Never Say Never

Never Say Never
Kecewa



Romi sudah berdiri bersandar di mobil Naka menunggu kedatangan Anggita. Setelah beberapa menit menunggu, Anggita baru muncul dihadapannya.



Langsung saja Romi tersenyum saat Anggita berjalan menghampirinya.


"Mau apa?" tanya Anggita galak.


"Galak sekali..." Romi terkekeh memandang Anggita, yang dilihatnya semakin cantik saja.



"Sayang, kita mesti bicara." kata Romi menarik lengan Anggita, mendorongnya masuk ke mobil Naka. Kemudian Romi segera menuju bangku pengemudi depan, dinyalakannya mobil Naka bersiap untuk meninggalkan lokasi.


"Romi, aku nanti dicari Daddy." teriak Anggita panik.


"Aku sudah hubungi Naka, dia yang akan menjelaskan sama keluarga kamu." jawab Romi membuat Anggita menarik nafas.


"Mau bahas apa?" tanya Anggita akhirnya.


"Menyelesaikan semuanya, satu bulan tidak cukup aku nyerah, aku sudah menjelaskan pada Papa Mama, Ayu juga sudah menjelaskan pada Papa Andi dan Mama Pipit. Steve baru bicara sama Mami Regina, belum sempat bicara sama Papi Mario, saat ini Steve sedang di tugaskan ke S'pore beberapa bulan kedepan. Aku minta kamu mengerti, aku tidak main-main dengan hubungan kita." jawab Romi sambil fokus menyetir.


"Terus, kamu maunya aku harus bagaimana, sementara diluaran semua orang tahu kamu dan Ayu akan menikah?" tanya Anggita bersedekap.


"Sayang, jangan pikirkan orang-orang, keluarga kita yang penting sudah tahu." bujuk Romi pada Anggita.


"Bagaimana tidak memikirkan orang-orang, jika setiap pergerakan kita bisa mempengaruhi saham perusahaan. Kamu mikir deh Rom, nama baik aku dan keluarga harus aku jaga." ketus Anggita membuat Romi menghela nafas.


"Setidaknya biarkan kita tetap bertemu sayang, walaupun tidak bisa jalan berdua sementara paling tidak aku boleh ke rumah kamu atau kamu kerumah aku." kata Romi pada Anggita.


"Kan aku sudah bilang, kalau orang tua kamu sudah lamar aku secara resmi baru itu bisa terjadi." tegas Anggita pada Romi.


"Anggie sayang mereka pasti lamar kamu, ini hanya soal waktu."


"Selama belum ada pengumuman kalau kalian bukan pasangan, aku tidak mau."


"Terserah kamu lah." Romi akhirnya menyerah. Ia menghentikan kendaraannya menenangkan diri. Susah sekali menghadapi Anggita.


"Kalau belum jelas jangan hubungi aku dulu Rom, aku mau yang pasti." kata Anggita melunak.


"Kurang pasti apa sih? ya sudah lah aku ikuti maunya kamu. Kalau jodoh tidak kemana." jawab Romi, ia kecewa dengan tanggapan Anggita. Romi merasa ia sudah berjuang, tapi kalau seperti ini sama saja ia berjuang sendiri, Anggita tidak memberikan dukungan apapun. Romi kecewa.


"Kita ke gedung lagi ya." pinta Anggita pada Romi. Romi menganggukkan kepalanya. Tidak lagi bicara banyak pada Anggita.


"Aku kok merasa berjuang sendiri ya." kata Romi lagi membuat Anggita menatapnya nanar, terlihat jelas sorot kecewa pada mata Romi. Tapi Anggita tidak mau merusak nama baiknya, mengingat netijen Indonesia saat ini kalau sudah komentar bisa bikin tidak makan.


"Maafkan aku Rom, aku juga tidak suka kondisi begini." jawab Anggita sedikit menyesal. Romi hanya mengedikkan bahunya, dengan atau tanpa Anggita ia tetap tidak mau menikah dengan Lembayung.


"Aku tidak akan ganggu kamu lagi." kata Romi ketika mereka sudah memarkir kendaraan di posisi semula. Anggita tidak menjawab, tiba-tiba saja ia merasa sangat sedih dengat perkataan Romi barusan, matanya tampak berkaca-kaca.


"Turunlah lebih dulu, nanti tidak enak dilihat orang." tegas Romi lagi pada Anggita.


