
Hari pertama Lembayung di S'pore setelah semalam mereka sampai dirumah Opa Santoso dan pagi ini Ayu bangun kesiangan, bukan karena Steve membuatnya lembur, tapi Ayu masih belum beradaptasi dengan lingkungan baru, sehingga ia baru bisa tidur setelah sholat shubuh. Sementara Steve entah berada dimana saat ini.
"Steve dimana?" tanya Ayu pada suaminya, ia enggan keluar kamar sendiri.
"Sudah tidurnya? sini sayang, aku lagi ngobrol sama Opa dan Oma, mau kesini kan?" tanya Steve yang rupanya sudah bersama Opa dan Omanya.
"Iya, arah mana?" tanya Ayu, ia segera beranjak dari kasurnya, setelah bangun tadi langsung mandi, tapi menunggu Steve tak kunjungi juga datang, perutnya sudah sangat lapar.
"Dari kamar belok kiri, ikuti saja lorongnya setelah itu belok kanan, ruangannya ada disebelah kanan." kata Steve pada Ayu."
"Ok belok kiri belok kanan sebelah kanan." Ayu seperti sedang menghafal apa yang Steve katakan, membuat suaminya terbahak.
"Gampang kok." katanya lagi.
"Takut nyasar." jawab Ayu polos.
"Kalau nyasar teriak saja, aku langsung muncul." lagi-lagi Steve terbahak, mana mungkin nyasar, seperti rumah Opa sebesar apa saja. Hanya 500 meter dan jika mengikuti lorong akan terlihat ruangan tamu berpilar lebar.
Benar saja, tanpa nyasar Lembayung sudah dapat menemui Steve beserta Opa dan Oma.
"Kamu tidak bisa tidur?" tanya Oma pada Ayu.
"Iya Oma, biasa begitu kalau ditempat baru semalam dua malam." jawab Ayu terkekeh.
"Nanti malam harus dipeluk sampai pagi, Oma yakin kamu akan tertidur pulas." jawab Oma tersenyum menatap Steve.
"Semalam aku peluk kok." jawab Steve terkekeh.
"Masa sudah dipeluk tidak bisa tidur, kurang mesra peluknya." kata Oma lagi.
"Hahaha memangnya yang mesra seperti apa?" Steve menyeringai jahil.
"Harus belajar sama Opa." jawab Oma terbahak, senang sekali rumah jadi lebih ramai karena ada Steve dan istrinya. Nanti kalau segera hamil pasti akan lebih ramai lagi.
"Oma betah disini dibanding di Jakarta ya?" tanya Ayu pada Oma.
"Kalau sudah biasa disini nanti kamu tidak akan betah di Jakarta." jawab Oma terkekeh.
"Masa sih Oma?"
"Itu buktinya Steve langsung mau diajak pindah kesini." jawab Oma pada Ayu.
"Oma tapi Ayu belum urus surat-surat kepindahan." Ayu tampak khawatir.
"Tenang saja itu urusan syaiful." sahut Opa pada Ayu.
"Baik Opa." jawab Ayu canggung, belum terlalu akrab dengan Opa dan Oma. Memang baru kali ini bertemu, karena Opa dan Oma jarang sekali ke Jakarta. Sekalinya ke Jakarta selalu di Rumah Utama.
"Mumpung Steve belum masuk kerja, kamu bisa ajak Steve jalan-jalan." kata Oma pada Ayu.
"Kemana ya?" Ayu tampak berpikir.
"Kemana saja asal berdua pasti senang." jawab Oma yang sedari tadi senang sekali menggoda Ayu.
"Kita jalan berempat saja yuk Oma." ajak Ayu pada Opa dan Oma.
"Wah mau kemana, seru juga Opa." kata Steve ikut membujuk Opa. Opa Santoso menggelengkan kepalanya.
"Kalian saja." katanya tersenyum pada keduanya.
"Kenapa?"
"Opa capek. Oma juga tidak boleh terlalu lelah. Pernikahan kalian kemarin membuat kami berpikir keras." jawab Opa mencucut.
"Pikirin apa yang keras-keras Opa?" tanya Steve konyol, langsung saja Oma tertawa.
"Ih Oma tertawa, memikirkan apa?" tanya Opa senyum-senyum jahil.
"Itu loh Steve kenapa bahasanya begitu sih. Pi, kemarin harusnya kita jangan pulang dulu ke S'pore, langsung saja ke Bali." kata Oma menyesal langsung pulang ke S'pore.
