderson dan Leo ikut mendampingi Juwita ke S'pore.


Suatu ketika Richard Lee sampaikan pada Leo jika ia akan melamar Juwita dan minta Leo untuk mencari sekretaris pengganti, karena Juwita akan ikut Lee menetap di S'pore. Esokannya mereka menikah di S'pore dan Juwita tidak lagi kembali kekantor tanpa berpamitan pada Anggita.


Tentu saja Anggita cemberut karena mereka cukup dekat dan pikir Anggita, Juwita akan tetap tinggal di Indonesia setelah menikah, tapi ternyata Om Lee enggan untuk kembali ke Indonesia.


"Sudah lama jadi Ibu sambungku, kenapa masih saja kesal, kita kan sepakat jodohkan mereka." Anderson tertawakan Anggita.


"Karena mereka menikah tanpa mengundang, ah kesal sekali." sungut Anggita kemudian kesalnya mencair sambil tersenyum memandang Ben putra pertamanya.


"Ben Mamamu ini aneh, sudah jodohkan orang begitu menikah malah cemberut." lapor Anderson pada bayi yang masih merah itu.


"Jangan ajari anakku bicarakan Mamanya dong." protes Anggita, Romi tertawa saja mendengar keduanya ribut, sambil pandangi Ben yang tertidur di box bayi.


"Kapan keluar dari rumah sakit?" tanya Anderson pada Anggita.


"Belum tahu tergantung dokter. Baru lahir tadi pagi." Anggita terkekeh.


"Assalamualaikum..." tampak Vita datang bersama Felix, Romi langsung sambut kehadiran sahabatnya dengan bahagia.


"Waalaikumusalaam." jawab Romi langsung memeluk Felix.


"Berdua saja?" tanya Anggita tidak melihat kehadiran Jovan putra Felix yang sudah berusia tiga tahun.


"Sama Moza." tunjuk Vita pada Moza yang baru saja muncul dari balik pintu.


"Selamat ya Pak Romi." Moza salami Romi, dikantor tidak ada yang tahu jika istri Romi hamil, karena memang Romi tidak umumkan, baru tadi pagi saat ijin kantor Romi sampaikan pada Vita jika Anggita akan melahirkan. Romi tersenyum menyambut ucapan selamat dari Moza.


Moza datangi Anggita dan ucapkan selamat, senyumnya terlihat lebih tulus kini.


"Tidak bilang mau kesini." tegur Anderson pada Moza, Anggita perhatikan saja ada yang beda dari gerak-gerik keduanya.


"Kamu juga tidak bilang mau kesini." bisik Moza pada Anderson. Anggita menaikkan alisnya pada Romi dan Vita, sepertinya ia ketinggalan berita. Vita cengar-cengir saja, begitu pula Romi. Apalagi melihat Anderson menarik tangan Moza ketika Moza berusaha menjauh dari Anderson, seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.


"Ada yang aku tidak tahu?" tanya Anggita pada Anderson.


"Iya ada yang belum aku ceritakan, seperti Kakak tidak cerita kalau kakak sedang hamil waktu itu." jawab Anderson membuat Anggita mencibir.


"Aku tidak cerita karena kamu tidak pernah telepon aku lagi kan." omel Anggita pada Anderson.


"Kalau aku tidak telepon harusnya Kakak cari aku dong, sudah tahu aku sendiri tidak punya keluarga disini, betul-betul tidak ada perhatian." gantian Anderson yang mengomeli Anggita.


"Tidak tahu saja kalau hamil Ben aku mengalami kondisi yang sulit, tidak suka dekat dengan lelaki lain kecuali Romi, Papa Anto dan Daddy. Teman-temannya Romi saja tidak tahu karena dengar nama mereka saja aku langsung mual. Mas Felix juga tidak tahu kan?" tanya Anggita pada Felix.


"Aku sebenarnya tahu, tapi tidak berani kerumah kalian karena kamu maboknya aneh." Felix tertawakan Anggita.


"Iya jadi selama sembilan bulan ini Romi cuma bekerja dan temani aku, tidak bisa ikut kumpul keluarga atau kumpul bersama teman-temannya." kata Anggita ceritakan kondisi hamilnya. Romi mengangguk membenarkan apa yang diceritakan istrinya.


"Aku sama Moza pacaran." kata Anderson pada Anggita.


"Belum ada setahun, mungkin sekitar delapan bulan ya Moz?" tanya Anderson pada Moza.


"Tujuh bulan." jawab Moza tersenyum.


"Hmm.. Never." Anggita terkikik geli.


"Never say Never." Anderson ikut terkikik. Ingat betapa sewotnya dia dulu sama Romi bahkan mengajaknya taruhan.


