
Romi memberikan selembar uang seratus ribu yang ada pada console box di mobilnya pada Wilma.
"Asiik." Wilma bersorak senang, Leo menggelengkan kepalanya. Anak bungsunya ini betul-betul tahu duit. Entah dikemanakan duitnya itu. Semoga saja di tabung, pikir Leo.
"Kamu selalu saja minta duit, untuk apa? Daddy rasa yang daddy transfer sudah lebih dari cukup." tanya Leo begitu Wilma masuk Mobil dengan membawa bungkusan yang lumayan berat di tangannya.
"Untuk jajan aku, Dad. Yang di rekening tidak aku ganggu gugat." jawab Wilma membuat Leo lega.
"Lagi kumpulin modal ya?" goda Romi pada Iparnya.
"Iya modal nikah." jawab Wilma sambil tertawa.
"Masih kecil sudah pikirkan modal nikah." Leo terkekeh ingin sekali mencubit gemas pipi anak gadisnya ini, sayang saja posisinya tidak memungkinkan.
"Aku tidak mau kuliah Dad, mau nikah saja." jawab Wilma membuat Leo mendelik.
"Tidak kuliah mau jadi apa?" gerutu Leo.
"Mau jadi istri, Nanti suami aku bantu Daddy dan Kak Anggie di perusahaan jadi aku tetap punya penghasilan." jawab Wilma seenaknya.
"Suami kamu harus Daddy yang pilih kalau begitu." Leo memberikan persyaratan.
"Ya, kalaupun aku yang pilih, tetap atas restu Mommy dan Daddy." jawab Wilma. Leo manggut-manggut saja.
"Ada lagi yang mau dibeli?" tanya Romi setelah dirasa percakapan keduanya terhenti.
"Tidak ada, langsung saja. Bang Naka sudah tidak sabar." jawab Wilma, Romi pun melajukan kendaraannya ke rumah Ame Enji yang hanya sepuluh menit dari tempat mereka saat ini.
Tepat sesuai perkiraan, sepuluh menit kemudian mereka pun sampai di rumah Enji dan Erwin, tampak semua anak-anak dan menantu Enji berkumpul. Kebetulan atau memang dikumpulan oleh mereka, yang pasti bertambah ramai karena kehadiran Leo sekeluarga.
"Sudah siapkan mangkok saja." kata Wilma takjub saat memasuki rumah Ame.
"Salam dulu dong, main ngoceh saja." tegur Arkana pada adik kecilnya ini.
"Assalamualaikum..." teriak Wilma sambil memandangi semuanya kemudian menyalami Ame Dan Popo juga yang lainnya.
"Waalaikumusalaam..." jawab mereka sambung menyambung.
"Nah sudah boleh makan Ronde nih, sudah salaam." kata Wilma lagi membuat Arkana mengacak anak rambut adiknya ini
Romi duduk disebelah Naka dan Sosa, tidak menyapa istrinya, ia kesal juga Anggita menuduhnya yang tidak-tidak. Cemburu sih boleh saja tapi ini Romi rasa berlebihan. Moza juga tidak genit dan Romi juga tidak memberikan perhatian ekstra pada Moza. Semua dilakukannya secara professional. Kalau selama ini lebih sering keluar kantor sama Moza karena memang Moza yang kliennya lebih banyak dan perlu bantuan Romi untuk negosiasi. Kalau saja Budi sepintar Bona, Romi tidak perlu repot seperti sekarang.
"Aku mau ambilkan Naka, mau sekalian tidak Bang?" tanya Sosa pada Abangnya
"Iya, Mau." jawab Romi seakan tidak ada masalah dengan Anggita. Ia juga tidak mencari keberadaan istrinya, mestinya sih dia tahu, Romi ada di rumah Ame juga.
"Bang, Anggie mau tapi dikit saja, bagi dua sama kamu ya?" ijin Sosa pada Abangnya. Romi menganggukkan kepalanya, rupanya Anggita nada disebelah Sosa saat ini, sedang membagi rode ronde milik Romi dalam dua mangkok. Tidak lama ia membawa dua mongkok itu pada Romi.
"Ini." senyumnya seperti lupa kalau dia tadi sedang merajuk, apa menyesal atau sedang pura-pura tidak ada masalah, Romi jadi menduga-duga. Romi mengambil mangkok dari istrinya sambil tersenyum walau tidak lepas.
Benar yang Wilma bilang, ini memang Ronde paling enak yang pernah Romi makan. Pantas saja antrinya sampai begitu, semua pembeli mengerubungi penjualnya sampai tidak terlihat, sepertinya Wilma perlu membantu Abang penjualnya untuk membuatkan nomor antrian supaya tidak mengerubung begitu, kasihan juga Abangnya kegerahan dan kurang oksigen.