"Asik, betul loh Pa, kita temani Steve dan Ayu honeymoon." kata Oma terkekeh.
"Oma juga honeymoon sama Opa." Ayu balas menggoda Oma.
"Bikin Om atau Tante untuk Steve." kata Steve membuat Opa dan Oma tertawa.
"Lucu juga kalau Papimu dapat adik dari Opa dan Oma." Oma masih saja tertawa geli.
"Sanggup Mi?" tanya Opa pada Oma.
"Nanti biar Steve dan Ayu yang urus." kata Opa lagi, konyol sekali bercandaan keduanya, tapi mereka terlihat bahagia. Ayu jadi kepikiran selama ini Opa dan Oma hanya ditemani pegawai saja, sementara Papi Mario ke S'pore hanya dua minggu sekali.
"Ayu kamu sarapan lah, kami semua sudah duluan." kata Oma kemudian.
"Maaf Oma, Opa, Ayu kesiangan."
"Tidak masalah, tidak ada yang harus kamu kerjakan juga." kata Oma terkekeh.
"Steve ayo temani, Ayu." perintah Opa, dengan cepat Steve berdiri dan menarik tangan Ayu agar mengikutinya ke meja makan.
"Sayang kok ada lontong sayur?" tanya Ayu terkejut karena dipikirnya ia hanya akan sarapan roti jika tidak ada menu yang disukainya.
"Bibi tadi bikin. Mau makanan Indonesia apa saja Bibi bisa." jawab Steve bangga.
"Pantas saja kamu betah disini dan tidak pernah kangen makanan khas Indonesia setelah kembali dari S'pore." Ayu terkekeh.
"Sayang setelah sarapan mau kemana?" tanya Steve saat Ayu menyendok makanannya.
"Tidak tahu, ikut kamu saja mau kemana." jawab Ayu mulai menikmati lontong sayur buatan Bibi.
"Enak." katanya menganggukkan kepalanya lalu kembali menyuap, Steve jadi senyum sendiri memandang Ayu.
"Tadi kamu makan apa?" tanya Ayu kemudian.
"Sama, lontong sayur juga." jawab Steve.
"Kenyang?" tanya Ayu fokus dengan makanannya.
"Belum." Steve menggelengkan kepalanya. Ia terus saja menatap wajah istrinya.
"Ayo makan lagi." ajak Ayu, menyendok makanan lalu menyuapi suaminya, tapi Steve menggelengkan kepalanya.
"Tidak mau ini." jawab Steve menjauhkan kepalanya.
"Nanti pas kita keluar saja ya, cari makanan yang kamu suka." kata Ayu menyuapi dirinya sendiri.
"Makan kamu saja." jawab Steve mulai menciumi leher Ayu. Tangannya pun sudah bergerilya masuk kedalam piyama yang Ayu pakai.
"Sayang ini dimeja makan." jawab Ayu dengan suara tertahan, Steve betul-betul tidak dapat menahan hasratnya, ia sudah melepas kaitan pakaian dalam Ayu lalu tangannya bermain disana.
"Nanti ada yang lihat." Ayu tampak panik dan terpaksa menghentikan makannya, bagaimana bisa menikmati sarapannya jika suaminya terus bergerilya kesana kemari.
"Ayu sedang sarapan Steve, jangan diganggu." teriak Oma entah dari mana, rasanya tempat Oma dan Opa duduk cukup jauh dari ruang makan.
"Ah Oma mengganggu konsentrasi." sungut Steve, sementara Ayu tampak merah padam. Terdengar suara Oma terbahak.
"Kamu bikin malu saja." sungut Ayu mencubit perut Steve, ia kembali menikmati lontong sayurnya dengan susah payah. Malunya bukan kepalang, walaupun kondisinya Ayu yang diganggu oleh Steve.
"Oma tidak lihat Kita sayang, dia hanya jahil saja." Steve menenangkan Ayu yang tampak cemberut.
"Beneran aku tidak bohong, Oma memang suka bercanda. Mungkin Opa suka mengganggu Oma seperti aku tadi." kata Steve sok tahu.
"Memangnya kamu pernah lihat?" tanya Ayu ketus.
"Menurut kamu aku begini menuruni siapa?" tanya Steve mencium pipi Ayu gemas.
"Steve!!!" pekik Ayu pelan, bibirnya mulai mengerucut. Steve malah tertawa dan memeluk istrinya erat dan menciuminya bertubi-tubi. Dasar Steve, sepertinya Ayu tidak boleh terlambat makan bersama kalau begini caranya.