
Sebulan berlalu, usaha Anggita dan Anderson mendekatkan Juwita dan Om Lee jalan di tempat, tidak ada perkembangan baru selain Juwita yang bertambah cantik, banyak klien Leo yang menggodanya, tapi tidak Om Lee.
Hari ini Om Lee memutuskan untuk kembali ke S'pore, semua urusan pekerjaan sudah diserahkan pada Anderson, tidak bersisa satupun.
Sebelum kembali Ke S'pore Om Lee sempat mampir dulu ke kantor Leo.
"Mr. Lee..." sapa Juwita tersenyum.
"Ada Pak Leo?" tanya Mr. Lee ikut tersenyum, Juwita semakin terlihat menarik saja dengan gaya barunya yang sudah menyatu dengan dirinya.
"Tadi lagi ada tamu." jawab Juwita, mengintip sedikit keruangan Leo dan kembali pada Mr. Lee.
"Masih ada tamu, mau menunggu?" tanya Juwita, karena Mr. Lee tidak membuat janji apapun hari ini.
"Oh saya hanya mau pamit, hari ini saya kembali ke S'pore." jawab Mr. Lee kembali menatap Juwita dengan seksama, kenapa hari ini Juwita terlihat sangat cantik, pikirnya.
"Tunggu dulu saja diruangan saya atau mau saya panggilkan Ibu Anggita?" tanya Juwita pada Mr. Lee.
"Di ruangan kamu saja, apa tidak mengganggu?" tanya Mr. Lee menatap Juwita dalam, Juwita sampai risih sendiri, tapi ia berusaha tidak ambil pusing.
"Tidak, saya sambil kerja tidak masalah kan." kata Juwita mempersilahkan Mr. Lee duduk di bangku depan mejanya, ia juga menyiapkan minum untuk Mr. Lee. Wina yuniornya duduk dimeja yang lain, sibuk memilah berkas yang harus ditanda tangan Leo hari ini.
"Kapan Mr. Lee berangkat ke S'pore?" tanya Juwita sambil duduk dikursinya setelah sibuk mengerjakan beberapa Hal yang membuatnya harus mondar-mandir disekitar ruangannya sendiri.
"Nanti malam." jawab Mr. Lee, beberapa kali bertemu Juwita terkait pekerjaan belum pernah melihat Juwita semenarik ini. Padahal sepertinya sama saja dengan beberapa minggu lalu.
"Jadi nanti urusan pekerjaan saya langsung hubungi Pak Anderson saja ya?" tanya Juwita memandang Mr. Lee.
"Yah." jawab Mr. Lee menganggukkan kepalanya.
"Tamu Pak Leo sudah keluar, Mr. Lee." kata Juwita begitu melihat Leo keluar bersama Kliennya.
"Juwita, Pak Wisnu mau pulang." Leo melongok ke ruangan Juwita dan tertawa begitu melihat Mr. Lee duduk manis didepan meja Juwita.
"Dari tadi?" tanyanya pada Lee.
"Lumayan." jawab Lee tersenyum.
"Pak Wisnu diantar Juwita ya." kata Leo pada kliennya, setelah saling berpamitan Leo kemudian menyuruh Lee sahabatnya untuk masuk keruangannya.
"Anggita ada Om Lee nih." Leo menghubungi Anggita melalui sambungan line telepon.
"Iya aku kesana." jawab Anggita segera menutup telepon Papanya segera beranjak dari ruangannya.
"Om Lee..." sapa Anggita sambil menyalami Lee.
"Hari ini terakhir di Jakarta." kata Lee pada Anggita.
"Wah tidak bertemu lagi dong."
"Bisa bertemu kalau kalian ke S'pore." Lee tersenyum.
"Sayang sekali tidak mau menetap disini, padahal Anderson sudah mendekat sama Papanya." Anggita mencebik.
"Ya sementara pisah negara dulu, nanti kan bisa bertemu lagi." jawab Lee tersenyum.
"Moza sepertinya suka sama Anderson bagaimana tuh?" pancing Anggita pada Lee. Leo terkekeh mendengarnya.
"Anderson tidak pernah cerita." wajah Lee tampak datar.
"Anderson sepertinya tidak safari itu, Om. Tapi menurut aku sih Om sudah harus ingatkan Anderson untuk segera menikah. Supaya ada yang urus dan tidak kebablasan habiskan uang di club." Anggita pikirkan Anderson seperti adiknya sendiri.
"Mau jodohkan mana dia mau." kata Lee mengedikkan bahunya.
