Never Say Never

Never Say Never
Puding Orens



keesokan harinya setelah suaminya ke kantor, Anggita segera memeriksa isi kulkas, hari ini ia sengaja tidak masuk kantor demi menyiapkan makanan yang akan dibawanya nanti sore ke rumah Bunda Kiki, Anggita tidak mau datang dengan tangan kosong.


Romi sudah bilang, beli saja dari pada repot, maksudnya dari pada tidak ada yang makan karena istrinya tidak bisa masak hahaha. Tapi rupanya Anggita hanya ingin puding orens andalannya, hanya itu yang Anggita bisa, Romi belum pernah mencobanya, tapi yang pasti seiisi rumah ini suka dengan puding orens buatan Anggita.


"Bikin puding sebentar saja, pakai tidak masuk kerja." Liana terkekeh melihat kesibukan anaknya yang berjongkok didepan kulkas.


"Aku belum belanja bahan bakunya juga Mommy, lagi pula tidak mungkin aku bikin hanya satu, aku mau bagikan untuk dibawa pulang." kata Anggita pada Mommy.


"Yang datang banyak?" tanya Liana.


"Teman-teman Romi saja, tanpa Raymond dan Steve, yang datang semua bisa menikmati pudingku di rumah masing-masing." Anggita tersenyum senang.


"Wah bisa-bisa pada pesan deh sama kamu."


"Hahaha aku tidak terima pesanan, Mommy kan tahu aku moody." Anggita terbahak.


"Kenapa sifat jelek Mommy menurun sama kamu sih, moody."


"Memang sifat Bagus Mommy apa?" tanya Anggita menggoda Mommy.


"Tanya Daddy lah, mana Mommy tahu." jawab Liana terkekeh, Anggita pun terkikik.


"Mommy mungkin dua bulan kedepan aku dan Romi akan pindah ke rumah baru." Anggita memberitahu Mommy rencana suaminya.


"Iya silahkan saja." jawab Mommy santai.


"Ish tidak ditahan, Mommy memang berharap aku dan Romi pindah ya." gerutu Anggita.


"Bukan begitu, Mommy Kasihan suami kamu, mati gaya dia disini." jawab Mommy terbahak.


"Mommy tahu ya, dia risih dan Salah tingkah?" Anggita ikut terbahak.


"Payahlah anaknya Intan, beda betul sama Mamanya yang gampang akrab sama siapa saja. Suamimu agak kaku ya?"


"Ih sebenarnya tidak kaku, hanya karena sungkan saja sama Mommy dan Daddy." Anggita menjelaskan.


"Seperti sama orang lain saja, anggap saja orang tua sendiri. Nanti rencana kalian mau pindah kemana?" tanya Liana lagi.


"Aku juga tidak tahu nama jalannya, hanya saja kemarin baru lewati saat pulang dari rumah Bunda Kiki. Tidak terlalu jauh sih di tengah antara rumah ini dan rumah Mama Intan."


"Bagus rumahnya?"


"Kecil hanya halamannya luas, yah seperti yang aku mau lah, aku tidak mau punya rumah sebesar rumah Mommy ataupun Mama Intan, anak-anak menikah semua pindah, sepi deh. Oma sama Opa juga begitu." Anggita nyerocos.


"Iya rumah kecil yang penting hati lapang. Sekecil apa sih?"


"Hahaha tidak tahu, Aku lupa bilang Rommy minimal lima kamar lah.Aku juga belum masuk kedalam Mommy. Aku mau ke supermarket Mommy ikut yuk." ajak Anggita pada Mommy.


"Untuk apa kamar sebanyak itu?"


"Kalau pada menginap kan enak ada kamar kosong." jawab Anggita.


"Ish mana ada rumah kecil Lima kamar, tidak bertingkat." Liana menggelengkan kepalanya.


"Yah kebutuhannya seperti itu, kalau punya anak nanti kan butuh kamar." Anggita beralasan.


"Tetap saja kalau mereka pindah kamarnya jadi kosong juga." Liana terbahak.


"Ah Mommy, ayolah ke supermarket." ajak Anggita lagi.


"Tumben minta ditemani."


"Pindah saja sudah, jangan pikirkan Mommy, seperti ke luar negeri saja pindahnya." Liana mengacak anak rambut Anggita.