"Selamat ya kalian, jangan lama-lama pacarannya." kata Anggita pada keduanya.


"Aku juga bilang begitu." sahut Vita tertawa.


"Bagaimana orang tua kalian sudah setuju?" tanya Anggita ingin tahu.


"Papa setuju." jawab Anderson cepat.


"Orang tuaku juga tidak masalah bu." jawab Moza. Pantas saja sekarang sudah lebih ramah, sudah pacaran dengan Anderson rupanya. menjelang magrib mereka pun pamit pulang.


Steve dan Ayu datang malam hari, Sahabat yang lain sudah datang bahkan mereka ikut temani Romi saat Anggita diruang persalinan. Steve dan Ayu sengaja ke Jakarta begitu dengar Anggita melahirkan. Ayu langsung saja memeluk Anggita ia ikut bahagia setelah selama ini menjadi tempat keluh kesah Anggita karena belum juga hamil.


"Selin mana?" tanya Anggita tidak melihat kehadiran Putri sahabatnya.


"Dirumah sama Opa dan Omanya, maklum ya duo Opa kompak asuh cucu bersama." jawab Ayu ceritakan Papi Mario dan Papa Andi.


"Huhu kenapa terbalik ya, Harusnya Ben lahir lebih dulu dibanding Selin, jadi bisa kita jodohkan." kata Anggita pada Ayu dan Steve.


"No!!!" sahut Steve cepat, ia menolak perjodohan, bayangkan betapa rumitnya maju untuk dapatkan Ayu. Bahkan membuat Mami Regina abaikan Steve berbulan-bulan. Anggita tertawa melihat reaksi spontan Steve.


"Tidak usaha dijodohkan sayang, nanti ada yang rebut." kata Romi tertawa memandang Steve.


"Bukan gue rebut ya, elu serahkan dengan suka rela." Steve meluruskan, mereka semua tertawa mengingat masa lalu mereka berempat.


"Makanya jangan bilang Never, tidak akan mau sama gadis yang sudah tunangan." kata Romi kembali tertawa.


"Iya sejak saat itu tidak pernah bilang Never untuk sesuatu yang belum terjadi." kata Steve sambil merangkul istrinya kemudian mengecup dahinya. Ayu cengengesan saja.


"Steve mumpung elu lagi ada disini, ayo kita bahas pengembangan Warung Elite di S'pore, bersama Nanta dan Anderson." ajak Romi pada Steve.


"Hei pembicaraan tiga tahun yang lalu, masih tetap mau direalisasikan?" tanya Steve terkekeh.


"Gue sama Anderson sudah siap lahan, tinggal matangkan bersama." kata Romi terkekeh.


"Eh sama gue juga pewaris bukan Steve saja." protes Ayu. Romi kembali tertawa. Tetap saja dalam situasi apapun ada pembicaraan mengenai bisnis. Yang pasti saat ini kehidupan keluarga kedua pasang ini bahagia dan harmonis. Bisnis mereka pun lancar, masalah Warung Elite goes to S'pore entahlah terealisasi atau tidak. Harus mereka bahas lebih lanjut.


Setelah kunjungan demi kunjungan, saat ini Romi dan Anggita sudah bisa beristirahat karena tamu-tamu sudah pada pulang.


"Aku luruskan pinggang dulu ya, mumpung Ben tidur." kata Romi setelah meletakkan Ben di box bayi, sepulangnya Steve dan Ayu, Ben menangis saja. Baru diam ketika Romi menggendongnya, anak Papa rupanya. Digendong Anggita Ben tetap menangis.


"Iya." jawab Anggita, tidak sampai lima menit suaminya mulai mendengkur halus, lelah sekali dari semalam temani Anggita kesakitan karena Anggita memilih lahiran secara normal.


Anggita jadi ingat kebelakang, berapa tahun belum hamil rewel sekali minta periksa ke dokter kandungan, bahkan sempat jalankan proses bayi tabung tapi gagal.


Disaat Anggita lelah dan pasrah pada Allah, tidak berobat kemanapun, malah Allah percayakan Anggita untuk hamil hingga miliki Ben yang sekarang sudah didepan matanya. Semuanya seperti mimpi, kalau Romi tidak gigih mengejar Anggita dulu, pasti Anggita akan menyesal karena abaikan suaminya yang mendekati sempurna ini, banyak lebihnya daripada kurangnya, Alhamdulillah.Yang pasti memang jangan pernah bilang tidak mungkin, karena kemungkinan itu selalu ada.


Kisah Romi, Anggita, Steve dan Ayu sampai disini ya. Terima kasih sudah membaca Never Say Never, sampai bertemu di kisah berikutnya. I Love you too season tiga kisah Nanta masih berlanjut ya❤️❤️❤️