Never Say Never

Never Say Never
Anak Gaul



Romi bersama istri dan para sahabatnya sudah di Bandara bersiap berangkat ke S'pore. Steve sudah menyiapkan segala fasilitas untuk mereka disana nantinya. Mulai dari penjemputan sampai penginapan semua sudah siap.


Pesawat mendarat dengan sempurna di Bandara Changi, saat antri di Imigrasi Romi terbelalak melihat Oma dan Opa sudah antri duluan di depannya.


"Eh Opa dan Oma gue ya?" tanya Romi pada Raymond tidak percaya.


"Hahaha iya. Opa..." panggil Raymond melihat Opa yang sedang berbaris antri.


"Hai..." sapa Opa sok cool. Anggita terkikik melihat Oma yang hanya melirik acuh tak acuh. Mereka berdua bergaya seperti tidak peduli pada cucunya. Yang lain langsung saja menyalami Opa dan Oma.


"Oma." Anggita menghampiri dan memeluk Oma.


"Tidak bilang sih kalau jadi ke S'pore, kalau tahu kan kita berangkat sama-sama saja." kata Anggita pada Oma.


"Kita tidak mau diganggu ya Opa." kata Oma Mega pada Opa.


"Iya." jawab Opa santai.


"Ish Opa ini, ada rencana apa? sombong sekali sama cucu sendiri." protes Romi pada Opa.


"Rencana apa sih? curiga saja. Mau jadi cucu durhaka ya?" kata Opa membuat sahabat Romi terbahak, Opa memang terkenal jahilnya. Romi jadi ikut tertawa juga, ingin cubit tapi takut dosa. Ah Opa ini.


"Opa sudah konfirmasi sama Opa Santoso? ada yang jemput tidak? Opa sama kita saja, kita dijemput." Romi khawatir bagaimanapun ia harus menjamu keamanan dan kenyamanan Opa dan Oma tersayang, meskipun jahilnya luar biasa.


"Tenang saja, seperti Opa tidak pernah pergi saja kamu ini." Opa malah mengomel.


"Iya kalau kenapa-napa Romi yang disalahkan Papa nanti." jawab Romi. Opa terkekeh jadinya, cucunya tetap saja perhatian meskipun sedang berkumpul bersama istri dan Sahabatnya.


"Opa dijemput Opa Santoso langsung, kalian bersenang-senang sajalah." Opa menepuk bahu Romi.


Setelah menunggu jemputan Opa dan Oma Romi, barulah barisan para cucu menaiki kendaraan jemputan mereka.


"Kocak, Opa sama Oma lu." kata Arkana pada Romi.


"Luar biasa jahilnya, Anggie sampai nangis tuh." kata Romi menunjuk Anggita. Yang lain terbahak.


"Nangis karena Opa Ismail." Anggita meluruskan.


"Hahaha itu apalagi lebih jahil." kata Naka terbahak.


"Nanti kamu ketularan jahilnya." Sosa terbahak melihat Anggie yang rada tomboy ternyata bisa menangis juga karena dijahili Opa Ismail.


"Opa Oma kita mana ada yang seperti itu kan?" Anggita terkekeh geli sendiri.


Steve dan Ayu bersorak senang begitu melihat sahabatnya turun dari mobil, sudah ditunggu-tunggu sampai tidak bisa tidur.


"Rombongan Papa Mama, belum datang?" tanya Steve celingukan, Mobil jemputan untuk rombongan Papa dan Mama sudah jalan dari tadi.


"Kita beda pesawat." jawab Romi pada sahabatnya.


"Pesta bujangan dulu?" tanya Arkana menggoda Steve.


"Sudah tidak bujang, mau pestakan apa lagi." Steve tertawa melirik jahil pada Ayu.


"Widih sudah goal ya." kata Romi iri, karena sampai saat ini ia belum kesampaian juga.


"Hahaha ada yang iri." Arkana dan Chico terbahak, ingat peristiwa dirumah Ame saat Romi curhat malam-malam mencari pembalut.


"Jangan tengil deh." langsung saja Romi cemberut, tambah ngakak saja sahabatnya, sementara Anggita merah merona.


"Ngobrol disini sajalah, besok kan sudah ke Phi Phi Island." Raymond melonjak senang.


"Ish bikin iri." Arkana melengos.


"Ikut lah." ajak Romi.


"Kasihan Ame." kata Arkana lagi menatap Sarah.


