Never Say Never

Never Say Never
Mr. Lee



Romi dan Anggita tiba lebih dulu di restaurant, Mr. Lee terlambat karena baru mendapat konfirmasi dari Moza menjelang jam makan siang. Tapi untungnya Mr. Lee ada dilokasi yang tak jauh dari restaurant, jadi Romi dan Anggita tidak terlalu lama menunggu dimeja yang sudah Mr. Lee pesan.


"Maaf terlambat sedikit." kata Mr. Lee begitu mendekati Romi dan Anggita.


"Tumben terlambat, biasanya datang lebih dulu." Romi terkekeh.


"Moza ini sulit sekali ya." langsung saja mengoceh membahas Moza tanpa memperhatikan Anggita yang duduk disebelahnya. Romi tertawa sengaja mendengar keluhan Mr. Lee yang tidak tahu saja kalau Romi juga perlu usaha keras untuk menjadikan Anggita istrinya.


"Tidak mau kenalkan saya sama istrimu ya?" tanya Mr. Lee kemudian, rupanya ia menunggu Romi yang mengenalkan Anggita padanya.


"Kenalkan sayang, ini Mr. Lee." kata Romi pada istrinya. Anggita menganggukkan kepalanya sambil berdiri dan mengulurkan tangan pada Mr. Lee.


"Nyonya tidak usah berdiri." mau tidak mau Mr. Lee ikutan berdiri.


"Mr. Lee asli Singapore, tapi sepertinya betah di Indonesia, sekarang incar wanita Indonesia, staff saya pula." sindir Romi pada Mr. Lee.


"Gadis Indonesia cantik-cantik sih." Mr. Lee terkekeh.


"Jadi suka Moza karena dia cantik?" tanya Romi pada Mr. Lee.


"Ayo menurut anda bagaimana? cantik kan?"


"Karena saya sudah punya istri jadi yang paling cantik pasti istri saya." kata Romi terkekeh, Anggita senyum-senyum saja Walaupun ia pikir suaminya gombal, tapi nikmati saja dibilang suami paling cantik.


"Pesan dulu saja sambil tunggu yang lain." Mr Lee menatap Romi dan Anggita.


"Nyonya mau makan apa?" tanya Mr. Lee pada Anggita.


"Panggil Anggita saja, Mr. Lee." Anggita malas sekali mendengar kata Nyonya.


"Apa tidak masalah?" tanya Mr. Lee pada Romi.


"Tidak apa, panggil Anggita saja." jawab Romi terkekeh.


"Oke Anggita kamu mau makan apa?"


"Pilihkan saja Mr. Lee." kata Romi


"Anggita saja yang pilihkan, wanita biasanya yang urus begini." Mr. Lee memberikan buku menu pada Anggita.


"Nah ini ada Vita." tiba-tiba Mr. Lee semangat menyambut kehadiran Vita dan Moza.


"Hei Vit, tadi katanya tidak bisa ikut makan." Romi sedikit heran tapi senyumnya mengembang melihat kehadiran Vita dan Moza.


"Aku temani Moza, Felix juga mau kesini." kata Vita ikut tersenyum, langsung saja duduk disebelah Anggita, sedang Moza duduk disebelah Vita dan Mr. Lee.


"Mana Felix?" tanya Mr. Lee, membuat Romi heran tahu-tahunya dia dengan Felix.


"Mr. Lee kenal?" tanya Romi.


"Pernah tidak sengaja bertemu waktu Vita movie sama Felix."


"Mr. Lee juga sedang nonton." kata Vita terkekeh.


"Sama siapa?" tanya Romi jahil.


"Yang pasti bukan sama Moza, saya ajak susah sekali." kata Mr. Lee memandang Moza.


"Saya tidak suka nonton dan tidak suka ke club Mr.Lee." jawab Moza apa adanya, Mr. Lee selalu saja ajak Moza nonton atau ke club.


"Jadi saya harus ajak kemana?" tanya Mr. Lee garing, membuat Moza bertambah malas, Moza tersenyum saja jadinya.


"Moza kenalkan ini istri saya, Anggita." kata Romi pada Moza.


"Halo Bu, Salam kenal." Moza tersenyum ramah pada Anggita. Cantik sekali istri Pak Romi, batin Moza.


"Salam Kenal." Anggita mengangguk.


"Ini marketing terbaik loh." Anggita mendengarkan Romi mempromosikan Moza padanya.


"Saya juga kliennya Moza." kata Mr. Lee ramah.


"Dan yang paling banyak sewa gedung kantor itu Mr. Lee." jawab Moza apa adanya.


"Saling bermanfaat." kata Anggita lagi-lagi tersenyum.


"Ayo Vit, kita pesan." Anggita menggeser menu kearah Vita, langsung gerak cepat Vita menulis apa saja yang akan mereka santap siang ini. Kemudian ia memberikan pada Pelayan, ia juga memesankan minuman sesuai kebiasaan yang lain tanpa bertanya lagi.


