
"Aku pulang ikut mobil Daddy, ada cerita seru." kata Wilma pada Anggita dan Romi.
"Apanya yang seru?" tanya Anggita.
"Ah tidak mengikuti cerita sih, dari tadi kemana saja?" omel Wilma pada Kakaknya.
"Lah kamu kan menguping di rumah Popo, sementara aku di rumah Bunda." Anggita mendengus sementara Romi tertawakan keduanya.
"Jangan tertawa Bang Romi, ini agak menakutkan." kata Wilma memandang Romi.
"Oh ya? menakutkan bagaimana?" tanya Romi masih tersenyum.
"Teman Mommy yang dulu ada kasus dengan keluarga kita tadi muncul dan mengancam Mommy." Wilma setengah berbisik takut terdengar yang lain.
"Kasus apa?" Anggita ikut berbisik, jadi sedikit khawatir memikirkan Mommy, pasti terbebani.
"Tidak tahu, pokoknya karena orang itu, Mommy jadi takut ke S'pore, trauma." kata Wilma, Anggita mengangguk mengerti, pantas saja Mommy kemarin tidak hadir acara Steve dan Ayu.
"Sekarang sudah mau pulang atau belum?" tanya Anggita kemudian pada adiknya, Wilma menghela nafas.
"Tergantung Daddy, lihat masih serius bicara dengan Papi Mario." Wilma menunjuk kearah Daddynya.
"Ayo kerumah saja, Bunda mau istirahat itu." kata Arkana menarik tangan Wilma sepupunya.
"Gue duluan." Wilma melambaikan tangan pada Romi dan Anggita, membuat Anggita bersungut.
"Gue-gue, hajar nih." kata Anggita menarik rambut adiknya.
"Ish jambak, seperti perempuan pada umumnya kalau berkelahi." Wilma terbahak mentertawakan Kakaknya.
"Yang tidak umum seperti apa William?" tanya Anggita kesal, jika kesal dengan Wilma ia akan mengganti nama Wilma dengan William.
"Siaul, gue dipanggil William." Wilma terbahak menggoyangkan pantatnya seperti Bebek, Romi jadi terbahak melihat kelakuan adik iparnya.
"Sudah punya pacar belum sih dia?" tanya Romi pada Anggita.
"Tidak ada, memang ada yang mau sama dia?" Anggita terkekeh.
"Eh gue banyak yang naksir tahu." teriak Wilma yang mendengar ucapan Kakaknya, kembali Romi terkekeh.
"Kocak." kata Romi menggelengkan kepalanya.
"Kan aku sudah bilang dia rusuh." kata Anggita menarik tangan suaminya menuju rumah Ame, mereka sudah pamit dengan Bunda Kiki tadi.
"Ray gue ke rumah Ame." teriak Romi pada Raymond yang ikut bicara dengan Papa Andi, Naka dan Chico, sementara Arkana menemani Sarah kerumah Ame bersama Wilma.
"Sini Rom, biar Anggita saja yang dirumah Ame." Raymond mengayunkan kedua tangannya.
"Bagaimana sayang?" Romi meminta pendapat istrinya, sepertinya ada yang mau Raymond bicarakan.
"Ya sudah aku menunggu dirumah Ame." Anggita membiarkan suaminya bergabung dengan yang lain.
"Mommy masih mau disini?" tanya Anggita saat melewati Mommy dan Daddy juga Papi Mario.
"Iya masih ada yang harus dibicarakan." jawab Liana pada putri sulungnya.
"Oke Mommy aku dirumah Ame ya." Anggita tersenyum pada Mommy yang sedikit kusut. Anggita belum berani ikut bergabung dengan Mommy dan Daddy karena mereka juga sepertinya enggan melibatkan anak-anaknya.
"Iya sayang." jawab Mommy, sementara Daddy menepuk bahu Anggita sambil terkekeh, Anggita tertawa saja sambil menganggukkan kepala pada Papi Mario.
"Masih kontak sama Steve, Nggie?" tanya Papi Mario.
"Sering Papi." Anggita terkekeh.
"Apa kabar mereka hari ini?" tanya Mario pada Anggita.
"Loh Papi tidak pernah telepon?" tanya Anggita sedikit heran.
"Telepon tapi tidak tiap hari. Ini saja mereka tidak ada kabar hari ini." Mario menjelaskan, Anggita tahu hari ini Steve mengajak Ayu ke Bali.
"Mereka lagi di Bali Papi." Anggita menjelaskan.
"Lagi liburan rupanya, tidak ajak-ajak." Mario menggelengkan kepalanya.
"Nyokap Bokap gue kuasai mereka." sungut Mario.
"Hahaha mungkin disuruh bikin lagi." kata Leo menepuk bahu Mario.
"Apa iya ya? Honey..." langsung saja Mario memanggil Regina.
"Ya?"
"Steve dan Ayu dikuasai Papi dan Mami, apa kita harus bikin baby lagi?" tanya Mario pada istrinya.
"Hahaha apa masih sanggup ya?" Regina terbahak.
"Nanti bersaing dengan Ayu dan yang lain." kata Mario terkekeh.
