Never Say Never

Never Say Never
Pesan Tiket



Pagi hari saat Romi sudah bersiap berangkat ke kantor,


"Rom, kamu lama dikantor?" tanya Anggita pada Romi, mereka masih berada di kamar saat ini.


"Kenapa?" tanya Romi merapikan gulungan kemejanya sambil berkaca.


"Kalau lama, aku masuk kantor saja ya." Anggita meminta ijin suaminya.


"Mau aku antar?" Romi memberikan pertanyaan tanda ia mengijinkan Anggita untuk masuk bekerja, Romi belum tahu berapa lama meeting akan berlangsung nanti, biasanya paling cepat sampai jam dua belas siang, tapi Romi ingin membereskan semuanya hari ini, agar liburannya bersama Anggita nanti tidak terganggu.


"Nanti aku jemput selesai briefing." kata Romi lagi. Anggita terkekeh, walaupun itu perusahaan Daddy Leo tapi tetap saja ada aturannya.


"Kalau kamu selesai jam dua belas berarti jemput aku jam satuan begitu?" tanya Anggita, Romi menganggukkan kepalanya.


"Tidak enak sama yang lain kalau begitu." sungut Anggita.


"Kenapa tidak enak?" Romi sedikit bingung, pikirnya bebas saja mau datang dan pulang jam berapa selama pekerjaan sudah diselesaikan.


"Perusahaan kan ada aturannya." Anggita menjelaskan pada suaminya.


"Tapi kan sebenarnya kamu masih cuti." Romi mendekati Anggita dan mencium dahi istrinya itu.


"Hehehe cuti dadakan dan bertambah pula." Anggita tertawa mengalungkan tangannya dileher Romi.


"Jangan pancing aku sayang, kamu tahu aku harus briefing jam sembilan." Romi ******* bibir Anggita, tidak mau dipancing tapi malah beraksi dengan sukarela.


"Jadi bagaimana, mau masuk kantor apa tidak?" tanya Romi setelah melepas ciumannya, matanya tampak sayu kini.


"Kalau masuk setengah hari lebih baik tidak usah, kasihan Daddy nanti kasih aku banyak kerjaan malah tidak selesai." kata Anggita berjalan mengiringi suaminya keluar kamar.


"Loh, kamu sudah masuk, Rom?" Daddy Leo tampak heran begitu melihat Romi sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"Aku ada briefing sebentar, Dad. Lagi pula kami berencana akan ke Phi Phi Island setelah dari S'pore, Rabu baru kembali Ke Jakarta, jadi aku selesaikan urusan kantor dulu hari ini." Romi menjelaskan, ikut duduk dimeja makan bersama keluarga istrinya.


"Oh, kamu tidak mau seperti Romi, sayang? selesaikan dulu pekerjaan kamu hari ini. Besok kalian sudah berangkat ke S'pore kan?" Leo memandang Putri sulungnya, sementara si bungsu Wilma sudah berangkat ke sekolah dari tadi dengan bekal sarapan untuk dimakan dimobil.


"Apa tidak masalah jika aku pulang lebih cepat nanti, Dad?" Anggita meminta ijin Leo.


"Kalau sudah selesai, kenapa tidak?" Leo terkekeh, putrinya ini selalu menganggap dirinya sebagai karyawan pada umumnya, menurut Anggita lebih baik tidak masuk sama sekali dari pada masuk tapi terlihat seenaknya.


"Ya sudah kalau begitu aku ke kantor hari ini." Anggita tersenyum pada suaminya.


"Berangkat sama Daddy saja, kasihan Romi harus mutar lagi." kata Leo pada Anggita.


"Nanti kamu jemput ya." pinta Anggita manja, tentu saja membuat Liana dan Leo tersenyum saling berpandangan. Anggita tidak lagi merengek pada Leo sekarang, sudah ada Romi yang dengan senang hati menerima segala rengekan suaminya.


Romi tiba di kantor tepat pukul sembilan pagi, ia langsung saja ke ruang briefing karena Vita bilang semua sudah menunggu disana. Romi menyapa semua karyawannya dengan ramah, itu sudah hal yang biasa, boss yang menyenangkan tapi bisa menjadi sangat menyeramkan kalau sudah marah.


Sementara Romi di ruang rapat, Oma Mega datang ke kantor bersama Opa. Ia tersenyum manis saat melihat Vita.


"Romi sudah masuk?" tanyanya saat melihat Romi sedang memimpin rapat.


"Hanya hari ini, besok rencana ke spore acara Steve." jawab Vita yang sangat kenal dekat dengan Opa dan Oma.


"Vita, Romi dan Anggita ke S'pore kapan?" tanya Opa ingin tahu.


"Tadi sih minta dipesankan tiket untuk Pak Romi dan teman-temannya besok pagi." jawab Vita apa adanya.


"Pesankan juga untuk Opa dan Oma, pesawat yang sama." kata Oma Mega pada Vita, Vita tidak heran, Opa dan Oma juga kenal dekat dengan keluarga Steve.


"Pulangnya mau kapan, Oma?" tanya Vita sopan, ia sudah biasa memesankan tiket untuk keluarga Romi, sehingga data sudah ditangannya.


"Samakan dengan Romi." sahut Opa terkekeh, rencana apa lagi ini.