"Vita, mana Felix?" tanya Romi tidak sabar menunggu kehadiran sahabatnya.


"Ih datang juga dia." Romi senang sekali melihat Felix, sejak menikah belum lagi bertemu Felix.


"Rom..." Felix menepuk bahu sahabatnya. Mereka saling berpelukan.


"Mr. Lee apa kabar." sapa Felix terkesan akrab.


"Seperti yang kamu lihat." jawab Mr. Lee cengengesan membuat Romi curiga dengan keakraban keduanya.


"Jangan curiga begitu Rom." kata Mr. Lee tahu cara pandang Romi pada mereka.


"Aneh saja, sejak kapan kalian akrab."


"Jadi begini..."


"Jangan ceritakan disini." Mr. Lee menggelengkan kepalanya. Felix terkekeh, begini wajah Mr. Lee kalau mati kutu.


"Ok." jawab Felix kemudian.


"Fel, ini Moza yang Mr. Lee kejar-kejar itu." kata Vita, Felix tersenyum saja pada Mr. Lee.


"Sudah fixed ini ya Mr. Lee?" tanya Felix.


"Kalau ini sih, tidak ada tandingan ya." jawab Mr. Lee terkekeh, keluar deh gombalnya.


"Anggie apa kabar, diam saja dari tadi." sapa Felix pada Anggita.


"Alhamdulillah..." jawab Anggita cengengesan. Felix ini kurang lebih seperti Romi saja gayanya, Moza jadi iri kenapa dua pria tampan dihadapannya mesti sudah ada yang punya.


Makanan yang dipesan tidak lama pun datang, mereka menikmati karena memang masing-masing sudah sangat lapar. Tidak ada yang bicara, fokus pada makanan. Setelah makan Moza pun ijin ke toilet.


"Terima kasih Mr. Lee untuk undangan makan siangnya." kata Romi begitu mereka selesai makan.


"Rom, bagaimana cara dekati Moza?" bisik Mr. Lee.


"Wah itu sih tergantung usah Mr. Lee. Mau dibawa kemana hubungannya?" tanya Romi.


"Seperti yang saya bilang, mau saya jadikan istri dan Ibu bagi anak-anak saya."


"Coba saja dekati tanpa membuat Moza kesal."


"Bagaimana caranya dia selalu me olak ajakan saya."


"Tanya Vita saja deh, saya juga dulu dekati Anggita minta tolong Vita." kata Romi jujur


"Oh ya, Mbak Vita terima kasih loh, aku selama ini tersanjung, rupanya semua atas saran Mbak Vita ya." kata Anggita terkekeh.


"Felix sih otaknya bukan aku." jawab Anggita.


"Nah sekarang tolong saya denga Moza."


"Gadis yang waktu itu di bioskop bagaimana? jangan permainkan anak orang." tegas Felix pada Mr. Lee.


"Adub itu sih pemandu karaoke minta diajak nonton." jawab Mr. Lee.


"Yah, kalau semua cewek minta diajak nonton Mr.Lee ikuti sih kasihan Moza." kata Romi tidak setuju.


"Kalau sudah punya istri pasti saya tahu diri Romi, seperti kamu saja."


"Jangan samakan dengan saya lah." Romi mendengus kesal, jelas saja berbeda Romi hanya fokus pada Anggita, tidak pernah dengan yang lain, jangankan pemandu karaoke, Ayu saja tidak pernah diajaknya nonton, padahal jelas-jelas Romi diketahui sebagai calon suami Ayu karena mereka sudah dijodohkan.


"Romi berbeda kasus Mr. Lee." Felix membenarkan.


"Kalau Mr. Lee masih mudah jalan sama wanita manapun, lupakan saja Moza." kata Vita lagi.


"Saya mau serius, kemarin itu karena Moza tidak ada tanggapan."jawab Mr. Lee.


"Kalau sudah tidak ditanggapi, sebaiknya cari yang lain." kata Anggita dengan senyum manisnya.


"Waduh Nyonya Romi, mana bisa begitu. Eh kamu tuh cantik juga ya, sayang saja sudah jadi istri Romi." kata Mr. Lee membuat Romi mendengus kasar.


"Jangan rayu istri saya lah."


"Saya cuma bilang cantik, menantunya Pak Anto." Mr. Lee terkekeh.


Makan Siang berakhir saat Moza sudah kembali dari toilet, mereka pun mesti kembali lagi kekantor, Mr. Lee masih saja usaha membujuk Moza agar naik ke mobilnya. Moza menolak, denga wajah memohon minta seperti minta perlindungan. Anggita jadi kasihan sama Moza, duh Mr. Lee ini sih cakep tapi sepertinya banyak teman wanitanya.