Never Say Never

Never Say Never
Nenek



"Lama sekali sih kalian ini." sambutan Intan saat melihat kedua anak dan menantunya mendekat. Ia kembali sibuk dengan makanan yang tadi dibelinya, hari ini Intan tidak menyuruh Bibi masak karena pikirnya Romi tidak datang, Sosa dan Naka biasanya makan diluar, jadi lebih baik beli jadi saja, ternyata Anto mengabarkan jika ia menunggu Romi dirumah ketika pulang kantor tadi, langsung saja keduanya berkeliling komplek untuk membeli makanan.


"Mama berisik deh, dari kami ke meja makan mesti melangkah Ma, bukan salto." Sosa terkekeh.


"Ih si Sosa ini, Pa. Selalu saja menyebalkan." adu Intan pada Anto yang terkekeh melihat keduanya beradu mulut.


"Menyebalkan tapi sayang kan? kalau aku tidak pulang kesepian kan?" Sosa menggoda Mamanya.


"Kalau Papa tidak pulang baru Mama kesepian." jawab Intan mencibir pada Sosa. Sosa senyum-senyum pada Papanya.


"Ayo makan, Romi sudah lapar nih." kata Romi setelah melihat menu makanan yang Mama dan Papanya beli.


"Pesanan Mama dapat semua?" tanya Intan menyodorkan piring pada Anto dan Romi, dilanjut pada Naka. Anggita dan Sosa berikutnya.


"Dapat, seperti yang Mama mau." jawab Romi sambil menunggu antrian nasi putih yang masih berada ditangan Papanya.


"Pintar, tidak seperti Sosa." kata Intan terkekeh menggoda Sosa.


"Iya, kapan sih aku lebih pintar dari Romi, anak kesayangan Mama."


"Ngambek..." Romi terkekeh melihat ekspresi Sosa.


"Iya kan Romi anak kesayangan Mama?" tanya Sosa lagi pada Mama. Intan tertawa saja tidak menjawab.


"Tuh kan benar. Naka kita kerumah Ame saja." kata Sosa pura-pura merajuk.


"Coba saja kalau mau dicoret dari kartu keluarga." jawab Intan menyeringai jahil.


"Kapan makannya ini, ribut terus." sungut Romi yang sudah kelaparan.


"Kasihan loh Ma, dia dari luar kata." Sosa langsung terbahak, Anto menggelengkan kepalanya saja, selalu saja ribut tidak jelas Sosa dan Mamanya, kalau berjauhan saling mencari tidak bisa berpisah lama. Mereka mulai menikmati makan malam bersama, jarang-jarang sejak Romi menikah dan pindah kerumah mertuanya mereka bisa seperti sekarang.


"Kami menginap ya." ijin Romi pada Papa dan Mamanya setelah selesai makan malam.


"Tumben." Intan tersenyum lebar, tentu saja senang, bisa ngobrol panjang dengan anak menantu malam ini. Tidak melulu menonton Drama Korea.


"Aku capek." jawab Romi apa adanya.


"Begitu saja capek. Manja lu." celutuk Naka tertawakan Romi, keluar kota balik hari hal yang paling sering Naka lakukan saat ini.


"Memang." jawab Romi terkekeh.


"Rom, mau bicara dimana?" tanya Anto pada Romi, membahas masalah pekerjaan terkadang tidak konsen jika ada istrinya, ada saja kelakuan Intan yang membuatnya gemas.


"Disini saja." sahut Intan cepat, Anto tertawa geli.


"Sudah mau punya cucu masih saja lucu.". kata Anto beranjak dari kursi makan sambil memberi kode pada Romi agar pindah posisi.


"Sok rahasia, padahal Mama tahu semua."


"Apa sih yang Mamaku tidak tahu, ajak Anggie nonton drama tuh, Ma." jawab Romi tersenyum lebar pada Mama dan istrinya. Lalu mengikuti langkah Papanya menuju ruang kerja.


"Naka, ayo." ajak Anto melihat Naka belum bergerak.


"Loh, Naka ikut juga?" tanya Naka bingung.


"Ini ada hubungannya dengan Burhan Company." jawab Anto, Naka tersenyum pada Sosa dan Mama mertua lalu memonyongkan mulutnya pada Anggita. Dasar Naka masih saja begitu, padahal Anggita sudah tidak pernah mengganggu Naka lagi sejak menjadi istri Romi.


"Kenapa tuh Naka." Mama Intan tertawa melihat perlakuan Naka pada sepupunya yang sekarang menjadi kakak Iparnya.


