Never Say Never

Never Say Never
Mendekati Mami



"Aku sudah bilang sama Papa dan Mama, tidak mau menikah sama Romi." adu Lembayung pada Steve via telepon.


"Bagaimana tanggapannya?" tanya Steve penasaran.


"Disuruh Istikharah dulu, dikira Papa, aku lagi emosi." jawab Lembayung.


"Hanya Mama agak keberatan deh. Dia bilang tidak enak sama Mama Intan. Padahal Mama Intan sudah tahu." Lembayung terkekeh.


"Berarti sudah mulai terurai, semoga bisa selesai sebelum satu bulan, kasihan Romi." kata Steve menarik nafas lega.


"Nanti aku bujuk Anggita. Sayang, akhir minggu ini Atan menikah." Lembayung menyebut Arkana dengan panggilan kecilnya.


"Iya, Atan sudah bilang. Tapi aku tidak bisa pulang sayang, banyak sekali pekerjaanku disini. Kalau kita sudah menikah, kemungkinan kita tinggal di S'pore bagaimana? Mama dan Papa kamu setuju tidak ya?" tanya Steve pada Lembayung.


"S'pore dekat, hanya satu jam sampai." jawab Lembayung cepat.


"Aku lapor Romi dulu deh." kata Lembayung kemudian.


"Aku saja yang lapor, kamu tidak usah telepon Romi." kata Steve cepat.


"Kenapa?" tanya Lembayung heran.


"Aku cemburu." Lembayung terkekeh mendengar jawaban Steve. Senang sekali mendengar Steve cemburu. Lembayung pun mematikan sambungan teleponnya. Ia akan melihat kondisi Mami Regina, semoga baik-baik saja


"Mami sedang apa?" sapa Lembayung saat masuk ke rumah Regina, tampak Regina berbaring sendiri di sofa.


"Kenapa, Yu?" tanya Regina bangkit dari sofa.


"Tidak, kangen saja sama Mami." jawab Lembayung tersipu, bagaimana mau marah sama gadis polos satu ini, senyumnya begitu menawan, membuat Regina meleleh.


"Mami juga kangen, kamu seminggu ini tidak pernah main ke sini." kata Regina akhirnya.


"Aku pikir Mami sama Papi lagi repot karena baru datang kan. Makanya aku tidak kesini. Papi mana, Mi?" tanya Lembayung mencari keberadaan Mario.


"Lagi ke rumah Opa, biasa deh pegawai disana harus di kontrol sejak Fauzi ditarik ke S'pore." kata Regina menjelaskan. Lembayung menganggukkan kepalanya.


"Jadi Mami sendiri, Bi Neneng masih di kampung ya?" Lembayung mulai menuju dapur, melihat adakan makanan tersedia untuk Mami, ia ingat Mami ada asam lambung. Tidak ada makanan di meja makan.


"Iya, rencana hari ini baru datang. Kamu mau makan? Mami tidak masak, lagi tidak semangat." kata Regina pada Lembayung.


"Mami maafkan aku ya." kata Lembayung duduk dilantai didekat kaki Regina.


"Kamu kenapa Ayu. Ayo bangun, duduk dikursi." Regina berusaha membangunkan Lembayung.


"Mami aku sangat mencintai Steve, mohon restui kami." kata Lembayung memeluk kedua kaki Regina, bersandar di lututnya.


"Ayu, bangun dulu sayang, jangan begini." kata Regina lagi lemah lembut.


"Ayu tidak ada hubungan apapun dengan Romi, Mami. Steve bukanlah perusak hubungan Ayu dan Romi." Lembayung menjelaskan.


"Kalian bertiga, eh berempat rasanya ingin sekali Mami jewer." kata Regina terkekeh pada Lembayung. Ia senang saja jika Lembayung yang menjadi menantunya nanti.


"Mami sudah tahu?" tanya Lembayung bingung.


"Tahu apa?" pancing Regina.


"Aku dan Steve, Romi dan Anggita?" Lembayung tersenyum malu. Regina menganggukkan kepalanya.


"Steve bilang sama Mami?" tanya Lembayung lagi.


"Bukan."


"Mami tahu dari mana?" tanya Lembayung penasaran.


"Mama Intan." jawab Regina terkekeh, Lembayung menutup mulutnya.


"Mama Intan marah tidak?" tanya Lembayung kemudian.


"Mana Mami tahu, mungkin marah, Mami saja ingin menjewer kamu rasanya." kata Regina bersiap menjewer Lembayung.