"Romi sabtu lanjut ke Phi Phi Island dan kembali ke Jakarta hari Rabu." Vita menjelaskan, karena siapa tahu Opa dan Oma akan pulang ke Jakarta lebih dulu.


"Kami ikut ke Phi Phi Island tapi kami pulang ke Jakarta hari senin." kata Oma Mega mengingat setiap selasa ia ada kajian rutin.


"Vit, jangan bilang-bilang Romi dan Anggita, biar saja jadi kejutan." kata Opa segera mengajak Oma masuk ke ruangan Romi.


"Hahaha Pak Romi ditemani honeymoonnya." Vita tertawa geli, ada saja kelakuan Opa dan Oma.


"Enak saja, kami juga mau thousand honeymoon Vita, memangnya pengantin baru saja yang bisa honeymoon. Nanti kamu juga kalau sudah menikah setiap tahun minta suami kamu ajak kamu bulan madu." kata Oma mengajarkan Vita.


"Doakan suamiku bisa sekaya Opa ya, Oma." jawab Vita sambil terkekeh, membayangkan berapa kejutan yang akan Romi dapatkan dari Opa dan Oma nanti.


Selesai briefing, Romi menghampiri Vita keruangannya, ia tidak langsung masuk keruangan, karena belum tahu Opa dan Oma ada didalam.


"Vit, tiket bagaimana, beres?" tanya Romi pada sekretaris.


"Beres dong, kamu dan sahabat tampanmu beserta pasangan sudah siap tiketnya, Steve dan Raymond ikut ke Phi Phi Island, sikembar langsung pulang ke Jakarta sabtu sore." Vita menjabarkan data dan jadwal tiket yang sudah dipesannya.


"Oke ada lagi yang harus dikerjakan tidak? gue mau kekantor Anggie." tanya Romi pada Vita.


"Tidak ada, Budi sama Bona beres, Rom?"


"Beres, gue kasih deadline tiga hari, kalau tidak selesai potong komisi, Vit." tegas Romi, Vita menganggukkan kepalanya.


"Didalam ada Opa dan Oma." kata Vita kemudian, supaya Romi tidak langsung pulang, bisa berabe kalau tidak ditemui cucu tersayang.


"Oke. Vit, sudah baca email gue? nanti ada tagihan dari showroom mobil, tolong ditransfer pakai alokasi dana Sossa, sisanya ambil dari dana gue." perintah Romi pada Vita.


"Mobil baru lu?"


"Sossa buka gue." Romi terkekeh, ingat adiknya yang selalu berhasil membuat Romi menguras isi tabungannya dengan cara apapun. Kedepannya Romi harus bikin alokasi dana Anggita supaya tidak tercampur aduk dengan keinginan Sossa. Walaupun adiknya sudah punya suami entah kenapa Romi selalu saja ingin membahagiakan adiknya itu. Semoga saja Anggita tidak cemburu.


"Assalamualaikum Oma dan Opa sayang, duh bermesraan jangan diruangan Romi dong." sapa Romi saat melihat Oma menggelendot manja dibahu Opa.


"Waalaikumusalaam, hebat baru menikah sudah masuk kerja." Opa senyum bangga melihat cucunya.


"Ada masalah sedikit, tadi Romi clearkan. Besok Romi ke S'pore satu malam." kata Romi pada Opanya.


"Oh ya ke acara Santoso ya."


"Opa kesana juga?" tanya Romi.


"Lihat Sikon." jawab Opa sok acuh.


"Harus datang loh Opa, Opa Santoso kan teman bisnis Opa dulu." Romi mengingatkan Opanya.


"Iya kan Opa bilang lihat Sikon, cerewet sekali." kata Opa pura-pura marah.


"Hmm... makan garam kebanyakan ya tadi pagi, sudah marah-marah saja." Romi terkekeh menggoda Opanya. Oma dan Opa jadinya ikut tertawa.


"Makan siang yuk." ajak Oma pada cucunya.


"Ajak Papamu juga." kata Oma lagi.


"Oh iya, Romi belum bertemu Papa." Romi segera menghubungi Papanya mengajak makan siang bersama Opa dan Omanya. Tidak lama Anto pun muncul diruangan kerja Romi.


"Mama dan Papa dari tadi?" tanya Anto tersenyum senang melihat kedua orang tuanya.


"Baru saja, ayo." ajak Oma tidak sabar.


"Aku jemput Anggita dulu ya, makan dimana sih, nanti aku menyusul." kata Romi pada Oma dan Opanya.


"Suruh supir Papamu yang jemput Anggita, kita langsung saja ke Hotel C." kata Oma yang selalu saja makan dihotel, padahal Romi lebih senang jika diajak ke restaurant biasa.


"Opa tidak mau makan nasi padangkah? makan dihotel terus." keluh Romi pada Oma dan Opanya.


"Tiap hari sudah makan nasi padang, sekarang makan di hotel saja, Oma sudah buat janji sama teman Oma disana." kata Oma tidak mau merubah haluan, mau tidak mau Romi mengikuti.


Ia pun menghubungi istrinya mengabarkan jika nanti yang menjemput supir Papa, mereka akan bertemu di Hotel C seperti kemauan Oma dan Opa.