Never Say Never

Never Say Never
Steve dan Romi



Disinilah mereka sekarang, berada di pesta pernikahan Raymond dan Roma, di rumah Ame di pinggiran Jakarta. Mengikuti saran Arkana, Romi menemui Papa dan sedang ngobrol santai dengan Daddy Leo.


(berikut ambil salah satu chapter di Novelku "Dear Angela" sekelumit kisah mereka yang mampir disana.)


"Pa, Dad, aku mau bicara." Romi sudah berada diantara Papa Anto dan Daddy Leo.


"Tentang?" tanya Anto sementara Leo hanya memandang Romi siap mendengarkan.


"Aku mencintai Anggita." tegas Romi.


"Eh..." Leo sedikit ternganga, sementara Anto tersenyum tipis, ia sudah mendengar berita ini sebelumnya, bahkan Romi sudah mengaku padanya sepulang dari pernikahan Sosa, hanya saja tidak menyangka Romi akan membahasnya secepat ini.


"Aku mohon Papa dan Daddy merestui." kata Romi sedikit menunduk. Rasa percaya dirinya mulai berkurang melihat reaksi Leo yang tampak terperangah.


"Selesaikan dulu masalahmu dengan Lembayung, Papa tidak mau ada yang tersakiti." Anto menepuk bahu Romi.


"Aku dan Ayu sudah selesai, Pa. Kami berteman baik sekarang. Papa juga tahu Ayu sudah memiliki seseorang yang dia cintai." Romi menjelaskan. Anto tersenyum pada Leo yang masih belum bereaksi. Suasana saat ini membuat Leo tak bisa berfikir. Leo memang sering melihat Romi mengantarkan Anggita pulang, tapi tidak berfikir akan sejauh ini.


"Sepertinya kita harus bicara di tempat yang tenang, disini terlalu berisik." kata Leo mengajak Romi dan Anto untuk pindah tempat.


Sekarang mereka sedang berada di ruang kerja Erwin. Mario, Andi dan Steve sudah lebih dulu ada disana. Melihat Romi datang, Steve langsung terbahak. Mereka bernasib sama, ups bukan... hanya Steve terkekeh karena sedang memperjuangkan Lembayung, tunangan Romi.


"Aih kalian ini, bikin ulah seperti tidak punya beban saja." Andi menggelengkan kepalanya.


"Jadi kamu menolak anak gadis Papa Andi, Rom?" tanya Andi santai tapi membuat Romi tidak enak hati.


"Aku dengan senang hati menyambutnya, Papa. Mohon terima aku" jawab Steve cepat.


"Kamu yakin Steve? Kalian berbeda keyakinan." sahut Mario menatap Steve tajam.


"Bukankah Papi pernah bilang, tidak masalah jika aku pindah keyakinan, yang penting aku taat menjalankan perintah agama yang aku anut." Steve mengingatkan Mario.


"Tapi Papi tidak mau kamu pindah keyakinan hanya karena ingin bersama Ayu."


"Aku sudah mempelajari Islam sejak kecil, Papi. Aku sudah ingin pindah keyakinan sejak aku sekolah menengah. Sebelum aku ingin dekati Ayu. Sekarang Aku sudah Muslim, Papi." jawab Steve meyakinkan Papi Mario.


"Steve!!! Beraninya kamu bertindak dibelakang Papi." Suara Mario mulai meninggi.


"Maafkan aku Papi, aku serius. Bahkan aku sudah hafal juz 30. Aku sangat serius Papi. Aku akan taat." Steve menundukkan kepalanya, pasrah jika Papi Mario akan menempeleng kepalanya. Tapi Mario tidak melakukan itu. Ia berdiri dan memeluk putra semata wayangnya.


"Bagaimana kamu akan menjelaskan pada Mami, Son?" katanya mengusap bahu Steve seraya menghela nafas.


"Mami sudah tahu, Papi. Aku sudah meminta restu Mami terlebih dulu. Mami merestui aku."


"How come... Regina tidak menceritakan apa pun. Bagaimana bisa kalian berdua bekerja sama menyembunyikan hal sepenting ini pada Papi. Tega sekali kalian."


"Karena aku mau bercerita langsung pada Papi. Maafkan aku Papi, please jangan salahkan Mami."


"Kalian sudah tahu?" tanya Mario pada sahabatnya, mereka menggelengkan kepalanya.


"Kamu tahu Rom?" tanya Mario lagi pada Romi.


"Hehehe kami satu generasi tahu Papi." wajah Romi tampak cengengesan.


"Jadi bagaimana Papi, setuju Kan?" Romi balik bertanya. Mario mengedikkan bahunya, menghela nafas panjang.


