
"Belanja apa?" tanya Romi saat melihat Anggita memindahkan barang-barangnya dari mobil Sosa.
"Baju kamu." jawab Anggita tersenyum penuh makna.
"Baik sekali sih belikan suami baju." Romi terkekeh, sudah bisa menebak jika baju untuk Romi satu atau dua sementara belanjaan Anggita bisa lebih dari itu. Istrinya hobby sekali shopping padahal lemari dirumahnya sudah penuh sesak.
"Minta rumah kecil, tapi isi lemari membludak, kalau kamu begini terus isi rumah kita nanti bisa lemari saja semua." komentar Romi menggelengkan kepalanya.
"Iya habis ini janji tidak belanja lagi." Anggita membuat Romi tertawa.
"Yakin? tidak belanja lagi?" Romi menggoda istrinya.
"Hahaha semoga." jawab Anggita membuat Romi mencubit pipinya gemas.
"Kamu sudah makan, sayang?" tanyanya pada Anggita.
"Nanti saja dirumah, tadi sih di Mal sudah." jawab Anggita tidak sabar ingin buru-buru pulang, ia ingin mencoba barang yang dibelinya tadi.
"Pamit dulu sama Bunda, tadi aku makan disini, Bunda masak sop kesukaan aku." kata Romi pada istrinya.
"Kamu merepotkan Bunda."
"Bunda senang kok, Sayang... Raymond ternyata belum pindah, hanya tugas beberapa hari di Malang." Romi menjelaskan karena salah mengerti.
"Ah, aku kira sudah pindah. kapan Raymond dan Roma pulang?"
"Lusa, tapi besok kita mau makan sore disini, janjian sama yang lain." kata Romi lagi.
"Kok?"
"Arkana dan Chico kangen masakan Bunda." Romi terkekeh.
"Eh apa sih bunda-bunda, sini ngobrol didalam, tidak bosan berduaan terus." celutuk Monik pada keponakannya.
"Hahaha Anggie bilang aku merepotkan Bunda makan disini." Romi menjelaskan.
"Mana ada merepotkan, senang malah ada yang makan." kata Kiki terkekeh.
"Kamu ikut kan besok, Nggie?" tanya Kiki.
"Ikut Bunda." jawab Anggita tersenyum.
"Kamu juga ikut ya Sos." Kiki memandang Sosa.
"Iya dong Bunda, meskipun Naka tidak hadir, Aku tetap ikut." jawab Sosa semangat. Kiki tersenyum senang, besok anak-anak akan berkumpul dirumahnya, walaupun membuatnya sedikit sibuk.
Romi pun pamit pulang setelah ngobrol sebentar dengan Bunda, Mami dan Mamanya. Mama masih betah dan belum mau pulang, jadilah Sosa menunggu Mama sambil ikutan emak-emak merumpi.
"Sayang, besok sebelum ke rumah Bunda kita lihat rumah dulu ya." kata Romi dalam perjalanan pulang.
"Sekarang saja." ajak Anggita penasaran.
"Sudah terlalu sore." tolak Romi.
"Lewati saja, aku mau lihat." pinta Anggita sedikit memaksa.
"Baiklah." Romi menuruti keinginan istrinya, melewati rumah yang akan mereka beli.
"Bagaimana?" tanya Romi begitu melewati rumah mungil dengan halaman yang luas, tampak tulisan dijual di pagarnya.
"Ok, tidak terlalu jauh dari kantor dan rumah Mama." jawab Anggita setuju.
"Kalau mau lihat dalam mesti sesuai perjanjian." Romi menjelaskan.
"Kamu saja yang lihat, aku ikuti suami deh." jawab Anggita tersenyum, yang penting lokasi dan persyaratan awal sudah sesuai keinginan Anggita.
"Ok sayang, nanti aku minta Vita urus semuanya, nanti kalau harus ke notaris aku konfirmasi kamu. Ada beberapa yang mesti di renovasi juga, dua bulan cukuplah, jadi bulan ketiga kita bisa pindah dari rumah Mommy dan Daddy." Romi tersenyum senang istrinya setuju dengan rumah yang dipilihnya.
"Sayang, aku tidak bisa masak." kata Anggita menyeringai.
"Memangnya aku minta kamu masak? sekarang semua mudah tinggal pesan." jawab Romi santai.
"Nanti kita cari asisten yang pulang hari saja." kata Romi kemudian.
"Ya." Anggita mengangguk setuju.
"Kalau mau bikin kolam renang masih ada tanah dibelakang."
"Atur saja sayang, yang penting rumahnya tidak bertingkat." jawab Anggita, banyak sekali persyaratannya.
"Kenapa tidak mau bertingkat, itu kecil loh, aku inginnya sih bertingkat."
"Biar kita kumpul semua dibawah, kalaupun anak-anak kita nanti ada dikamar aku tidak naik turun mengawasinya." kata Anggita berhayal segera punya momongan.