"Ah kan ada Popo." Raymond membujuk sikembar yang saling berpandangan, ingin ikut tapi ingat Ame.


"Ame kan semakin membaik." kata Romi lagi.


"Iya, tidak separah dulu." timpat Raymond yang ingin semua berlibur bersama di Phi Phi Island.


"Nanti lah, pikir-pikir dulu." jawab Chico, sementara para istri sudah membentuk lingkaran berbincang seru entah apa yang dibahas, fokus mereka pada Ayu yang berada dilingkungan dan suasana baru.


"Kamu kegiatannya apa saja, Yu?" tanya Sosa pada sepupu suaminya.


"Masih leyeh-leyeh, belum punya teman disini, mau kemana juga bingung. Mau kerja Steve tidak kasih, dirumah saja bikin anak makan tidur." jawab Ayu membuat mereka semua terbahak.


"Disini kan banyak Mal, kamu bisa nge Mal kapan pun kami mau." kata Sara dengan wajah berbinar-binar, mengingat di Jakarta ia kesulitan nge Mal karena jadwal kerjanya yang begitu padat, belum lagi Arkana yang selalu membuat Sarah bertambah sibuk.


"Aku baru dua kali sih nge Mal disini, secara disini juga baru seminggu kan. Itu juga menemani Oma makan siang." kata Ayu tersenyum, selama tinggal di S'pore Om saja yang menjadi temannya ke Mal.


"Kita mau apa nih, karaoke yuk." ajak Ayu pada sahabatnya, selama di S'pore ini menjadi salah satu bagian dari kesibukannya.


"Ah seru tuh." Anggie langsung saja semangat meskipun suaranya tidak karuan, tetap saja ia suka bernyanyi.


"Eh Rom, ada piano juga tuh, mau main piano tidak?" Ayu menawarkan Roma.


"Tidak, karaoke saja." jawab Roma menolak, sedang tidak mood bermain Piano dia. Padahal permainan piano Roma begitu menyenangkan bagi yang melihatnya, apa lagi kalau yang Roma pilih lagu-lagu riang yang dimainkan alunan Piano, ada kepindahan tersendiri.


"Omanya Steve suaranya keren loh, kita ajak Karaoke ya." kata Ayu pada sahabatnya, semua menganggukkan kepalanya setuju. Diantara semua Oma dan Opa, hanya Oma dan Opa Romi saja yang baru hadir, Opa Burhan dan Oma Emily juga Oma Aluna sedang dalam perjalan ke rumah Opa Santoso, mereka beda pesawat dengan rombongan Romi.


"Oma, karaoke yuk." ajak Ayu pada Oma dan Opa Santoso yang sedang asik ngobrol dengan sahabatnya.


"Kalian saja kami lagi seru sendiri." tolah Oma.


"Ah Oma." Ayu memberengut, kalau sudah begini Oma mana tega, Ayu sudah seperti cucunya sendiri, manjanya itu bikin Oma gemas, apalagi Oma tidak punya anak dan cucu perempuan. Regina, Maminya Mario orang yang kalem dan sedikit kaku, sementara Ayu yang ekspresif membuat Oma semakin gemas dan sayang kepadanya.


"Ayo-ayo kita karaoke." ajak Oma pada sahabatnya, tentu saja Opa dan Omanya Romi, mereka semua langsung beranjak menuju ruang karaoke. Para istri mengikuti langkah Opa dan Oma, Romi dan sahabatnya terbengong dan bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan.


"Eh, kalian mau kemana?" tanya Romi pada Anggita.


"Karaoke." jawab Anggita tersenyum manis pada suaminya.


"Dimana?" tanya Romi pada Steve.


"Dibawah ada Ruang Karaoke, mau bergabung?" ajak Steve pada sahabatnya


"Yuk." Arkana langsung saja senang mengikuti langkah istrinya meninggalkan sahabatnya yang masih terbengong, akhirnya mereka semua menuju basements tempat ruang karaoke berada.


Tibalah mereka di sebuah aula seperti sebuah cafe dengan bangku-bangku yang nyaman untuk tempat nongkrong, cukup untuk mereka semua, bahkan masih ada beberapa bangku lagi yang masih kosong, masih bisa untuk tamu-tamu lain yang belum datang.


Aksi pertama dimulai saat Oma menyanyikan lagu yang ngehits pada jamannya, obladi-oblada sedangkan sahabatnya yang lain berjoget, mungkin mereka teringat masa disaat mereka masih menjadi anak gaul.