"Kalau Moza berhasil dekati Anderson bagaimana Om? sampai saat ini sih masih diacuhkan Anderson." Anggita polos saja tidak pikirkan perasaan Lee.
"Hmm... Mereka sudah besar dan sama-sama single." jawab Lee terkekeh.
"Sanggup tidak sanggup harus hadapi ya, tapi aku tidak pernah kurang ajar sama Moza sih. Jadi kalau dia jadi bagian keluargaku, jeleknya jadi menantuku ya jalani saja."
"Makanya kamu harus cari pengganti Moza isi hatimu dong. Parah deh, seperti abege saja jatuh cinta ditolak melarikan diri." Leo menyemangati sahabatnya.
"Iya harusnya ya, Nanti lah kalau sudah saatnya pasti akan bertemu dengan calon istri." kata Lee tertawa.
"Om, Juwita tuh cantik loh." masih usaha dekati Juwita dengan Om Lee.
"Iya, Om lihat hari ini dia cantik sekali." kata Lee jujur, dari tadi matanya terpaku memandang Juwita.
"Nah, lanjutlah dekati. Wisnu tadi juga suka sama Juwita. Sainganmu sekarang banyak loh." kata Leo mempromosikan sekretarisnya. Ia setuju saja jika sahabatnya jadikan Juwita istri.
"Nantilah, istirahatkan pikiran dulu di S'pore, kalau pikiran dan otak ada disini pasti akan kembali kesini." kata Lee menepuk bahu sahabatnya.
"Mau minum apa?" tanya Leo pada Lee
"Tadi minumanku ada dimeja Juwita, suruh bawakan kesini saja, sayang baru diminum seteguk." jawab Lee pada Leo, ia sudah duduk nyaman di sofa tamu Leo.
Leo segera menghubungi Juwita, mintakan minuman Lee agar dibawa masuk keruangannya.
"Sudah tidak ada pekerjaan lagi yang harus kamu urus ya?" tanya Leo pada Lee.
"Sudah serahkan semuanya pada Anderson." jawab Lee memandang pintu ruangan Leo yang berderit karena dibuka Juwita.
"Terima kasih Juwita." kata Lee ramah, baru hari ini Lee seperti akrab dengan Juwita, biasanya acuh saja tanpa senyum. Sewaktu antarkan Juwita pulang juga hanya bicara seperlunya saja.
"Sama-sama Mr. Lee." jawab Juwita menganggukkan kepalanya.
"Nanti siapa yang antar ke Bandara?" tanya Leo pada Lee.
"Belum tahu, mungkin supir atau mungkin Anderson." jawab Lee tersenyum.
"Atau Juwita bisa antarkan saya ke Bandara?" pinta Mr. Lee pada Juwita.
"Heh?" Juwita bingung.
"Kamu bisa setir kan?" tanya Lee pada Juwita.
"Kalau begitu Bos Leo, saya minta Juwita yang antar saya ke Bandara, bagaimana?" tanya Lee pada Leo.
"Itu sudah diluar jam kantor, diantar supir saja bagaimana?" tanya Leo tidak enak hati pada Juwita.
"Bagaimana sih, klien tidak difasilitasim Padahal saya ke Jakarta karena perusahaan kamu loh." kata Lee tengil.
"Bagaimana Juwita, kamu bisa lembur?" tanya Leo pada Juwita.
"Bisa Pak, nanti biar saya yang antarkan Mr. Lee. Boleh pakai Mobil kantor ya Pak?" tanya Juwita pada Leo.
"Pakai Mobil saya saja." kata Lee pada Juwita.
"Jadi saya bertemu Mr. Lee nanti dimana?" tanya Juwita pada Lee.
"Pulang kantor nanti kamu saya jemput ya." kata Lee membuat Anggita cengengesan. Meskipun tidak tahu apa maksud Om Lee minta diantar Juwita, paling tidak biarkan mereka bertemu dulu.
"Baik Mr. Lee."
"Memang kamu pesawat jam berapa?" tanya Leo pada Lee.
"Jam tujuh malam." jawab Lee tersenyum.
"Mbak Juwi kalau begitu hari ini pulang cepat saja, mana keburu berangkat jam tujuh berangkat dari kantor jam Lima sore." kata Anggita mulai hitung-hitungan waktu.
"Bagaimana kalau sekarang saja?" kata Lee inisiatif. Leo pasrah saja, tetap merasa professional membiarkan sekretarisnya pulang cepat demi rekan bisnisnya. Anggap saja bagian dari entertainment tanpa mengeluarkan biaya hemat. Yang penting tidak menyalahi aturan agama dan aturan perusahaan.