"Bagaimana nanti saja Honey." jawab Regina tertawa geli. Ada-ada saja Mario menyuruh Regina hamil lagi, Regina tidak terpikir untuk punya anak lagi, tapi kalau Allah berkehendak Regina dengan senang hati merawatnya.
Pada akhirnya setelah bicara kesana kemari, Anggita tiba juga di rumah Ame, terlalu banyak rumah yang dilalui membuat Anggita sempat tersangkut di rumah Mama Pipit, sama seperti Mario ia juga menanyakan Steve dan Ayu yang hari ini tidak ada kabar beritanya.
Mama Pipit juga tidak tahu jika Ayu dan Steve hari ini ke Bali, jika tahu Mama Pipit pasti menyusul agar bisa liburan bersama anak semata wayangnya. Setelah Anggita beritahu langsung saja Mama Pipit ngomel seperti emak-emak pada umumnya. Tadi Mama Pipit tidak ikut bergabung di rumah Bunda karena ada urusan diluar.
"Bagaimana ceritanya?" tanya Anggita begitu menghampiri Wilma dan Arkana yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Ceritakan pada kakakmu, Abang kembali kesana ya, membahas ini juga." Arkana beranjak meninggalkan Wilma dan Anggita.
"Sarah mana?" tanya Anggita pada Arkana.
"Kusuruh tidur, dia harus istirahat." jawab Arkana.
"Berapa bulan sih?"
"Masuk bulan ketiga." Arkana tersenyum bahagia. Ia melambaikan tangannya pada kedua kakak beradik itu. Anggita mengangguk sambil mengangkat jempolnya.
"William, jangan lupa cek Sarah setiap Lima menit." pesan Arkan sebelum keluar ruangan.
"Hei gue pulang nih." ancam Wilma kesal karena di panggil William. Anggita dan Arkana tertawa senang melihat ekspresi Wilma yang sedikit sengit.
"Dari pada gue panggil Wilson lu." sahut Arkana kembali menggoda Wilma.
"Bodo amat, bodo amat." Wilma bertambah kesal, bukannya membujuk Arkana malah benar-benar pergi meninggalkan Wilma yang masih emosi, biar saja Anggita yang membujuk pikirnya.
"Dek, bagaimana ceritanya?" tanya Anggita setelah Arkana benar-benar kembali ke rumah Bunda.
"Malas cerita." sungut Wilma.
"Yee, baper. Sudah menjadi wanita sesungguhnya ya?" Anggita menggoda Wilma.
"Iya mau gue jambak lu?" Wilma masih saja sengit.
"Ish, ya sudah kalau tidak mau cerita." Anggita merebahkan badannya di sofa mengambil posisi ternyaman, menyalakan tv, sibuk menyenangkan diri sendiri.
"Benar ya tidak mau dengar cerita?" tanya Wilma merasa diabaikan.
"Kamunya ngambek gitu." jawab Anggita acuh.
"Itu kan tadi, sekarang tidak lagi." bujuk Wilma, Anggita terkekeh. Jurusnya abainya berhasil, Wilma paling tidak bisa didiamkan oleh keluarganya, entah nanti dengan pasangannya bagaimana?
"Ya sudah cerita saja, aku kan pendengar." Anggita acuh tak acuh.
"Bangun dong, masa dengarkan cerita seperti gue sedang mendongeng. Nanti lu ketiduran, Kak." kata Wilma merayu Kakaknya. Anggita menyeringai tanpa dilihat Wilma. Ia segera bangun dan duduk manis mengikuti keinginan Wilma.
"Teman Mommy yang bernama Sambada itu pernah dipenjara karena kedapatan membawa narkoba dalam jumlah besar, jadi dia dipenjara. Aku kurang jelas tadi seharusnya seumur hidup atau di hukum mati gitu, mungkin seumur hidup ya. Jadi dia sudah bebas tuh dan bertemu Mommy tadi saat sedang antri dikasir supermarket." Anggita menyimak apa yang Wilma sampaikan, berarti saat Anggita tinggal mengambil jeruk tadi.
"Terus masalahnya sama Mommy apa?" tanya Anggita.
"Dia mantan pacar Mommy dan pernah menculik Mommy saat mereka baru putus. Mommy dibikin babak belur jadi Mommy melarikan diri. Yang jemput Mommy saat itu Popo Erwin dan Papa Andi."
"Oke lalu?"
"Yang melaporkan posisi Sambada bersembunyi saat rekeningnya dibekukan Opa Burhan itu orang suruhan Opa dibantu Papi Mario dan ternyata Sambada tahu itu. Jadi tadi dia bilang dia tahu siapa yang membuat dia dipenjara. Kebetulan saat di tangkap dia kedapatan membawa Narkoba." Wilma bergidik ngeri. Anggita juga jadi takut sendiri mendengar cerita adiknya, kenapa Mommy bisa kenal orang seperti itu, pikir Anggita.
"Orang suruhan Opa Burhan itu ternyata sahabat Daddy, ia juga salah satu orang yang menjodohkan Mommy dan Daddy." Wilma langsung menaikkan alisnya, senang mengingat kisah cinta Mommy dan Daddy yang menjadi dongeng pengantar tidurnya kalau sedang dikamar Mommy dan Daddynya.