"Kesal mungkin, disini dia jadi adikku." jawab Anggita asal, Sosa dan Intan langsung saja terbahak mendengarnya.


"Bagaimana kabar Mommy?" tanya Intan pada Anggita.


"Sehat, Ma. Kapan yuk kita kumpul semua Ma." ajak Anggita.


"Atur saja, Nggie. Jangan lupa bikinkan Mama puding orens andalan kamu itu ya."


"Hahaha Mama, aku cuma bisa itu."


"Tidak apa, hanya bisa itu tapi bisa diandalkan. Dari pada bisa bikin banyak jenis tapi rasanya tidak karuan." Intan melirik Sosa.


"Memangnya kamu bisa bikin apa saja?"


"Tidak ada, aku cuma bisa makan." jawab Sosa nyengir lebar. Intan menoyor dahi Sosa sambil tertawa.


"Untung saja Naka tidak banyak menuntut, dikasih Sosa makan apa saja mau. Padahal rasanya tidak karuan."


"Ck... Mama sendiri yang bilang tidak harus pintar masak untuk menjadi istri." Sosa berdecak kesal.


"Loh memang kan, buktinya Mama tidak bisa masak, Papa tidak komplen tuh."


"Berarti Papa sama seperti Naka tidak banyak menuntut. Berarti aku seperti Mama, iya kan." Sosa menaikkan alisnya membuat Intan kembali menoyor dahi anaknya.


Mereka kembali membahas hal receh yang tidak penting, ada saja yang membuat Anggita tertawa, suasana dirumah Romi dan dirumah Anggita kurang lebih saja, jika di rumah yang rusuh Wilma, Maka disini yang rusuh Mama mertuanya. Anggita jadi membayangkan Wilma dewasa kurang lebih saja seperti Mama Intan, jadi Anggita tertawa sendiri dengan penilaiannya.


"Sosa, Anggie... kapan kalian kasih Mama cucu?" tiba-tiba saja pembicaraan Mama jadi serius.


"Aku tahun depan deh Ma, sekarang Naka masih sibuk meringis usahanya, belum lagi Ame masih butuh perhatian kita." jawab Sosa sesuai pemikirannya.


"Sarah saja sudah hamil."


"Iya itu kan Sarah bukan aku." Sosa terkekeh.


"Naka juga maunya tahun depan, mau pacaran dulu kami."


"Kamu, Nggie?"


"Aku siapa kapan saja jika Allah mengijinkan Ma." jawab Anggita membuat Intan tersenyum lebar.


"Mama doakan biar cepat hamil."


"Aku juga maunya begitu." Anggita tersenyum.


"Jangan dibawa stress tapi ya. Mama juga terserah Allah kok, tidak akan menuntut kamu harus punya anak secepatnya." kata Intan kemudian, Anggita jadi terharu.


"Senang sekali punya Mama bijaksana." kata Sosa bangga pada Mama.


"Ma, mau cucu berapa memangnya?"


"Kamu dua, Romi dua." Eh seperti apa saja dijatah masing-masing dua anak, Sosa dan Anggita tertawa mendengarnya.


"Dijatah sih seorang dua." Sosa terkikik geli.


"Hahaha memangnya es krim." Mama terbahak , seru sekali.


"Iya Mama sih, terserah Allah gitu dong Ma."


"Loh kamu kan tanya Mama mau berapa. Kan boleh minta berapa saja." sahut Intan kemudian memanggil Bibi untuk membereskan meja makan.


"Semuanya terserah Allah pokoknya mau berapa yang penting dapat cucu."


"Cepat tua loh kalau punya cucu, Nenek Intan... halo Nenek Intan." Panggil Sosa pada Mamanya.


"Iya tidak mesti dipanggil Nenek juga Sosiaaa." Mama mulai rombeng lagi saja suaranya.


"Mama mau dipanggil Apa, Oma ya?" tanya Anggita pada Intan.


"Panggil Mama saja seperti kalian." jawab Mama.


"Terus panggil aku Kakak gitu?" tanya Sosa konyol.


"Panggil kamu Nenek." jawab Intan terkekeh.


"Ih Mama, masa aku dipanggil Nenek sama anakku." protes Sosa.


"Karena kamu cerewet seperti nenek-nenek." sahut Romi yang sudah selesai bicara dengan Papa dan Naka.


"Naka, memang aku cerewet?" tanya Sosa pada suaminya.


"Pasti dia bilang tidak lah, kalau bilang Iya bisa dipanggil Kakek juga." jawab Romi, sama saja seperti Intan suka sekali menggoda Sosa.