"Bertanggung jawablah dengan semua keputusanmu, Son. Papi hanya bisa mendoakan." lirih suara Mario, matanya sedikit berkaca-kaca. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Semua bercampur aduk, tapi tak ada rasa marah ataupun kecewa, hanya ada rasa ingin berteriak entah kenapa. Mario merasa kecolongan, padahal ia selalu meluangkan waktu untuk anak dan istrinya. Ia kembali duduk tanpa berkata apapun lagi.


"Bagaimana dengan Ayu, apa dia bersedia kamu sambut, Steve?" tanya Anto pada Steve.


"Kami saling mencintai, Pa." jawab Steve yakin.


"Aku mencintai putri Daddy. Restui kami dad, kami saling mencintai." wajah Romi sedikit memelas. Leo memandang Anto. Sementara Andi terkekeh menggelengkan kepalanya. Lucu sekali kedua sahabat ini pikir Andi.


"Daddy akan merestui kalau begitu." jawab Leo akhirnya. Romi menarik nafas lega.


"Jadi kapan kalian akan menikah, berani meminta restu tentu sudah punya rencana ke tahap selanjutnya." kata Andi menatap Romi dan Steve secara bergantian.


"Bikin kaya gue sama Alex, seru nih." celutuk Anto tersenyum jahil.


"Maksud Papa, kami resepsinya dibarengi?" tanya Romi memastikan.


"Hmm..." Anto menaikkan alisnya.


"Ayu mau garden party, Pa." jawab Steve.


"Kalian sudah membahas konsep pernikahan?" Andi lagi-lagi terkekeh. Steve menganggukkan kepalanya sambil meringis memandang Papi yang masih diam saja.


"Papi marah?" tanya Steve pelan.


"Papi hargai keputusan kamu, Son. Hanya saja Papi merasa kecolongan. Papi kira sudah sangat tahu tentang kamu sedetail mungkin. Ternyata ada yang Papi tidak tahu."


"Terima kasih, Papi. Sekali lagi maafkan aku." kata Steve lirih. Mario tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Panggil Mami, calon istri kalian beserta ibunya." kata Mario kemudian.


"Eh...!" Romi dan Steve saling berpandangan.


"Cepat atau restu Papi cabut!!! tegas Mario membuat Steve langsung beranjak.


"Kamu juga Rom!!!" Anto tak kalah tegas. Tanpa berkata-kata Romi segera menyusul Steve. Berlari melaksanakan perintah Papa Anto.


"Bagaimana, aman terkendali?" tanya Arkana saat melihat Steve berjalan cepat celingukan.


"Hmmm..." Steve menganggukkan kepalanya tanpa menoleh. Chico tertawa melihat ekspresi Steve yang beda dari biasanya.


"Anak jaman now kelimpungan." kekeh Arkana pada Chico yang semakin tertawa mendengarnya.


"Kalian lihat Mama Intan?" tanya Romi pada Arkana Dan Chico.


"Itu." tunjuk Chico pada sekumpulan wanita cantik yang sedang asik meriung sambil bersenda gurau.


"Ok, thank you." katanya berlari menghampiri para wanita cantik kecintaannya. Sementara Steve masih berputar tak karuan.


"Darling, kamu mencariku?" tanya Lembayung saat melihat pujaan hatinya. Ia sedang bersama Naka, Sosa dan Anggita.


"Yes darling.. aku sudah bicara pada Papi tentang kita, sekarang kita temui orang tua kita. Kamu juga Nggie." kata Steve menarik nafas lega. Sementara Lembayung tampak khawatir.


"Aih sudah mau melangkah lebih, lihat sepertinya kalian akan disidang." kekeh Sosa melihat Romi berjalan bersama Mama Intan, Mommy Liana dan Mami Regina.


"Mari berdoa bersama untuk kelancaran acara kita." kata Steve pada Anggita dan Lembayung.


"Kita harus cepat, Steve. Jangan bercanda." keluh Anggita sedikit kesal.


"Siapa yang bercanda, aku serius. Mari tundukan kepala dan berdoa, Bismillah..." Steve langsung mengadahkan tangannya diikuti oleh yang lain.


"Berdoa selesai." kata Steve setelah beberapa saat mulutnya komat-kamit. Naka menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa ditengah musik hingar bingar dan tamu seliweran mereka berdoa, tapi bukankah berdoa bisa dimana saja, Naka tidak protes hanya sedikit merasa lucu.


"Jangan tertawakan aku, berdoa dan ingat Allah setiap saat." dengus Steve menarik tangan Lembayung, sementara Anggita mengikuti dari belakang.