"Sebentar, aku mikir dulu, mesti di design ulang sepertinya." kata Romi sambil berpikir, bagaimana caranya bisa tercapai sesuai kemauan istrinya.
"Deal-dealan dulu saja baru pikirkan design."
"Aku sudah kasih tanda jadi." Romi terkekeh.
"Kamu sudah kasih tanda jadi baru minta pendapat aku soal rumah itu." Anggita tertawa sambil memukul bahu suaminya, untung saja Anggita menyukai pilihan Romi.
"Sayang, makasih ya." kata Anggita kemudian.
"Makasih apa?" Romi terkekeh.
"Mau ikuti keinginan aku, rumah kecil halaman luas dan tidak bertingkat."
"Cium dong."
"Aku kasihan deh sama Sosa." kata Anggita kemudian.
"Kenapa dia?"
"Naka itu terlalu acuh, tidak perhatian. Untung saja Sosa mandiri."
"Memang sudah dari dulu Naka begitu, kamu saja sampai tergila-gila sama Naka kan." Romi terkekeh.
"Ish, kagum bukan tergila-gila."
"Sama saja. Acuh itu memang kelebihan Naka. Yang penting dia setia, tidak macam-macam diluar. Sosa saja tidak sadar Naka itu selalu mengawasi istrinya meskipun jauh."
"Tapi kan istri juga perlu diperhatikan langsung oleh suami."
"Aku kan perhatikan kamu sayang."
"Iya, aku kan sedang bahas Naka dan Sosa."
"Biarkan saja, urusan mereka." Romi terkekeh.
"Sosa tidak menangis kan?"
"Tidak hanya kesal saja."
"Biar saja Sosa yang komplen langsung pada Naka, kamu cukup dengarkan Sosa jangan ikut campur." pesan Romi pada Anggita.
"Baru mau ku telepon Naka."
"Tidak usah." tegas Romi, Anggita terkekeh.
"Naka sepupuku, jangan cemburuan."
"Masalahnya kamu pernah jatuh cinta sama Naka."
"Haha itu cinta monyet."
"Tuh kan, jangan urus rumah tangga Naka, urus saja suamimu ini."
"Iya-iya."
Romi memarkirkan kendaraannya, mereka sudah tiba dirumah orang tua Anggita.
"Belanja apa, pesanan gue mana Kak?" teriak Wilma adik Anggita.
"Kamu pesan apa memangnya?" tanya Anggita acuh.
"Ah gitu kan, padahal tadi sudah gue telepon." keluh Wilma mengerucut.
"Istri Bang Romi pelit sekali." adunya pada Romi.
"Kamu titip apa?" tanya Romi terkekeh.
"Baju, celana, tas, sepatu." katanya pada Romi.
"Beli sendiri dong." kata Anggita menjulurkan lidahnya.
"Ah, Mommy boleh tukar kakak tidak, aku jadi anaknya Ame saja deh." kata Wilma pada Liana.
"Tukar Mommy itu sih bukan tukar kakak." Anggita terbahak.
"Tidak mau jadi anak Mommy lagi?" Liana mendelik pura-pura marah.
"Sekalian saja minta tukar Daddy." kata Anggita lagi.
"Coret saja namanya dari kartu keluarga." sambung Liana membuat Wilma meringis. Romi terkekeh, Wilma memang konyol tapi lucu.
"Hanya gara-gara titipan namamu mau dicoret." kata Romi tertawa.
"Iya keluarga macam apa ini, mestinya kan aku sebagai anak bungsu itu diperhatikan, disayang dan dimanja.'
"Daddy..." Wilma melompat saat melihat Leo masuk ke rumahnya, ia baru saja pulang kerja.
"I miss you dad." katanya. bermanja-manja pada Leo.
"Miss u too babe, mau apa nih?" tanya Leo.
"Minta tukar Mommy dia." lapor Liana.
"Wah kenapa ditukar?" Leo terkekeh.
"Sebenarnya mau tukar kakak, aku mau jadi anak Ame saja." kata Wilma.
"Anak sama Daddy sama kan, penggemar Ame." kata Liana menggelengkan kepalanya.
"Hanya karena titipannya tidak kubelikan, adik macam apa ini." protes Anggita.
"Daddy aku titip baju, celana, sepatu, tas. Tapi Kak Anggie tidak belikan. Kalau aku pesan sama Abang Naka, Bang Atan dan Bang Chico pasti langsung dibelikan, makanya aku mau jadi anak Ame."
"Besok Daddy yang belikan." kata Leo mengacak anak rambut Wilma bungsunya yang selalu membuat rumah ramai tidak pernah sepi.
"Ini titipan kamu." Anggita menyerahkan paperbag pada Wilma.
"Makasih Daddy." katanya memeluk Leo.
"Eeh kenapa makasih Daddy?" protes Anggita membuat semuanya tertawa.