Anggita dan Mommy Liana pun ke supermarket yang tidak jauh dari rumah mereka, membeli kebutuhan untuk puding yang akan Anggita beli. Dengan bantuan Mommy, Anggita memilih jeruk yang yang biasa ia gunakan sebagai salah satu bahannya.


"Kamu tidak beli gula?" tanya Liana.


"Tidak pakai gula, Mommy lupa? pudingku sugar free." Anggita terkekeh.


Mereka pun berjalan ke kasir, Liana juga membeli beberapa kebutuhan untuk dirumahnya, sekalian saja mumpung lagi di Supermarket, dari pada mondar-mandir.


"Mommy jeruknya kurang, aku ambil lagi ya?" Anggita minta ijin pada Mommy ya sementara Liana sedang berbaris antrian di kasir.


"Oke." jawab Liana santai. Untung saja belum dibayar, kalau sudah repot harus antri ulang.


"Apa kabar Liana?" seseorang menyapa Liana, membuatnya sedikit terkejut. Orang yang selama ini Liana hindari, mantan pacar Liana sewaktu menjadi model di Singapore. Itu lah kenapa Liana sangat menghindari negara tersebut, banyak kejahatan yang Liana lakukan bersama Sambada sewaktu menjadi managernya, dimana Sambada memanfaatkan Liana memperalat pria berduit yang akhirnya mereka gerogotu, Mario sahabat Liana salah satu korbannya.


"Kamu...?"


"Kaget? sudah lama tidak bertemu. Hidup bebas bahagia ya, sementara aku membeli di penjara." Sambada terkekeh.


"Kita sudah tidak ada urusan. Jangan ganggu aku lagi." tegas Liana sambil celingukan mencari Anggita.


"Kata siapa tidak ada urusan? aku tahu nasibku dipenjara karena ulah Burhan, pamanmu." desis Sambada menatap tajam pada Liana.


"Kamu akan terus ku awasi Liana, sampai waktu yang tepat kalian semua akan habis di tanganku." Sambada berlalu meninggalkan Liana yang masih terbengong, tidak menyangka akan kembali bertemu dengan masa lalu yang sangat ingin dihapusnya dari ingatan.


"Mommy, lama ya?" sapa Anggita berlari kecil mengejar Liana yang baru sedikit bergerak dari antrian tadi.


"Lumayan." jawab Liana sesantai mungkin, ia tidak mungkin bercerita pada Anggita yang tidak tahu cerita detailnya, sebaiknya memang tidak perlu tahu.


"Kenapa Mommy berkeringat? Mommy tidak enak badan?" tanya Anggita melihat Mommy sedikit pucat.


"Tidak, mungkin memang gerah."


"Sedingin ini Mommy." Anggita terkekeh.


"Nanti Mommy dan Wilma ikut ya, Mommy mau bertemu Ame." kata Liana pada Anggita. Enji sepupunya yang biasa dipanggil Ame oleh anak-anak tahu cerita detailnya. Dulu Erwin suami Enji dan Andi sahabatnya yang menjemput Liana dari pelarian saat diculik Sambada (sekelumit kisah Liana ada di Dear Angela).


"Oke Mommy, Ame lagi ada dirumah sini kah? aku juga kangen Ame."


"Ada." jawab Liana yakin karena kemarin mereka sudah bertukar kabar.


Sesampainya dirumah, Anggita langsung sibuk membuat puding andalannya, ia begitu fokus di dapur sampai tidak melihat suaminya yang sudah tiba dirumah satu jam yang lalu.


"Sibuk sekali, suami diabaikan." tegur Romi menghampiri Anggita di dapur.


"Sayang kamu sudah pulang?" Anggita menyambut suaminya dengan senyum merekah.


"Sudah satu jam." Romi bersungut.


"Maaf sayang, aku juga tidak lihat handphone lagi. Sudah makan?" Romi menganggukkan kepalanya.


"Kamu bikin apa?" Romi melihat kotak-kotak berjejer hampir sepuluh box.


"Puding orens andalanku, kamu pasti suka." wajah Anggita berbinar-binar. Hanya ada mereka berdua disana, Mommy sedari tadi berkurung saja dikamarnya, seperti sibuk menelepon entah bicara dengan siapa.


"Katanya tidak bisa masak." protes Romi


"Hanya ini yang kubisa. Puding orens sugar free." Anggita terkekeh, Romi ingin sekali memeluk istrinya tapi khawatir ada yang lewat, langsung saja menghela nafas, andai sudah pindah rumah. Hanya berdua saja tidak ada yang lain.