"Aduh sakit Mami." teriak Lembayung padahal tangan Regina belum mengenai kupingnya. Regina terbahak,


"Dasar Andi. Kamu tuh persis sekali dengan Papamu ya, orang tidak bisa marah sama kalian." dengus Regina membuat Lembayung terbahak.


"Biarkan saja, Steve membuat Mami Shock. Biar saja dia Mami terapi dulu. Awas saja kalau kamu lapor Steve, Mami pura-pura marah." ancam Regina pada Lembayung. Lembayung terbahak jadinya.


"Jadi Mami restui aku sama Steve ya." Lembayung ingin tahu jawaban Regina.


"Tergantung, Papi setuju apa tidak." jawab Regina jujur.


"Aku mau saja bicara sama Papi, tapi kata Steve Mami belum siap." Lembayung menghela nafas.


"Iya, jangan sekarang. Papi masih sibuk juga dengan pekerjaannya, juga membantu Popo Erwin mempersiapkan pernikahan Atan dan Chico."


"Mereka menikah dihari yang sama, Mi?" tanya Lembayung.


"Tidak, selisih dua minggu, Chico nanti setelah Atan." jawab Regina.


"Mami mau makan apa, aku pesan online ya? Mami jangan telat makan." Lembayung begitu perhatian pada Regina.


"Apa Steve yang meminta kamu perhatikan Mami seperti ini?" tanya Regina pada Lembayung.


"Ih Mami, aku kan dari dulu perhatian, Mami lupa ya?"


"Lupa seketika begitu tahu kamu dan Steve berpacaran." kata Regina membuat Lembayung terkekeh.


"Maafkan aku dan Steve, Mami." Lembayung kembali meminta maaf.


"Apa Papa dan Mama kamu tahu soal ini, Yu?" tanya Regina, ia sudah membuka hati menerima Lembayung menjadi pasangan anaknya.


"Aku sudah bilang Mama dan Papa kalau aku tidak mau menikah dengan Romi." jawab Lembayung jujur.


"Lalu?"


"Papa minta aku istikharah, intinya Papa tidak akan memaksakan karena aku yang menjalankan." Regina terkekeh mendengarnya.


"Tapi Mami, aku belum bisa sebut nama Steve." kata Lembayung kemudian.


"Kenapa begitu?" tanya Regina.


"Papa maunya suami aku yang seIman. Aku belum bisa cerita banyak soal Steve karena Papi belum tahu. Kalau Papi tahu dari Papa pasti Papi kecewa." jawab Lembayung menghela nafas, Regina menganggukkan kepalanya setuju.


"Sabar saja. Mami restui kalian, jika Papi juga merestui." Regina menepuk bahu Lembayung.


"Terima kasih Mami." Lembayung memeluk Regina erat, senang sekali Mami mendukung walau belum sepenuhnya.


"Sama-sama, Sayang." Regina balas memeluk Lembayung erat dan mengusap bahu Lembayung dengan lembutnya.


"Ada apa ini, So sweet betul kalian kulihat." Regina dan Lembayung sampai tidak menyadari Mario sudah ada diantara mereka.


"Papi sudah pulang." Lembayung tersenyum manis pada Mario.


"Manis betul calon menantu Anto nih." Mario terkekeh menggoda Lembayung.


"Bukan." jawab Lembayung sementara Regina membesarkan bola matanya menatap Lembayung. Ia tidak mau Lembayung keceplosan, biar saja nanti Steve yang menjelaskan pada Mario.


"Bocah, main bukan saja." Regina kemudian terkekeh mengacak anak rambut Lembayung. Mario ikut terkekeh.


"Honey aku tidak masak, kamu mau dipesankan apa?" tanya Regina pada suaminya.


"Makan diluar saja yuk." ajak Mario, Regina menganggukkan kepalanya setuju.


"Kamu ikut, Yu?" tanya Mario pada Lembayung.


"Tidak usah, Mami saja berdua Papi." jawab Lembayung tidak enak, lagi pula misinya sudah selesai, mendekati Mami.


"Ikut saja, ayo. Ajak Mama dan Papamu juga." kata Mario pada Ayu.


"Memangnya Papi sudah tidak sibuk?" tanya Lembayung.


"Ini kan Weekend, tadi sibuk sebentar saja." jawab Mario senang hati melihat Lembayung, seperti memiliki anak perempuan.


"Aku ganti baju dulu dan kasih tahu Papa Mama." ijin Lembayung, Mario dan Regina mengiyakan.