"Huhu Romi." Anggita mulai menangis, Romi menyadarkan kepalanya di kursi. Maunya apa sih Anggie, minta waktu lebih tidak mau, sekarang diikuti maunya malah menangis. Romi hanya bersedekap memandang Anggita, bingung mau dipeluk nanti marah lagi. Tangis Anggita bertambah deras, merasa Romi mengacuhkan dirinya.


"Aku jadi bingung, kamu maunya apa sih?" tanya Romi kesal sendiri.


"Kamu biasanya tidak begini." kata Anggita disela tangisnya.


"Aku minta waktu kamu tidak mau, sekarang aku ikuti maunya kamu, kamu menangis. Maunya kamu aku bagaimana? Aku capek ah usaha berjuang sendiri." Romi kembali bersedekap.


"Aku harus bagaimana?" tanya Anggita labil.


"Satu bulan kan?" tanya Romi lagi setengah menyindir.


"Huhu Romi." kembali menangis. Merasa tidak tega Romi segera merengkuh Anggita masuk kedalam pelukannya, Anggita masih saja menangis.


"Sudah jangan menangis." kata Romi lagi menepuk bahu Anggita.


"Jadinya bagaimana?" tanya Anggita pada Romi.


"Kalau kamu minta satu bulan tidak bisa, Aku terkendala Steve, mau menunggu?" tanya Romi menangkup wajah Anggita dengan kedua tangannya. Anggita mengangguk pasrah.


"Aku tetap jemput kamu pulang kantor, boleh?" pinta Romi, Anggita kembali menganggukkan kepalanya.


"Telepon dan pesan aku wajib dijawab, bagaimana." lagi Romi meminta.


"Iya." jawab Anggita dengan matanya yang masih berair. Romi terkekeh senang dan mengecup bibir Anggita cepat.


"I love you." katanya kemudian membuat Anggita tersenyum malu.


"Turun duluan ya, nanti kamu dicari Daddy." kata Romi pada Anggita.


"Kamu mau kenalan sama Daddy dan Mommy?" tanya Anggita pada Romi.


"Sekarang?" Romi balik bertanya tidak percaya Anggita ingin mengenalkan Romy pada orang tuanya.


"Hu uh."


"Boleh." jawab Romi tersenyum senang.


"Bagaimana caranya?" tanya Romi bingung, karena tidak mungkin menghampiri Leo dan Liana bersama dengan Anggita.


"Aku masuk dulu ya, kamu mau masuk tidak?" tanya Anggita, Romi mengambilkan tissue untuk Anggita.


"Mata kamu terlihat jelas habis menangis." kata Romi terkekeh.


"Kamu sih." Anggita menyalahkan Romi yang kembali terkekeh. Anggita menghapus air matanya dan memperbaiki make up nya.


"Cantik." kata Romi mengagumi kecantikan Anggita.


"Memang." jawab Anggita percaya diri, Romi tertawa mendengarnya.


"Masih merah mataku?" tanya Anggita mengerjapkan matanya, Romi menggelengkan kepalanya.


"Aku turun ya." kata Anggita kemudian, Romi mengangguk.


"Kamu handphonenya standby ya." kata Anggita lagi, sekarang jadi lebih cerewet.


"Iya sayang." jawab Romi terkekeh.


"Kamu menunggu disini atau bagaimana? itu mobil Daddy." Anggita menunjuk Monik diseberang mereka parkir.


"Maunya kamu bagaimana, aku ikuta?" Romi menyerahkan pada Anggita, ia sudah senang saja urusannya dengan Anggita tidak lagi menguras energi.


"Nanti aku tanya Daddy dulu mau pulang jam berapa." jawab Anggita.


"Ya sudah aku tunggu disini dulu, nanti kamu kabari saja." kata Romi kemudian Anggita pun berjalan kembali memasuki gedung tempat Arkana menikah. Sementara Romi dengan sabar menunggu kabar dari Anggita didalam Mobil.


"Sayang, turun saja, Mommy belum mau pulang." pesan dari Anggita diterima Romi. Dengan begitu Romi segera turun menyusul kedalam gedung, mengembalikan kunci mobil Naka dan berkumpul bersama sahabatnya.


"Sini gabung." ajak Romi pada Anggita melalui pesan yang dikirimnya. Tidak menunggu waktu lama, Anggita menyusul dan bergabung bersama mereka. Romi senang sekali, sementara Lembayung menyambut kehadiran Anggita dengan hebohnya, mereka berbisik-bisik membahas masalah percintaan mereka yang sedikit rumit.