"Enak kan?" tanya Naka pada Abang Iparnya.
"Hu uh." Romi menganggukkan kepalanya setuju. Kemudian meletakkan mangkok yang sudah kosong itu ke meja didepannya. Romi mengambil air mineral yang sudah tersedia dimeja, lalu meminumnya.
"Kamu suka?" tanya Romi pada Sosa yang sedang menikmati melalui suapan Naka.
"Sedikit saja sukanya. Makanya minta suapi Naka saja." jawab Sosa tersenyum manis.
"Padahal dia tidak suka jahe." kata Romi pada Naka.
"Oh ya? kamu makan ikan Dek?"
"Iya tapi jangan yang amis." jawab Sosa kembali tersenyum pada Abangnya, sementara Anggita hanya menyimak ia duduk dihadapan suaminya.
"Bang kata Anggita maunpindah rumah?" tanya Sosa, Romi menganggukkan kepalanya.
"Kapan?"
"Masih renovasi, mungkin bulan depan." jawab Romi.
"Besok lu ke luar kota?" tanya Naka, rupanya Anggita bercerita banyak.
"Iya." Romi mengangguk.
"Berapa hari?"
"Balik hari." jawab Romi tanpa memandang pada Anggita.
"Kata Anggita menginap." sahut Sosa lagi.
"Kalau urusannya tidak beres, tapi besok Vita gue suruh ikut akhirnya, jadi dia yang beresi disana besok." jawab Romi panjang lebar.
"Yang benar Bang, Vita kan mau menikah." protes Sosa tahu bahwa Vita sedang repot mengurus persiapannya menikah.
"Habis bagaimana? cuma Vita sama gue yang bisa handel kliennya Moza." jawab Romi apa adanya.
"Iya sih, tapi bisa kan kali ini lu yang handel, Vita terus, Vita terus." Omel Sosa pada Abangnya.
"Coba tanya Nggie persiapan pernikahannya sampai dimana, biar kamu sama Sosa yang bantu, kasihan dia repot sekali." kata Romi pada istrinya. Anggita yang tidak enak hati karena mengganggu urusan kantor suaminya jadi buru-buru menghubungi Vita.
"Vita besok keluar kota kan?" tanya Anggita langsung tanpa basa-basi saat sambungan telepon berhasil.
"Iya, Romi nih last minute deh, padahal aku sudah ijin tidak masuk." langsung saja Vita curhat.
"Mau urus persiapan pernikahan ya, sudah sampai dimana? biar aku dan Sosa yang bantu." kata Anggita.
"Beneran mau bantu?" tanya Anggita senang.
"Iya." jawab Anggita ikut menganggukkan kepalanya padahal Vita tidak melihatnya.
"Ya sudah bantu koordinasi sama pihak Wedding Organizernya ya, gue lagi deal-dealan harga, gue tawar diharga sekian, coba besok pastikan lagi
Terus tanyakan juga kesiapan souvenirnya. Duh banyak nih Anggie, gue jadi merepotkan." Vita jadi sungkan sendiri, Seperti bos saja menyuruh istri bos langsung.
"Tidak apa, jelaskan saja apa yang harus aku kerjakan, chat sajalah Bit, besok aku dan Sosa langsung bertemu Wedding Organizernya."
"Sama pihak gedung, say. Layoutnya berubah. Kemarin dia hubungi gue mau tanya untuk dekorasi panggung dan pelaminan." kata Vita lagi, ternyata memang benar banyak yang harus Vita urus, sementara kantornya tidak jadi memberikan ijin tidak masuk, malah ditugaskan keluar kota, bos macam apa ini.
"Oke, Kamu mau Layout seperti apa?"
"Nah kamu mesti koordinasi juga sama Felix." jawab Vita terkekeh.
"Oke nanti biar Romi yang hubungi Felix." jawab Anggita sudah mengerti apa saja yang harus kerjakan besok. amalam ini ia sibuk menerima perintah kerja dari Vita, Sosa hanya menyimak, ia memandang Naka karena sebenarnya besok Sosa ingin ikut Naka ke sentul, sekarang Sosa sudah mulai sering diajak Naka kemanapun Naka pergi.
"Sebenarnya besok aku sama Naka mau ke Sentul." Sosa jadi tidak enak hati dengan Anggita.
"Oh ya sudah biar aku urus sama sekretaris Daddy." jawab Anggita santai. Romi senyum saja, jadi repot sendiri Dan melibatkan banyak orang kan hanya gara-gara cemburu.